13.9.17

Haruskah Ibu Rumah Tangga Menjadi PNS?

yesielsandra.com. Hampir di seluruh jaringan sosial media yang saya punya berseliweran informasi mengenai penerimaan Aparatur Sipil Negara atau Pegawai Negeri Sipil atau yang lebih dikenal dengan singkatan PNS. Tidak tanggung tanggung jika di total seluruhnya bisa mencapai puluhan ribu posisi dengan berbagai latar belakang, penerimaan tersebut hampir merata di seluruh Indonesia..

Banyaknya jumlah PNS yang akan direkrut ini membawa angin segar karena beberapa tahun terakhir ini tidak terdengar ada pengangkatan PNS. Ratusan ribu sarjana mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan dokumen sebagai syarat untuk mengikuti tes PNS.

Diantara ratusan ribu yang harap harap cemas itu mungkin salah satunya adalah ibu rumah tangga seperti kita. Selama ini kita hanya mengurus sumur dapur kasur, berjibaku mengurus anak anak di rumah. Ingin juga seperti tetangga sebelah yang setiap hari rapi berangkat kerja dan mendapat gaji bulanan.

Tiba tiba kita ingat ijazah yang telah lama tersimpan di sudut lemari. Jurusan yang tawarkan ada yang cocok dengan jurusan kita, posisi yang ditawarkan juga cocok dengan impian kita. Apalagi IPK kita lebih dari tiga koma, tidak jelek jelek amat, sepertinya kita sangat layak untuk ikut bersaing dengan ratusan ribu pencari kerja lainya.

Dalam pandangan umum menjadi PNS adalah prestise. Hampir seluruh orang tua mengingginkan anaknya menjadi PNS. Saking pengenya, ada cerita tetangga saya yang perlu dijadikan pelajaran. Anak tetangga saya ini tamat SMK. Ada "Orang dalam" yang katanya bisa membantu anaknya menjadi PNS di sebuah Pemda. Uang puluhan juta sudah disetor ke orang dalam tadi. Baju seragam PNS juga sudah dikasih ke anak tetangga saya tadi. Namun sampai hari ini SK pengangkatan PNS tak pernah ada. Berbagai cara dilakukan orang agar bisa mengambil keuntungan dengan menipu masyarakat yang ingin sekali menjadi PNS. Jangan sampai ketipu ya...

Haruskah kita jadi PNS?

Suami saya PNS, mertua saya keduanya PNS, uni saya juga ada yang PNS. Tulisan ini tidak bermaksud mengompori orang untuk jadi PNS, apalagi mempengaruhi orang untuk tidak jadi PNS. Saya sendiri bukan PNS. Menjadi PNS atau tidak adalah pilihan hidup kita masing masing.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa rezeki Allah itu luas. Kalau satu pintu rezeki tertutup, maka Allah SWT akan membukakan pintu rezeki lain yang bisa jadi lebih lebar dan lebih luas. Menjadi PNS itu menarik, karena resikonya sangat kecil. Sangat kecil kemungkinan negara bangkrut. Yang membuat orang tertarik menjadi PNS biasaya karena ada jaminan kesehatan dan jaminan hari tua.

Tidak bermaksud tidak beryukur, walau tampaknya save, di luar tunjangan, gaji PNS itu termasuk rendah loh. Saya contohkan suami saya dosen PNS di Universitas Andalas golongan IIIB. Karena sedang tugas belajar saat ini "hanya" menerima gaji pokok kurang lebih 3,1 juta. Jika ada tunjangan tidak lebih dari 4 juta. Cukup ngak untuk biaya hidup sebulan dengan 4 anak?

Jawabanya relatif. Rezeki itu tergantung berkahnya, jika berkah berapapun akan mampu mencukupi keluarga kita. Tetapi jika tidak berkah berapapun banyaknya tidak akan pernah terasa cukup.

Perlu diingat, kebutuhan dan biaya hidup sekarang ini memang tinggi. Harga harga mahal termasuk listrik dan air. Kita butuh makan makanan yang bergizi. Kita tentu butuh anak anak sekolah di tempat yang terbaik, tentu uang masuk dan SPP nya tidak murah. Kita butuh rumah yang lapang untuk anak anak bermain ke sana kemari. Kita butuh pakaian yang layak. Kita butuh kendaraan untuk transportasi. Kendaraan itu bukan barang mewah ya, bagi yang banyak anak seperti saya kendaraan roda empat itu kebutuhan. Dengan kebutuhan primer seperti itu rasanya sulit dengan gaji "hanya" 4 juta bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Kalau hanya mengandalkan gaji PNS tok, sungguh para PNS masih jauh dari sejahtera.

Bagi ibu rumah tangga yang berminat menjadi PNS mungkin hal ini perlu difikirkan masak masak lagi. Sudah seimbangkah pengorbanan kita meninggalkan anak anak dengan gaji kurang lebih 4 juta per bulan? Kalau baru CPNS malah ngak sampai 4 juta an. Kemungkinan "hanya" 2 juta koma.

Ketika kita bekerja di luar, akan ada biaya yang harus kita keluarkan. Misalnya menitipkan anak di day care kurleb 1 juta perbulan. Kalau anaknya 2 orang tentu lebih besar lagi biaya day carenya. Biaya transportasi, biaya konsumsi, dan oportunity cost yang tentunya tak bisa diuangan berapapun jumlahnya. Biaya kehilangan kesempatan kita bercengkrama dengan anak, bermain dengan anak dll. Belum lagi fisik kita akan terkuras, beban kerja yang tinggi, kita jadi sibuk, kadang jadi emosian ke anak dan suami.

Jika ada substitusi untuk menjaga anak dan "hitung hitungan" bekerja atau menjadi PNS jauh lebih memberikan value untuk keluarga dan masyarakat,  menurut saya tidak ada salahnya kita mencoba peruntungan menjadi PNS atau bekerja di luar rumah. Tetapi jika tidak ada, fokus mendidik anak menurut saya itu lebih utama.

Mencari nafkah betul kewajiban suami, tetapi menghasilkan uang itu adalah hak suami dan istri. Ibu rumah tangga bisa kok mendapatkan penghasilan tanpa harus bekerja di luar rumah atau menjadi PNS. Tidak sedikit aktivitas yang dapat dilakukan hanya di rumah yang bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. Saya sendiri pernah jualan online yang bisa menghasilkan kurang lebih 2 juta perbulan. padahal itu hanya kerja sampingan, kalau diseriusi mungkin penghasilanya bisa lebih besar lagi. Ada juga teman saya yang bisa menghasilkan uang dari rumah dengan menulis. Teman saya yang lain menjadikan rumahnya sebagai day care, dia bisa mengasuh anaknya, uangpun datang.

Silahkan ditimbang baik baik, untung ruginya, positif negatifnya, baik buruknya, apakah kita bekerja di luar rumah dengan menjadi PNS atau fokus di rumah mendidik anak anak kita tanpa lupa untuk terus continuous improvement meningkatkan kualitas diri kita.

Yang pasti, PNS bukanlah satu satunya wadah untuk mengaktualisasikan diri, bukan satu satunya sumber rezeki. Di luar sana banyak terbentang kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, banyak waktu dan kesempatan untuk menghasilkan uang. Sepanjang sesuatu itu membuat kita happy, kita enjoy mengerjakanya, dan kita bersyukur maka kita tidak akan pernah merasa miskin dan tertinggal. Hidup ini akan terasa indah dan penuh makna jika kita banyak memebri manfaat untuk anak, suami, keluarga dan masyarakat.

Sumber foto : mardiyas.com

Baca juga artikel menarik ini : Pilih mana Homeschooling atau Public School?





Reaksi:

16 comments:

  1. Replies
    1. Sama sama bunda, terimakaksih telah berkunjung....

      Delete
  2. Bener mba, pns bukan satu2x pekerjaan. Tpi sygx para org tua terdahulu kita, banyak yg ngotot agar anakx jd pns. Katax lebih sejahtera hidupx... Lah mba, sy ini mmg hanya pedagang online, itupun yg hanya marketer. Tp alhamdulillah dlm sebulan sy bs dptkan uang sampai berkali2 lipat gaji pns. Meski ortu sy tau, ttp aj mereka lebih senang dgn status pns. Katax biar ada uang pensiunanx.. Masa iya sy korbankan hidup sy tiap hari, anak sy, suami sy demi uang pensiunan yg blm jla jg qta dpt...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barakallah usahanya ya bunda, semoga sukses selalu...Terimaaksih telah berkunjung....

      Delete
  3. bapakku PNS, kakakku PNS sementara aku cuman buruh di kantor yang ga terkenal hehehe tapi tetap bapakku merasa jika pekerjaanku ga layak dan berulang kali memintaku ikut tes cpns sedari lulus kuliah ada kali aku ikut tes dan hasilnya ttp gagal maning hahaha..pdhl dg kerjaanku saat ini aku bahagia bisa sambil ngeblog deket rumah sayangnya tak sesuai harapan bapak :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah orang tua ya mbak. Yang penting happy dengan pekerjaan sekarang mbak.

      Delete
  4. Bapak ibu saya pns. Adik saya pns. Saya tok yg bukan pns😁 tapi ah sudahlah... jalan hidup manusia mmg berbeda2 sesuai dengan porsi masing2 yg sdh ditetapkanNYA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali. Sama aja kok ya, PNS atau bukan....

      Delete
  5. Makasih banyak mak pencerahannya. Jujur aku pun lagi galau. Jurusan, ipk, usia soalnya lagi cocok bgt, dan suamiku pun pns pula, jd masih banyak pertimbangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba istigharoh mbak, jika memberi value, tidak ada salahnya dicoba..

      Delete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih sharingnya, bu..:) mencerahkan sekali. Saya senang membaca tulisan-tulisan Ibu di sini.
    Saya izin share tulisan ini boleh, bu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama mbak, silahkan dishare, terimakasih telah berkunjung.

      Delete
  8. Ada tuntutan dari keluarga. Tapi, bismillah saja lah. Pasrah ama yang memberi rezeki barokah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba saja mbak, yang penting value-nya. Tawakal pada Allah ya Mbak memang itu pilihan terbaik..


      Delete
    2. Coba saja mbak, yang penting value-nya. Tawakal pada Allah ya Mbak memang itu pilihan terbaik..


      Delete