Wednesday, August 9, 2017

Anak Anda Malas Belajar atau Bermasalah? Yuk Atasi Dengan Assessment Ini


yesielsandra.com. Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan tingkah laku anaknya yang sulit diatur. Misalnya sering membuat keonaran di lingkunganya, malas belajar, sulit beribadah, sering menganggu adik dan lain lain.

Seperti kita yakini bersama, setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah artinya suci, baik, bersih. Artinya sejak lahir anak membawa bibit kebaikan. Artinya lagi tidak ada anak yang pembawaan dari sono nya bermasalah. Tetapi kenapa anak kita menjadi bermasalah?

Saya menyebut faktor pertama yang membuat anak bermasalah adalah pola asuh kita sebagai orang tua. Loh kok malah nyalahin orang tua?. Bukannya nyalahin tapi mengiggatkan, pasti ada sesuatu dengan pola asuh kita yang keliru sehingga antara kita dan anak seperti Tom dan Jerry. Biasanya terkait dengan komunikasi. Tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Buktinya banyak orang tua rela banting tulang demi anak. Pergi subuh saat Matahari belum tampak, pulang habis Magrip, Mataharipun sudah tak tampak. Demi siapa, pasti jawab kita demi masa depan anak anak.

 Lah untuk apa semua kita lakukan kalau hasilnya sia sia. Anak malah jauh dari kita, ya kan? Yuk sama sama coba kita perbaiki semua. Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan. Saya yakin yang membaca ini adalah orang tua yang mau berubah, orang tua yang mau belajar menjadi lebih baik dari ke hari.

Assessment ini saya buat terinspirasi dari sebuah tulisan yang mengisahkan seorang anak yang dianggap bermasalah, tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah. Sering murung dan ngelamun. Kemudian orang tuanya membawa anak ini ke psikolog. Berdasarkan hasil tes IQ anak ini sangat cerdas dengan IQ di atas 140. Lantas ada masalah apa sehingga menjadi anak yang bermasalah dan tak mampu mengikuti pelajaran. Penelusuran dilanjutkan dengan melakukan tes kepribadian. Alangkah terkejutnya sang ibu, ternyata selama ini ibu tidak mengetahui apa yang bergejolak di hati sang anak. Tidak mengetahui tentang keinginan kinginan sang anak yang sederhana, seperti sekedar ingin bermain, di dengar dan disayang. Orang tua sibuk bekerja, sehingga tak mampu membaca dan mendengar batin anak.

Kita sering memerintah anak seenak dan sesuka hati kita, misalnya tolong ambilkan ini, tolong ambilkan itu. Padahal di satu sisi kita selalu mengajarkan anak agat mandiri, melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan orang lain. Seperti halnya kita orang dewasa, anak anak pada dasarnya tidak suka diperintah.

Orang tua pada umumnya ingin anaknya lebih baik darinya, Minimal memiliki profesi seperti dirinya. Maka dipaksalah anak harus sama dengannya. "Mama dulu di sekolah juara, masa kamu ngak juara" Atau kita membanding bandingkan anak dengan saudara atau temannya. Kita saja kalau dibandingkan dengan istri atau suami orang lain pasti ngak mua. Begitu juga dengan anak.

Kita sering meminta anak mendengarkan kita, menghormati kita, tetapi kita sendiri sering tidak mendengar kata anak, saat dia bertanya atau bercerita malah kita suruh diam karena kita lagi sibuk. Kita tidak menghormati pilihan pilihanya, misalnya anak penger baju warna hijau, menurut kita tidak bagus. Kita paksa dia memilih baju selera kita. Betapa tertekanya jika anak anak kita.

Sayang, seringnya anak anak tak mampu protes. Mereka tak bisa menyampaikan hasratnya karena keterbatasan kemampuan mengungkapkan isi hatinya. Maka terjadilah persoalan besar yang bergejolak dalam jiwanya. Kadang ia melampiaskan ketidaknyaman itu dengan tingkah laku yang tak biasa. Dia mencoba mencari perhatian, penghargaan dan pengakuan di tempat lain dengan cara yang tak wajar. Kadang dia menjadi murung dan tak mampu mencerna pelajaran sekolah.

Jika kita memiliki persoalan yang sama, yuk coba berikan assessment ini. Assessment ini bisa juga dilakukan walau anak kita tidak bermasalah. hasilnya akan memberi dampak yang luar biasa terhadap pola asuh kita. Kita akan mengerti apa sebenarnya yang diinginkan anak.

Minta anak kita mengisinya. Lakukan pada saat yang tenang. Pilih waktu yang tepat, saat suasana hatinya sedang baik. Jangan paksa kalau dia belum mau mengisi. Peluk anak jika dia mau mengisi, dan ucapkan terimakasih setelah dia mengisi. Assessement ini menggunakan contoh nama anak saya. Jika diperlukan teman teman dapat mendiskusikanya hasilnya dengan saya melalui, email, WA atau inbox di facebook.

Silahkan download assessmentnya di sini




Reaksi:

3 comments:

  1. Terima kasih atas artikel yang diberikan, sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  2. Semoga, trimakasih telah berkunjung...

    ReplyDelete
  3. Terimakasih artikelnya sangat bermanfaat mau tanya bun....
    Saya ibu 2 orang anak, yang sulung laki2 usia 11 tahun yang ke dua perempuan, kebetulan putra kami cucu pertama dan sangat dimanja oleh nenek kakeknya, dan ini berakibat pada tidak konsistennya nilai-nilai / kebiasaan anak kami, karena perbedaan perlakuan antara orang tua dan nenek/kakeknya, akibatnya anak cenderung manja dan sulit diatur, saya mau mencoba assessment ini, nah setelah anak-anak mengisi assessment apa tindak lanjut yang harus dilakukan orang tua?, terimakasih atas perhatiannya

    ReplyDelete