18.10.19

Bagaimana Jepang Membangun Karakter Masyarakatnya?

Jepang adalah salah satu negara modern dan maju di Asia. Ia mampu menyamai kemajuan Barat dalam pendidikan dan tekhnologi. Jepang memiliki keunggulan dan keunikan sendiri dibanding negara lain dalam hal budaya dan karakter masyarakatnya. Walaupun telah menjadi salah satu negara maju dan modern, karekter dan budaya tetap melekat dan menjadi jati dirinya.

Bangsa Jepang terkenal memiliki karakter unggul, pekerja keras, disiplin, bersih, jujur dan bermoral. Hal ini saya lihat sendiri bagaimana kehidupan sehari hari masyarakat Jepang. Pola pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah melalui pendidikan formal dan pendidikan keluarga dari orang tua terdahulu menjadi tiang dalam pembentukan karakter positif ini.

Pendidikan yang simultan antara pemerintah dan orang tidak hanya sebatas teori belaka, tapi penekanannya lebih kepada implementasi kehidupan sehari-hari. Misalnya  kegiatan Ensoku dari sekolah, semacam kegiatan jalan-jalan. Anak benar-benar disuruh jalan kaki. Untuk anak TK jalan kakinya sejauh 2 km. Mungkin kita tidak akan tega menyuruh anak kecil berjalan sejauh itu di tengah terik matahari. Tapi di Jepang anak-anak kecil justru dibiasakan berjalan kaki walau jauh. Banyak pelajaran dari kegiatan Ensoku yang memberi nikai positif pada karakter  masyarakat.


1. Anak dilatih disiplin. 

Rombongan akan berbaris dan berjalan sesuai kelompoknya. Tidak boleh bergerombol, tidak boleh mendahului teman dan berpencar, harus terus dalam barisannya. Anak dilatih disiplin berlalu lintas sejak kecil.

2. Anak dilatih taat aturan.

Anak benar-benar mengerti apa artinya taat aturan. Setiap melewati persimpangan jalan, anak-anak diperintahkan untuk melihat lampu lalu lintas. Jika lampu merah wajib berhenti walaupun tidak ada kendaraan yang lewat. 

3. Anak dilatih pantang menyerah.

Berjalan 4 km pulang pergi untuk anak TK bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi disinilah pendidikan karakter itu dibentuk. Anak dilatih pantang menyerah sebelum sampai tujuan. Walau tampak sudah kelelahan, anak-anak kecil itu terus melangkahkan kakinya. Sensei akan menyemangati dengan mengatakan, "ganbatte." 

4. Anak dilatih menjaga kebersihan.

Setelah sampai ditempat tujuan Ensoku dan kegiatan telah dilaksanakan, anak-anak akan makan siang bersama. Anak-anak diminta tidak membuang sampah sembarangan. Sampah atau atau biasa disebut gomi wajib disimpan masing-masing. Jadi tidak terlihat sampah berceceran setelah ada kegiatan.

5. Anak diajarkan mencintai alam dan menjaga lingkungan.

Kegiatan Ensoku anak TK umumnya berhubungan dengan alam terbuka. Biasanya anak diajak ke taman. Di sana anak-anak diberi tugas mencari seauatu yang berhubugan dengan alam, misalnya pohon, burung, rumput dan lain-lain. Disitulah nilai-nilai menjaga alam dan lingkungan diajarkan.

Tidak tampak ada anak Jepang yang mengeluh dan menangis saat kegiatan Ensoku berlangsung. Padahal jarak yang ditempuh jauh, mendaki dan panas.

Baca juga :
Jadwal harian ibu rumahan agar tetap produktif
Semua anak cemerlang

Itu baru satu contoh kegiatan anak di TK. Banyak lagi kegiatan lain yang dilakukan di sekolah yang berimplikasi kepada karakter mereka dimasa yang akan datang. Misalnya kegiatan pekan olah raga atau undokai. Biasanya olah raga yang dipertandingkan bersifat team work. Seluruh murid dari kelas yang terendah sampai kelas yang tertinggi dibagi menjadi 3 tim, merah, kuning dan biru. Bukan berdasarkan individu atau kelas. Semua olah raganya juga  berdasarkan tim. Tidak ada pemenang individu, tapi yang ada adalah kemenangan tim. Disini anak dilatih bekerja sama bagaimana agar bisa menang bersama. 

Bangsa Jepang sangat menyadari bahwa karakter masyarakat tidak bisa dibentuk secara parsial. Perlu kerjasama yang utuh antara pendidikan yang diberikan guru di sekolah, orang tua di rumah dan masyarakat di lingkungannya.

Untuk itu fasilitas, sarana dan prasarana, kurikulum, proses belajar mengajar kualitasnya menjadi prioritas pemerintah. Dimulai dari sarana sekolah. Kita akan berdecak kagum melihat sarana dan prasaran untuk sekolah dasar. Gedungnya bagus, fasilitasnya lengkap, perpustakaan memiliki buku yang banyak, ada kolam renang. Tidak ada sekolah unggulan, semua sekolah dibuat dengan standar yang sama, fasilitas yang sama, guru diroling, guru kreatif dalam menyiapkan bahan ajar, sebanding dengan gaji yang diterimanya.

Wajib belajar di Jepang juga 9 tahun. Karena sifatnya wajib, maka pemerintah juga memiliki kewajiban menerima semua anak untuk sekolah di jenjang SD dan SMP. Tidak ada anak yang tidak kebagian bangku sekolah.

Pendidikan karakter ditekankan betul saat SD dan SMP. Selain melalui implementasi langsung, anak juga diajak berdiskusi bahkan diminta menuangkan pendapatnya melalui tulisan. Tulisan itu nanti ditempel dan bisa dibaca semua teman-temannya.

Baca juga artikel menarik berikut ini :
Tips menyikapi penggunaan Gadget pada anak
Seperti ini orang tua Jepang mengajarkan kepada anaknya

Pelajaran life skill juga sudah mulai diajarkan di SD. Kadang orang tua juga dilibatkan. Misalnya kami pernah menemani anak waktu kelas 2. Kami membuat kue sederhana dari ubi. Bahan baku disiapkan sekolah. Orang tua dan anak tinggal berkreatifitas dan bekerjasama membuat kuenya. Kegiatan sederhana tapi dampaknya luar biasa terhadap bonding antara anak dan orang tua. Selain memasak, anak SD juga sudah diajarkan menjahit, membuat kreasi dari barang bekas, dll.

Pendidikan karakter dalam keluarga juga menjadi prioritas keluarga di Jepang. Anak dilatih disiplin, kerja keras, sopan santun, mandiri, jujur dll. Sejak kecil anak sudah diajarkan makan sendiri, membereskan mainan sendiri, mengucapkan salam, berterimakasih dll.

Di Jepang umumnya anak diasuh sendiri oleh ibunya. Tidak ada pengasuh atau baby sitter. Jika bekerja, anak akan dititip di daycare yang diawasi langsung oleh pemerintah. Daycare ini juga memiliki kurikulum yang teringegrasi dengan program pemerintah dalam membentuk karakger dasar masyarakat. 

Pekerjaan rumah tangga biasa dikerjakan sendiri oleh ibu. Masyarakat Jepang umumnya tidak ada yang memiliki asisten rumah tangga. Sehingga anak juga menjadi terbiasa mengerjakan kebutuhanya sehari-hari. Ada sebuah istilah yang menjadi dasar bagi keluarga di Jepang, yaitu "ryosay kentro," yang artinya istri yang baik dan ibu yang arif.
Maka tidak heran saya sering melihat ibu-ibu yang mengendong kesana kemari anaknya. Jika anaknya lebih dari satu dan masih batita, kadang saya melihat dua anak digendong sekaligus menggunakan gendongan kanguru. Satu posisinya didepan bagian dada, satu lagi di bagian belakang. Belum pernah saya lihat sebelumnya ibu-ibu menggendong anak seperti itu.

Ibu-ibu di Jepang tampak sungguh-sungguh mengasuh anaknya. Saat bermain bersama anaknya, jarang saya melihat ibu-ibu itu bermain HP. Mereka fokus menemani anaknya bermain. Memperhatikan dengan seksama anaknya yang berlari kesana kemari. Jika anak melakukan kesalahan, ibu di Jepang tidak segan menghukum anaknya.

Karakter sebuah bangsa tidak bisa dibentuk secara parsial, tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat apalagi diajarkan hanya sebatas teori tanpa contoh dan implementasi. Jepang telah melakukan ini bahkan jauh sebelum perang dunia terjadi. Maka tidak heran kekelahan Jepang pada perang dunia segera dapat ia atasi dengan merekonstruksi segala infrastruktur bangsanya sehingga kini bisa menjadi negara yang maju dan modern.



15.10.19

Rahasia Sehat Orang Jepang

Suatu hari kami pergi ke luar kota. Kebetulan mobil kami belum memasang Electronic Toll Card (ETC). Jadi suami saya harus melewati pintu tol manual yang dijaga petugas. Jangan bayangkan kita menemukan petugas tol seorang perempuan muda. Hampir seluruh petugas tol yang kami temui telah berusia lanjut. Tapi mereka masih gesit dan sigap melayani.

Tidak hanya petugas tol yang sudah berumur, kadang saya menemui kasir, dan pekerja lainnya yang berusia lanjut. Banyak juga saya temui pengendara mobil yang lalu lalang, pengendara sepeda dan penumpang bus berusia lanjut. 

Menurut pemerintah Jepang, pada tahun 2018, warga Jepang yang berusia 65 atau lebih tua mencapai rekor jumlah 35,6 juta, atau 28,1 % dari total penduduk. Jumlah ini menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) termasuk yang tertinggi di dunia. Jumlah ini jauh di atas Italia yang mencapai proporsi 23,3%, atau 21,9% di Portugal dan 21,7 % di Jerman. Pemerintah Jepang juga mengatakan orang yang berusia 70 tahun atau lebih menyumbang 20,7 % dari populasi, melebihi 20% untuk pertama kalinya.

Walaupun populasi jumlah orang tua lebih banyak dari yang muda, tetapi orang tua di Jepang tampak seperti masih muda setara usia 40 tahunan, masih tampak sehat, kuat dan segar bugar. Apalagi kulit mereka putih jadi tidak terlihat seperti orang yang sudah tua
Sehat dan panjang umur adalah aset yang sangat berharga. Sehat bagi orang Jepang menjadi gaya hidup. Makanan yang dikonsumsi orang Jepang ditengarai menjadi faktor rahasia membuat mereka masih sehat dan segar bugar di usia tua. Masyarakat yang menderita obesitas dan penyakit berbahaya termasuk rendah dibanding negara lainnya.

Ada pepatah mengatakan Ada ungkapan “You are what you eat”. Kesehatan kita berkorelasi dengan apa yang kita makan. Jika makanan yang kita konsumsi sehat maka kitapun akan menjadi sehat. Begitu pula sebaliknya, jika makanan yang kita konsumsi adalah makanan yang tidak sehat maka penyakit berbahaya akan mudah menghampiri, seperti obesitas, jantung, kanker dsb.

Apa saja kebiasaan orang Jepang yang membuat mereka sehat dan panjang umur? Dari pengamatan saya langsung, ada beberapa kebiasaan orang Jepang yang membuat mereka sehat dan panjang umur. Diantaranya:

1. Suka Berjalan Kaki.
Orang Jepang suka berjalan kaki. Ketika pergi ke supermarket saya sering melihat mereka memarkir mobilnya jauh dari pintu masuk supermarket. 

Anak sekolah juga dilatih berjalan kaki sejak kecil. Sekolah yang jaraknya kurang dari radius 2 km harus berjalan kaki. Anak SD tidak boleh bersepeda, tidak boleh juga diantar pakai motor atau mobil. Kecuali dalam keadaan khusus.

Bayangkan saat salju lebat atau panas sangat terik anak kecil itu harus berjalan kaki ke sekolah walau jarak rumah lebih dari 1 km. Tapi semua itu membuat tubuh mereka menjadi kuat dan sehat dimasa yang akan datang.

2. Bersepeda
Bersepeda menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat Jepang. Selain hemat energi, bersepeda juga menyehatkan. Saya biasa melihat orang bersepeda menggunakan pakaian yang rapi, lengkap dengan jas dan dasinya. Itu pemandangan yang biasa. Saya malah jarang melihat motor lalu lalang.

Jalan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda sama banyaknya dengan jalan bagi pengendara mobil. Sehingga bersepeda menjadi pilihan sebagian besar masyarakat pergi kesana kemari.

3. Senam
Senam juga menjadi salah satu kebiasaan di Jepang. Saat libur musim panas anak-anak sekolah dianjurkan ikut “Rajio Taiso” atau senam di lingkungan terdekat setiap pagi. Walaupun libur anak-anak diharapkan tetap memiliki kebiasaan bangun pagi dan berolah raga. Setelah program senamnya selesai anak-anak biasanya diberi hadiah.

Di lingkungan kami para lansia pagi hari biasanya berkumpul untuk senam. Saya pernah mengikutinya, gerakannya sederhana dan tidak berat. Cocok bagi mereka yang berolah raga tanpa menggunakan gerakan fisik yang berat.
4. Kombinasi Mengkonsumsi Karbohidrat.
Makanan pokok di Indonesia umumnya selalu berupa nasi. Di Jepang umumnya karbohidrat dikombinasi seperti roti, udon (mie dari beras), soba (mie dari buckle wheat), kadang juga ubi. 

Menu katering anak-anak di sekolah diseling antara nasi dan roti. Sehingga kadar karbohidrat di dalam tubuh tidak berlebihan yang dapat menyebabkan tubuh menjadi tidak sehat.

5. Mengolah Makanan Secara Sederhana
Berbeda dengan kita yang sangat kreatif dalam mengolah makanan, bahkan kadang harus dimasak sampai lebih dari 4 jam. Di Jepang segala makanan diolah dengan sangat sederhana menggunakan bumbu sederhana.

Mereka lebih banyak mengkonsumsi makanan dengan cara ditumis, direbus, atau dibakar. Bumbu yang digunakan juga minimalis. Saya pernah sebulan lebih dirawat di rumah sakit, menu makanannya tidak jauh dari bakar dan rebus. Menurut saya kadang tidak ada rasanya, hambar. Tapi dengan menu seperti ini justru memberi manfaat kesehatan bagi tubuh.



6. Menyukai Sea food
Di Kanazawa ada sebuah pasar tradisional yang juga menjadi salah satu tempat wisata, namanya Omico Ichiba. Di pasar ini banyak penjual sea food. Banyak wisatawan lokal yang membeli sea food dan dimakan secara mentah di tempat. Ada juga yang dibakar dengan bumbu tradisional.

Seperti diketahui sea food banyak mengandung protein, mengandung omega 3 yang baik untuk jantung dan pertumbuhan otak. Orang Jepang hanya mau memakan seafood yang masih segar. Sehingga ikan yang di jual di pasar tradisional atas supermarket umumnya berkualitas baik. Hal ini tentu membawa pengaruh terhadap kesehatan mereka.

7. Menyukai Sayuran
Sayur mengandung vitamin yang sangat baik bagi tubuh. Sayur mengandung antioksidan yang dapat meremajakan sel dalam tubuh dan menghaluskan kulit serta melancarkan pencernaan. Umumnya sayur yang dimakan orang Jepang mentah. Mereka tidak khawatir memakan sayur mentah karena pertanian di Jepang tidak menggunakan pestisida sehingga aman bagi tubuh.

8. Banyak mengkonsumsi Protein Nabati.
Selain protein dari seafood, orang Jepang juga suka mengkonsumsi protein nabati dsri kacang kacangan. Olahan dari kacang kedelai banyak saya jumpai di pasar tradional dan supermarket. Ada yang dibuat menjadi susu segar, tahu, tofu dll. 

Selain kacang kedelai, orang Jepang juga suka mengkonsumsi kacang merah dan Edamame. Kacang kacangan memang sangat baik untuk tubuh.

9. Suka Mengkonsumsi Teh Hijau.
Jika ada acara makan-makan, teh hijau selalu hadir menyertai. Orang Jepang penyuka teh bahkan menjadi bagian budaya mereka. Teh hijau memiliki nutrisi yang sangat baik untuk tubuh karena memiliki antioksidan yang cukup tinggi. Meminum teh hijau juga memberi manfaat untuk mengurangi resiko penyakit jantung dan kanker.

10. Menikmati Udara Segar
Udara segar memberi manfaat yang banyak bagi kesehatan tubuh. Udara di Jepang umumnya bersih, tidak ada polusi udara. Bahkan tempat pembuangan sampah warga saja bersih dan tidak menimbulkan bau. Lingkungan yang bersih da udara yang sehat memberi kontribusi terhadap kesehatan warga

Itulah rahasia sehat dan panjang umur orang Jepang. Rasanya tidak ada yang berlebihan dan sulit. Kita bisa memulai hidup sehat dengan menerapkan pola hidup sehat, berolah raga, bergerak dan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang.

Baca juga tulisan menarik berikut ini :
Kurikulum Homeschooling Untuk Anak Usia 2-6 Tahun
Bagaimana Cara Bisa kuliah di Jepang?
Apa Yang harus Dilakukan Ketika Usia Memasuki 40 Tahun?

Sumber foto disini.


14.10.19

Dulu Karyawan Pabrik, Kini S3 di Jepang

Setiap orang berhak tumbuh dan berkembang. Perkembangan hidup seseorang ditentukan oleh seberapa besar tekadnya untuk berubah, seberapa besar keinginannya untuk maju, seberapa besar usahanya untuk berkembang dan seberapa banyak doa-doa yang ia panjatkan kepada Sang Pencipta.

Telah banyak kisah inspiratif yang ditorehkan orang-orang sukses. Seperti kisah John Paul DeJoria yang dulunya gelandangan, kini menjadi trilyuner dengan usaha samponya di Amerika. Di Jepang ada kisah Masayoshi yang dulunya miskin dan jadi bahan ejekan dan cemoohan di sekolahnya, kini jadi salah satu orang terkaya pemilik softbank di Jepang. Ada juga kisah Jack Ma yang dulunya miskin, kini ia menjadi salah satu orang terkaya di China.

Sukses dan gagal, kaya dan miskin tidak mutlak milik seseorang. Ia akan dipergilirkan sesuai dengan seberapa besar doa dan ikhtiar yang ia lakukan. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berubah, berkembang dan sukses. Semua tergantung seberapa kuat keinginan, niat dan usaha yang ia lakukan.

Seperti kisah suami saya, pak Ardhian. Dulu pendidikan terakhirnya "hanya" D3 dari sebuah kampus swasta di Tanggerang. Bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik ban dengan gaji "hanya" beberapa ratus ribu rupiah setiap bulan. Rutinitasnya sehari-hari waktu itu hanya seputar kamar kos dan pabrik.



Setelah kami menikah, ia memutuskan keluar dari pabrik dan hijrah menemani saya yang saat itu kuliah S3 di Bandung. Alhamdulillah di Bandung dapat pekerjaan baru di sebuah perusahaan IT. Siangnya bekerja, malamnya ia gunakan untuk meneruskan studi S1.

Kami banyak berdiskusi tentang masa depan. Tentang visi hidup masing-masing dan tentunya visi keluarga. Kami percaya segala kesuksesan tidak mungkin diraih dengan cara instan. Ada pengorbanan dan perjuangan yang menyertainya.

Bukan suatu hal yang mudah untuk sebuah rumah tangga baru dengan rutinitas hampir setiap hari pergi pagi pulang malam. Tapi ini adalah perjuangan. Perjuangan yang gigih tidak akan pernah berkhianat pada kesuksesan.

Baca Juga :
Dua kali gagal, akhirnya diterima di Jepang
Bagaimana Cara Bisa kuliah di Jepang?

Kurang lebih empat tahun menjalani hari-hari yang berat. Kadang pulang malam kehujanan, kadang ban bocor dan harus mendorong motor di tengah malam. Kadang tugas dosen dan tugas kantor saling minta didahulukan. Tanpa terasa, akhirnya studi S1 nya selesai. Tidak ada ujian berat yang tidak ada endingnya. Segala sesuatu pasti ada awal dan akhirnya, ada manis dan getirnya. Itulah seni kehidupan.

Mertua saya pernah bercerita bahwa suami saya dulu selalu juara kelas di sekolah. Dia selalu kejar kejaran dengan temannya untuk menjadi yang terbaik. Temannya itu sekarang jadi dokter. Saya memberikan tantangan. Kalau memang dulu selalu juara, hayu coba bersaing lanjut S2 dengan beasiswa.

Kami cari informasi S2 dan beasiswa kesana kemari. Kami dapat informasi ada penerimaan mahasiswa pascasarjana baru di ITB. Suami saya memberanikan diri tes S2 beasiswa unggulan kemendiknas di ITB. Nilai tes TPAnya termasuk yang tertinggi. Setelah mengikuti rangkaian tes akhirnya ia lulus dan mendapat beasiswa kemendiknas. Padahal waktu itu hanya 2 orang dari sekian banyak yang lulus berasal dari perguruan tinggi swasta. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau memcoba, berusaha dan berdoa. Jangan pernah minder dan rendah diri bersaing dengan orang lain.

Akhirnya suami melanjutkan S2 di ITB dan berhenti bekerja di perusahaan IT. Sebuah keputusan besar keluar dari pekerjaannya. Kadang kita harus berani keluar dari zona nyaman untuk menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih besar.

Kami berdua kuliah dengan dua anak yang masih bayi. Di sini tantangannya tidak kalah heroik. Kami saling mensuport satu sama lainnya. Bergantian mengatur waktu kuliah, bimbingan dan jaga anak. Kadang salah satu diantara kami sudah menunggu di depan pintu menunggu pasangan pulang untuk bergantian menjaga anak. Kemudian bergegas pergi ke kampus. Kadang kami berangkat bersama dengan 2 bayi. Salah satu diantara kami menjaga anak di luar saat yang lain konsultasi bimbingan dengan pembimbing. Sungguh sebuah kisah yang tidak akan pernah lupa dalam ingatan saya bagaimana kami berjuang tertatih-tatih menyelesaikan studi.

Pada tahun 2009, studi kami berdua rampung. Saya lulus S3 di Unpad dan suami saya lulus S2 di ITB. Kami akan hijrah ke Padang karena saya terikat kontrak dengan PTS tempat saya mengajar di sana. Artinya perjuagan dengan rasa yang baru akan segera dimulai.



Pertama kali datang belum tampak pekerjaan apa yang akan digeluti suami saya. Selain belum dapat pekerjaan baru, kami diuji dengan gempa dahsyat yang menelan banyak korban. Beruntung kami semua selamat, walau motor suami stangnya patah terkena reruntuhan bangunan saat berada di Plaza Andalas.

Suatu saat kami melihat lowongan dosen Unand di koran. Sebenarnya ada satu syarat yang belum bisa dipenuhi suami saya, yaitu ijazah asli. Ijazahnya masih di ITB. Karena gempa, proses seleksi diperpanjang. Akhirnya suami saya ada waktu dan kesempatan bisa mengambil ijazah asli ke Bandung. Kadang bencana memberi kita banyak value dan hikmah.

Setelah ijazah asli ada di tangan dan dilihatkan ke panita seleksi, suami saya bisa mengikuti berbagai rangkaian tes. Alhamdulillah ia lulus sebagai CPNS di fakultas tekhnik Unand. Banyak yang heran dan menanyakan siapa bakingan suami saya hingga lulus di Unand. Maklum ia bukan alumni, bukan pula orang Minang, kenapa bisa lulus. Begitu pertanyaan banyak orang. Mereka lupa, jika Allah berkehendak tidak satupun tangan yang mampu mencegahnya.

Saya menyarankan agar suami segera melanjutkan studi S3. Karena itu merupakan konsekwen karier yang dipilih. Jika kariernya ingin terus maju maka dosen harus menempuh pendidikan S3, jika tidak maka tidak akan pernah sampai di puncak karier sebagai guru besar atau profesor.

Baca juga tulisan menarik berikut ini :
Semua Anak Cemerlang
Pertunjukan Lampu Ini Sangat Menakjubkan

Tidak ada sesuatu tanpa perjuangan. Mulailah suami saya mencari-cari kampus yang sesuai. Pilihan utama adalah di luar negeri. Di dalam negeri kan sudah. Ingin tahu juga bagaimana studi di luar negri itu. Sebelumnya ia pernah mengikuti seleksi di Jepang, tapi belum berhasil. Kemudian ikut lagi sekeksi di sebuah kampus di Inggris, masih belum berhasil juga. Saya selalu memotivasinya agar jangan lelah dan putus asa. Kegagalan adalah sukses yang tertunda.

Pada tahun 2016 coba lagi tes lagi di Jepang dan bersaing dengan ribuan dosen di seluruh Indonesia untuk mendapatkan beasiswa LPDP/BUDI. Alhamdulillah kali ini berhasil. Kadang Allah sengaja membuat kita gagal terlebih dahulu agar kita mengerti arti perjuangan.

Keberhasilan bersaing dengan ribuan dosen bukan karena ia hebat, tetapi karena Allah yang memampukan. Yang terpenting bukan gagal atau berhasil, tapi bagaimana kita berani mencoba. Kita tidak pernah berhasil jika kita tidak pernah mencoba. Jika berhasil kita bersyukur, jika gagalpun kita bersyukur karena itu artinya bukan yang terbaik. Pasti ada yang lebih baik yang telah Allah sediakan. Yang terpenting kita berani mencoba, kita berani berjuang, berani dan berlapang dada jika gagal. Sukses dan gagal bukan hasil keturunan. Sukses dan gagal adalah milik mereka yang mau dan gigih berikhtiar dan berdoa. Semua orang berkesempatan meraih apa yang ia impikan. Bermimpilah menjadi besar dengan berfikir, bertindak, berusaha dan berjiwa besar. Sumber foto disini.

Baca juga tulisan menarik berikut ini :
Tidak Lagi Mendapat Gaji Sebagai Dosen, Sekarang Mendapat Penghasilan dari Google
10 Tips Menjadi Perempuan Kreatif, Produktif dan Prestatif di Zaman Now
Tips Traveling Aman dan Nyaman ke Dalam dan Luar Negeri Bersama Anak


13.10.19

Be Tough and Persistence Muslimah.

Jadilah muslimah yang tangguh dan gigih, betapapun persoalan hidup silih berganti datang menghampiri.

Ujian kita mungkin belum sehebat apa yang dialami Bunda Siti Hajar. Bayangkan, di tengah gurun yamg gersang, tanpa persediaan makan dan minum, ditinggal bersama bayi kecilnya yang kehausan.

Ujian kita juga belum sedahsyat apa yang diderita bunda Asiyah, istri Firaun. Ia bahkan disiksa oleh suaminya sendiri karena tidak mau mengakuinya sebagai Tuhan. Asiyah berdoa, "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11).

Sebagai seorang anak pemimpin besar di zamannya, ujian Fatimah dan ibunya Khadijah juga perlu menjadi renungan bagi kita agar kita kiat dan tangguh menjalani kehidupan ini. Fatimah diuji dengan kemiskinan, padahal ayahnya bisa saja memberinya seseorang yang membantunya mengurus rumah tangga. Begitupun dengan bunda Khadijah. Saat orang mengingkari dan memusuhinya, Khadijah adalah orang yang paling kuat membela dan mendukung suaminya. Ia yang membantu menguatkan dan memotivasi. Ia gigih membela perjuangan suaminya.

Lantas apakah yang membuat para muslimah ini begitu gigih dengan keyakinan dan kehidupanya, dan tangguh dengan aegala persoalan yang menghadangnya? Jawabannya adalah Kekuatan Ubudiyah.

Ketika hubungan kita dengan Allah sudah begitu terkoneksi dengan baik dan kuat maka akan muncul keikhlasan dan tawakal yang tinggi kepada Allah.

Ikhlas dan tawakal melahirkan kebiasaan sehari-hari yang baik. Kebiasaan baik itu akan menjadi karakter yang baik. Misalnya, sholat malam, sholat dhuha, mengaji akan menjadi kebiasaan dan kebutuhan, bukan menjadi beban.

Ketika kebiasaan-kebiasaan itu telah mendarah daging bagi kita maka muncul sebuah sikap yang dinamis. Dalam diam dia berfikir, dalam gerak ia menginspirasi. Dalam sedih dia menggugah, dan dalam marah ia mengintropeksi.

Muslimah yang memiliki ubudiyah yang tinggi tidak mudah stress, ia selalu punya solusi, selalu bisa memanej dirinya. Jika ada persoalan tidak ia jadikan beban, tetapi peluang. Setiap kebaikan hidup yang hadir ia syukuri. Sehingga ia bisa mengambil keputusan yang tepat dalam segala kondisi walau sesulit apapun. Jika ada gap, ia akan sabar dan kembalikan semuanya pada Allah SWT.

4.10.19

JUJUR

Tidak punya anak sedih, punya anak kadang kita juga dibuat sedih oleh ulahnya. Allah telah mengatakan, anak adalah ujian. Sebagaimana harta juga kadang adalah ujian. Tidak hanya kita yang diuji soal anak. Nabipun ada yang diuji oleh ulah anak-anak mereka. Tapi kita tentu berbeda dengan nabi.

Ketika anak anak tidak seperti yang kita harapkan, sikap dan prilakunya tidak sesuai dengan ekspetasi kita, ini warning, tandanya ada gap diantara kita. Ada sesuatu yang tidak tepat terjadi selama ini dalam pola asuh kita terhadap mereka.

Jangan buru-buru menyalahkan lingkungan, menyalahkan teman-temannya, kakek neneknya atau orang lain. Coba jujur sejujurnya, sudahkah kita penuhi hak-hak kasih sayang mereka, hak mereka untuk diperhatikan, hak mereka untuk dipeluk dan dirangkul. Hak mereka untuk mendengar bahasa yang halus dan santun, hak mereka untuk mendapatkan pelayan first class. Sekali lagi coba jujur!



Anak-anak tidak memerlukan ibu yang cantik dan bersekolah tinggi. Mereka juga tidak memerlukan ayah yang pejabat tinggi yang banyak uang dan hartanya. Karena anak-anak itu membawa rezekinya sendiri. Tapi mereka membutuhkan orang tua yang memiliki value, orang tua yang punya visi, orang tua yang penuh kasih sayang dan orang tua yang mau belajar. Sehingga anak anak itu merasakan kehadirannya sangat berarti, dan mereka dapat tumbuh sesuai harapan Tuhan yang menciptakannya.

#gumam_uni_yesi
#selfreminder

Belajar Parenting Dari Kisah Peristiwa Uhud

Ghazwah Uhud atau perang Uhud terjadi di bukit Uhud. Terletak di pinggiran kota Madinah sekitar 4 km dari mesjid Nabawi.

Sebelum perang dimulai, Nabi telah mengingatkan agar pasukan memanah yang ditempatkan di atas bukit tetap berada di posisinya untuk mengamankan dari belakang. “Jangan tinggalkan posisi kalian untuk ikut membantu kami. Tugas kalian menghantam musuh dengan anak panah, karena kuda-kuda tidak akan berani maju bila berhadapan dengan anak panah”. Begitu pesan nabi.

Pihak musuh sempat mengalami kocar Kacir karena kaum Muslimin mengepung barisan musuh. Ghanimah berserakan di area pertempuran. Melihat ghanimah bergelimpangan, muncul perselisihan diantara pasukan di atas bukit. Mereka turun dan berlarian mengumpulkan ghanimah itu. Musuh melihat celah untuk menyerang kaum muslimin. Dipukullah kaum muslimin dari belakang. Kaum muslimin mengalami kekalahan.

Catatan penting dari perang ini:
1. Tidak SABAR akan kemenangan yang ada di depan mata. Perang belum berakhir tapi pasukan memanah mengira kaum muslimin sudah menang karena banyaknya ghanimah berserakan.
2. Tidak patuh dan taat pada perintah Rasulullah SAW. Padahal sudah diwanti wanti, jangan kemana-mana, jangan turun walau kalah atau menang, fokus memanah kuda musuh. Eh malah tidak taat karena tergoda ghanimah (harta rampasan perang).
3. Cinta dunia. Pasukan memanah Tergoda harta rampasan perang dan dunia.



Apa hubungannya dengan parenting?

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perang Uhud dan kita hubungkan dengan kehidupan kita sekarang, khususnya dengan tugas kita sebagai orang tua.
1. Sabar mendidik anak. Anak adalah investasi dunia dan akhirat. Jangan buru-buru memetik hasilnya, jangan buru-buru melihat anak kita bisa ini bisa itu. Sabar membersamai tumbuh kembangnya. Sabar menghadapi “kenakalan-kenakalannya”. Sabar menghadapi segala kelebihan dan kekurangannya.
2. Patuh dan taat akan perintah Allah SWT untuk menjaga amanah anak-anak ini dengan sebaik-baiknya. Patuh dan taat pada Allah SWT yang memerintahkan kita mengajarkan tauhid pada anak agar mereka mengesakan Allah SWT saja. Patuh dan taat pada Allah agar kita menyusui anak kita. Dan tentunya patuh pada suami sebagai pimpinan dalam rumah tangga.
3. Memprioritaskan waktu tenaga dan pikiran mendidik anak, jangan tergoda harta dunia. Kadang kita beralasan jungkir balik bekerja untuk kebahagiaan anak-anak kita, kenyataannya anak-anak justru tersiksa dengan tiadanya kasih sayang dari orang tua.

Masya Allah, sejarah adalah pelajaran yang sangat berharga. Kisah ini tamparan bagi saya pribadi yang kadang masih ingin mencicipi kelezatan duniawi dengan berniat mencari uang sebanyak-banyak (mumpung di Jepang mudah cari uang). Lupa saya pada si kecil yang masih menyusu karena silau dengan harta. Padahal hidup kami sudah lebih dari cukup, Alhamdulillah bisa menabung walaupun tidak banyak. Ya Allah, lembutkanlah hati ku yang peragu ini, jangan jadikan aku tergoda “ghanimah” hingga lupa tugas dan tanggung jawab ku menjadi orang tua yang amanah.

Terimakasih Pak Ardhian A. Yulianto atas diskusi-diskusinya dan juga kesempatan yang diberikan untuk mencerna dengan jernih makna dan pelajaran dari ghazwah Uhud.

#gumam_uni_yesi
Repost dari FB Wall, 9 September 2019

2.10.19

Laki-laki Zaman Now



Selain memberikan materi, sambil santai kadang saya selingi memberikan motivasi atau pencerahan ringan kepada mahasiswa. Ini dulu waktu masih aktif ngajar.

Saya bertanya kepada yang laki-laki. "Anda kalau mau menikah memilih perempuan yang bekerja atau tidak?. Hampir seluruh laki-laki menjawab yang bekerja. Saya tanya lagi alasannya. Biasanya mereka menjawab hanya dengan senyam senyum. Tapi umumnya jawaban mereka adalah "agar bisa membantu ekonomi keluarga. Hidup sekarang kan sulit bu. Biaya hidup sekarang kan tinggi bu. Cari kerja kan susah bu. Kalau saya meninggal anak istri ngak kesusahan bu, dll."

Begitulah mental anak-anak kita zaman now. Betul hidup ini adalah pilihan. Suka suka orang dong mau milih gaya hidup seperti apa. Mau istri yang bekerja atau tidak itu pilihan masing masing.



Saya hanya menginggatkan kepada anak laki-laki kami untuk menjadi orang berilmu dan memilih istri juga yang berilmu. Laki laki yang berilmu tahu dengan pasti tanggung jawab sebagai suami adalah memberi nafkah anak dan istrinya. Ia tidak akan berharap dikasih sadokah oleh istrinya apalagi menyuruh istrinya bekerja, sedang dia asik di rumah, dimana harga diri seorang laki laki?.

Saya tanamkan kepada anak laki-laki kami agar mau berusaha dan bekerja keras sejak dini. Saya juga meminta anak laki-laki kami menguasai pekerjaan rumah tangga. Dia harus bisa masak, mencuci piring, menyapu dll. Saya katakan, suatu saat istrinya akan melahirkan. Istrinya akan sibuk dengan bayi, maka dia harus bisa tske over pekerjaan domestik agar istrinya bisa fokus ke bayi dan tidak kehilangan kewarasannya.

Kepada anak saya yang perempuan saya sampaikan harus berilmu. Boleh sekolah setinggi langit di mana saja atau tidak sekolah sama sekali, yang penting berilmu pengetahuan. Orang berilmu tidak akan pernah khawatir berjalan di atas bumi. Uang akan mengejarnya dimanapun ia berada. Orang berilmu akan menggunakan pikiranya untuk menghasilkan uang, bukan fisiknya. Kamu boleh bekerja sesuai fitrahmu, yang penting tidak menimbulkan fitnah untuk anak-anak dan suamimu, tetapi ingat kewajiban kamu bukan membanting tulang. Dia mengangguk. Begitu juga kelak istrimu Naf'an. Ujar saya pada anak laki-laki kami. Dia tersenyum.

Tidak cukup sekali dua kali, value ini saya ulang terus menerus ke mereka karena mereka sekarang sudah memasuki aqil baligh. Saya melihat tidak sedikit laki laki hari ini bermental kerupuk. Tega membiarkan istrinya melakukan sesuatu yamg seharusnya bukan tugas perempuan, tidak sesuai fitrah perempuan. Tapi ya kembali lagi ke yang tadi, hidup ini pilihan masing masing, konsekwensi juga masing masing.

Hanya untuk menginggatkan anak kami yang sudah memasuki aqil baligh. Kamu harus memuliakan perempuan yang menjadi tanggung jawabmu, bekerja keras dan punya izzah. Khusus untuk anak perempuanku, jaga iffah diri dan keluargamu Sayang.

#gumam_uni_yesi

27.9.19

Semua Anak Cemerlang

Melihat anak orang bisa begini begitu, juara kelas, rangking 3 besar, jago hafal Qur'an, jago matermatika fisika kimia, dapat beasiswa, menang olimpiade ini itu, lulus PTN, sekolah ke luar negeri dan semua itu terpapar di medsos, membuat sebagian nyali emak menciut. Sebagian emak menelan ludahnya sambil ingat anaknya yang biasa biasa saja.
Kadang emak menjerit lirih, kenapa anak emak tidak seperti anak temannya, selalu juara, membanggakan dan membuat harum nama keluarga.
Ingin juga emak punya anak seperti orang orang di Facebook, Instagram. Ada yang posting anaknya dengan piala, ada juga yang posting anaknya juara.

Ah emak baper deh.....
Jangan gitu Mak. Anak emak hebat kok, anak emak juga pintar, anak emak juga bintang, semua anak kita cemerlang Mak.....
Emak tau lampu (ye..pasti tau lah), maksudnya penemu bola lampu?. Emak bener, yup itu dia Thomas Alva Edison.

Tau nggak Mak, waktu di sekolah Thomas kecil dikirimi surat oleh gurunya yang berisi pesan yang sangat menyayat hati. Jangankan untuk bisa juara, untuk menangkap pelajaran saja menurut guru Thomas tidak bisa. Thomas dikatakan disability dan terpaksa dikeluarkan dari sekolah. Hati emak mana yang tidak teriris divonis memiliki anak bodoh.

Thomas akhirnya benar benar keluar dari sekolah alias DO sebelum ijazah SD dia dapatkan. Tapi Thomas memiliki seorang ibu yang sangat baik, seorang ibu yang sangat terbuka, seorang ibu yang sangat bijaksana, seorang ibu yang mengerti arti mendidik dan melejitkan potensi unggul anaknya.

Dia percaya diri mendidik Thomas kecil. Sang ibu tidak memarahi Thomas, tidak membebani Thomas dengan angka angka. Dia gali bakat Thomas, ia pupuk potensi unggulnya, hingga Thomas menjadi ahli di bidangnya. Namanya cemerlang seterang sinar lampu yang menjadi temuanya.



Siapa bilang anak cerdas itu melulu soal angka angka, juara dan piala. Percayalah Mak, anak kita semau pintar, anak kita semua hebat, anak kita semau juara, anak kita semua cemerlang di bidangnya masing masing.

Yuk cari tahu potensi unggul anak kita dimana.

#gumam_uni_yesi

Salam hangat dari Jepang
Yesi Elsandra

7.9.19

Mengenal Postpartum Depression (PPD) - 2

Sebagai kelanjutan dari artikel sebelumnya di sini, berikut lanjutan untuk diagnosis dan pengobatannya.

Masih menurut situs Aladokter, diagnosis dan Pengobatan Postpartum Depression.

Tahap awal diagnosis postpartum depression sama seperti penyakit lain, yaitu dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan penderita. Apabila dibutuhkan pasien akan menjalani serangkaian pemeriksaan guna mengetahui atau menghapus adanya kemungkinan penyakit lain, seperti gangguan hormon tiroid, atau anemia.

Jika pasien positif menderita PPD, dokter akan menentukan metode penanganan terbaik dengan mempertimbangkan tingkat keparahan kondisi dan kebutuhan pasien. Karena itu, tiap pasien akan menjalani penanganan yang berbeda-beda.

Terdapat 3 langkah utama dalam menangani PPD, yaitu penanganan di rumah, terapi psikologis, dan obat-obatan.
Berikut adalah penjelasan mendetail mengenai langkah-langkah tersebut.

Penanganan di rumah
Merawat bayi bukanlah tugas yang ringan, terutama bagi ibu baru. Sejumlah cara yang sebaiknya dilakukan sang ibu untuk menghadapinya meliputi:
Jangan segan untuk menceritakan kesulitan dan perasaaan pada pasangan, keluarga, atau teman agar mereka mengerti dan bisa membantu.
Tidak perlu sungkan atau gengsi untuk menerima atau meminta bantuan, misalnya untuk urusan dapur.
Beristirahatlah sebisanya, misalnya dengan meminta bantuan pasangan untuk bergantian menjaga bayi pada malam hari.

Luangkan waktu untuk diri sendiri agar bisa bersantai, contohnya mendengarkan musik, Rutin berolahraga. Olahraga ringan terbukti dapat memperbaiki mood.
Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang dan mengatur jadwal makan.
Hindari konsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang.

Terapi psikologis
Melalui terapi psikologis, sang ibu mungkin bisa menemukan cara tepat untuk menghadapi perasaan putus asa, mengatasi gangguan yang muncul, atau berpikir positif dalam situasi tertekan.

Obat-obatan
Bagi penderita PPD tingkat menengah dan parah, dokter akan menganjurkan konsumsi obat antidepresan. Obat ini akan meringankan gejala-gejala PPD sehingga pasien bisa kembali menjalani kegiatan sehari-hari secara normal.
Ibu yang pernah mengalami depresi juga mungkin disarankan menggunakan antidepresan meski hanya menderita PPD yang ringan.
Sebagian besar penderita PPD bisa sembuh secara total dengan langkah pengobatan yang sesuai kebutuhan. Dukungan pasangan dan keluarga juga tentu berperan sangat penting dalam membantu pasien mengatasi kondisi ini.
Jika kita mengalami kondisi ini segera konsultasikan ke dokter atau psikolog. Jika teman kita yang mengalaminya, berempatilah, jangan menghakimi. Menjadi pendengar yang baik atas segala persoalanya dan membantu mencari jalan keluar adalah jalan terbaik.

Repost FB Wall, tgl 7 September 2019