21.4.17

Cita Cita Kartini Pendidikan Bagi Fitrah Perempuan


Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Kartini adalah tokoh penggerak kemajuan bagi perempuan pada masanya. Ada pro dan kontra mengapa tanggal lahir kartini yang diperingati. Bukankah banyak juga tokoh perempuan yang tidak kalah hebat dari Kartini. Misalnya dari Aceh ada Cut Nyak Dien, atau dari Sumatera Barat ada Rohana Kudus.
Terlepas dari perdebatan siapa yang paling pantas tanggal lahirnya diperingati, pemikiran dan tindakan Kartini dan juga tokoh perempuan lain pada masa itu, agar perempuan mendapat pendidikan setara dengan laki laki adalah sebuah langkah yang luar biasa menginggat pada masa itu bahkan sampai hari ini perempuan masih terbatas mengakses pendidikan formal termasuk masih terbatas pengetahuan berkaitan dengan fitrah nya sebagai perempuan

Baik buruknya sebuah negara tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan adalah modal awal kemajuan bangsa. Bangsa yang maju hampir dipastikan memiliki perhatian yang tinggi terhadap pendidikan. Bicara pendidikan bukan hanya masalah jenjang akademik di sekolah formal belaka, tetapi bagaimana perempuan selain memiliki pendidikan formal juga diharapkan memiliki ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan peran yang diamanahkan langit dan bumi padanya, sebagai ibu yang mengadung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak anaknya.

Itulah mengapa dalam Al-Quran ada satu surat khusus membicarakan perempuan, yaitu surat An Nisa. Allah yang menciptakan sangat tahu bahwa perempuan adalah makhluk spesial. Ada yang mengatakan perempuan itu lemah, tetapi kenyhataanya dia bisa kuat mengendong anaknya lebih dari sepuluh kilo berjam jam. Perempuan sanggup mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, menyapu dan pekerjaan rumah lainnya dalam waktu yang bersmaan padahal di satu sisi dia juga adalah seorang ibu bekerja di luar rumah. Perempuan juga disandingkan dengan harta dan tahta yang dapat membuat seseorang tinggi kedudukanya atau sebaliknya dapat jatuh terhina. Perempuan memang sangat special.

Maka tidak salah, Allah mengatur kehidupan perempuan sedemikian rupa agar perempuan dapat menjalankan misi kehidupanya yaitu melahirkan sekaligus mendidik generasi yang berakhlak, generasi yang baik secara fisik sekaligus baik juga fikroh atau pemikiranya.
Kartini menangkap pesan ini dengan kebeningan iman, hal itu dia sampaikan pada sahabat korespondenya, Stella, 18 Agustus 1899. “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan, keningratan fikiran (fikroh) dan keningratan budi (akhlak). Tidak ada manusia yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholih orang yang bergelar macam Graaf atau Baron?… Tidaklah dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini,…”

Mengapa peran ini begitu penting dimainkan oleh perempuan? Karena kehidupan awal manusia ada dalam rahimnya, kemudian ada dalam dekapannya saat disusui hinggga suatu saat anak itu memiliki kemandirian. Perempuan yang memiliki ilmu pengetahuan akan sadar pada saat tiga bulan pertama kehamilan kemungkinan badanya tidak akan nyaman, mungkin pusing, muntah bahkan ada yang bedrest total. Jika ia menyadari ini maka ia akan mampu mengelola ketidaknyaman ini dengan baik. Misalnya saat hamil banyak makan makanan bergizi, banyak berdialog dengan bayi, mengusap perut dengan lembut atau banyak mengaji dan mendengarkan muratal Al Qurn. Jika itu dilakukan maka bayi di dalam perut akan tenang dan tumbuh sehat. Begitupun ketika bayi lahir, segera diinisiasi menyusu dini, kemudian diberi ASI ekslusif hingga 6 bulan. Selanjutnya memberi MPASI atau makanan pendamping ASI dengan menu seimbang yang bergizi dan sesuai teksturnya dengan umur bayi. Belum lagi pengetahuan bagaimana berkomunikasi dengan suami agar tidak muncul banyak masalah yang berakibat perceraian. Serta yang tidak kalah penting bagaimana pola asuh antara orang tua dan anak yang sekarang lebih dikenal dengan ilmu parenting.


Pengetahuan dasar yang berkaitan dengan fitrah perempuan ini jauh lebih penting harus dimiliki perempuan. Karena pengetahuan seperti ini belum tentu didapatkan dalam bangku kuliah di perguruan tinggi. Sedangkan realitasnya sehari hari banyak problem dalam rumah tangga dan anak sehingga dapat merusak hubungan suami istri atau ketidak mampuan mendidik anak.

Surat Kartini pada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901 agar perempuan mendapat pendidikan bukan karena perempuan lebih tinggi dari laki laki atau menjadi saingan laki laki, tetapi lebih kepada agar perempuan memiliki kemampuan dan keterampilan menjalankan firahnya seperti hamil, melahirkan, menyusui, mendidik anak. “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
Pendidikan yang dicita citakan Kartini bukan pendidikan formal semata seperti saat ini harus S1, S2 atau S3. Tetapi bagaimana perempuan juga harus diberikan pendidikan berkaitan dengan kewajiban yang diserahkan alam yang ke dalam genggamanya, seperti pengetahuna tentang kehamilan, pengetahuna manajemen ASI dan MPASI, parenting dan lain lain.

Jika perempuan memiliki pendidikan formal yang bak dan dia juga memiliki pengetahuan berkaitan dengan fitrahnya dengan baik, maka dapat dipastikan akan lahir keluarga keluarga yang harmonis. Dari keluarga keluarga itu lahir anak anak yang memiliki kepribadian dan karakter yang baik. Jika hal itu terjadi maka peradaban sebuah bangsa dapat dipastikan akan menjadi baik pula.

Mungkin perlu perjuangan yang sangat keras agar pemerintah dapat memfasilitasi dan memberikan pelayanan berkaitan dengan pendidikan yang yang menyangkut fitrah perempuan ini. Tetapi masyarakat luas seperti LSM, Ormas atau komunitas dapat mengupayakan lembaga pendidikan non formal bagi perempuan dimana materinya khusus membahas pendidikan dan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan firah perempuan. Masalahnya kita mau atau tidak.

Baca juga Pengalaman Menjadi Nara Sumber di RRI Nasional
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment