29.1.18

Seperti Ini Orang Jepang Mengajarkan Disiplin Pada Anaknya


yesielsandra.com|Ketika gempa dan Tsunami tahun 2011 terjadi di Jepang ada pemandangan luar bias di sana. Orang orang tetap mengantri dengan tertib, tidak ada penjarahan, tidak ada keributan, tidak ada bunyi klakson mobil yang memekakkan telinga. Walau telah luluh lantah, mereka terus berjuang, dalam waktu yang tidak terlalu lama kehidupan kembali normal. Seperti tidak terjadi apa apa saja.

Apakah semua itu terjadi secara tiba tiba? Tentu tidak. Ada poses pendidikan panjang yang dilalui orang Jepang sehingga memiliki kedisiplinan dan daya juang yang tinggi. Semua berawal sejak mereka kecil. Orang tua, sekolah, lingkungan dan pemerintah memiliki peran yang besar menjadikan kedisiplinan menjadi karakter yang mendarah daging pada orang Jepang.

Alhamdulillah saya menyaksikan secara langsung bagaimana proses itu terjadi. Semuanya seperti sudah menjadi system dan budaya bangsa Jepang. Saya yakin kita dapat menduplikasinya untuk anak anak kita. Diantaranya seperti ini:


1.  Anak anak Jepang dibiasakan makan sendiri setelah berumur 1 tahun. Orang tua melatihnya dengan memberikan makanan dalam porsi yang kecil. Nasi dan lauk pauk dibuat bola bola kecil yang bisa digenggam oleh tangan bayi. Ada juga cetakan makanan kecil kecil seperti Hello Kitty, Doraemon dan lain lain. Peralatan makan disediakan yang lucu lucu. Pastinya kegiatan melatih kemandirian makan ini didampingi orang tua.

2.  Ketika sedang mendampingi anak dalam suatu kegiatan jarang sekali mereka memegang dan bermain handphone. Mereka fokus pada anaknya, jika ada sesuatu yang dibutuhkan anak, orang tua segera respon. Pantas di bus umum atau di tempat keramaian jarang sekali anak anak Jepang berteriak teriak. Mereka duduk rapi di bus umum dan berbicara seperlunya dengan orang tuanya.

3.   Biasanya setelah melahirkan ibu akan cuti dari pekerjaannya sampai 6 bulan. Jika ibu kembali bekerja anak anak dititipkan di Houkuen atau Daycare. Di sini pola asuh anak hampir sama dengan pola asuh orang tua di rumah. Pengasuh hanya memegang 6 anak, sehingga pengasuh masih dapat mengontrol perkebangan anak anak. 

4.   Memasuki usia 3 tahun anak anak Jepang bisa memilih tetap di Houkuen atau masuk Youchien atau TK. Di Houkuen atau Youchien anak anak tetap dibiasakan makan sendiri, buang air kecil dan besar sendiri ke toilet. Merapikan kasur bekas tidur siang, merapikan dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, seperti sepatu, tas dan peralatan lainya

5.  Wajib belajar di Jepang dimulai dari usia 6 tahun. Menariknya seluruh informasi kependudukan sudah terintergrasi. Sehingga jika anak kita sudah berusia 6 tahun pada tahun ajarannya, anak kita otomatis akan dikirimi surat dari Cityhall. Surat itu ditujukan langsung atas nama anak kita. Begitu tingginya penghargaan pemerintah pada anak anak. Sekolah anak anak juga sudah ditentukan yang dekat dengan rumahnya.

6.   Orang tua tidak bisa memilih sekolah yang diinginkanya. Karena sudah ditentukan pemerintah yang dekat rumah. Sehingga berangkat sekolah anak anak selalu berjalan kaki, tidak boleh diantar pakai kendaraan. Ini merupakan salah satu pendidikan disiplin yang terintegrasi. Anak menjadi tidak tergantung pada orang tuanya.




7.   Di sekolah disediakan rak untuk sepatu, payung serta gantungan jaket. Anak anak akan meletakkan sepatu, payung dan jaketnya di rak yang telah disediakan. Satu rak untuk satu orang. Semua tertata dengna rapi. Di dalam sekolah anak anak memakai sepatu putih yang ditinggal setiap hari di sekolah.

8.  Entah bagaimana cara guru mengajarkan disiplin, yang saya tau anak saya tidak mau terlambat masuk sekolah. Katanya terlambat adalah sesuatu yang memalukan. Dengan sendirinya mereka akan bangun pagi. Mereka juga menyiapkan sarapan dan bekal sendiri, saya hanya memasak saja. Anak anak Jepang makan siang di sekolah. Mereka akan ngantri dengan rapi dan meletakkan piring pada tempatnya. Anak anak kami membawa dari rumah untuk menjaga kehalalan makanan. Alhamdulillah mereka sangat toleransi.

9.   Setiap bulan akan diberikan jadwal kegiatan sekolah selama sebulan. Jadi kita orang tua tau jam berapa anak kita pulang dan apa yang dia pelajari hari itu di sekolah. Juga ada buku penghubung semua sangat rapi dan disiplin.

10. Jepang terkenal sangat bersih, ternyata disekolah diajarkan untuk menjaga kebersihan. Setiap hari anak anak membersihkan ruangan kelas yang dinamakan Souji. Anak anak membawa semacam kain pel warna putih dari rumah.

11. Anak anak juga diajarkan untuk tidak lupa menyapa saat bertemu orang lain dengan ucapan, Ohaiyo Gozaimasu.

12. Selain belajar bahasa Jepang di sekolah, anak anak asing mendapatkan tambahan belajar dari volunteer. Tidak hanya belajar bahasa tetapi juga dibantu pelajaran sekolahnya. Kegiatanya sekali seminggu selama kurang lebih 2 jam. Setiap akhir pertemua diberi PR untuk dikerjakan setiap hari. Menariknya PR tersebut harus dikerjakan runut berdasarkan hari yang sudah ditentukan. Sehingga anak anak disiplin mengerjakan sesuatu sesuai dengan prosedurnya. Apalagi kalau libur, PR nya semakin banyak. Sensei sudah memberikan catatan hari ini yang dikerjakan halaman segini, besaok dikerjakan halaman lain lagi.

13.  Bahkan membuang sampahpun harus disiplin sesuai aturanya. Sampah plastik tidak boleh dicampur dengan sampah organik. Hari dan jam buang sampahpun diatur. Sampah tidak boleh berceceran, harus dimasukkan dalam kantong plastik dan diikat dengan rapi. Sampah popok harus diberi tanda. pantas tempat sampahnya aja bersih ngak ada yang yang berceceran apalagi bau. Jika tidak memenuhi syarat sampah kita tidak akan diangkut petugas.

14.  Di Jepang tidak ada angkot. Transportasi biasnya kereta api dan bus. Keduanya punya jadwal yang disiplin juga. Sehingga tidak heran, tidak ada kemacetan di Jepang.

15. Antrian yang rapi dan tepat waktu menjadi keunggulan budaya Jepang. Mereka malu menyerobot antrian orang. Mereka akan sangat malu kalau terlambat. Jika ada janji mereka sudah hadir 10 menit sebelum waktu yang dijanjikan. Jika ada terambat atau berhalangan mereka akan segera mengabari.

16. Apakah kita bisa menduplikasi Jepang? saya yakin pasti bisa....

Seperti itulah kurang lebih yang saya lihat dari keseharian orang Jepang. Maka tidak heran mereka adalah orang orang disiplin dan pekerja keras. 

#SatuHariSatuKaryaIIDN




Reaksi:

3 comments: