Thursday, April 27, 2017

Seperti ini Bis di Jepang, Bayar Ongkos dan Menukarkan Uang di Mesin.

Tempat menukarkan uang
Naik bis di Jepang seperti naik kereta api di Indonesia, tepat waktu dan banyak melewati halte. Sangat nyaman dan aman. Bisnya besar seperti bis NPM Jurusan Padang Jakarta. Mungkin seperti bis Trans Jakarta, tapi saya belum pernah menaikinya. Ada Kursi khusus untuk orang tua, ibu hamil, ibu yang membawa anak kecil dan untuk penyandang cacat. Ada pegangan tangan untuk mereka yang berdiri jika kursi sudah penuh. Setiap kursi ada bel yang bisa ditekan jika kita ingin berhenti di suatu halte.

Di Padang juga ada Trans Padang, mobilnya 3/4. Tapi jadwalnya tidak menentu dan sistem pembayaranya walaupun bisa pakai kartu tapi sebagian besar masih manual. Penumpang membayar kepada Kenek dengan sebuah lembaran karcis sebagai bukti pembayaranya. Kenek akan berteriak menyebutkan setiap halte yang akan disinggahi, kemudian menekan bel tanda berhenti jika ada yang ingin berhenti.

Baca juga : Begini Cara Orang Jepang Buang Sampah

Bis di Jepang tidak ada kenek sama sekali. Hanya ada sopir. Sopirnya terlihat keren dengan pakaian yang necis dan rapi, pakai dasi dengan kemeja putih serta topi. Percis seperti pilot pesawat terbang. Saya pernah melihat ada perempuan juga yang menjadi sopirnya.

Jika tidak ada kenek bagaimana pembayaran ongkosnya? Nah itu dia yang menarik buat saya. Pembayaran ongkos bisa menggunakan kartu yang bisa kita isi ulang di dalam bis menggunakan mesin serba guna. Selain bisa untuk mengisi ulang dana kita di kartu itu, mesin ini juga berguna untuk menukarkan uang. Dan pastinya di mesin ini jugalah kita membayar ongkosnya dengan memasukkan sejumlah koin ke dalam lubang yang ada di mesin tersebut. Orang Jepang jujurnya kebangetan, jadi saya yakin tidak ada yang tidak bayar ongkos.

Baca juga : Lucunya Meja dan Kursi Anak Sekolah di Jepang

Kartu bis ICa bisa diunakan untuk seluruh rute di dalam kota

Itu gambar kartunya. Anak anak juga bisa memiliki kartu itu. Ongkos untuk anak anak separuh ongkos orang dewasa. Ongkos ditentukan dari jarak tempuh. Semakin jauh jaraknya maka ongkos juga akan semakin mahal. Ketika kita naik bis kartu itu di tempelkan pada mesin yang ada di dekat pintu masuk. Bagi yang tidak ada kartu bisa mengambil karcis yang juga otomatis keluar dari mesin dekat pintu masuk. Di karcis itu akan ada no yang menunjukkan berapa ongkos nanti yang harus dibayar ketika turun di sebuah halte. Di depan bis ada petunjuk berapa ongkos harus dibayar sesuai no di karcis.

Baca juga : Dua Kali Gagal, Akhirnya Diterima Di Jepang

Di dalam bis ada informasi otomatis dari rekaman suara seorang perempuan yang menginformasikan halte terdekat.  Di depan bis juga ada pengumuman bis akan berhenti di halte apa. Jika kita ingin berhenti cukup menekan tombol, sopir akan memberhentikan bis di halte itu. Jadi tidak ada yang teriak teriak minta berhenti di sutau tempat. Karena bis juga tidak bisa sembarangan berhenti. Ia hanya berhenti di halte.

Tanda biru tempat menempelkan kartu.
Setelah mobil berhenti penumpang dapat menempelkan kembali kartunya pada mesin yang ada di sebelah sopir. Menempelkanya di panah yang berwarna biru. Setelah kita tempelkan secara otomatis uang saldo kita di kartu akan berkurang sebanyak ongkos yang harus dibayar sesuai jarak tempuh. Keuntungan pakai kartu adalah penumpang tidak ribet bawa uang koin, penumpang tidak harus menukar uang di mesin, penumpang juga dapat bonus kurang lebih 10% dari sejumlah uang yang kita masukkan di dalam kartu. Kartu ini juga dapat kita gunakan untuk berlangganan. Misalnya kita berlangganan kartu 4 bulan ke kampus hanya membayar 16.000 Yen per 4 bulan. Penumpang bebas naik bis rute yang telah ditentukan kapan saja, sesering apapun.

 Baca juga : Apa sih Hanamian di Jepang
 
Jika tidak punya kartu kita dapat membayar pakai koin. Panah warna biru dalam foto berikut ini adalah tempat penumpang memasukkan ongkos. Jika kita tidak ada uang pas maka kita dapat menukarkan uang lebih besar ke pecahan yang lebih kecil. Misalnya menukarkan uang 1000 Yen. Nanti akan keluar uang koin 100 Yen dan beberapa uang 10 Yen atau 50 Yen. Jadi jangan khawatir soal pembayaran ongkos di dalam bis walaupun tidak ada kenek di dalamnya. Tempat menukarkan uang di tanda panah foto paling atas.
Tanda panah biru, tempat memasukkan ongkos

Di dalam bis hampir dipastikan tidak ada yang ngobrol keras keras sambil tertawa terbahak bahak dengan teman temanya. Sebagian besar penumpang cenderung asik dengan HP nya. Beda dengan saya dan teman teman yang masih suka ngobrol walapun pelan pelan di dalam bis.

Ongkos bis di Jepang termasuk mahal. Perjalanan saya pergi ke tempat les Nihonggo kurang lebih 10 Km dengan waktu antara 10-15 menit, ongkosnya 240 Yen, sekitar 30.000 rupiah. Makanya banyak orang bersepeda di Jepang. Selain ramah lingkungan bersepeda sangat kondusif di sini. Jalan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda hampir sama besarnya dengan jalan bagi pengendara mobil. Jika cuaca sedang bagus saya ke tempat les atau ke supermnaket atau kemana saja menggunakan sepeda.

Kemana mana bersepeda







Reaksi:

4 comments:

  1. jadi pingiin ke jepang mbak...semoga kesampaian...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga suatu saat bisa ke Jepang ya mbak. Trimakasih sudah mampir.

      Delete
  2. Kapan ya saya dan keluarga bisa jalan-jalan ke Jepang. Amin Ya Allah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga suatu saat bisa jalan jalan ke jepang. Trimakasih sudah mampir.

      Delete