18.10.19

Bagaimana Jepang Membangun Karakter Masyarakatnya?

Jepang adalah salah satu negara modern dan maju di Asia. Ia mampu menyamai kemajuan Barat dalam pendidikan dan tekhnologi. Jepang memiliki keunggulan dan keunikan sendiri dibanding negara lain dalam hal budaya dan karakter masyarakatnya. Walaupun telah menjadi salah satu negara maju dan modern, karekter dan budaya tetap melekat dan menjadi jati dirinya.

Bangsa Jepang terkenal memiliki karakter unggul, pekerja keras, disiplin, bersih, jujur dan bermoral. Hal ini saya lihat sendiri bagaimana kehidupan sehari hari masyarakat Jepang. Pola pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah melalui pendidikan formal dan pendidikan keluarga dari orang tua terdahulu menjadi tiang dalam pembentukan karakter positif ini.

Pendidikan yang simultan antara pemerintah dan orang tidak hanya sebatas teori belaka, tapi penekanannya lebih kepada implementasi kehidupan sehari-hari. Misalnya  kegiatan Ensoku dari sekolah, semacam kegiatan jalan-jalan. Anak benar-benar disuruh jalan kaki. Untuk anak TK jalan kakinya sejauh 2 km. Mungkin kita tidak akan tega menyuruh anak kecil berjalan sejauh itu di tengah terik matahari. Tapi di Jepang anak-anak kecil justru dibiasakan berjalan kaki walau jauh. Banyak pelajaran dari kegiatan Ensoku yang memberi nikai positif pada karakter  masyarakat.


1. Anak dilatih disiplin. 

Rombongan akan berbaris dan berjalan sesuai kelompoknya. Tidak boleh bergerombol, tidak boleh mendahului teman dan berpencar, harus terus dalam barisannya. Anak dilatih disiplin berlalu lintas sejak kecil.

2. Anak dilatih taat aturan.

Anak benar-benar mengerti apa artinya taat aturan. Setiap melewati persimpangan jalan, anak-anak diperintahkan untuk melihat lampu lalu lintas. Jika lampu merah wajib berhenti walaupun tidak ada kendaraan yang lewat. 

3. Anak dilatih pantang menyerah.

Berjalan 4 km pulang pergi untuk anak TK bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi disinilah pendidikan karakter itu dibentuk. Anak dilatih pantang menyerah sebelum sampai tujuan. Walau tampak sudah kelelahan, anak-anak kecil itu terus melangkahkan kakinya. Sensei akan menyemangati dengan mengatakan, "ganbatte." 

4. Anak dilatih menjaga kebersihan.

Setelah sampai ditempat tujuan Ensoku dan kegiatan telah dilaksanakan, anak-anak akan makan siang bersama. Anak-anak diminta tidak membuang sampah sembarangan. Sampah atau atau biasa disebut gomi wajib disimpan masing-masing. Jadi tidak terlihat sampah berceceran setelah ada kegiatan.

5. Anak diajarkan mencintai alam dan menjaga lingkungan.

Kegiatan Ensoku anak TK umumnya berhubungan dengan alam terbuka. Biasanya anak diajak ke taman. Di sana anak-anak diberi tugas mencari seauatu yang berhubugan dengan alam, misalnya pohon, burung, rumput dan lain-lain. Disitulah nilai-nilai menjaga alam dan lingkungan diajarkan.

Tidak tampak ada anak Jepang yang mengeluh dan menangis saat kegiatan Ensoku berlangsung. Padahal jarak yang ditempuh jauh, mendaki dan panas.

Baca juga :
Jadwal harian ibu rumahan agar tetap produktif
Semua anak cemerlang

Itu baru satu contoh kegiatan anak di TK. Banyak lagi kegiatan lain yang dilakukan di sekolah yang berimplikasi kepada karakter mereka dimasa yang akan datang. Misalnya kegiatan pekan olah raga atau undokai. Biasanya olah raga yang dipertandingkan bersifat team work. Seluruh murid dari kelas yang terendah sampai kelas yang tertinggi dibagi menjadi 3 tim, merah, kuning dan biru. Bukan berdasarkan individu atau kelas. Semua olah raganya juga  berdasarkan tim. Tidak ada pemenang individu, tapi yang ada adalah kemenangan tim. Disini anak dilatih bekerja sama bagaimana agar bisa menang bersama. 

Bangsa Jepang sangat menyadari bahwa karakter masyarakat tidak bisa dibentuk secara parsial. Perlu kerjasama yang utuh antara pendidikan yang diberikan guru di sekolah, orang tua di rumah dan masyarakat di lingkungannya.

Untuk itu fasilitas, sarana dan prasarana, kurikulum, proses belajar mengajar kualitasnya menjadi prioritas pemerintah. Dimulai dari sarana sekolah. Kita akan berdecak kagum melihat sarana dan prasaran untuk sekolah dasar. Gedungnya bagus, fasilitasnya lengkap, perpustakaan memiliki buku yang banyak, ada kolam renang. Tidak ada sekolah unggulan, semua sekolah dibuat dengan standar yang sama, fasilitas yang sama, guru diroling, guru kreatif dalam menyiapkan bahan ajar, sebanding dengan gaji yang diterimanya.

Wajib belajar di Jepang juga 9 tahun. Karena sifatnya wajib, maka pemerintah juga memiliki kewajiban menerima semua anak untuk sekolah di jenjang SD dan SMP. Tidak ada anak yang tidak kebagian bangku sekolah.

Pendidikan karakter ditekankan betul saat SD dan SMP. Selain melalui implementasi langsung, anak juga diajak berdiskusi bahkan diminta menuangkan pendapatnya melalui tulisan. Tulisan itu nanti ditempel dan bisa dibaca semua teman-temannya.

Baca juga artikel menarik berikut ini :
Tips menyikapi penggunaan Gadget pada anak
Seperti ini orang tua Jepang mengajarkan kepada anaknya

Pelajaran life skill juga sudah mulai diajarkan di SD. Kadang orang tua juga dilibatkan. Misalnya kami pernah menemani anak waktu kelas 2. Kami membuat kue sederhana dari ubi. Bahan baku disiapkan sekolah. Orang tua dan anak tinggal berkreatifitas dan bekerjasama membuat kuenya. Kegiatan sederhana tapi dampaknya luar biasa terhadap bonding antara anak dan orang tua. Selain memasak, anak SD juga sudah diajarkan menjahit, membuat kreasi dari barang bekas, dll.

Pendidikan karakter dalam keluarga juga menjadi prioritas keluarga di Jepang. Anak dilatih disiplin, kerja keras, sopan santun, mandiri, jujur dll. Sejak kecil anak sudah diajarkan makan sendiri, membereskan mainan sendiri, mengucapkan salam, berterimakasih dll.

Di Jepang umumnya anak diasuh sendiri oleh ibunya. Tidak ada pengasuh atau baby sitter. Jika bekerja, anak akan dititip di daycare yang diawasi langsung oleh pemerintah. Daycare ini juga memiliki kurikulum yang teringegrasi dengan program pemerintah dalam membentuk karakger dasar masyarakat. 

Pekerjaan rumah tangga biasa dikerjakan sendiri oleh ibu. Masyarakat Jepang umumnya tidak ada yang memiliki asisten rumah tangga. Sehingga anak juga menjadi terbiasa mengerjakan kebutuhanya sehari-hari. Ada sebuah istilah yang menjadi dasar bagi keluarga di Jepang, yaitu "ryosay kentro," yang artinya istri yang baik dan ibu yang arif.
Maka tidak heran saya sering melihat ibu-ibu yang mengendong kesana kemari anaknya. Jika anaknya lebih dari satu dan masih batita, kadang saya melihat dua anak digendong sekaligus menggunakan gendongan kanguru. Satu posisinya didepan bagian dada, satu lagi di bagian belakang. Belum pernah saya lihat sebelumnya ibu-ibu menggendong anak seperti itu.

Ibu-ibu di Jepang tampak sungguh-sungguh mengasuh anaknya. Saat bermain bersama anaknya, jarang saya melihat ibu-ibu itu bermain HP. Mereka fokus menemani anaknya bermain. Memperhatikan dengan seksama anaknya yang berlari kesana kemari. Jika anak melakukan kesalahan, ibu di Jepang tidak segan menghukum anaknya.

Karakter sebuah bangsa tidak bisa dibentuk secara parsial, tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat apalagi diajarkan hanya sebatas teori tanpa contoh dan implementasi. Jepang telah melakukan ini bahkan jauh sebelum perang dunia terjadi. Maka tidak heran kekelahan Jepang pada perang dunia segera dapat ia atasi dengan merekonstruksi segala infrastruktur bangsanya sehingga kini bisa menjadi negara yang maju dan modern.



15.10.19

Rahasia Sehat Orang Jepang

Suatu hari kami pergi ke luar kota. Kebetulan mobil kami belum memasang Electronic Toll Card (ETC). Jadi suami saya harus melewati pintu tol manual yang dijaga petugas. Jangan bayangkan kita menemukan petugas tol seorang perempuan muda. Hampir seluruh petugas tol yang kami temui telah berusia lanjut. Tapi mereka masih gesit dan sigap melayani.

Tidak hanya petugas tol yang sudah berumur, kadang saya menemui kasir, dan pekerja lainnya yang berusia lanjut. Banyak juga saya temui pengendara mobil yang lalu lalang, pengendara sepeda dan penumpang bus berusia lanjut. 

Menurut pemerintah Jepang, pada tahun 2018, warga Jepang yang berusia 65 atau lebih tua mencapai rekor jumlah 35,6 juta, atau 28,1 % dari total penduduk. Jumlah ini menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) termasuk yang tertinggi di dunia. Jumlah ini jauh di atas Italia yang mencapai proporsi 23,3%, atau 21,9% di Portugal dan 21,7 % di Jerman. Pemerintah Jepang juga mengatakan orang yang berusia 70 tahun atau lebih menyumbang 20,7 % dari populasi, melebihi 20% untuk pertama kalinya.

Walaupun populasi jumlah orang tua lebih banyak dari yang muda, tetapi orang tua di Jepang tampak seperti masih muda setara usia 40 tahunan, masih tampak sehat, kuat dan segar bugar. Apalagi kulit mereka putih jadi tidak terlihat seperti orang yang sudah tua
Sehat dan panjang umur adalah aset yang sangat berharga. Sehat bagi orang Jepang menjadi gaya hidup. Makanan yang dikonsumsi orang Jepang ditengarai menjadi faktor rahasia membuat mereka masih sehat dan segar bugar di usia tua. Masyarakat yang menderita obesitas dan penyakit berbahaya termasuk rendah dibanding negara lainnya.

Ada pepatah mengatakan Ada ungkapan “You are what you eat”. Kesehatan kita berkorelasi dengan apa yang kita makan. Jika makanan yang kita konsumsi sehat maka kitapun akan menjadi sehat. Begitu pula sebaliknya, jika makanan yang kita konsumsi adalah makanan yang tidak sehat maka penyakit berbahaya akan mudah menghampiri, seperti obesitas, jantung, kanker dsb.

Apa saja kebiasaan orang Jepang yang membuat mereka sehat dan panjang umur? Dari pengamatan saya langsung, ada beberapa kebiasaan orang Jepang yang membuat mereka sehat dan panjang umur. Diantaranya:

1. Suka Berjalan Kaki.
Orang Jepang suka berjalan kaki. Ketika pergi ke supermarket saya sering melihat mereka memarkir mobilnya jauh dari pintu masuk supermarket. 

Anak sekolah juga dilatih berjalan kaki sejak kecil. Sekolah yang jaraknya kurang dari radius 2 km harus berjalan kaki. Anak SD tidak boleh bersepeda, tidak boleh juga diantar pakai motor atau mobil. Kecuali dalam keadaan khusus.

Bayangkan saat salju lebat atau panas sangat terik anak kecil itu harus berjalan kaki ke sekolah walau jarak rumah lebih dari 1 km. Tapi semua itu membuat tubuh mereka menjadi kuat dan sehat dimasa yang akan datang.

2. Bersepeda
Bersepeda menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat Jepang. Selain hemat energi, bersepeda juga menyehatkan. Saya biasa melihat orang bersepeda menggunakan pakaian yang rapi, lengkap dengan jas dan dasinya. Itu pemandangan yang biasa. Saya malah jarang melihat motor lalu lalang.

Jalan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda sama banyaknya dengan jalan bagi pengendara mobil. Sehingga bersepeda menjadi pilihan sebagian besar masyarakat pergi kesana kemari.

3. Senam
Senam juga menjadi salah satu kebiasaan di Jepang. Saat libur musim panas anak-anak sekolah dianjurkan ikut “Rajio Taiso” atau senam di lingkungan terdekat setiap pagi. Walaupun libur anak-anak diharapkan tetap memiliki kebiasaan bangun pagi dan berolah raga. Setelah program senamnya selesai anak-anak biasanya diberi hadiah.

Di lingkungan kami para lansia pagi hari biasanya berkumpul untuk senam. Saya pernah mengikutinya, gerakannya sederhana dan tidak berat. Cocok bagi mereka yang berolah raga tanpa menggunakan gerakan fisik yang berat.
4. Kombinasi Mengkonsumsi Karbohidrat.
Makanan pokok di Indonesia umumnya selalu berupa nasi. Di Jepang umumnya karbohidrat dikombinasi seperti roti, udon (mie dari beras), soba (mie dari buckle wheat), kadang juga ubi. 

Menu katering anak-anak di sekolah diseling antara nasi dan roti. Sehingga kadar karbohidrat di dalam tubuh tidak berlebihan yang dapat menyebabkan tubuh menjadi tidak sehat.

5. Mengolah Makanan Secara Sederhana
Berbeda dengan kita yang sangat kreatif dalam mengolah makanan, bahkan kadang harus dimasak sampai lebih dari 4 jam. Di Jepang segala makanan diolah dengan sangat sederhana menggunakan bumbu sederhana.

Mereka lebih banyak mengkonsumsi makanan dengan cara ditumis, direbus, atau dibakar. Bumbu yang digunakan juga minimalis. Saya pernah sebulan lebih dirawat di rumah sakit, menu makanannya tidak jauh dari bakar dan rebus. Menurut saya kadang tidak ada rasanya, hambar. Tapi dengan menu seperti ini justru memberi manfaat kesehatan bagi tubuh.



6. Menyukai Sea food
Di Kanazawa ada sebuah pasar tradisional yang juga menjadi salah satu tempat wisata, namanya Omico Ichiba. Di pasar ini banyak penjual sea food. Banyak wisatawan lokal yang membeli sea food dan dimakan secara mentah di tempat. Ada juga yang dibakar dengan bumbu tradisional.

Seperti diketahui sea food banyak mengandung protein, mengandung omega 3 yang baik untuk jantung dan pertumbuhan otak. Orang Jepang hanya mau memakan seafood yang masih segar. Sehingga ikan yang di jual di pasar tradisional atas supermarket umumnya berkualitas baik. Hal ini tentu membawa pengaruh terhadap kesehatan mereka.

7. Menyukai Sayuran
Sayur mengandung vitamin yang sangat baik bagi tubuh. Sayur mengandung antioksidan yang dapat meremajakan sel dalam tubuh dan menghaluskan kulit serta melancarkan pencernaan. Umumnya sayur yang dimakan orang Jepang mentah. Mereka tidak khawatir memakan sayur mentah karena pertanian di Jepang tidak menggunakan pestisida sehingga aman bagi tubuh.

8. Banyak mengkonsumsi Protein Nabati.
Selain protein dari seafood, orang Jepang juga suka mengkonsumsi protein nabati dsri kacang kacangan. Olahan dari kacang kedelai banyak saya jumpai di pasar tradional dan supermarket. Ada yang dibuat menjadi susu segar, tahu, tofu dll. 

Selain kacang kedelai, orang Jepang juga suka mengkonsumsi kacang merah dan Edamame. Kacang kacangan memang sangat baik untuk tubuh.

9. Suka Mengkonsumsi Teh Hijau.
Jika ada acara makan-makan, teh hijau selalu hadir menyertai. Orang Jepang penyuka teh bahkan menjadi bagian budaya mereka. Teh hijau memiliki nutrisi yang sangat baik untuk tubuh karena memiliki antioksidan yang cukup tinggi. Meminum teh hijau juga memberi manfaat untuk mengurangi resiko penyakit jantung dan kanker.

10. Menikmati Udara Segar
Udara segar memberi manfaat yang banyak bagi kesehatan tubuh. Udara di Jepang umumnya bersih, tidak ada polusi udara. Bahkan tempat pembuangan sampah warga saja bersih dan tidak menimbulkan bau. Lingkungan yang bersih da udara yang sehat memberi kontribusi terhadap kesehatan warga

Itulah rahasia sehat dan panjang umur orang Jepang. Rasanya tidak ada yang berlebihan dan sulit. Kita bisa memulai hidup sehat dengan menerapkan pola hidup sehat, berolah raga, bergerak dan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang.

Baca juga tulisan menarik berikut ini :
Kurikulum Homeschooling Untuk Anak Usia 2-6 Tahun
Bagaimana Cara Bisa kuliah di Jepang?
Apa Yang harus Dilakukan Ketika Usia Memasuki 40 Tahun?

Sumber foto disini.


14.10.19

Dulu Karyawan Pabrik, Kini S3 di Jepang

Setiap orang berhak tumbuh dan berkembang. Perkembangan hidup seseorang ditentukan oleh seberapa besar tekadnya untuk berubah, seberapa besar keinginannya untuk maju, seberapa besar usahanya untuk berkembang dan seberapa banyak doa-doa yang ia panjatkan kepada Sang Pencipta.

Telah banyak kisah inspiratif yang ditorehkan orang-orang sukses. Seperti kisah John Paul DeJoria yang dulunya gelandangan, kini menjadi trilyuner dengan usaha samponya di Amerika. Di Jepang ada kisah Masayoshi yang dulunya miskin dan jadi bahan ejekan dan cemoohan di sekolahnya, kini jadi salah satu orang terkaya pemilik softbank di Jepang. Ada juga kisah Jack Ma yang dulunya miskin, kini ia menjadi salah satu orang terkaya di China.

Sukses dan gagal, kaya dan miskin tidak mutlak milik seseorang. Ia akan dipergilirkan sesuai dengan seberapa besar doa dan ikhtiar yang ia lakukan. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berubah, berkembang dan sukses. Semua tergantung seberapa kuat keinginan, niat dan usaha yang ia lakukan.

Seperti kisah suami saya, pak Ardhian. Dulu pendidikan terakhirnya "hanya" D3 dari sebuah kampus swasta di Tanggerang. Bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik ban dengan gaji "hanya" beberapa ratus ribu rupiah setiap bulan. Rutinitasnya sehari-hari waktu itu hanya seputar kamar kos dan pabrik.



Setelah kami menikah, ia memutuskan keluar dari pabrik dan hijrah menemani saya yang saat itu kuliah S3 di Bandung. Alhamdulillah di Bandung dapat pekerjaan baru di sebuah perusahaan IT. Siangnya bekerja, malamnya ia gunakan untuk meneruskan studi S1.

Kami banyak berdiskusi tentang masa depan. Tentang visi hidup masing-masing dan tentunya visi keluarga. Kami percaya segala kesuksesan tidak mungkin diraih dengan cara instan. Ada pengorbanan dan perjuangan yang menyertainya.

Bukan suatu hal yang mudah untuk sebuah rumah tangga baru dengan rutinitas hampir setiap hari pergi pagi pulang malam. Tapi ini adalah perjuangan. Perjuangan yang gigih tidak akan pernah berkhianat pada kesuksesan.

Baca Juga :
Dua kali gagal, akhirnya diterima di Jepang
Bagaimana Cara Bisa kuliah di Jepang?

Kurang lebih empat tahun menjalani hari-hari yang berat. Kadang pulang malam kehujanan, kadang ban bocor dan harus mendorong motor di tengah malam. Kadang tugas dosen dan tugas kantor saling minta didahulukan. Tanpa terasa, akhirnya studi S1 nya selesai. Tidak ada ujian berat yang tidak ada endingnya. Segala sesuatu pasti ada awal dan akhirnya, ada manis dan getirnya. Itulah seni kehidupan.

Mertua saya pernah bercerita bahwa suami saya dulu selalu juara kelas di sekolah. Dia selalu kejar kejaran dengan temannya untuk menjadi yang terbaik. Temannya itu sekarang jadi dokter. Saya memberikan tantangan. Kalau memang dulu selalu juara, hayu coba bersaing lanjut S2 dengan beasiswa.

Kami cari informasi S2 dan beasiswa kesana kemari. Kami dapat informasi ada penerimaan mahasiswa pascasarjana baru di ITB. Suami saya memberanikan diri tes S2 beasiswa unggulan kemendiknas di ITB. Nilai tes TPAnya termasuk yang tertinggi. Setelah mengikuti rangkaian tes akhirnya ia lulus dan mendapat beasiswa kemendiknas. Padahal waktu itu hanya 2 orang dari sekian banyak yang lulus berasal dari perguruan tinggi swasta. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau memcoba, berusaha dan berdoa. Jangan pernah minder dan rendah diri bersaing dengan orang lain.

Akhirnya suami melanjutkan S2 di ITB dan berhenti bekerja di perusahaan IT. Sebuah keputusan besar keluar dari pekerjaannya. Kadang kita harus berani keluar dari zona nyaman untuk menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih besar.

Kami berdua kuliah dengan dua anak yang masih bayi. Di sini tantangannya tidak kalah heroik. Kami saling mensuport satu sama lainnya. Bergantian mengatur waktu kuliah, bimbingan dan jaga anak. Kadang salah satu diantara kami sudah menunggu di depan pintu menunggu pasangan pulang untuk bergantian menjaga anak. Kemudian bergegas pergi ke kampus. Kadang kami berangkat bersama dengan 2 bayi. Salah satu diantara kami menjaga anak di luar saat yang lain konsultasi bimbingan dengan pembimbing. Sungguh sebuah kisah yang tidak akan pernah lupa dalam ingatan saya bagaimana kami berjuang tertatih-tatih menyelesaikan studi.

Pada tahun 2009, studi kami berdua rampung. Saya lulus S3 di Unpad dan suami saya lulus S2 di ITB. Kami akan hijrah ke Padang karena saya terikat kontrak dengan PTS tempat saya mengajar di sana. Artinya perjuagan dengan rasa yang baru akan segera dimulai.



Pertama kali datang belum tampak pekerjaan apa yang akan digeluti suami saya. Selain belum dapat pekerjaan baru, kami diuji dengan gempa dahsyat yang menelan banyak korban. Beruntung kami semua selamat, walau motor suami stangnya patah terkena reruntuhan bangunan saat berada di Plaza Andalas.

Suatu saat kami melihat lowongan dosen Unand di koran. Sebenarnya ada satu syarat yang belum bisa dipenuhi suami saya, yaitu ijazah asli. Ijazahnya masih di ITB. Karena gempa, proses seleksi diperpanjang. Akhirnya suami saya ada waktu dan kesempatan bisa mengambil ijazah asli ke Bandung. Kadang bencana memberi kita banyak value dan hikmah.

Setelah ijazah asli ada di tangan dan dilihatkan ke panita seleksi, suami saya bisa mengikuti berbagai rangkaian tes. Alhamdulillah ia lulus sebagai CPNS di fakultas tekhnik Unand. Banyak yang heran dan menanyakan siapa bakingan suami saya hingga lulus di Unand. Maklum ia bukan alumni, bukan pula orang Minang, kenapa bisa lulus. Begitu pertanyaan banyak orang. Mereka lupa, jika Allah berkehendak tidak satupun tangan yang mampu mencegahnya.

Saya menyarankan agar suami segera melanjutkan studi S3. Karena itu merupakan konsekwen karier yang dipilih. Jika kariernya ingin terus maju maka dosen harus menempuh pendidikan S3, jika tidak maka tidak akan pernah sampai di puncak karier sebagai guru besar atau profesor.

Baca juga tulisan menarik berikut ini :
Semua Anak Cemerlang
Pertunjukan Lampu Ini Sangat Menakjubkan

Tidak ada sesuatu tanpa perjuangan. Mulailah suami saya mencari-cari kampus yang sesuai. Pilihan utama adalah di luar negeri. Di dalam negeri kan sudah. Ingin tahu juga bagaimana studi di luar negri itu. Sebelumnya ia pernah mengikuti seleksi di Jepang, tapi belum berhasil. Kemudian ikut lagi sekeksi di sebuah kampus di Inggris, masih belum berhasil juga. Saya selalu memotivasinya agar jangan lelah dan putus asa. Kegagalan adalah sukses yang tertunda.

Pada tahun 2016 coba lagi tes lagi di Jepang dan bersaing dengan ribuan dosen di seluruh Indonesia untuk mendapatkan beasiswa LPDP/BUDI. Alhamdulillah kali ini berhasil. Kadang Allah sengaja membuat kita gagal terlebih dahulu agar kita mengerti arti perjuangan.

Keberhasilan bersaing dengan ribuan dosen bukan karena ia hebat, tetapi karena Allah yang memampukan. Yang terpenting bukan gagal atau berhasil, tapi bagaimana kita berani mencoba. Kita tidak pernah berhasil jika kita tidak pernah mencoba. Jika berhasil kita bersyukur, jika gagalpun kita bersyukur karena itu artinya bukan yang terbaik. Pasti ada yang lebih baik yang telah Allah sediakan. Yang terpenting kita berani mencoba, kita berani berjuang, berani dan berlapang dada jika gagal. Sukses dan gagal bukan hasil keturunan. Sukses dan gagal adalah milik mereka yang mau dan gigih berikhtiar dan berdoa. Semua orang berkesempatan meraih apa yang ia impikan. Bermimpilah menjadi besar dengan berfikir, bertindak, berusaha dan berjiwa besar. Sumber foto disini.

Baca juga tulisan menarik berikut ini :
Tidak Lagi Mendapat Gaji Sebagai Dosen, Sekarang Mendapat Penghasilan dari Google
10 Tips Menjadi Perempuan Kreatif, Produktif dan Prestatif di Zaman Now
Tips Traveling Aman dan Nyaman ke Dalam dan Luar Negeri Bersama Anak


13.10.19

Be Tough and Persistence Muslimah.

Jadilah muslimah yang tangguh dan gigih, betapapun persoalan hidup silih berganti datang menghampiri.

Ujian kita mungkin belum sehebat apa yang dialami Bunda Siti Hajar. Bayangkan, di tengah gurun yamg gersang, tanpa persediaan makan dan minum, ditinggal bersama bayi kecilnya yang kehausan.

Ujian kita juga belum sedahsyat apa yang diderita bunda Asiyah, istri Firaun. Ia bahkan disiksa oleh suaminya sendiri karena tidak mau mengakuinya sebagai Tuhan. Asiyah berdoa, "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11).

Sebagai seorang anak pemimpin besar di zamannya, ujian Fatimah dan ibunya Khadijah juga perlu menjadi renungan bagi kita agar kita kiat dan tangguh menjalani kehidupan ini. Fatimah diuji dengan kemiskinan, padahal ayahnya bisa saja memberinya seseorang yang membantunya mengurus rumah tangga. Begitupun dengan bunda Khadijah. Saat orang mengingkari dan memusuhinya, Khadijah adalah orang yang paling kuat membela dan mendukung suaminya. Ia yang membantu menguatkan dan memotivasi. Ia gigih membela perjuangan suaminya.

Lantas apakah yang membuat para muslimah ini begitu gigih dengan keyakinan dan kehidupanya, dan tangguh dengan aegala persoalan yang menghadangnya? Jawabannya adalah Kekuatan Ubudiyah.

Ketika hubungan kita dengan Allah sudah begitu terkoneksi dengan baik dan kuat maka akan muncul keikhlasan dan tawakal yang tinggi kepada Allah.

Ikhlas dan tawakal melahirkan kebiasaan sehari-hari yang baik. Kebiasaan baik itu akan menjadi karakter yang baik. Misalnya, sholat malam, sholat dhuha, mengaji akan menjadi kebiasaan dan kebutuhan, bukan menjadi beban.

Ketika kebiasaan-kebiasaan itu telah mendarah daging bagi kita maka muncul sebuah sikap yang dinamis. Dalam diam dia berfikir, dalam gerak ia menginspirasi. Dalam sedih dia menggugah, dan dalam marah ia mengintropeksi.

Muslimah yang memiliki ubudiyah yang tinggi tidak mudah stress, ia selalu punya solusi, selalu bisa memanej dirinya. Jika ada persoalan tidak ia jadikan beban, tetapi peluang. Setiap kebaikan hidup yang hadir ia syukuri. Sehingga ia bisa mengambil keputusan yang tepat dalam segala kondisi walau sesulit apapun. Jika ada gap, ia akan sabar dan kembalikan semuanya pada Allah SWT.

4.10.19

JUJUR

Tidak punya anak sedih, punya anak kadang kita juga dibuat sedih oleh ulahnya. Allah telah mengatakan, anak adalah ujian. Sebagaimana harta juga kadang adalah ujian. Tidak hanya kita yang diuji soal anak. Nabipun ada yang diuji oleh ulah anak-anak mereka. Tapi kita tentu berbeda dengan nabi.

Ketika anak anak tidak seperti yang kita harapkan, sikap dan prilakunya tidak sesuai dengan ekspetasi kita, ini warning, tandanya ada gap diantara kita. Ada sesuatu yang tidak tepat terjadi selama ini dalam pola asuh kita terhadap mereka.

Jangan buru-buru menyalahkan lingkungan, menyalahkan teman-temannya, kakek neneknya atau orang lain. Coba jujur sejujurnya, sudahkah kita penuhi hak-hak kasih sayang mereka, hak mereka untuk diperhatikan, hak mereka untuk dipeluk dan dirangkul. Hak mereka untuk mendengar bahasa yang halus dan santun, hak mereka untuk mendapatkan pelayan first class. Sekali lagi coba jujur!



Anak-anak tidak memerlukan ibu yang cantik dan bersekolah tinggi. Mereka juga tidak memerlukan ayah yang pejabat tinggi yang banyak uang dan hartanya. Karena anak-anak itu membawa rezekinya sendiri. Tapi mereka membutuhkan orang tua yang memiliki value, orang tua yang punya visi, orang tua yang penuh kasih sayang dan orang tua yang mau belajar. Sehingga anak anak itu merasakan kehadirannya sangat berarti, dan mereka dapat tumbuh sesuai harapan Tuhan yang menciptakannya.

#gumam_uni_yesi
#selfreminder

Belajar Parenting Dari Kisah Peristiwa Uhud

Ghazwah Uhud atau perang Uhud terjadi di bukit Uhud. Terletak di pinggiran kota Madinah sekitar 4 km dari mesjid Nabawi.

Sebelum perang dimulai, Nabi telah mengingatkan agar pasukan memanah yang ditempatkan di atas bukit tetap berada di posisinya untuk mengamankan dari belakang. “Jangan tinggalkan posisi kalian untuk ikut membantu kami. Tugas kalian menghantam musuh dengan anak panah, karena kuda-kuda tidak akan berani maju bila berhadapan dengan anak panah”. Begitu pesan nabi.

Pihak musuh sempat mengalami kocar Kacir karena kaum Muslimin mengepung barisan musuh. Ghanimah berserakan di area pertempuran. Melihat ghanimah bergelimpangan, muncul perselisihan diantara pasukan di atas bukit. Mereka turun dan berlarian mengumpulkan ghanimah itu. Musuh melihat celah untuk menyerang kaum muslimin. Dipukullah kaum muslimin dari belakang. Kaum muslimin mengalami kekalahan.

Catatan penting dari perang ini:
1. Tidak SABAR akan kemenangan yang ada di depan mata. Perang belum berakhir tapi pasukan memanah mengira kaum muslimin sudah menang karena banyaknya ghanimah berserakan.
2. Tidak patuh dan taat pada perintah Rasulullah SAW. Padahal sudah diwanti wanti, jangan kemana-mana, jangan turun walau kalah atau menang, fokus memanah kuda musuh. Eh malah tidak taat karena tergoda ghanimah (harta rampasan perang).
3. Cinta dunia. Pasukan memanah Tergoda harta rampasan perang dan dunia.



Apa hubungannya dengan parenting?

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perang Uhud dan kita hubungkan dengan kehidupan kita sekarang, khususnya dengan tugas kita sebagai orang tua.
1. Sabar mendidik anak. Anak adalah investasi dunia dan akhirat. Jangan buru-buru memetik hasilnya, jangan buru-buru melihat anak kita bisa ini bisa itu. Sabar membersamai tumbuh kembangnya. Sabar menghadapi “kenakalan-kenakalannya”. Sabar menghadapi segala kelebihan dan kekurangannya.
2. Patuh dan taat akan perintah Allah SWT untuk menjaga amanah anak-anak ini dengan sebaik-baiknya. Patuh dan taat pada Allah SWT yang memerintahkan kita mengajarkan tauhid pada anak agar mereka mengesakan Allah SWT saja. Patuh dan taat pada Allah agar kita menyusui anak kita. Dan tentunya patuh pada suami sebagai pimpinan dalam rumah tangga.
3. Memprioritaskan waktu tenaga dan pikiran mendidik anak, jangan tergoda harta dunia. Kadang kita beralasan jungkir balik bekerja untuk kebahagiaan anak-anak kita, kenyataannya anak-anak justru tersiksa dengan tiadanya kasih sayang dari orang tua.

Masya Allah, sejarah adalah pelajaran yang sangat berharga. Kisah ini tamparan bagi saya pribadi yang kadang masih ingin mencicipi kelezatan duniawi dengan berniat mencari uang sebanyak-banyak (mumpung di Jepang mudah cari uang). Lupa saya pada si kecil yang masih menyusu karena silau dengan harta. Padahal hidup kami sudah lebih dari cukup, Alhamdulillah bisa menabung walaupun tidak banyak. Ya Allah, lembutkanlah hati ku yang peragu ini, jangan jadikan aku tergoda “ghanimah” hingga lupa tugas dan tanggung jawab ku menjadi orang tua yang amanah.

Terimakasih Pak Ardhian A. Yulianto atas diskusi-diskusinya dan juga kesempatan yang diberikan untuk mencerna dengan jernih makna dan pelajaran dari ghazwah Uhud.

#gumam_uni_yesi
Repost dari FB Wall, 9 September 2019

2.10.19

Laki-laki Zaman Now



Selain memberikan materi, sambil santai kadang saya selingi memberikan motivasi atau pencerahan ringan kepada mahasiswa. Ini dulu waktu masih aktif ngajar.

Saya bertanya kepada yang laki-laki. "Anda kalau mau menikah memilih perempuan yang bekerja atau tidak?. Hampir seluruh laki-laki menjawab yang bekerja. Saya tanya lagi alasannya. Biasanya mereka menjawab hanya dengan senyam senyum. Tapi umumnya jawaban mereka adalah "agar bisa membantu ekonomi keluarga. Hidup sekarang kan sulit bu. Biaya hidup sekarang kan tinggi bu. Cari kerja kan susah bu. Kalau saya meninggal anak istri ngak kesusahan bu, dll."

Begitulah mental anak-anak kita zaman now. Betul hidup ini adalah pilihan. Suka suka orang dong mau milih gaya hidup seperti apa. Mau istri yang bekerja atau tidak itu pilihan masing masing.



Saya hanya menginggatkan kepada anak laki-laki kami untuk menjadi orang berilmu dan memilih istri juga yang berilmu. Laki laki yang berilmu tahu dengan pasti tanggung jawab sebagai suami adalah memberi nafkah anak dan istrinya. Ia tidak akan berharap dikasih sadokah oleh istrinya apalagi menyuruh istrinya bekerja, sedang dia asik di rumah, dimana harga diri seorang laki laki?.

Saya tanamkan kepada anak laki-laki kami agar mau berusaha dan bekerja keras sejak dini. Saya juga meminta anak laki-laki kami menguasai pekerjaan rumah tangga. Dia harus bisa masak, mencuci piring, menyapu dll. Saya katakan, suatu saat istrinya akan melahirkan. Istrinya akan sibuk dengan bayi, maka dia harus bisa tske over pekerjaan domestik agar istrinya bisa fokus ke bayi dan tidak kehilangan kewarasannya.

Kepada anak saya yang perempuan saya sampaikan harus berilmu. Boleh sekolah setinggi langit di mana saja atau tidak sekolah sama sekali, yang penting berilmu pengetahuan. Orang berilmu tidak akan pernah khawatir berjalan di atas bumi. Uang akan mengejarnya dimanapun ia berada. Orang berilmu akan menggunakan pikiranya untuk menghasilkan uang, bukan fisiknya. Kamu boleh bekerja sesuai fitrahmu, yang penting tidak menimbulkan fitnah untuk anak-anak dan suamimu, tetapi ingat kewajiban kamu bukan membanting tulang. Dia mengangguk. Begitu juga kelak istrimu Naf'an. Ujar saya pada anak laki-laki kami. Dia tersenyum.

Tidak cukup sekali dua kali, value ini saya ulang terus menerus ke mereka karena mereka sekarang sudah memasuki aqil baligh. Saya melihat tidak sedikit laki laki hari ini bermental kerupuk. Tega membiarkan istrinya melakukan sesuatu yamg seharusnya bukan tugas perempuan, tidak sesuai fitrah perempuan. Tapi ya kembali lagi ke yang tadi, hidup ini pilihan masing masing, konsekwensi juga masing masing.

Hanya untuk menginggatkan anak kami yang sudah memasuki aqil baligh. Kamu harus memuliakan perempuan yang menjadi tanggung jawabmu, bekerja keras dan punya izzah. Khusus untuk anak perempuanku, jaga iffah diri dan keluargamu Sayang.

#gumam_uni_yesi

27.9.19

Semua Anak Cemerlang

Melihat anak orang bisa begini begitu, juara kelas, rangking 3 besar, jago hafal Qur'an, jago matermatika fisika kimia, dapat beasiswa, menang olimpiade ini itu, lulus PTN, sekolah ke luar negeri dan semua itu terpapar di medsos, membuat sebagian nyali emak menciut. Sebagian emak menelan ludahnya sambil ingat anaknya yang biasa biasa saja.
Kadang emak menjerit lirih, kenapa anak emak tidak seperti anak temannya, selalu juara, membanggakan dan membuat harum nama keluarga.
Ingin juga emak punya anak seperti orang orang di Facebook, Instagram. Ada yang posting anaknya dengan piala, ada juga yang posting anaknya juara.

Ah emak baper deh.....
Jangan gitu Mak. Anak emak hebat kok, anak emak juga pintar, anak emak juga bintang, semua anak kita cemerlang Mak.....
Emak tau lampu (ye..pasti tau lah), maksudnya penemu bola lampu?. Emak bener, yup itu dia Thomas Alva Edison.

Tau nggak Mak, waktu di sekolah Thomas kecil dikirimi surat oleh gurunya yang berisi pesan yang sangat menyayat hati. Jangankan untuk bisa juara, untuk menangkap pelajaran saja menurut guru Thomas tidak bisa. Thomas dikatakan disability dan terpaksa dikeluarkan dari sekolah. Hati emak mana yang tidak teriris divonis memiliki anak bodoh.

Thomas akhirnya benar benar keluar dari sekolah alias DO sebelum ijazah SD dia dapatkan. Tapi Thomas memiliki seorang ibu yang sangat baik, seorang ibu yang sangat terbuka, seorang ibu yang sangat bijaksana, seorang ibu yang mengerti arti mendidik dan melejitkan potensi unggul anaknya.

Dia percaya diri mendidik Thomas kecil. Sang ibu tidak memarahi Thomas, tidak membebani Thomas dengan angka angka. Dia gali bakat Thomas, ia pupuk potensi unggulnya, hingga Thomas menjadi ahli di bidangnya. Namanya cemerlang seterang sinar lampu yang menjadi temuanya.



Siapa bilang anak cerdas itu melulu soal angka angka, juara dan piala. Percayalah Mak, anak kita semau pintar, anak kita semua hebat, anak kita semau juara, anak kita semua cemerlang di bidangnya masing masing.

Yuk cari tahu potensi unggul anak kita dimana.

#gumam_uni_yesi

Salam hangat dari Jepang
Yesi Elsandra

7.9.19

Mengenal Postpartum Depression (PPD) - 2

Sebagai kelanjutan dari artikel sebelumnya di sini, berikut lanjutan untuk diagnosis dan pengobatannya.

Masih menurut situs Aladokter, diagnosis dan Pengobatan Postpartum Depression.

Tahap awal diagnosis postpartum depression sama seperti penyakit lain, yaitu dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan penderita. Apabila dibutuhkan pasien akan menjalani serangkaian pemeriksaan guna mengetahui atau menghapus adanya kemungkinan penyakit lain, seperti gangguan hormon tiroid, atau anemia.

Jika pasien positif menderita PPD, dokter akan menentukan metode penanganan terbaik dengan mempertimbangkan tingkat keparahan kondisi dan kebutuhan pasien. Karena itu, tiap pasien akan menjalani penanganan yang berbeda-beda.

Terdapat 3 langkah utama dalam menangani PPD, yaitu penanganan di rumah, terapi psikologis, dan obat-obatan.
Berikut adalah penjelasan mendetail mengenai langkah-langkah tersebut.

Penanganan di rumah
Merawat bayi bukanlah tugas yang ringan, terutama bagi ibu baru. Sejumlah cara yang sebaiknya dilakukan sang ibu untuk menghadapinya meliputi:
Jangan segan untuk menceritakan kesulitan dan perasaaan pada pasangan, keluarga, atau teman agar mereka mengerti dan bisa membantu.
Tidak perlu sungkan atau gengsi untuk menerima atau meminta bantuan, misalnya untuk urusan dapur.
Beristirahatlah sebisanya, misalnya dengan meminta bantuan pasangan untuk bergantian menjaga bayi pada malam hari.

Luangkan waktu untuk diri sendiri agar bisa bersantai, contohnya mendengarkan musik, Rutin berolahraga. Olahraga ringan terbukti dapat memperbaiki mood.
Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang dan mengatur jadwal makan.
Hindari konsumsi minuman keras atau obat-obatan terlarang.

Terapi psikologis
Melalui terapi psikologis, sang ibu mungkin bisa menemukan cara tepat untuk menghadapi perasaan putus asa, mengatasi gangguan yang muncul, atau berpikir positif dalam situasi tertekan.

Obat-obatan
Bagi penderita PPD tingkat menengah dan parah, dokter akan menganjurkan konsumsi obat antidepresan. Obat ini akan meringankan gejala-gejala PPD sehingga pasien bisa kembali menjalani kegiatan sehari-hari secara normal.
Ibu yang pernah mengalami depresi juga mungkin disarankan menggunakan antidepresan meski hanya menderita PPD yang ringan.
Sebagian besar penderita PPD bisa sembuh secara total dengan langkah pengobatan yang sesuai kebutuhan. Dukungan pasangan dan keluarga juga tentu berperan sangat penting dalam membantu pasien mengatasi kondisi ini.
Jika kita mengalami kondisi ini segera konsultasikan ke dokter atau psikolog. Jika teman kita yang mengalaminya, berempatilah, jangan menghakimi. Menjadi pendengar yang baik atas segala persoalanya dan membantu mencari jalan keluar adalah jalan terbaik.

Repost FB Wall, tgl 7 September 2019

Mengenal Postpartum Depression (PPD) (1)

*perlu dibaca ibu dan calon ibu.

Bahagiakan Ibu, semua akan bahagia. Ibu ibarat mentari. Jika ia bersinar dengan terang maka akan bahagialah seluruh isi rumah. Tapi jika dia redup, maka seisi rumah akan merasakan kegelapannya.

Menjadi ibu luar biasa tantangannya. Jangankan tantangan mendidik anak yang dibebankan padanya, tantangan saat hamil dan pasca melahirkan tidak kalah dahsyatnya.

Saya pernah merasa hampir mati karena beratnya derita yang dirasakan saat hamil. Emesis yang berlebihan membuat saya "mabuk" tidak terkira. Demikian pula paska melahirkan operasi anak ke 5 rasanya tulang saya remuk redam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Suami yang bersatus student dan ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) waktu itu cukup sibuk tidak bisa menemani setiap saat di rumah sakit membuat saya merasa sedih. Tidak ada sanak saudara, makanan yang sesuai selera tidak setiap hari ada. Kalau bukan kepada Allah saya sampaikan kesedihan dan kegundahan mungkin saya akan mengalami baby blues atau jika parah akan mengalami postpartum depression (PPD). Apalagi seminggu paska pulang dari rumah sakit bayi kuning sampai bilirubinya 18.

Apa itu PPD

PPD adalah depresi yang dialami ibu setelah melahirkan. Terjadinya bisa tiba-tiba, atau berlahan-lahan, mulai dari yang ringan sampai berat atau kronis. Komplilasi yang terjadi mulai dari awal kehamilan sampai melahirkan meyebabkan ibu mengalami depresi.

Menurut situs Alodokter, gejala PPD adalah sebagai berikut:
1. Terus sedih atau murung.
2. Sering menangis tanpa sebab yang jelas.
3. Selalu lemas dan lelah.
4. Mengalami gangguan tidur dan cenderung mengantuk pada siang hari.
5. Sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan.
6. Tidak tertarik pada sekitarnya.
7. Kehilangan minat pada hal-hal yang pernah disukai.
8. Nafsu makan yang menurun atau meningkat.
9. Merasa bersalah dan tak berdaya.
10. Selalu bicara negatif.
11. Uring-uringan atau cepat emosi.
12. Tidak merawat diri sendiri, misalnya tidak mandi atau ganti baju.
13.Tidak ingat waktu.
14. Kehilangan selera humor.
15. Cenderung menarik diri.
16. Kesulitan merasakan ikatan batin dengan sang bayi.
17. Tidak merasa senang punya momongan.
18.Hanya merawat sang bayi karena kewajiban.
19. Tidak ingin bermain dengan sang bayi.
20. Selalu merasa ada yang salah pada kondisi sang bayi.
21. Memiliki pikiran buruk, seperti ingin menyakiti sang bayi atau bunuh diri.

Banyak faktor yang menyebabkan ibu mengalami PPD, menurut Alodokter, diantaranya:
1. Perubahan fisik setelah melahirkan, misalnya penurunan kadar hormon yang drastis.
2. Gangguan emosional.
Merawat bayi biasanya akan menyebabkan sang ibu kurang tidur dan kewalahan, sehingga masalah kecil apa pun berpotensi memicu rasa cemas atau stres. Contohnya, ketika sang ibu kesulitan memberikan ASI. Bayi yang membutuhkan perhatian khusus, misalnya karena mengidap penyakit tertentu.
3.Pernah mengalami depresi atau PPD.
Stres akibat kesulitan finansial atau masalah dengan pasangan.
Tidak ada dukungan dari keluarga.


Lalu, bagaimana diagnosis dan pengobatannya?
Simak di lanjutan tulisannya ya di sini.

25.6.19

Anak Cerdas Tidak Harus Pintar Matematika



"Bunda, nilai Matematika Kakak 48." Ujar sulung saya lirih. Dia memperlihatkan sebuah bundel semacam jurnal. Didalamnya ada soal berbagai mata pelajaran, jawaban anak, hasil evaluasi disertai grafik ulangan beberapa minggu lalu.

"Wah iyakah?" Ujar saya tersenyum. Ngak apa-apa, yang penting Kakak kemaren udah berusaha kan?"

"Nilai yang paling tinggi Bahasa Inggris, 94." Sambungnya.

"Aih keren, hebat!" Puji saya. "Nilai Kakak secara keseluruhan bagus kok, masih diatas rata-rata kelas." Saya berusaha menghibur.


Saya dulu matematikanya juga pas pasan. Ngak pernah juara. Makanya pas kuliah pilih jurusan sosial. Beda dengan suami yang sekolah selalu juara dan pilih jurusan eksakta. Tapi toh akhirnya seprofesi juga bahkan studinya selesai saya duluan.

Untuk itu saya ngak khawatir kalau anak saya ngak jago matematika karena saya tahu kecerdasan itu majemuk. Howard Gardner seorang psikolog menyebutnya Multiple Intelligence.

Howard Gardner membagi kecerdasan dalam 9 kategori, yaitu kecerdasan matematis logis, kecerdasan bahasa, kecerdasan ruang, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan musikal, kecerdasan eksistensial dan kecerdasan lingkungan.

Kapan kapan kita bahas satu satu ya. Bagaimana dengan anak Anda, memiliki kecerdasan yang manakah ia?


Foto: www.researchgate.net

24.6.19

Sistem Zonasi Ala Jepang (Bagian 2)


Tulisan sebelumnya menguraikan alasan mengapa sistem zonasi di Jepang menjadi salah satu model terbaik di dunia sehingga tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Yaitu, sekolah memiliki standar yang sama, fasilitas yang sama, guru dan kepala sekolah dirolling dan infrastruktur penunjang pendidikan sangat mendukung.

Selain alasan di atas, hal menarik yang membuat sistem zonasi berhasil di Jepang antara lain:

1. Proses belajar mengajar sama di seluruh sekolah.

Mulai dari Nyugaku Shiki (penyambutan murid baru), sampai acara Sotsugyo Shiki (upacara kelulusan siswa kelas 6) semua sama prosesinya di seluruh sekolah. Termasuk kegiatan seperti Ensoku (karya wisata), Undokai (semacam pekan olah raga), Jugyo Sankan (semacam open class), Gasshuku (kelas 6 menginap di luar kota selama 2 malam), termasuk aktifitas rutin lain seperti Asanokai (apel pagi), Owarino Kai (apel sore), Soji (kegiatan bersih-bersih sekolah).

Jam masuk dan jam keluar juga semua sama, tidak ada pelajaran tambahan (les) dari guru di luar jam pelajaran. Seluruh sekolah siswanya setiap hari makan siang dan mendapat satu kotak susu segar di sekolah.
Sepertinya kegiatan PBM sudah baku sama semuanya sesuai kurikulum yang berlaku.


2. Komite sekolah, volunteer dan masyarakat peduli terhadap pendidikan. Setiap pagi dan sore hari biasanya di perempatan akan ada volunteer yang memakai jaket kuning membantu anak-anak menyeberang dan menjaganya. Para pengendara bermotor juga sangat menjaga dan mendahukukan anak sekolah yang menyeberang. Jadi stakeholder mendukung penuh sistem zonasi ini.

3. Wajib belajar artinya wajib terima semua siswa.

Karena program wajib belajar 9 tahun, artinya pemerintah wajib menerima seluruh calon siswa SD dan SMP bagaimanapun kondisinya. Makanya tidak heran, anak yang berkebutuhan khususpun diterima di sekolah negeri. Pemerintah menyediakan guru khusus untuk mereka.

Karena pemerintah wajib menerima semua calon siswa maka jumlah demand dan supply diperhatikan. Tidak ada anak yang tidak kebagian bangku sekolah.

Ketika kami pindah ke Jepang dan memasukkan sekolah anak yang paling besar, sekolah menerima tanpa syarat, tidak ribet, tidak diminta surat pindah, nilai raport juga tidak ditanya. Hanya mengisi formulir. Yang paling besar waktu itu diterima di kelas 4 SD dan adiknya kelas 3.

Begitupun ketika anak kami yang paling besar lulus SD. Tidak ada syarat akademik apapun untuk masuk SMP, tidam ribet dan tidak menguras emosi. Anak kelas 6 SD tidak tertekan mempersiapkan UN. Siswa baru bersaing ketat ketika memasuki SMA. Biayanyapun sudah tidak gratis lagi karena sudah tidak masuk kategori wajib belajar.

4. Dengan kualitas yang sama seperti ini, tidak ada labelisasi pada sekolah tertentu. Tidak ada sekolah favorit, sekolah terakreditasi A, sekolah model, sekolah percontohan, sekolah bertaraf internasional dll. Semua sekolah sama standar mutunya. Orang tua dan siswa tidak ada yang minder atau jumawa anak nya sekolah di sekolah tertentu.



5. Sistem ini berhasil di Jepang karena pemerintah sudah mempersiapkan semua dengan baik. Seluruh infrastruktur sekolah dan sumber daya terintegrasi dengan sangat baik. Dan sistem ini hanya berlaku bagi SD dan SMP yang masuk kategori wajib belajar.

Menariknya, pemerintah kita mencoba menduplikasi sistem zonasi ala Jepang. Ini sebuah semangat yang sangat baik untuk menghapus image sekolah favorit. Pertanyaannya, apakah kita sudah memiliki infrastruktur sekolah dan sumber daya manusia yang memadai? Antara demand dan supply apakah sudah seimbang? Teman teman di tanah air saat ini tentu lebih bisa menjawabnya.

20.6.19

Sistem Zonasi Ala Jepang (Bagian 1)



Jepang adalah salah satu negara terbaik yang menerapkan sistem zonasi. Wajib belajar di Jepang 9 tahun, yaitu 6 tahun di SD dan 3  tahun SMP.

Tidak ada kehebohan yang berarti yang terjadi pada orang tua menjelang tahun ajaran baru, karena semua anak akan diterima di sekelah negeri yang terdekat rumahnya. Tidak ada anak dan orang tua yang gigit jari karena tidak kebagian kursi sekolah.

Sistem Informasi Kependudukan sudah sangat berjalan baik. Setiap penduduk baik penduduk asli maupun pendatang akan terdata seluruh identitasnya, termasuk penghasilannya.

Sebagai pendatang, pada tahun 2017 kami dikejutkan oleh kedatangan surat dari pos yang ditujukan kepada anak kami yang berusia 6 tahun. Tertulis nama anak kami, bukan nama kami orang tuanya. Rupanya surat itu berisi informasi bahwa tahun ajaran 2017 anak kami harus sekolah di SD negeri Morinosato, kurang lebih 300 meter dari apartemen kami.
Kamipun datang ke sekolah yang dimaksud, rupanya sekolah sudah memgetahui akan kehadiran kami dari juga dari pemerintah.


Mengapa sistem zonasi tidak mengalami gejolak dan penolakan dari masyarakatnya?

1. Semua sekolah sama standar kualitasnya.

Tidak saja proses belajar mengajarnya yang dibuat sama standarnya, tetapi fasilitas fisik gedungpun sama. Misalnya semua sekolah punya lapangan olah raga yang sama ukurannya, semua memiliki kolam renang, semua memiliki gedung serba guna, loker sepatu, loker tas, meja dan kursi belajar sama, papan tulis magnetik sama, WC yang sama baiknya, dsb.

Bahkan soal ulanganpun semua dibuat sama dengan kertas HVS 80 gram full warna. Anak-anak tertarik dengan gambar yang berwarna. Jarang sekali ada soal multiple choice

Jika melihat fasilitas fisik gedungnya dan juga fasilitas belajar mengajarnya, maka tidak salah Jepang menjadi negara maju karena kualitas pendidikan sangat diprioritaskan pemerintahnya.

2. Guru dirolling.
Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana profesionalnya guru mengajar dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Bahan ajarnya banyak, retorika mengajarnya tidak membosankan, dan mereka kadang bekerja hingga malam untuk mempersiapkan keperluan proses belajar mengajar.

Seluruh guru memiliki kompetensi mengajar sehingga bisa dikatakan tidak ada guru yang bekerja asal asalan. Para guru itu dan juga kepala sekolah dirolling ke semua sekolah. Jadi tidak ada guru di sekolah sini bagus sedangkan di sekolah sana tidak bagus.

3. Infrastruktur sangat mendukung.

Orang tua tidak akan cemas melepas anaknya yang baru berusia 6 tahun berjalan kaki sejauh 1-2 km ke sekolah karena tersedia jalan khusus untuk pejalan kaki. Jika ada penyebrangan, ada lampu merah yang berfungsi dengan baik dan ditaati seluruh pengendara.

Dilanjutkan ngak ya?




25.5.19

Kunci Mendidik Anak Remaja

Mendidik anak remaja adalah fase paling besar tantangannya. Secara psikologis, sikap, prilaku, jiwa dan perubahan hormon anak berkembang pesat pada masa ini. Pada saat ini anak remaja tidak lagi secara mudah dapat "dikendalikan" oleh orang tuanya. Mereka memiliki obsesi, memiliki cara pandang dan keinginan yang bisa jadi berbeda jauh dari orang tuanya. Fase ini juga dikenal sebagai fase "pemberontakan" dimana anak tidak melulu mau mengikuti aturan dan keinginan orang tua.

Saat kecil, anak anak tidak memiliki dendam walau sebesar apapun marah orang tua. Anak akan tetap memeluk, dan ingin selalu dekat dengan orang tuanya. Sedangkan anak remaja, jika tidak tepat pola menasehatinya, kemarahan orang tua bisa jadi benih kebencian, pemberontakan dan dendam. Maka tidak heran, bagi sebagian remaja orang tua kalah asik dibanding teman temanya. Mereka lebih senang curhat kepada teman dibanding orang tua.



Perlu strategi parenting yang disesuaikan dengan karakter masing masing anak agar mereka dapat tumbuh sesuai harapan kita. Seperti bermain layang layang, anak remaja tidak bisa diatur secara kencang, tapi tidak pula dilepas bebas.

Salah satu hal yang perlu lakukan adalah kita harus totalitas mendidik dan membimbing dan membersamainya. Orang tua dapat memanage gaya komunikasi, dan melakukan attachment bukan hanya fisik tapi juga jiwa. Anak remaja umumnya tidak mudah mau diperintah. Kita bisa menggunakan kata, "minta tolong", atau " yuk". Begitupun dalam memberi nasehat.

Perlu trik khusus jika kita ingin menegur atau menasehatinya. Lihat suasana hatinya, pilih timing yang tepat. Jangan fokus pada kesalahsn dan kekurangannya, tapi fokus pada solusi dan kebaikannya.

Saat ia bercerita, hadapkan wajah kita secara sempurna, dan mata kita fokus menatapnya. Perlihatkan kalau kita serius dan senang mendengar ceritanya. Beri respon positif apakah itu degan senyuman atau kalimat positif. Misalnya, "wah keren", atau "wow luar biasa", jangan lupa tersenyum.

Sering sering memeluk, merangkul dan menciumnya. Pada memeluk itu doakan atau katakan kalimat positif, misalnya, " kakak anak yang hebat". Ikat emosi kita secara kuat degannya. Jika kita telah menginvestasikan pola asuh yang baik sejak kecil, pada saat remaja seharusnya kita tinggal memetik hasil.

Tapi mendidik anak tidak semudah itu teorinya.
Seperti pohon, semakin tinggi dia, semakin kencang angin dan semakin banyak juga hama yang mendekatinya.



4.3.19

Pertunjukan Lampu Ini Sangat Menakjubkan



Di tangan orang kreatif, inovatif dan prestatif, tempat ini menjadi objek wisata yang produktif sepanjang tahun. Sebuah taman bunga yang bermandikan cahaya lampu di malam hari.

Masuknya cukup mahal 2300¥ per orang. Tapi keindahan tempat ini dan atraksi lampu yang disuguhkannya mampu menghangatkan malam yang dingin. Pengunjung juga mendapat voucher 1000¥ yang dapat ditukar makanan atau souvenir di dalam area taman.

Banyaknya wisatawan yang hadir tidak sedikitpun membuat tempat ini kotor dengan sampah. Tidak juga saya lihat ada lampu yang mati atau rusak. Semua bersih, tertata rapi, dan sangat menarik.

Tempat ini bernama Nabana No Sato, luasnya 26.400 meter persegi. Berlokasi di Kuwana, Mie Prefecture, lewat tol kurang lebih 20-30 menit dari Science Museum Nagoya.

Pengelola menyediakan tempat parkir yang sangat luas. Petugas parkir sigap mengarahkan pengunjung ke tempat parkir yang kosong sehingga tidak ada antrian panjang memasuki objek wisata ini. Petugas parkirnya rata rata sudah tua.

Terdapat banyak sekali bunga berbagai warna dan rupa berhias lampu LED yang sangat cantik berjumlah kurang lebih 8 juta.

Kita dapat menonton antraksi lampu dengan cerita gunung Fuji yang terkenal. Lampu lampu itu menyuguhkan cerita yang sangat menarik, seperti musim semi yang penuh bunga warna warni, musim dingin penuh salju dan lain lain. Hebat sekali lampu bisa menyuguhkan cerita yang sangat menarik diiringi instrumen musik yang menarik pula.



Selain atraksi lampu yang spektakuler, highlight atau icon Nabana No Sato adalah terowongan lampunya yang menakjubkan. Terowongan lampu ini lebih dari 100 meter. Ada sekitar 1.2 juta lampu LED yang kokoh menyelimuti terowongan ini. Ngak lengkap rasanya kalau tidak foto di terowongan ini.


Jika suatu saat teman teman main ke Jepang, sempatkan mampir ke tempat yang menakjubkan ini.

20.1.19

Sasadango (笹団子), makanan tradisional Jepang

Nama makanan ini Sasa Dango (笹団子).
Makanan khas Jepang ini dibuat dari kacang merah yang dibungkus daun bambu. Sasa () artinya daun bambu dan Dango (団子) artinya semacam kue beras. Kami mengenal pertama kalinya dari postingan salah seorang permanen residen Indonesia di grup catering Halal FB di Kanazawa yang menawarkan pre order makanan ini setelah dari perjalanan beliau dari daerah sekitar Gifu/Toyama. Dari beberapa artikel tentang makanan ini, disebutkan makanan ini disebut khas juga daerah prefektur Niigata, termasuk juga sekitarnya yaitu Nagano, Toyama, Gifu.

Sejarahnya sasa dango ini adalah dari bagian makanan dari bahan beras yang dikhususkan untuk disimpan dalam beberapa hari karena akan dibawa dalam suatu perjalanan. Konon yang pertama membuat dari pasukan jenderal Uesugi Yoshinobu pada periode Edo, jaman baheula-nya Jepang tu.

Yang menarik cara orang Jepang menghargai dan mengemas hal-hal tradisional jadi kualitas layak jual dan premium. Kalau dari makanan ini selain dibungkus dua helai daun bambu, lalu diikat pakai ikatan macam daun ilalang yang disebut suge atau igusa. Terus disatukan dalam packing masing-masing lima buah. Baru dibungkus plastik yang terikat kuat.

Sasadango
Dan ternyata banyak lagi model makanan tradisional dari bahan asal beras atau ketan lain. Dan sekali lagi dilihat dari cara pengemasannya, juga dikemas dalam model satuan, artinya dibungkus satu-satu.
Yang biasa kami makan buat camilan ada namanya senbei dengan merk yang biasa yaitu Borinko


Secara umum, selain ramah lingkungan, tentu makanan ini aman bagi muslim untuk dikonsumsi. Namun perlu diperhatikan bahan campuran lainnya apa mengandung kandungan yang dilarang bagi muslim terutama mengandung babi dan sake (alkohol).

Lalu, bagaimana kami makan sasa dango ini?
Tak sampai lima menit makanan ini ludes disantap oleh anak-anak juga, alhamdulillah, he..he..
Tentu tetap berdoa Allahumma baariklanaa fii maa rozaqtanaa wa qinaa adzaaban naar. Aamiin.


Catatan :
Tulisan ini dikembangakan dari postingan FB si Abi :-).

Sumber tulisan :
http://jpninfo.com/27509
http://hiro-shio.blogspot.com/2010/05/sasa-dango-and-chimaki.html
https://japanese-products.blog/2018/10/01/sasa-dango/