12.11.17

Perempuan dan Adat Minagkabau


yesielsandra.com. Perempuan dalam adat Minangkabau memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan penting. Berbeda dengan kebanyakan suku di Indonesia, suku Minangkabau memposisikan perempuan sebagai Limpapeh rumah nan gadang, yang artinya perempuan dianggap sebagai simbol baik dan buruknya kaum, bangun dan runtuhnya kaum, maju dan mundurnya kaum.

Begitu tingginya kedudukan perempuan dalam Minangkabau, perempuan dianggap sebagai Bundo kanduang yaitu julukan yang diberikan kepada perempuan yang memimpin suatu keluarga dalam Minangkabau baik sebagai ratu maupun selaku ibu dari raja. Dalam Wikipedia, Bundo Kanduang secara estimologi diartikan sebagai ibu sejati atau ibu kanduang tetapi secara makna Bundo Kanduang adalah pemimpin wanita di Minangkabau, yang menggambarkan sosok seorang perempuan bijaksana yang membuat adat Minangkabau lestari semenjak zaman sejarah Minanga Tamwan hingga zaman adat Minangkabau. Gelar ini diwariskan secara turun-menurun di Minangkabau dan dipilih pada lembaga Bundo Kanduang Sumatera Barat. Istri seorang Datuk kadang-kadang juga disebut sebagai Bundo Kanduang untuk level klan / suku. Namun setiap ibu dapat dikatakan sebagai bundo kanduang dalam keluarganya.

Dalam kato pusako peran Bundo Kanduang ini dijelaskan sebagai berikut:

Dalam kato pusako, kedudukan ibu sebagai bundo kanduang dijelaskan sebagai berikut :
Bundo kanduang
Limpapeh rumah nan gadang
Sumarak dalam nagari
Hiasan di dalam kampuang
Nan tahu di malu sopan
Kamahias kampuang jo halaman
Sarato kato jo nagari
Sampai ka balai jo musajik
Sarato jo rumah tanggo
Dihias jo budi baiak
Malu sopan tinggi sakali
Baso jo basi bapakaian
Nan gadang basa batua
Kok hiduik tampek banazar
Kok mati tampek baniat
Tiang kokok budi budi nan baiak
Pasak kunci malu jo sopan
Hiasan dunia jo akhirat
Auih tampek mintak aia
Lapa tempek mintak nasi

Kato Pusako tersebut bermakna bahwa Bundo Kanduang adalah sosok perempuan yang bijak lagi memiliki kepribadian yang sopan. Memiliki pengetahuan agama yang baik. Bundo kanduang dianggap sebagai tempat meminta nasehat, meminta pendapat. Buruk baik kaum ditentukan oleh perangai bundo kanduang.


Selain dianggap sebagai bundo kanduang, kedudukan perempuan yang membedakanya dengan suku lain di Indoensai adalah Ibu sebagai pemilik harta. Hal ini sangat menarik karena di Minangkabau harta pusako jatuh ke tangan perempuan. Makanya ada yang mengatakan kalau menikah dengan perempuan Minangkabau akan untung, karena akan mewarisi seluruh harto pusako.

Harto pusako adalah warisan yang diperoleh dari orang tua terahulu. Mamak atau paman akan mewariskan kepada kemenakan perempuanya untuk dijaga dan dipelihara.

Menarik memang jika kita telisik lebih jauh tentang perempuan dan adat Minangkabau. Ada yang mengatakan mengenai harta ini tidak sesuai dengna hukum Islam yang seharusnya 2/3 bagian untuk laki laki, sisanya baru untuk perempuan. Tetapi di Minangkabau perempuan menerima seluruh harto pusako.

Inilah kekayaan budaya tanah air dengna berbagai macam adat dan budaya. Untuk mengenal lebih jauh tentang adat di Indonesia yuk lihat di Kumpulan Emak Blogger. 

Tulisan ini bercerita tentang adat batak yang ditulis oleh mbak Tika Samosir sebagai post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Susi Pudjiastuti.

foto: http://bungamanggiasih.com