1.9.17

Pendidikan Terakhir Doktor, Kenapa "Hanya" Menjadi Ibu Rumah Tangga Biasa?



yesielsandra.com--Memang ada yang salah dengan profesi ibu rumah tangga? Tidak, tidak ada yang salah. Bahkan profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi peradaban yang sangat mulia. Profesi paling tua dalam sejarah ummat manusia. Dari seorang ibu rumah tangga lahirlah ummat manusia sepanjang sejarah bumi ini ada.

Profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi yang sangat luar biasa. Ia bekerja 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Tidak ada gaji atau bonus tahunan seperti layaknya pegawai, tidak ada promosi karier, juga tidak ada jatah cuti.

Tidak sedikit sarjana yang kelu menyebut profesinya adalah ibu rumah tangga. Tetapi saya tidak, walau pendidikan terakhir saya doktor marketing, hari ini saya sangat bersyukur bisa menjadi ibu rumah penuh waktu dan meninggalkan untuk sementara aktifitas sebagai dosen, peneliti dan pembicara publik.

Bukan kali ini saya meninggalkan pekerjaan saya. Sebelumnya tahun 2005, ketika saya hamil anak pertama, saya memutuskan mengundurkan diri sebagai dosen  di sebuah PTS di Bandung. Mengapa mengundurkan diri? Karena saya ingin fokus pada kehamilan saya. Dua tahun lebih saya tidak punya anak. Setelah berdoa dan berikhtiar ke sana kemari, alhamdulillah akhirnya hamil. Saya ingin kehamilan kali ini selamat. Karena kehamilan sebelumnya tahun 2003 saya mengalami keguguran.

Ketika itu saya adalah dosen yang produktif. Saya bisa mengajar pagi, siang dan malam. Belum lagi sabtu dan minggu untuk kelas karyawan dan kadang kelas jauh di luar kota. Setelah berdiskusi panjang lebar dengan suami, saya memutuskan berhenti. Tidak mudah hati menerima pilihan ini menginggat konsekwensinya saya tidak akan dapat uang lagi. Padahal kami waktu sangat membutuhkan uang, maklum kami suami istri masih studi lanjut. Baru berumah tangga, belum punya aktiva apa apa.

Begitupun dengan profesi terakhir saya saat takdir menuntun saya meninggalkan semuanya. Sebelumnya saya adalah dosen tetap di salah satu PTS di Padang. Disamping itu saya juga mengajar program pascasarjana di tiga kampus lain di Sumbar. Setiap minggu saya menjadi pengasuh program Parenting Clinic di Radio Sipp FM. Dan aktifitas yang sangat saya suka adalah kadang saya mengisi training atau seminar di Suamtera Barat. Alhamdulillah saya bersyukur, semua aktifitas itu sangat saya impikan dulu, dan saya mencintai profesi saya. Selain karena semua adalah passion saya, imbalan yang saya dapatkan dari aktifitas itu sangat memadai.



Hidup ini adalah pilihan. Pilihan saya belum tentu terbaik buat orang lain. Sebagaimana pilihan orang lain belum tentu terbaik bagi saya.

Pilihan ini Allah yang memilihkan. Saya meninggalkan aktifitas semuanya karena kecintaan saya yang besar pada Allah SWT dan ketaatan saya pada suami saya. Suami saya melanjutkan studi di Kanazawa University. Dia meminta saya dan anak anak agar mensupportnya dengan ikut ke Jepang menemaninya.

Sebelumnya dia membeli tiket untuk kami beberapa hari setelah keberangkatanya. Tapi ternyata Visa kami ditolak, hanguslah tiket yang telah dibeli belasan juta. Saya minta ijin agar menyelesaikan semester ganjil 2016. Suami saya merestui. Setelah mengajar saya selesai dan visa oke, tanggal 3 Desember kami baru bisa berangkat.

Karena saya masih ada riset dan kewajiban ikatan dinas di kampus, semester genap Mei 2016 saya masih pulang ke Padang mengajar. Saya mengajar tandem berdua dengan rekan sejawat. Teryata ini sangat sulit diterima suami dan anak anak saya. Yang paling kasihan anak saya yang baru kelas 1 SD. Kadang jika suami saya terlambat pulang dari kampus, dia harus membuka sendiri pintu apartemen kami yang berada di lantai 3. Walau di Jepang tingkat kriminalitas sangat rendah tetap saja hati dan pikiran saya tidak tenang. Bagaimana kalau ada yang jahat, bagaimana kalau ada yang menculik, memperkosa, dan lain lain. Suami saya sangat keberatan saya mengajar lagi walau saya tidak full mengajar karena tandem dengan teman. Tetapi karena saya masih ada riset, saya harus melakukan monitoring dan evaluasi, saya harus publikasi, saya harus seminar hasil. Saya minta ijin lagi ke suami agar diberikan kesempatan menunaikan kewajiban. Walau agak mangkel, suami saya mengijinkan.

Baca juga : Jadwal Harian Ibu Rumahan Agar Tetap Produktif

Ngak enak rasanya jika diberi ijin dengan terpaksa, mangkel pula. Saya memohon petunjuk pada Allah, sholat istikharah, diskusi dengan suami. Maha besar Allah. Dia yang maha pengasih dan penyayang memberikan jalan yang tidak saya sangka sangka. Mulai semester ini saya tidak lagi mengajar. Mendengar kabar ini suami saya sangat senang, apalagi anak anak. Mereka bersorak sorai mendengar saya tidak lagi pulang ke Padang dalam waktu lama untuk mengajar. Walau konsekwensinya saya tidak lagi menerima gaji dan tunjangan sertifikasi dosen yang jumlahnya sangat lumayan.

Dan hari ini saya bersyukur bisa menjadi ibu rumah tangga biasa. Tidak ada beban mengajar dan riset lagi. Saya bisa fokus mengurus suami dan anak anak tanpa ada beban harus mengajar.  Saya tak terlalu memikirkan uang yang akan hilang. Sangat mudah bagi Allah memberi kita uang, dan sangat mudah juga bagi Allah mengambil uang yang kita miliki. Lagi pula rezeki itu tidak hanya uang. Kesempatan bisa berkumpul dengan keluarga di negara maju itu juga rezeki yang harus disyukuri.

Saya tidak merasa minder, tidak merasa rugi atau tidak merasa rendah diri walau hanya dengan menjadi ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan. Rezeki Allah itu luas. Jika satu pintu tertutup, maka percayalah Allah akan membukankan pintu rezeki lainya yang lebih lebar dan lebih lapang.

Yang penting bagi saya saat ini adalah bagaimana bisa berkumpul bersama keluarga. Mensupport dan memotivasi suami, dan mendidik anak anak dalam sebuah keluarga yang utuh.

Saya tidak bisa bayangkan, jika saya memperturutkan ego saya, terlalu mencintai profesi saya, aktivitas publik saya, kemudian berjauhan dengan suami dan anak anak, padahal suami saya tidak ridho, akankah rumah tangga saya akan sakinah mawadah warahmah. Saya mengatakan kepada diri saya, ada yang jauh yang lebih mulia yang akan kita dapatkan ketika kita ridho dan taat pada suami, yaitu syurga dan segala isinya. Semoga....

Baca Juga : Tips Menyusui Saat Hamil


Reaksi:

36 comments:

  1. profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi peradaban yang sangat mulia. Profesi paling tua dalam sejarah ummat manusia saya sangat setuju Bu Doktor tapi kalau tidak digaji itu tidak benar, kalau saya sih bersyukur karena suami memberikan nafkah diluar kebutuhan harian dan sata bangga anak saya diasuh oleh Sarjana^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. beda nafkah dan belanja untuk harian. Alhamdulillah jika mbak sandra menerima keduanya ya. Sebagian ibu rumah tangga lain belum tentu mendapakan keuanya, seringnya hanya uang belanja.

      Delete
  2. Masha Allah pilihan yang sulit untuk totalitas jadi full time dengan segala kelebihan limy mba, namun anak-anak dan suami berlimpah manfaat ibunya total di rumah. Total capek juga kan ya mba �� Salam full time mom ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika kita bersyukur Allah akan menambah nikmatnya. Alhamdulillah bahagia bisa full mengurus keluarga...

      Delete
  3. masyaallah, jadi terharu bacanya dimana sebagian orang memandang sebelah mata profesi ibu rumah tangga, saya aj yang lulusan S1 ketika memutuskan untuk tidak bekerja, banyak komentar miring orang - orang yang saya dengar "sayang ijazahnya dll. bahkan ada kerabat saat silaturahmi, ketika saya tanyakan mengapa tidk kuliah, kerabat tersebut menjawab "untuk apa kuliah, jika akhirnya dirumah saja" (dengan nada menyindir)
    itu adalah pemikiran yang salah, kuliah sejatinya untuk menuntut ilmu bukan untuk mendapatkan gelar agar gampang mencari pekerjaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau kita mikirin dunia dan pandangan orang lain, kita akan capek. Dinikmati, disyukuri, insya Allah semua dalam keberkahan.

      Delete
  4. salam kenal, terharu saya bacanya terima kasih share-nya yang inspiratif mbak. Pilihan itu awalnya memang sulit


    anggiputri.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Mbak Putri, terimakasih, semoga saya bisa istiqomah...

      Delete
  5. Barakallahu ya mbak.. betul, hidup adalah pilihan. Semoga pilihan kita senantiasa dalam ridhoNya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga kita senantiasa istiqomah...

      Delete
  6. Salut Mbak...
    Terus semangat membagi ilmu meski tidak menjadi pengajar, dll lagi.
    Tulisan Mbak yang menginspirasi pun bisa bermanfaat bagi banyak orang.
    Barakallahu fikum:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih mbak, iya betul hakekatnya adalah bagaimana kita bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain...

      Delete
  7. Inspirasing. terima kasih banyak sudah berbagi. Aku dulu melihat IRT itu seperti ibu2 berkualitas rendah yang gak mampu kerja. sekarang setelah lebih banyak baca, lebih banyak melihat, dan lebih dewasa, aku menganggap menjadi IRT itu adalah amanah yg harus dijalankan dg baik seumur hidup, sama halnya dg bekerja, atau mungkin lebih. Perlu keahlian dan ilmu untuk menjalankan amanah sebagai IRT. Seorang ibu berkualitas akan melahirkan generasi berkualitas pula, dimana keluarga adalah pendidikan UTAMA dan PERTAMA bagi manusia. Maka, tak usah sinis dan merendahkan ketika seorang wanita bergelar akademik tinggi memilih untuk mengurus keluarga dibanding mengurus karir dan egonya, asalkan ada kesepakatan dari pasangannya. Kakakku pun saat ini sedang dalam tahap 'dilema' karir atau keluarga, gak jauh beda dengan mba. Mungkin lain kali aku tuliskan ceritanya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah menarik sekali, ditunggu ceritanya ya mbak...

      Delete
  8. Tetap semangat dan selalu bahagia yaa Mbak Yesi 😊

    ReplyDelete
  9. Amin, semoga Mbak Dira juga demikian ya....

    ReplyDelete
  10. Ya Allah, pilihan yg sulit ya mba. Semoga aku bisa belajar dan memetik hikmah dr cerita mba Yesi :)

    www.mamaenergic.com

    ReplyDelete
  11. Ya Allah Berat banget ya mba perjuangannya. Semoga saya kelak bisa ambil hikmah yang banyak. Terima kasih untuk sharingnya mbak. Salam kenal

    www.amallia-sarah.com

    ReplyDelete
  12. Justru ibu rumah tangga memang hrs berpendidikan tinggi...
    Kalo di dunia pekerjaan, kantor hanya memerlukan paling banyak 2 keahlian dari 1 pekerjanya...
    Tapi kalo ibu rumah tangga.... MashaAllah... Harus tau semuanya... :-D
    Dan ini adalah profesi yg akan dibawa hingga ke akhirat...

    Good choice, mb Yesie!
    Semangat... 😍😘

    ReplyDelete
  13. hidup itu pilihan, ibu bekerja juga pilihan dan sama 2 jadi ibu rumah tangga , jd gak ada yg salah , semua punay cara tersendiri untuk membangun keluarganya

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali bunda, pilihan kita belum tentu terbaik untuk orang lain, begitu pula sebaliknya...

      Delete
  14. Sama dengan saya bu... Meski saya bukan seorang doktor. Tapi pilihan melepas karir dan mengurus keluarga lah yang dipilih Allah untuk saya. Semoga bisa sama-sama istiqomah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga tetap produktif dalam berbagi dan menginspirasi mbak...

      Delete
  15. Sama dengan saya bu... Meski saya bukan seorang doktor. Tapi pilihan melepas karir dan mengurus keluarga lah yang dipilih Allah untuk saya. Semoga bisa sama-sama istiqomah

    ReplyDelete
  16. assalamu'alaikum Yesi san, salam kenal. Saya selalu iri liat perempuan yang bisa menentukan pilihan antara keluarga dan pendidikan S3. Iya meskipun saya sangat yakin itu tentu tak mudah. Saya salut ama Yesi dan dan suami merantau demi menuntut ilmu tapi tetap bisa dekat sama keluarga aka anak-anak. Saya pengen sekolah S3, meskipun baru rencana, alhamdulillah suami selalu mendukung karena kerjanya bisa remote dan dari rumah, anak2 kebetulan masih 5y dan 2y, ah apapun impian kita Allahlah sebaik-baik perencana. Ya kan Yesi san?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Napitupulu san. Betul sekali, Allah sebaik baik perencana. Mudah mudahan suatu saat bisa lanjut S3 ya mbak.

      Delete
  17. Masya Allah.. Menginspirasi sekali.. Saya jadi minder deh karena sekarang menyandang full time mother tapi kadang masiih sj ad keinginan untuk bisa bekerja diluar.. Salam kenal dari saya bun.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kenapa minder bu, profesi ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia. Salam kenal juga ya....

      Delete
  18. Salam kenal mba,seorang Ibu yang memiliki pendidikan tinggi tentu ilmunya sangat bermanfaat untuk mengasuh anak-anaknya. Insya Allah mbak dan keluarga bisa membangun generasi super. Bagaimanapun keluarga merupakan hal utama, kalau sang Ibu sibuk mengajari anak-anak orang lain lalu siapa yang akan mengajari anak sendiri? bukan begitu mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, aduh saya jadi terharu, kalau ibunya sibuk ngurus anak orang lain siapa yang mengajari anak sendiri? Note....

      Delete
  19. MasyaAlloh inspirastif mba :) semoga selalu sehat keluarga mba aamiin

    ReplyDelete
  20. Masya Allah Uni..Semoga Allah membalas pengorbanan dan ketulusanmu dengan Surga-Nya. Aamiin

    ReplyDelete