4.3.19

Pertunjukan Lampu Ini Sangat Menakjubkan



Di tangan orang kreatif, inovatif dan prestatif, tempat ini menjadi objek wisata yang produktif sepanjang tahun. Sebuah taman bunga yang bermandikan cahaya lampu di malam hari.

Masuknya cukup mahal 2300¥ per orang. Tapi keindahan tempat ini dan atraksi lampu yang disuguhkannya mampu menghangatkan malam yang dingin. Pengunjung juga mendapat voucher 1000¥ yang dapat ditukar makanan atau souvenir di dalam area taman.

Banyaknya wisatawan yang hadir tidak sedikitpun membuat tempat ini kotor dengan sampah. Tidak juga saya lihat ada lampu yang mati atau rusak. Semua bersih, tertata rapi, dan sangat menarik.

Tempat ini bernama Nabana No Sato, luasnya 26.400 meter persegi. Berlokasi di Kuwana, Mie Prefecture, lewat tol kurang lebih 20-30 menit dari Science Museum Nagoya.

Pengelola menyediakan tempat parkir yang sangat luas. Petugas parkir sigap mengarahkan pengunjung ke tempat parkir yang kosong sehingga tidak ada antrian panjang memasuki objek wisata ini. Petugas parkirnya rata rata sudah tua.

Terdapat banyak sekali bunga berbagai warna dan rupa berhias lampu LED yang sangat cantik berjumlah kurang lebih 8 juta.

Kita dapat menonton antraksi lampu dengan cerita gunung Fuji yang terkenal. Lampu lampu itu menyuguhkan cerita yang sangat menarik, seperti musim semi yang penuh bunga warna warni, musim dingin penuh salju dan lain lain. Hebat sekali lampu bisa menyuguhkan cerita yang sangat menarik diiringi instrumen musik yang menarik pula.



Selain atraksi lampu yang spektakuler, highlight atau icon Nabana No Sato adalah terowongan lampunya yang menakjubkan. Terowongan lampu ini lebih dari 100 meter. Ada sekitar 1.2 juta lampu LED yang kokoh menyelimuti terowongan ini. Ngak lengkap rasanya kalau tidak foto di terowongan ini.


Jika suatu saat teman teman main ke Jepang, sempatkan mampir ke tempat yang menakjubkan ini.

20.1.19

Sasadango (笹団子), makanan tradisional Jepang

Nama makanan ini Sasa Dango (笹団子).
Makanan khas Jepang ini dibuat dari kacang merah yang dibungkus daun bambu. Sasa () artinya daun bambu dan Dango (団子) artinya semacam kue beras. Kami mengenal pertama kalinya dari postingan salah seorang permanen residen Indonesia di grup catering Halal FB di Kanazawa yang menawarkan pre order makanan ini setelah dari perjalanan beliau dari daerah sekitar Gifu/Toyama. Dari beberapa artikel tentang makanan ini, disebutkan makanan ini disebut khas juga daerah prefektur Niigata, termasuk juga sekitarnya yaitu Nagano, Toyama, Gifu.

Sejarahnya sasa dango ini adalah dari bagian makanan dari bahan beras yang dikhususkan untuk disimpan dalam beberapa hari karena akan dibawa dalam suatu perjalanan. Konon yang pertama membuat dari pasukan jenderal Uesugi Yoshinobu pada periode Edo, jaman baheula-nya Jepang tu.

Yang menarik cara orang Jepang menghargai dan mengemas hal-hal tradisional jadi kualitas layak jual dan premium. Kalau dari makanan ini selain dibungkus dua helai daun bambu, lalu diikat pakai ikatan macam daun ilalang yang disebut suge atau igusa. Terus disatukan dalam packing masing-masing lima buah. Baru dibungkus plastik yang terikat kuat.

Sasadango
Dan ternyata banyak lagi model makanan tradisional dari bahan asal beras atau ketan lain. Dan sekali lagi dilihat dari cara pengemasannya, juga dikemas dalam model satuan, artinya dibungkus satu-satu.
Yang biasa kami makan buat camilan ada namanya senbei dengan merk yang biasa yaitu Borinko


Secara umum, selain ramah lingkungan, tentu makanan ini aman bagi muslim untuk dikonsumsi. Namun perlu diperhatikan bahan campuran lainnya apa mengandung kandungan yang dilarang bagi muslim terutama mengandung babi dan sake (alkohol).

Lalu, bagaimana kami makan sasa dango ini?
Tak sampai lima menit makanan ini ludes disantap oleh anak-anak juga, alhamdulillah, he..he..
Tentu tetap berdoa Allahumma baariklanaa fii maa rozaqtanaa wa qinaa adzaaban naar. Aamiin.


Catatan :
Tulisan ini dikembangakan dari postingan FB si Abi :-).

Sumber tulisan :
http://jpninfo.com/27509
http://hiro-shio.blogspot.com/2010/05/sasa-dango-and-chimaki.html
https://japanese-products.blog/2018/10/01/sasa-dango/