7.2.18

Bukan Anak Anak Kita yang Nakal dan Bermasalah.


yesielsandra.com|Sungguh bukan. Tidak ada yang tiba tiba dimuka bumi ini. Tidak ada yang kebetulan. Semua pasti mengalami proses. Ada sebab pasti ada akibat.

Pernah ada orang tua menanyakan pada saya kenapa anaknya suka memukul dan berantem dengan temanya. Padahal menurutnya ia sangat baik pada anaknya, tidak suka marah, memukul apalagi, tidak pernah katanya. Saya tanyakan, apa yang ditontonnya?

Jawabannya ketemu, tontonan yang telah mengajari anak kita. Filmnya sih bertema anak anak, tapi isinya kekerasan. Kita lalai mengontrol apa yang ditonton anak anak kita.

Ada anak yang sangat kecanduan gadget sampai mengalami gangguan jiwa. Kok bisa? Ya iyalah masih kecil anak sudah punya gadget sendiri. Alasan ortu ngasih gadget maksudnya baik agar bisa berkomunikasi. Kita belikan yang model terbaru biar ngak kalah dengan anak tetangga, kita belikan pulsannya.Tapi kita lalai mengontrolnya.

Pernah nggak Anda lihat video anak SMP masih mengenakan seragam melahirkan? Kenapa anak belia itu bisa menyerahkan kehormatannya begitu saja pada laki laki? Karena tidak ada figur ayah dalam dirinya. Ayah sibuk. Ayah tidak perhatian, ketika ada laki laki yang merhatiin dikit aja, langsung kesemsem..

Fenomena A*****N, seorang selebgram yang suka dugem ternyata semakin diminati remaja. Lihatlah followers nya terus bertambah. Padahal yang dilakukanya sangat jauh dari nilai dan budaya ketimuran apalagi dengan Islam. Ekspektasi ortunya yang tinggi, Jakarta yang liar dan buas telah mengubah gadis berjilbab didaerahnya ketika itu menjadi seperti sekarang ini.


Saya menerima curhat banyak ortu yang masih teriak teriak membangunkan anak untuk sholat subuh. Padahal anak ini ada yang alumni pesantren. Bukan salah pesantren nya, kita yang lalai. Karena ketika masih kecil kita kadang kasihan melihat anak harus bangun subuh. Kalaupun dibangunkan ya itu tadi awalnya teriak teriak. Sampai besar ngak berubah, teriak teriak terus.

Ada lagi ortu yang curhat anaknya kalau bicara kasar sekali. Tidak menghormati ortu, lebih mendengar teman dari pada ortu. Coba cek dan ricek, kita sehari hari bicara kasar ngak sama anak?, Kalau anak bicara kita perhatian ngak dengan apa yang dibicarakannya? Kalau bicara dengan teman nyambung, lah kenapa dengan kita ngak? Biasanya alasan kita adalah capek pulang kerja pengen istirahat. Ngak mau diganggu anak anak. Kalaupun mau bicara, biasanya yang kita bicarakan adalah, sudah ngerjain PR belum?

Siapa yang salah, anak atau cara kita mendidik anak yang harus diintropeksi. Keluarga, khususnya ibu adalah kekuatan utama kemajuan sebuah peradaban.

Tetapi syaitan akan selalu membisikkan ke dalam dada ibu untuk terus eksis di luar, untuk terus kerja siang malam banting tulang. Untuk sama persis dengan laki laki dalam segala hal. Soal anak, outsourcing kan saja. Nanti juga gede sendiri, kan dikasih makan, nanti pinter sendiri, kan udah dilesin.....

Ketika anak kita sudah menjadi mangsa predator, atau larut dalam narkoba, free sex, kenakalan remaja, ada kah lagi manfaatnya kita eksis di luar rumah? Adakah lagi berguna harta, pangkat, jabatan yang selama ini kita kejar, kita impikan, kita mati Matian mendapatkannya. Masihkah lagi berguna?

Bukan anak kita yang bermasalah, kita yang harus introspeksi diri.

Bukan anak kita yang harus dinasehati, kita yang perlu nasehat, agar kembali pada misi penciptaan kita, agar tidak menjadi ibu yang haus akan pangkat, jabatan dan harta dunia, sementara lupa memeluk anak anak kita, permata yang Allah jadikan sebagai jalan kita menuju surga.

Bukan anak kita yang harus berubah, kita yang harus berubah menjadi orang tua betulan. Karena dari sononya sungguh anak itu terlahir dalam fitrah kebaikan.

Di training hypnosis nanti akan dibahas sedikit tentang hypnoparenting. Barsama kita tumbuh dan berkembang.


Reaksi:

2 comments:

  1. kita bukan saja hanay membdidik anak tapi juga mnegajarkan anak kalau ada sesuatu di lingkungannya atau media sosial yang gak betul, kita harus memberitahunya. Kalau di film TV, kalau ada yang berantem aku sellau bilang kalau itu gak bener, masalah bisa diselesaikan tanpa harus berkelahi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul sekali bunda, terimakasih banyak...

      Delete