25.6.19

Anak Cerdas Tidak Harus Pintar Matematika



"Bunda, nilai Matematika Kakak 48." Ujar sulung saya lirih. Dia memperlihatkan sebuah bundel semacam jurnal. Didalamnya ada soal berbagai mata pelajaran, jawaban anak, hasil evaluasi disertai grafik ulangan beberapa minggu lalu.

"Wah iyakah?" Ujar saya tersenyum. Ngak apa-apa, yang penting Kakak kemaren udah berusaha kan?"

"Nilai yang paling tinggi Bahasa Inggris, 94." Sambungnya.

"Aih keren, hebat!" Puji saya. "Nilai Kakak secara keseluruhan bagus kok, masih diatas rata-rata kelas." Saya berusaha menghibur.


Saya dulu matematikanya juga pas pasan. Ngak pernah juara. Makanya pas kuliah pilih jurusan sosial. Beda dengan suami yang sekolah selalu juara dan pilih jurusan eksakta. Tapi toh akhirnya seprofesi juga bahkan studinya selesai saya duluan.

Untuk itu saya ngak khawatir kalau anak saya ngak jago matematika karena saya tahu kecerdasan itu majemuk. Howard Gardner seorang psikolog menyebutnya Multiple Intelligence.

Howard Gardner membagi kecerdasan dalam 9 kategori, yaitu kecerdasan matematis logis, kecerdasan bahasa, kecerdasan ruang, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan musikal, kecerdasan eksistensial dan kecerdasan lingkungan.

Kapan kapan kita bahas satu satu ya. Bagaimana dengan anak Anda, memiliki kecerdasan yang manakah ia?


Foto: www.researchgate.net

24.6.19

Sistem Zonasi Ala Jepang (Bagian 2)


Tulisan sebelumnya menguraikan alasan mengapa sistem zonasi di Jepang menjadi salah satu model terbaik di dunia sehingga tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Yaitu, sekolah memiliki standar yang sama, fasilitas yang sama, guru dan kepala sekolah dirolling dan infrastruktur penunjang pendidikan sangat mendukung.

Selain alasan di atas, hal menarik yang membuat sistem zonasi berhasil di Jepang antara lain:

1. Proses belajar mengajar sama di seluruh sekolah.

Mulai dari Nyugaku Shiki (penyambutan murid baru), sampai acara Sotsugyo Shiki (upacara kelulusan siswa kelas 6) semua sama prosesinya di seluruh sekolah. Termasuk kegiatan seperti Ensoku (karya wisata), Undokai (semacam pekan olah raga), Jugyo Sankan (semacam open class), Gasshuku (kelas 6 menginap di luar kota selama 2 malam), termasuk aktifitas rutin lain seperti Asanokai (apel pagi), Owarino Kai (apel sore), Soji (kegiatan bersih-bersih sekolah).

Jam masuk dan jam keluar juga semua sama, tidak ada pelajaran tambahan (les) dari guru di luar jam pelajaran. Seluruh sekolah siswanya setiap hari makan siang dan mendapat satu kotak susu segar di sekolah.
Sepertinya kegiatan PBM sudah baku sama semuanya sesuai kurikulum yang berlaku.


2. Komite sekolah, volunteer dan masyarakat peduli terhadap pendidikan. Setiap pagi dan sore hari biasanya di perempatan akan ada volunteer yang memakai jaket kuning membantu anak-anak menyeberang dan menjaganya. Para pengendara bermotor juga sangat menjaga dan mendahukukan anak sekolah yang menyeberang. Jadi stakeholder mendukung penuh sistem zonasi ini.

3. Wajib belajar artinya wajib terima semua siswa.

Karena program wajib belajar 9 tahun, artinya pemerintah wajib menerima seluruh calon siswa SD dan SMP bagaimanapun kondisinya. Makanya tidak heran, anak yang berkebutuhan khususpun diterima di sekolah negeri. Pemerintah menyediakan guru khusus untuk mereka.

Karena pemerintah wajib menerima semua calon siswa maka jumlah demand dan supply diperhatikan. Tidak ada anak yang tidak kebagian bangku sekolah.

Ketika kami pindah ke Jepang dan memasukkan sekolah anak yang paling besar, sekolah menerima tanpa syarat, tidak ribet, tidak diminta surat pindah, nilai raport juga tidak ditanya. Hanya mengisi formulir. Yang paling besar waktu itu diterima di kelas 4 SD dan adiknya kelas 3.

Begitupun ketika anak kami yang paling besar lulus SD. Tidak ada syarat akademik apapun untuk masuk SMP, tidam ribet dan tidak menguras emosi. Anak kelas 6 SD tidak tertekan mempersiapkan UN. Siswa baru bersaing ketat ketika memasuki SMA. Biayanyapun sudah tidak gratis lagi karena sudah tidak masuk kategori wajib belajar.

4. Dengan kualitas yang sama seperti ini, tidak ada labelisasi pada sekolah tertentu. Tidak ada sekolah favorit, sekolah terakreditasi A, sekolah model, sekolah percontohan, sekolah bertaraf internasional dll. Semua sekolah sama standar mutunya. Orang tua dan siswa tidak ada yang minder atau jumawa anak nya sekolah di sekolah tertentu.



5. Sistem ini berhasil di Jepang karena pemerintah sudah mempersiapkan semua dengan baik. Seluruh infrastruktur sekolah dan sumber daya terintegrasi dengan sangat baik. Dan sistem ini hanya berlaku bagi SD dan SMP yang masuk kategori wajib belajar.

Menariknya, pemerintah kita mencoba menduplikasi sistem zonasi ala Jepang. Ini sebuah semangat yang sangat baik untuk menghapus image sekolah favorit. Pertanyaannya, apakah kita sudah memiliki infrastruktur sekolah dan sumber daya manusia yang memadai? Antara demand dan supply apakah sudah seimbang? Teman teman di tanah air saat ini tentu lebih bisa menjawabnya.

20.6.19

Sistem Zonasi Ala Jepang (Bagian 1)



Jepang adalah salah satu negara terbaik yang menerapkan sistem zonasi. Wajib belajar di Jepang 9 tahun, yaitu 6 tahun di SD dan 3  tahun SMP.

Tidak ada kehebohan yang berarti yang terjadi pada orang tua menjelang tahun ajaran baru, karena semua anak akan diterima di sekelah negeri yang terdekat rumahnya. Tidak ada anak dan orang tua yang gigit jari karena tidak kebagian kursi sekolah.

Sistem Informasi Kependudukan sudah sangat berjalan baik. Setiap penduduk baik penduduk asli maupun pendatang akan terdata seluruh identitasnya, termasuk penghasilannya.

Sebagai pendatang, pada tahun 2017 kami dikejutkan oleh kedatangan surat dari pos yang ditujukan kepada anak kami yang berusia 6 tahun. Tertulis nama anak kami, bukan nama kami orang tuanya. Rupanya surat itu berisi informasi bahwa tahun ajaran 2017 anak kami harus sekolah di SD negeri Morinosato, kurang lebih 300 meter dari apartemen kami.
Kamipun datang ke sekolah yang dimaksud, rupanya sekolah sudah memgetahui akan kehadiran kami dari juga dari pemerintah.


Mengapa sistem zonasi tidak mengalami gejolak dan penolakan dari masyarakatnya?

1. Semua sekolah sama standar kualitasnya.

Tidak saja proses belajar mengajarnya yang dibuat sama standarnya, tetapi fasilitas fisik gedungpun sama. Misalnya semua sekolah punya lapangan olah raga yang sama ukurannya, semua memiliki kolam renang, semua memiliki gedung serba guna, loker sepatu, loker tas, meja dan kursi belajar sama, papan tulis magnetik sama, WC yang sama baiknya, dsb.

Bahkan soal ulanganpun semua dibuat sama dengan kertas HVS 80 gram full warna. Anak-anak tertarik dengan gambar yang berwarna. Jarang sekali ada soal multiple choice

Jika melihat fasilitas fisik gedungnya dan juga fasilitas belajar mengajarnya, maka tidak salah Jepang menjadi negara maju karena kualitas pendidikan sangat diprioritaskan pemerintahnya.

2. Guru dirolling.
Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana profesionalnya guru mengajar dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Bahan ajarnya banyak, retorika mengajarnya tidak membosankan, dan mereka kadang bekerja hingga malam untuk mempersiapkan keperluan proses belajar mengajar.

Seluruh guru memiliki kompetensi mengajar sehingga bisa dikatakan tidak ada guru yang bekerja asal asalan. Para guru itu dan juga kepala sekolah dirolling ke semua sekolah. Jadi tidak ada guru di sekolah sini bagus sedangkan di sekolah sana tidak bagus.

3. Infrastruktur sangat mendukung.

Orang tua tidak akan cemas melepas anaknya yang baru berusia 6 tahun berjalan kaki sejauh 1-2 km ke sekolah karena tersedia jalan khusus untuk pejalan kaki. Jika ada penyebrangan, ada lampu merah yang berfungsi dengan baik dan ditaati seluruh pengendara.

Dilanjutkan ngak ya?




25.5.19

Kunci Mendidik Anak Remaja

Mendidik anak remaja adalah fase paling besar tantangannya. Secara psikologis, sikap, prilaku, jiwa dan perubahan hormon anak berkembang pesat pada masa ini. Pada saat ini anak remaja tidak lagi secara mudah dapat "dikendalikan" oleh orang tuanya. Mereka memiliki obsesi, memiliki cara pandang dan keinginan yang bisa jadi berbeda jauh dari orang tuanya. Fase ini juga dikenal sebagai fase "pemberontakan" dimana anak tidak melulu mau mengikuti aturan dan keinginan orang tua.

Saat kecil, anak anak tidak memiliki dendam walau sebesar apapun marah orang tua. Anak akan tetap memeluk, dan ingin selalu dekat dengan orang tuanya. Sedangkan anak remaja, jika tidak tepat pola menasehatinya, kemarahan orang tua bisa jadi benih kebencian, pemberontakan dan dendam. Maka tidak heran, bagi sebagian remaja orang tua kalah asik dibanding teman temanya. Mereka lebih senang curhat kepada teman dibanding orang tua.



Perlu strategi parenting yang disesuaikan dengan karakter masing masing anak agar mereka dapat tumbuh sesuai harapan kita. Seperti bermain layang layang, anak remaja tidak bisa diatur secara kencang, tapi tidak pula dilepas bebas.

Salah satu hal yang perlu lakukan adalah kita harus totalitas mendidik dan membimbing dan membersamainya. Orang tua dapat memanage gaya komunikasi, dan melakukan attachment bukan hanya fisik tapi juga jiwa. Anak remaja umumnya tidak mudah mau diperintah. Kita bisa menggunakan kata, "minta tolong", atau " yuk". Begitupun dalam memberi nasehat.

Perlu trik khusus jika kita ingin menegur atau menasehatinya. Lihat suasana hatinya, pilih timing yang tepat. Jangan fokus pada kesalahsn dan kekurangannya, tapi fokus pada solusi dan kebaikannya.

Saat ia bercerita, hadapkan wajah kita secara sempurna, dan mata kita fokus menatapnya. Perlihatkan kalau kita serius dan senang mendengar ceritanya. Beri respon positif apakah itu degan senyuman atau kalimat positif. Misalnya, "wah keren", atau "wow luar biasa", jangan lupa tersenyum.

Sering sering memeluk, merangkul dan menciumnya. Pada memeluk itu doakan atau katakan kalimat positif, misalnya, " kakak anak yang hebat". Ikat emosi kita secara kuat degannya. Jika kita telah menginvestasikan pola asuh yang baik sejak kecil, pada saat remaja seharusnya kita tinggal memetik hasil.

Tapi mendidik anak tidak semudah itu teorinya.
Seperti pohon, semakin tinggi dia, semakin kencang angin dan semakin banyak juga hama yang mendekatinya.



4.3.19

Pertunjukan Lampu Ini Sangat Menakjubkan



Di tangan orang kreatif, inovatif dan prestatif, tempat ini menjadi objek wisata yang produktif sepanjang tahun. Sebuah taman bunga yang bermandikan cahaya lampu di malam hari.

Masuknya cukup mahal 2300¥ per orang. Tapi keindahan tempat ini dan atraksi lampu yang disuguhkannya mampu menghangatkan malam yang dingin. Pengunjung juga mendapat voucher 1000¥ yang dapat ditukar makanan atau souvenir di dalam area taman.

Banyaknya wisatawan yang hadir tidak sedikitpun membuat tempat ini kotor dengan sampah. Tidak juga saya lihat ada lampu yang mati atau rusak. Semua bersih, tertata rapi, dan sangat menarik.

Tempat ini bernama Nabana No Sato, luasnya 26.400 meter persegi. Berlokasi di Kuwana, Mie Prefecture, lewat tol kurang lebih 20-30 menit dari Science Museum Nagoya.

Pengelola menyediakan tempat parkir yang sangat luas. Petugas parkir sigap mengarahkan pengunjung ke tempat parkir yang kosong sehingga tidak ada antrian panjang memasuki objek wisata ini. Petugas parkirnya rata rata sudah tua.

Terdapat banyak sekali bunga berbagai warna dan rupa berhias lampu LED yang sangat cantik berjumlah kurang lebih 8 juta.

Kita dapat menonton antraksi lampu dengan cerita gunung Fuji yang terkenal. Lampu lampu itu menyuguhkan cerita yang sangat menarik, seperti musim semi yang penuh bunga warna warni, musim dingin penuh salju dan lain lain. Hebat sekali lampu bisa menyuguhkan cerita yang sangat menarik diiringi instrumen musik yang menarik pula.



Selain atraksi lampu yang spektakuler, highlight atau icon Nabana No Sato adalah terowongan lampunya yang menakjubkan. Terowongan lampu ini lebih dari 100 meter. Ada sekitar 1.2 juta lampu LED yang kokoh menyelimuti terowongan ini. Ngak lengkap rasanya kalau tidak foto di terowongan ini.


Jika suatu saat teman teman main ke Jepang, sempatkan mampir ke tempat yang menakjubkan ini.

20.1.19

Sasadango (笹団子), makanan tradisional Jepang

Nama makanan ini Sasa Dango (笹団子).
Makanan khas Jepang ini dibuat dari kacang merah yang dibungkus daun bambu. Sasa () artinya daun bambu dan Dango (団子) artinya semacam kue beras. Kami mengenal pertama kalinya dari postingan salah seorang permanen residen Indonesia di grup catering Halal FB di Kanazawa yang menawarkan pre order makanan ini setelah dari perjalanan beliau dari daerah sekitar Gifu/Toyama. Dari beberapa artikel tentang makanan ini, disebutkan makanan ini disebut khas juga daerah prefektur Niigata, termasuk juga sekitarnya yaitu Nagano, Toyama, Gifu.

Sejarahnya sasa dango ini adalah dari bagian makanan dari bahan beras yang dikhususkan untuk disimpan dalam beberapa hari karena akan dibawa dalam suatu perjalanan. Konon yang pertama membuat dari pasukan jenderal Uesugi Yoshinobu pada periode Edo, jaman baheula-nya Jepang tu.

Yang menarik cara orang Jepang menghargai dan mengemas hal-hal tradisional jadi kualitas layak jual dan premium. Kalau dari makanan ini selain dibungkus dua helai daun bambu, lalu diikat pakai ikatan macam daun ilalang yang disebut suge atau igusa. Terus disatukan dalam packing masing-masing lima buah. Baru dibungkus plastik yang terikat kuat.

Sasadango
Dan ternyata banyak lagi model makanan tradisional dari bahan asal beras atau ketan lain. Dan sekali lagi dilihat dari cara pengemasannya, juga dikemas dalam model satuan, artinya dibungkus satu-satu.
Yang biasa kami makan buat camilan ada namanya senbei dengan merk yang biasa yaitu Borinko


Secara umum, selain ramah lingkungan, tentu makanan ini aman bagi muslim untuk dikonsumsi. Namun perlu diperhatikan bahan campuran lainnya apa mengandung kandungan yang dilarang bagi muslim terutama mengandung babi dan sake (alkohol).

Lalu, bagaimana kami makan sasa dango ini?
Tak sampai lima menit makanan ini ludes disantap oleh anak-anak juga, alhamdulillah, he..he..
Tentu tetap berdoa Allahumma baariklanaa fii maa rozaqtanaa wa qinaa adzaaban naar. Aamiin.


Catatan :
Tulisan ini dikembangakan dari postingan FB si Abi :-).

Sumber tulisan :
http://jpninfo.com/27509
http://hiro-shio.blogspot.com/2010/05/sasa-dango-and-chimaki.html
https://japanese-products.blog/2018/10/01/sasa-dango/