27.2.18

Menjadi Istri Pendamping Setia Suami


yesielsandra.com. Rumah tangga sakinah mawadah warahmah tidak akan ada jika tidak ada suami dan istri yang saling mendukung. Suami istri yang saling berkorban, saling bahu membahu, saling memotivasi dan saling meningkatkan kualitas dan kapabilitas pasanganya masing masing.

Saya mengatakan saling. Kenapa? karena pada diri suami dan istri ada kelebihan dan kekurangan. Ada peluang dan ancaman. Ada kesempatan dan tantangan. Sehingga satu sama lain perlu memahami bahwa tidak akan sampai tujuan rumah tangga jika suami atau istri tidak saling mendukung pasanganya.

Saya masuk program Doktor di Unpad tahun 2002. Pada tahun 2003 saya menikah. Kebetulan waktu itu saya di Bandung, sedangkan suami saya bekerja di kota lain. Dua bulan pertama kami lalui dengan LDR. Sabtu dan minggu suami saya ke Bandung. Setelah dijalani kok rasanya ngak nyaman. Entah karena penganten baru atau memang karena seharusnya suami istri itu bersatu, kami mencoba melakukan kontemplasi. Kami berdiskusi panjang. Jika kondisi ini terus kami lalui sepertinya kurang sehat untuk pernikahan kami. 

Kami mulai menghitung hitung kekuatan dan kesempatan. Salah satu harus mengalah. Saya yang mundur melanjutkan program doktor, atau suami saya yang berhenti bekerja dan pindah ke Bandung. Pilihan yang pastinya sangat sulit dan berat.

Akhirnya pilihan jatuh pada suami saya. Suami saya mengalah, dia resign. Bukan berarti saya gembira. karena maslah baru pasti akan muncul. yaitu pekerjaan. Tidak mudah mencari pekerjaan dengan tamatan D3. Bagi Allah mudah sekali memberi kita rezeki jika tujuan kita adalah untuk beribadah dan menyeru manusia kepadaNya. 

Roda berputar, waktu berlalu. Setiap saat akan ada terus ujian untuk menaikan kelas rumah tangga kita dalam rupa yang berbeda beda. Saat ini saya harus rela meninggalkan karier saya yang sadang tumbuh dna berkembang. Saya harus mengikuti suami saya tugas belajar. 

Saya bersyukur, sebelumnya saya adalah dosen yang mengajar di 3 kampus pascasarjana di Sumatera Barat. Saya biasanya mengisi seminar dan training, menjadi narasumber tetap setiap mingu di radio. Untuk sementara semua harus ditinggal demi mendampingi suami.

Saya tidak khawatir, kenapa? karena menurut saya karier perempuan yang terbaik itu bukan di publik, tetapi di domestik, di rumahnya. Sebaik baik perempuan adalah perempuan yang sholehah. Tolak ukur kesholehahan seorang istri adalah ketika dieprintahkan oleh suaminya dia taat. Dia selalu ada disaat suaminya "membutuhkannya". Dia memberikan ketenangan saat suaminya galau, dia hadir lahir dan batin saat suaminya perlu dukungan. Dia berkata tegas dan lantang saat suaminya perlu motivasi, dia selalu ada saat suaminya perlu didampingi.

Istri sholehah adalah istri yang setia dalam suka dan duka, dalam tangis dan tawa, dalam sempit dan lapang dalam rendah dan tinggi. dalam gelap dan terang. dalam rendah dan tinggi. Apapun dan bagaimanapun keadaan suaminya dia akan meninggikan suaminya seranting dan mendahulukannya selangkah.

Ketika istri mampu menghadirkan dirinya seperti apa yang dibutuhkan suaminya, maka seluruh langit dan bumi akan memudahkan langkahnya. Pintu pintu rezeki akan terbuka lebar pada keluarganya. Rumahnya akan semerbak bagaikan syurga. Anak anaknya akan tumbuh tidka saja menajdi anak yang sholeh dan sholehah tetapi juga anak anak yang sehat dan pintar. karena keharmonisan dan kehangatan keluarga mengalir dalam setiap tumbuh kembang mereka...
Reaksi:

3 comments:

  1. salam kenal terharu banget bc postingannya mbak yg ikhlas berkorban untuk kebahagiaan keluarga...tentunya suami dan anak2 lebih seneng kalau mbak di rumah. sy yakin Allah akan mengganti rejeki mbak.

    ReplyDelete
  2. Salam kenal bunda, terimakasih sudah mampir....

    ReplyDelete