17.4.17

Dua kali gagal, akhirnya diterima di Jepang

Kata orang bijak, kegagalan adalah kesuksesan yang tetunda. Ada juga yang mengatakan, jika kamu ingin sukses, maka bersiaplah dengan kegagalan. Tampaknya hal ini berlaku bagi suami saya.

Sejak lama kami merencakan bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Harapan terbesar ada pada suami saya, karena beliau belum S3. Saya selalu memberi semangat dan berusaha membantu mencarikan informasi kampus dan beasiswa.

Target semula, kami berencana mencari kampus di Eropa, jika tidak dapat di Asia saja, bisa Jepang atau Singapura. Sepertinya suami saya tidak terlalu semangat melanjutkan studi, sayanya saja yang terus mengebu gebu dan mendorong dorong. Dia santai saja. Sepertinya dia lebih asik menjadi struktural di LPTIK Unand. Katanya lebih menantang.

Dengan sabar saya terus mendorong. Baru tahun 2014 suami mencoba mengikuti tes di Kanazawa University. Mungkin belum rezekinya, suami saya belum lolos seleksi. Saya tidak kecewa, tetap terus mendorong dan berusha mencari informasi dan menyemangati. Saya merasa berkewajiban mendorongnya untuk terus tumbuh dan berkembang,

Tahun berikutnya dicoba lagi apply disebuah universitas di Inggris, tetapi gagal lagi. Sejak saat itu saya sarankan suami kursus TOEFL. Karena syarat untuk bisa lulus di luar negeri dan mendapatkan beasiswa, TOEFL minimal 550. Jadilah ditengah kesibukannya suami ikut kursus TOEFL. Alhamdulillah TOEFL naik sedikit. Minimal dapat batas yang disyaratkan.

Awal tahun 2016, suami coba lagi ikut tes di Kanazawa University. Alhamdulillah beliau akhirnya lulus dan mendapat LoA dari profesor di kampus itu. Tapi belum bisa tenang karena beasiswa belum dapat. Masih harus berjuang lagi, bersaing dengan ribuah dosen di seluruh tanah air untuk mendapatkan beasiswa LPDP-BUDI.

Kebetulan tahun 2016 beasiswa luar negeri yang biasa dikelola Dikti sekarang dikelola LPDP. Syarat untuk mendapatkan beasiswa ini diantaranya, harus memiliki LoA, TOEFL di atas 550, membuat tulisan berkaitan dengan motivasi diri dan beberapa syarat lain. Tidak ada tes tertulis. Hanya ada tes wawancara di Jakarta. Saya mendampingi semua proses itu, memberi semangat dan tentunya tak lupa mendoakan agar diberikan yang terbaik.

Ada 3 oang yang melakukan wawancara. 1 orang dari LPDP, 1 orang dari DIKTI dan 1 orang lagi psikolog. Wawancara menggunakan bahasa inggris. Kata suami saya pertanyaan nya seputar topik riset.

Alhamdulillah setelah melalui wawancara yang cukup menegangkan, bersaing dengan ribuan dosen, akhirnya suami saya mendapatkan beasiswa luar negri LPDP-BUDI tahun 2016. Bulan September beliau berangkat duluan. Kami menyusul bulan Desember.

Jika teman teman pernah gagal jangan kecewa. Teruslah berusaha. Karena tidak ada yang instan di muka bumi ini. Mi rebus instan aja perlu ada usaha untuk memakanya. Jangan menyerah, jika hari ini gagal, besok coba lagi. Jangan putus asa, teruslah berusaha, dan jangan lupa berdoa. Karena bisa jadi keberhasilan sudah di depan mata.

Salam hangat...










Reaksi:

4 comments:

  1. Replies
    1. Manusia berikhtiar Allah yang menentukan.

      Delete
  2. Mencari beasiswa memang harus gigih, dan cocok-cocokan juga dengan lembaga donor/pemerintah. Seru ya mba, bisa mendampingi sekeluarga, karena gak semua beasiswa mengijinkan keluarga ikut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, wasyukurillah. Iya betul mbak, kalau LPDP malah ada tunjangan untuk keluarga 1/2 dari beasiswa

      Delete