28.1.18

Haruskah Anak Anak Kita Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri?


yesielsandra.com| Setiap tahun selalu saja ada orang tua yang baper menghadapi pendidikan anak anaknya. Mulai dari masuk TK, SD, SMP, SMA apalagi Perguruan Tinggi, kayaknya ribet gitu.

Pendidikan Tinggi di negara kita masih merupakan barang mewah bagi sebagian masyarakat. Tidak seimbangnya lulusan SMA dengan daya tampung perguruan tinggi negeri membuat hanya sedikit sekali lulusan SMA yang bisa diterima di perguruan tinggi.

Untuk tahun 2017, dari 797.738 jumlah siswa yang mengikuti SBMPTN, hanya 148.066 atau  sekitar 14.36 persen yang diterima di 85 PTN seluruh Indonesia (sumber : rsitekdiktri.go.id).

Sisanya bagaimana? Bagi orang tua murid yang mampu mereka akan memasukkan anaknya di perguruan tinggi swasta yang biayanya tentu lebih mahal dari PTN. Tetapi bagaimana dengan yang tidak mampu?

Sebaiknya orang tua tidak perlu cemas jika anaknya tidak diterima di PTN. Kuliah di PTN bukanlah jaminan baiknya masa depan anak kita dimasa yang akan datang. Begitu juga dengan kuliah di perguruan tinggi swasta. Maksud saya kuliah bukanlah satu satunya cara untuk sukses. Tetapi kita bisa sukses dengan kuliah.

Kita dapat melakukan observasi sejak dini atas minat, bakat dan talenta anak kita. Apakah bakatnya dibidang akademik atau bukan. Jika bakatnya di bidang akademik, orang tua dapat mengarahkan anak untuk belajar maksimal dengan memfokuskan mata pelajaran yang diujikan dalam SBMPTN. Tetapi jika hasil observasi menunjukkan minat, bakat dan talenta anak kita bukan di akademik sebaiknya orang tua mengarahkan anak agar berlatih sesuai apa yang menjadi talentanya. Tidak perlu dipaksakan harus kuliah.

Jika kita tetap menginginkan anak tetap kuliah, beri kebebasan anak memilih program studi yang ia minati. Pilihlah program studi yang sesuai dengan minat, bakat dan talentanya, bukan minat orang tua. Tidak harus di PTN. Di PTS pun jika memang anak kita menyukai program studinya maka ia akan unggul di situ, ia akan menyukai program studinya dan tentunya nilainya nanti akan tinggi. Lagi pula hak dan keajiban mahasiswa di PTN dan PTS sama kok.

Tidak sedikit saya temukan mahasiswa yang salah jurusan. Minat dan program studinya tidak nyambung. Akhirnya nilainya pas Pasan. Setelah tamat tidak tahu akan berbuat apa, melamar pekerjaan kemana mana ditolak. Akhirnya jadi pengangguran. Soalnya dulu orang tuanya yang memilihkan jurusan, bahkan mendaftar saja orang tua juga yang mendaftarkan.

Semoga anak anak kita tidak demikian. Sebaiknya sejak dini kita rancang masa depan anak kita sesuai dengan minat dan bakatnya. Kemudian tidak ada salahnya mulai dari sekarang kita menginvestasikan dana untuk pendidikan mereka kelak. 

Selain PTN dan PTS banyak juga sekolah kedinasan yang dapat dijadikan alternatif, termasuk sekolah non formal seperti tempat kursus singkat yang memberikan pendidikan keterampilan. Perusahaan swasta saat ini juga tidak sedikit yang memiliki sekolah sendiri untuk memenuhi kebutuhan karyawanya. Mereka melakukan seleksi sendiri, dibiayai seluruh proses belajar mengajarnya, diasramakan. Setelah lulus langsung ikatan dinas dan ditempatkan di holding companynya. Salah satu contohnya, Politekhnik Gajah Tunggal. Suami saya dulu alumnus perguruan tinggi ini. Info mengenai kampus ini bisa Cek Di Sini.

sumber cover : wikipedia

#SatuHariSatuKaryaIIDN

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment