16.2.18

Parenting Ala Rasulullah

Rasulullah adalah suri tauladan kita dalam menjalan kehidupan. Ketika Rasulullah menjadi imam shalat, tiba-tiba Husen datang menghampiri beliau dan langsung menunggangi leher beliau ketika beliau sujud, maka beliau memanjangkan sujudnya sampai-sampai orang menyangka bahwa telah terjadi sesuatu hal. Ketika shalat selesai, mereka bertanya ihwal kejadian itu. Rasulullah SAW mengatakan, “Sesungguhnya anakku menunggangiku, maka saya tidak mau ia terburu-buru (agar turun) sampai ia merasa puas.” (HR. An-Nasai)

Hadis di atas sudah sangat familiar sekali di telinga kita. Dalam shalat saja Rasulullah memberi kesempatan kepada anak anak untuk bermain sesaat sampai puas, tidak melukai hatinya. Apalah lagi dalam kehidupan sehari hari. Menyenangkan hati anak adalah salah satu perkara penting untuk tumbuh kembangnya.

Menjadi orang tua adalah profesi sepanjang hayat. Ada 3 pihak yang berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak seperti prilaku, akidah, akhlak dan ibadahnya. Pertama adalah ayahnya. Alquran bercerita banyak tentang peran ayah terhadap pertumbuhan anak anak. Misalnya dalam surat Lukman. Kedua adalah ibunya. Ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui . Waktu anak anak banyak bersama ibu, sehingga ibu menjadi pendidikan pertama dan utama anak anak. Ketiga adalah lingkunganya, baik lingkungan rumah, sekolah dan keluarga besar. Dari ketiga pihak ini, jelas orang tua memiliki pengaruh yang paling dominan. Bagaimana orang tua merumuskan blue print bagi anak anaknya. Siapa yang menjadi rujukan bagi orang tua dalam mendidik anak anaknya, dan bagaimana pola asuh orang tua sehari hari merupakan hal penting untuk diperhatikan.


Rasulullah adalah sebaik baik contoh dalam menjalankan kehidupan. Dalam hal apa saja, seperti dalam beribadah, bermuamalah, berumah tangga, termasuk dalam mendidik anak anak. Rasulullah tahu betul, dunia anak adalah dunia bermain. Maka beliau memberi kesempatan yang luas bagi anak anak untuk bermain. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Pada suatu hari aku melayani Rasulullah. Setelah tugasku selesai, aku berkata dalam hati, ‘Rasulullah pasti sedang istirahat siang.’ Akhirnya, aku keluar ke tempat anak-anak bermain. Aku menyaksikan mereka sedang bermain. Tidak lama kemudian, Rasulullah datang seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Beliau lalu memanggil dan menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku pun segera pergi untuk menunaikannya, sedangkan beliau duduk di bawah sebuah pohon hingga aku kembali.” (HR. Ahmad).

Bermain adalah kebutuhan anak anak usia 0-14 tahun. Berilah kesempatan anak anak kita bermain dengan teman sebayanya. Termasuk bermain dengna orang tuanya. Permainan yang mengasikkan bagi anak anak 0-7 tahun bersama orang tua adalah tubuh orang tua itu sendiri. Banyak permianan yang bisa dilakukan bersama anak. Seperti Hasan dan Husen yang bermain di punggung Rasulullah. Akan lebih baik jika permianan itu selain menyenangkan dan memuaskan hati anak, permainan itu juga mengandung unsur edukatif dan meransang orank anak. Disitulah kreatifitas orang tua diperlukan agar bisa menciptakan instrument permianan yang menyenangkan dan edukatif.

Anak anak juga paling suka diberi hadiah. Misalnya ayah pulang dari luar kota membawa hadiah buku atau coklat. Wah pasti anak anak akan senang. Rasulullah pernah membariskan Abdulullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya, Al Abbas, dalam suatu barisan, kemudian beliau bersabda: “Siapa yang paling dahulu sampai kepadaku, dia akan mendapatkan (hadiah) ini. Mereka pun berlomba lari menuju tempat Rasulullah berada. Setelah mereka sampai di tempat beliau, ada yang memeluk punggung dan ada pula yang memeluk dada beliau. Rasulullah menciumi mereka semua serta menepati janji kepada mereka.” (Majmu’uz Zawaid).

Memberi hadiah akan membuat hati anak tertaur pada yang memberi hadiah tersebut. Jangnakan anak, kita orang dewasa saja jika diberi hadiah oleh teman pasti akan memiliki perasaan senang kepada yang memberi hadiah. Ketika hati anak sudha dapat kita rebut maka akan sangat mudah sekali mengarahkan dan mendidiknya. Menyenangkan hati anak akan membuatnya trust kepada orang tuanya. Itulah cara hypnosis termudah yang bisa dilakukan orang tua.

Rasulullah juga mengajarkan agar setelah anak lahir diazankan oleh orang tuanya. Selanjutnya dilakukan aqiqah sebagai tanda syukur kita atas anugrah kelahiranya. Kemudian memberi nama yang mengandung arti yang baik.

Hal pertama yang diajarkan kepada anak adalah tauhid. Bukan belajar membaca atau matematika. “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman) Selanjutnya anak perlu diajarkan ibadah. Diantaranya sholat dan puasa. “Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad).

Diriwayatkan dari Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz, salah satu perempuan shalehah sahabat rasul. Ia berkata: “Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Walau Rasulullah adalah seorang pemimpin besar, beliau tidak mengajarkan kesenangan duniawi kepada anak anaknya. Anak anaknya diajarkan hidup yang sederhana. Fatimah tidak memiliki asisten rumah tangga. Padahal jika dia mau tentu mudah saja baginya untuk mendapatkan itu.

Demikianlah sedikit cara nabi dalam mendidik anak anaknya sehingga tumbuh menjadi anak anak yang dicatat oleh sejarah dengan tinta emas. Semoga kita bisa meneladani cara Rasulullah dalam mendidik anak. Sehingga kita bisa menajdi orang tua betulan, bukan orang tua kebetulan.

Reaksi:

4 comments: