31.12.19

💖 Catatan Parenting Akhir Tahun 2019


Pernikahan tidak melulu kisah romantis penuh bunga-bunga ala film Korea. Di dalamnya sering ada tangis, ada marah, ada kesal, ada pertikaian atau ada sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Kadang kita harus menyimpan keinginan dan harapan agar pasangan dan anak-anak kita bahagia. Kadang kita juga harus membuang jauh mimpi-mimpi kita untuk pasangan dan anak-anak kita. Kadang kita menahan hati oleh keluarganya, ayah ibunya, kakak adiknya atau bahkan oleh sifat sifatnya.

Kadang kita harus mengorbankan banyak hal agar keluarga kita bisa terus berjalan di jalan yang semestinya kita lalui. Kadang kita akhirnya berjauhan dengan ayah ibu dan orang orang yang kita cintai lainya. Kadang kita sering menangis dalam hati, karena di tidak seperti yang kita harapkan. Dan tentunya masih banyak lagi.....

Pernikahan penuh dengan misteri. Kita kira cantik dan tampan membuat keluarga samara, nyatanya tidak. Berapa banyak orang yang cantik, pasangannya berselingkuh juga.



Jika kita kira kekayaan dan harta yang melimpah yang membuat rumah tangga kita menjadi surga, ternyata tidak. Berapa banyak keluarga yang dulunya pas pasan, setelah kaya justru timbul masalah besar dalam rumah tangganya.

Kita kira ahli agama tidak ada masalah dalam rumah tangganya, nyatanya berapa banyak ahli agama terkenal justru Masalah dalam keluarganya setiap hari digosipin televisi. Bahkan dai sejuta viewers tidak luput didera masalah rumah tangga.

Bukan karena cantik, tampan, pangkat dan jabatan serta kekayaan yang membuat rumah tangga bahagia. Mungkin karena doa orang tua kita, mungkin karena sujud sujud kita, karena infak sadaqoh kita, karena kerelaan kita berkorban untuknya, karena ridho pasangan kita, karena keikhlasan kita menerima segala kekuranganya.

Kita sering tidak mengerti rahasia Allah terhadap banyak hal. Tapi kita dapat mengambil hikmah dalam setiap peristiwa yang terhidang di depan mata.

Perjuangkan rumah tangga kita, support pasangan setinggi langit, jadilah yang terdepan memotivasinya, mendukungnya dan berkorban untuknya. Fokus hanya pada hal yang positif yang dimiliki pasangan kita, fokus hanya pada kelebihannya. Setiap orang punya kekurangan, tapi jangan fokus pada kekurangan itu.

Semoga tahun depan, kelurga kita lebih baik, lebih bermanfaat, lebih romantis, lebih berkah.


30.12.19

Rahasia Anak Tidak Mogok Sekelah (lagi)



Suhu waktu itu sudah 1 digit, tapi matahari bersinar cerah, langit sempurna birunya. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Ini tentang laki-laki berjaket merah.

Dia sekolah terlalu dini. Saya masukkan Play Group usia 2.5 tahun. Dari pada masuk day care lebih baik ia sekolah formal sekalian bareng kakaknya yang masuk TK kecil, karena saya bekerja.

Sejak masuk PG, TK sampai kelas 5 SD ada-ada saja alasannya bolos sekolah. Tidak hanya sering bolos dan mogok, dia juga tidak suka mengerjakan PR, apalagi PR membuat huruf kanji.

Sejak kelas 6, dia tidak pernah bolos lagi. Dia selalu bersemangat sekolah, rajin buat PR, tidak mau terlambat. Saya percaya, setiap anak telah terinstal fitrah belajarnya sejak lahir. Tugas kita orang tua dan bekerja sama dengan guru mendrivenya.

Saya menemukan jawabannya saat open class. Rupanya wali kelasnya sejak kelas 6 ini adalah seorang laki-laki yang sangat energik, atraktif, murah senyum, ganteng dan masih muda.


Saya perhatikan wali kelasnya itu mengajar, saya perhatikan mata anak saya dan juga anak-anak lain yang berbinar-binar penuh antusias mendengar penjelasan guru. Semua saya foto dan rekam.

Pantas dia sekarang semangat, dia menemukan sosok guru idola, guru yang sesuai dengan karakternya. Guru yang penuh senyum dan penuh semangat. Guru yang bisa mendrive murid-muridnya.

Dulu reportnya bergelimang nilai C, sekarang satupun tidak ada nilai C nya, masya Allah.

Guru adalah mitra orang tua. Jika kita memilih jalur sekolah, guru menjadi salah satu pihak yang sangat penting mendorong anak-anak kita menikmati fitrah belajarnya.

Terimakasih pada seluruh guru yang telah membimbing anak-anak kami.

#gumam_uni_yesi


26.12.19

Rezeki Itu Tergantung Bagaimana Kita Bersyukur

Kadang kita sering lupa, bahwa :

1. Allah PASTI menjamin rezeki setiap hambaNya.
2. Rezeki kita tidak akan tertukar.
3. Rezeki kita tidak akan diambil orang.
4. Rezeki tidak akan salah alamat.
5. Rezeki tidak melulu uang, barang dan materi lainnya. Sehat juga adalah rezeki, waktu juga adalah rezeki dll.
6. Apa yang kita miliki hari ini belum tentu rezeki.
7. Rezeki kita sejatinya hanya 3, yaitu, apa yang kita makan hari ini, apa yang kita pakai hari ini dan apa yang telah kita infakkan.

Kunci magnet rezeki sesungguhnya ada dalam syukur kita, ada dalam pikiran kita dan ada dalam ketaatan kita beribadah kepada zat yang memberi rezeki.

Jika ketiga ini kita elaborasi, maka rezeki itu akan datang tergopoh-gopoh dengan sendirinya.

Jika satu pintu rezeki tertutup, maka Allah akan buka pintu rezeki yang lainnya......

#gumam_uni_yesi


16.12.19

Diantara Kemuliaan dan Pilihan


Lebih dari 20 tahun perjalanan karier saya sebagai pendidik di perguruan tinggi. Dimulai dari nol, jadi asisten dosen, bantu dosen cek nilai mahasiswa, bantu-bantu dosen di jurusan, bantu-bantu dosen juga membuat soal ujian. Gantiin dosen kalau berhalangan hadir, dll.

Iya dimulai dari nol kilometer, benar-benar dari bawah, semua itu ada prosesnya. Pernah muka saya merah karena diledekin teman seangkatan, digodain lagi ngajar, grogi, gemeteran, kadang salah menterjemahkan rumus, salah tingkah karena kadang ngajar teman seangkatan yang belum wisuda. Bahkan pernah diancam kakak angkatan yang belum lulus waktu ngawas ujian. Semua adalah proses, dinikmati, disyukuri....

Lebih dari 20 tahun, bukanlah waktu yang singkat. Berkarier di dunia pendidikan yang keliatannya soft, kelihatannya tenang tanpa riak, tetapi sebenarnya penuh tantangan, kadang tidak sedikit ada trik dan intrik.

Dengan amanah terakhir sebagai ketua lembaga penelitian sekaligus menjadi peneliti, akhirnya hari ini takdir membawa saya jauh di sudut keheningan.


Di sini saya berkontemplasi, merenungi dan menjalani karier yang jauh lebih dahsyat, jauh lebih berat tanggung jawabnya, menjadi ibu sepenuhnya tanpa disibukkan oleh urusan publik dan kerjaan lainya.

Enakan mana? Menjadi wanita karier yang selalu keluar rumah, mendapat gaji bulanan, menjadi pembicara publik yang selalu ke luar kota atau menjadi ibu rumahan yang sibuk ngurusin sumur dapur kasur?

Keduanya tidak layak dibenturkan. Menjadi ibu adalah kemuliaan, sedangkan menjadi wanita karier adalah pilihan. Jalani saja apa yang menjadi takdir kita hari ini.
Kemudian kita bersyukur kepada Allah SWT atas apapun peran yang diamanahkanya. Jalani amanah itu sebaik yang kita mampu, dengan kerja terbaik kita.

Karena hakekatnya walaupun kita wanita karier itu tidak akan menghapus predikat dan kemulian kita sebagai ibu. Sisanya serahkan semuanya pada Allah, biarlah Allah yang menilai.

Saya bersyukur, tidak salah saya melakukan istikharah panjang, memohon petunjuk tempat terbaik dimana sebaiknya saya berkarier. Allah memilihkan saya tempat yang terbaik. Diijinkan cuti tanpa ribet.

Terimakasih ya Allah atas 20 tahun lebih yang penuh sejarah....

#gumam_uni_yesi



14.12.19

Continuous Improvement

Tidak ada yang tidak bisa jika kita mau berlatih dan belajar. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau membuka dan memperbaiki diri.

Dulu saya pikir membakar ikan itu ribet dan sulit karena harus ngipas dan asapnya kemana-mana. Jadi kalau mau makan ikan bakar saya pasti beli di restoran.

Masya Allah, setelah melakukan rangkaian percobaan berulang kali, akhirnya saya menemukan resep dan metode yang pas walaupun sebelumnya sering gagal.

Saya petik hikmahnya, mengapa Allah takdirkan saya di Jepang, mungkin Allah ingin saya countinous improvement menjalankan peran domestik.

Karena pada hakekatnya setinggi apapun perempuan sekolah, akhirnya berlabuh di dapur juga.

Masya Allah, syurga dunia bisa makan ikan bakar khas padang ini.
Bayi 18 bulanpun menyukainya.


#gumam_uni_yesi


13.12.19

RINDU MEMELUKMU


Saya banyak menyimpan impian hanya agar bisa selalu bersama anak laki-laki kami ini. Waktu saya sangat singkat untuk bisa menyusuinya, mengendongnya, memeluknya, mencium baunya dan mengeloni tidurnya.

Seperti anak laki-laki kami yang sudah berusia 12 tahun. Dulu waktu kecil ia sangat dekat dengan saya. Matanya belum bisa terpejam kalau belum saya elus punggungnya.

Dulu Saya bebas memeluk dan menciumnya, walau berkeringat saya suka baunya. Sangat sulit menyapihnya tidur, butuh waktu lama, karena antara saya dan dia terjalin sebuah ikatan yang tidak bisa dinarasikan dengan kata-kata.

Kini anak laki-laki kami itu badannya sudah besar, suaranya sudah mulai berubah. Ia tidak mau lagi dipeluk dan dicium seperti dulu. Kadang saya merindukan masa-masa memeluk dan mengendongnya. Semua tinggal kenangan yang menari-nari di pelupuk mata.


Kini ia masih tinggal bersama kami, kami masih sering cerita-cerita bersama, makan bersama, bahkan sholat pun bersama. Saya masih bisa melihat senyumnya, masih bisa membangunkannya, masih bisa menyediakan sarapan dan bekalnya sekolah. Itu cukup membuat saya bersyukur dan merasa berarti sebagai seorang ibu.

Karena beberap tahun kedepan mungkin ia akan meninggalkan rumah kami untuk menyambung hidupnya dengan perempuan lain. Saat itu betapa saya akan memendam rindu yang amat sangat.

Mumpung anak kami yang satu ini masih kecil, masih bisa saya susui, masih bisa saya gendong, masih bisa saya peluk, masih bisa saya mandikan, saya nikmati proses mengasuhnya dan bersyukur pada Allah atas kesempatan ini.

Saya Ridho walau harus menyimpan impian, saya Ridho walau harus lelah mengurusnya, karena saya merasakan, saat anak laki-laki sudah merasa risih dipeluk ibunya saat itulah ibu baru merasakan betapa waktu cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali terulang.

#gumam_uni_yesi



10.12.19

Jangan Pernah Takut Gagal



Jika hidup ini harus selalu sukses dan berjalan sesuai kehendak kita, maka kita tidak akan pernah mengerti arti berjuang, arti belajar, arti mencoba dan bersabar.

Gagal artinya belajar, gagal artinya melangkah menuju kesuksesan, karena gagal adalah bagian awal narasi kesuksesan. Jangan pernah takut gagal.

Saya adalah orang yang berusaha pantang menyerah terhadap hal apapun. Berjuang dan mencoba hal-hal baru adalah ciri khas saya, dan dalam perjuangan itu, gagal, salah, terjatuh dan menangis adalah hal yang biasa saya alami. Karena hal itu yang membuat saya memiliki resistensi.

Seperti hari ini, walau telah melakukan berulang kali bahkan sudah mendapat pujian dari teman-teman, ternyata saya masih menemui kegagalan membuat donat.

Tapi dari kegagalan ini saya jadi dapat ilmiah baru bagaimana trik proofing di musim dingin.
Luar biasa.....
 
#gumam_uni_yesi


Tips Anak Mau Makan


Setiap anak beda-beda pola makanya.
Ada yang mudah ada juga yang butuh perjuangan agar ia mau makan. Umumnya anak khususnya anak yang masih MPASI pernah mengalami gerakan tutup mulut (GTM) alias tidak mau makan.

Bisanya ini disebabkan karena faktor genetis, tumbuh gigi, bosan dengan menu, makanan sulit dikunyah, atau mungkin sudah kekenyangan karena ASI atau cemilan.

Kelima anak kami juga pernah mengalaminya saat masih MPASI. Karena saya meyakini makan adalah hal yang penting, saya mempelajari secara serius masalah ini melalui buku, ikut pelatihan dan searching berbagai artikel di internet.



Berikut tips anak mau makan, khususnya MPASI ala uni Yesi.

1. Jangan panik dan emosi jika anak GTM. Sehari anak tidak makan tidak membuatnya mati sepanjang masih ASI.

2. Sesuaikan tekstur dengan usia bayi. Bubur saring untuk usia 6-9 bulan. Bubur tim untuk 9-12 bulan dan makanan keluarga untuk 1 tahun ke atas. Jika belum siap makanan keluarga, 1-2 bulan bisa toleransi bubur tim lagi.

3. Tidak perlu repot menyiapkan makanan khusus, gunakan bahan baku yang ada atau menu keluarga yang sama.

4. Variatif agar bayi tidak bosan.

5. Menu seimbang, sehingga gizinya memenuhi semua unsur yang dibutuhkan tubuh.

6. Gunakan peralatan makan yang lucu-lucu yang tidak membahayakan kesehatan dan fisiknya.

7. Jika ditolak, perhatikan moodnya. Buat suasana yang menyenangkan. Kalau Ryuzaki biasanya sambil baca buku makanya jadi lahap.

8. Fokus, jangan menemani anak makan atau menyuapi sambil hp-an. Konsentrasi dan kerahkan seluruh perhatian kita padanya.

9. Jika tidak mau makan, jangan marah, jangan teriak, jangan dipaksa. Jangan jadikan ajang makan sebagai ajang pertengkaran.

10. Jangan lupa berikan pujian dan ucapkan syukur jika makannya habis.
 
#gumam_uni_yesi
 #selfreminder


8.12.19

Tips Membangunkan Anak Sholat Subuh


Sholat subuh adalah ibadah yang sangat besar tantangannya untuk dilakukan tepat waktu. Jangankan oleh anak-anak, kita orang dewasapun kadang merasa berat melakukannya.

Sebagai orang yang beriman, kita meyakini bahwa banyak kebaikan disepertiga malam terakhir hingga subuh.

Allah SWT setiap malam turun ke langit dunia yaitu kira-kira sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “ Siapa saja yang memohon kepada-Ku, Aku perkenankan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni” (HR Muslim).

Sebelum anak-anak kita terbisa bangun disepertiga malam terakhir, sejak dini anak-anak sebaiknya dilatih untuk bangun minimal saat sholat subuh tepat waktu. Khusus untuk anak laki-laki jika tidak bisa setiap hari ke mesjid minimal ada target minimal ia harus sholat subuh di mesjid.


Berikut Tips membangunkan anak sholat subuh ala uni Yesi.

1. Tidak putus berdoa kepada Allah agar diberikan anak yang sholeh dan sholehah.

2. Sosialisasikan ke anak mengapa kita harus sholat subuh tepat waktu, apa manfaat sholat subuh ke mesjid, apa konsekwensi jika kita terlambat sholat subuh. Note: anak mengerti ilmunya.

3. Tanyakan kepada anak, ia mau dibangunkan dengan cara bagaimana.

4. Orang tua adalah contoh. Jangan harap anak bangun subuh dan bergegas ke mesjid, tapi orang tuanya sendiri lambat bangun dan tidak condong hatinya ke mesjid.

5. Berikan sugesti atau hipnosis saat kita sedang membangunkannya. Misalnya, katakan, “Alhamdulillah sudah subuh, Nak. Allah beri kita rezeki menghirup udara segar lagi. Abang anak yang sholeh betul? (Jika sugesti masuk, ia akan mengangguk walaupun masih tertidur). Allah dan bunda senang abang sholat subuh ke mesjid. Yuk segera bangun sayang, Allah sudah menunggu.”
Ini hanya salah satu contoh script, orang tua bisa berimprovisasi script yang lain.
Saat menghipnosis ini, kita menyentuh anak, bisa mengusap rambutnya, punggungnya atau menepuk-nepuk bagin tubuhnya yang lain. Jangan berteriak-teriak, lakukan dengan keyakinan yang tinggi dan dengan kesabaran yang tak terbatas. Tidak bisa simsalabim, semuanya berproses, perlu waktu dan keridhaan orang tua.

6. Jika belum bangun juga, hidupkan lampu, angkat selimutnya atau buka kaca jendela. Jika belum bangun juga peluk dan dekap. Kalau anaknya laki-laki lama kelamaan dia akan risih, jadi dari pada dipeluk dia akan bangun segera.

7. Beri pujian jika ia bangun subuh. Misalnya Katakan, “masya Allah, bunda senang banget abang tidak sulit bangun subuhnya. Anak bunda memang luar biasa, anak bunda anak yang sholeh.”
Boleh juga di depan anak itu dengan suara keras (terdengar oleh dia) kita berdoa, “ya Allah terimakasih, hari ini anak saya bangun tepat waktu, jadikan ia anak yang sholeh.” Tepuk-tepuk punggungnya, pandang matanya, dan pancarkan mata yang berbinar dan senyuman yang tulus.

8. Perhatikan waktu tidur anak kita. Jangan sampai ia tertidur bersama game hingga lewat waktu yang membuat ia sulit bangun subuh.

9. Jika dibutuhkan bisa menggunakan jam weker.

10. Jangan iming-imingi materi. Misalnya, kalau dia sholat subuh kita kasih uang atau belikan sesuatu.

11.Sejak dini, terus menerus, Istiqomah. Jangan “hangat-hangat cirit ayam.” Aduh apa artinya ini ya? Kurang lebih maksudnya begini, kalau lagi semangat iya bisa mendampingi membangunkan anak sholat subuh, tapi setelah itu ngak. Ini kerja rutin, setiap hari.
Sampai kapan? Sampai anak-anak itu mandiri, tanpa ada kita dia sudah bisa bangun sendiri.

Semoga kita diberi ilmu, kesabaran, dimampukan, dimudahkan dan diIstiqomahkn oleh Allah SWT dalam membimbing dan mendidik anak-anak seperti kehendak penciptanya. Amin.

Salam dari negeri sakura yang sedang menyongsong winter.

Uni Yesi Elsandra.
#gumam_uni_yesi


6.12.19

Mengapa Umumnya Suami Tampak Cuek?

Kadang istri memandang suaminya adalah orang yang cuek, irit bicara dan tidak fokus. Hal ini sering menimbulkan kesalahphaman, prasangka negatif yang akhirnya kadang berujung pertengkaran.

Padahal sebenarnya tidak ada masalah dengan suaminya. Laki-laki itu dari sononya begitu. Dia beda dalam banyak hal dengan perempuan. Hormonnya beda, otaknya beda, fisiknya beda bahkan kualitas matanya saja bisa beda.

Jadi jangan buru-buru menyalahi suami jika dia tidak seperti yang kita harapkan. Tapi turunkanlah standar harapan kita padanya agar kita tidak kehilangan kewarasan.



Menurut dr. Aisyah Dahlan, perempuan bisa mengeluarkan kata lebih dari 20.000 kata per hari, sedangkan laki-laki hanya sekitar 7.000. Jadi jangan salahkan suami kita jika kita sudah mengebu gebu semangat 45 bercerita, suami cuma bilang “oh” atau “hm”. Selain itu matanya juga tidak fokus memandang kita, tambah kesal kita karena merasa dicuekin.

Hal ini terjadi karena laki laki-laki sudut pandang matanya sempit. Kornea dan Retina matanya memanjang lurus tidak bisa melebar. Hal ini menyebabkan terkadang susah mencari barang.

Perempuan sudut pandangnya luas karena Kornea dan Retinanya melebar. Jadi wajar saja suami tampak tidak fokus. Itu juga yang menyebabkan laki-laki tidak suka melihat-lihat barang di supermarket dan memperhatikan dengan serius dan jeli. Kalau perempuan sebaliknya, walaupun tidak beli, perempuan senang memanjakan matanya melihat ini itu atau window shopping.

Masih menurut dr. Aisyah Dahlan, otak tengah perempuan lebih tebal 30%. Hal menyebabkan perempuan bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Sedangkan laki-laki sebaliknya, sehingga ia lebih fokus hanya pada satu pekerjaan. Saat fokus pendengarannya berkurang.

Jadi jangan lekas marah kalau suami tidak mendengar saat kita memanggil, mungkin ia sedang fokus.
Sudah dari sononya laki laki dan perempuan berbeda, kebutuhan ASI nya saja berbeda.

Sepanjang kita sama-sama bisa saling memahami dan fokus pada kelebihan pasangan saja, insya Allah kita akan bisa melewati perjalanan biduk rumah tangga diantara begitu banyaknya perbedaan.

#gumam_uni_yesi


5.12.19

Apapun Kita Hari Ini, Itulah Yang Terbaik




Hari ini, 3 tahun yang lalu, saya membawa 4 orang anak kami ke Jepang, meninggalkan kerjaan dan jabatan yang sangat saya cintai. Termasuk meninggalkan abak (ayah) yang sedang sakit.

Perjalanan dimulai dari Padang-Jakarta, kemudian Jakarta-Bali dan Bali-Kansai (Osaka). Sampai di Kansai naik kereta JR kurang lebih tiga jam hingga akhirnya sampai di Kanazawa. Sampai di apartemen sudah malam, badan benar-benar terasa remuk dan lelah karena berada di perjalanan lebih dari 24 jam.

Di sosmed terlihat yang indah-indahnya saja. Orang mungkin melihat kami senang dan bahagia di sini. Tidak salah, tapi tidak sepenuhnya juga begitu. Banyak sekali perjuangan yang harus kami lalui.

Saya tidak bisa menarasikan kesedihan ditinggal abak untuk selama-lamanya tanpa bisa memeluknya dan mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Harga yang sangat mahal yang harus saya bayar. Ditinggal orang tua tanpa sempat mengucap permintaan maaf untuk yang terakhir kalinya.



Tidak saja itu, seperti musim dingin ini, kami harus melaluinya dengan perjuangan yang sangat berat. Dingin yang amat sangat menusuk tulang. Memang ada pemanas, tapi tidak semua ruangan ada pemanasnya dan tidak 24 jam juga pemanas dinyalakan karena pertimbangan sirkulasi udara. Kalau sudah musim dingin seperti ini, saya ingin rasanya cepat-cepat pulang ke tanah air, menikmati matahari yang berlimpah di Padang.

Karena tidak ada matahari, menjemur akhirnya di dalam kamar, terbayangkan bagaimana rumah kecil mungil ini penuh dengan jemuran yang mengantung.

Bawaannya musim dingin mager alias males gerak. Enaknya selimutan. Karena anak kami banyak yang harus dikasih makan, saya tidak boleh mager. Saya harus masak, karena anak -anak kami masih dalam masa pertumbuhan yang perlu gizi seimbang. Jadilah selepas subuh tetap beraktivitas seperti biasa. Padahal dinginnya minta ampun....

Perjuangan lainnya adalah segala sesuatunya harus dikerjakan sendiri. Jangan harap ada go food yang bisa membantu delivery makanan. Makanan pun harus dibuat sendiri karena terbatasnya makanan halal yang bisa dimakan.

Saya menyebutnya ini perjuangan. Jika menginggat ini, terasa indahnya tinggal di tanah air.

Bersyukur. Tidak ada kata yang pas yang mewakili setiap kegelisahan kita.
Karena apapun, bagaimanapun dan dimanapun kita hari ini, itulah yang terbaik dari Allah.
Jika kita bersyukur dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, maka Allah akan tambah nikmatnya.
Itu janji Allah. Dan Allah tidak pernah mengingkari janjinya.

#gumam_uni_yesi


4.12.19

ABI


Yang mengandung bunda, yang melahirkan bunda, tapi kata pertama yang bisa diucapkannya adalah “Abi”.

Ryuzaki sangat dekat dengan Abinya, padahal sehari-hari bersama bunda, tidur juga sama bunda. Kalau menelefon dengan Abi matanya berbinar-binar dan tersenyum.

Kalau Abi pergi ke kampus dia nangis. Padahal Abi sebagaimana ayah pada umumnya tidak betah momong anak lama-lama.

Kalau Ryuzaki udah mulai rewel, Abi bilang gini, “Bunda, Ryuzaki mau mimik nih!”
Dia baru aja mimik,Bi!

Hayo mau alasan apa?

Tapi entah kenapa, Ryuzaki sangat menyukai Abinya. Kalau Abinya pulang antusias dan bergembira.

Mungkin karena Abi suka mengajaknya bermain.
Semua anak sama, tidak penting siapa ayahnya, yang penting selalu bermain bersama ayah, walau tidak lama, sebentar saja itu sudah cukup.

#gumam_uni_yesi

3.12.19

“Gadang Samba”


Kecek ibu kami, hiduik baraka mati baiman. Kasadoalah anak gadang samba. Ndak cukuik sepotong protein dek nyo dow. Untuk mensiasati anak gadang samba ko, dicampualah talua jo kantang jo tahu hari ko.

Dulu saya candain Abinya, “Abi, harus giat cari nafkah loh, ini anaknya makannya ekstra large semua”.

Yang dicandain cuma bilang, “setiap anak ada rezekinya. Jangan pelit-pelit ke anak, mereka sedang masa pertumbuhan. Uang bisa dicari, pertumbuhan mereka tak mungkin terulang lagi. Jangan takut kekurangan karena anak”.

Betul juga, sekarang saya lempeng aja kalau anak “gadang samba”, ngabisin lauk, sayur dan buah dalam jumlah banyak.

Nggak khawatir lagi akan kekurangan. Dihadapan mereka saya katakan, makanlah nak, ini rezeki dari Allah, semoga barakah apa yang dimakan. Bunda doakan kamu nanti banyak rezekinya, jadi orang kaya raya yang sholeh. Amin....

Apalagi di Jepang anak-anak tidak ada jajan di sekolah, tidak ada kantin yang menjual aneka kue.

Tidak boleh bawa uang dan bawa cemilan. Jadi andalan mereka ya makan di rumah.

Sedang belajar life style, kurangi karbo, banyakin sayur dan protein.....

Jadi ingat lagi kata ibu saya, “pitih Jan dikudan-kudan”......


#gumam_uni_yesi


2.12.19

Fokus pada hal positif

Jika dilihat dari gambar ini, tampak hanya ada kebahagiaan dalam hidup kami. Tidak salah, tapi tidak sepenuhnya juga begitu. banyak yang tidak terungkap, bahwa kami melalui banyak perjuangan.

Bersatu dari perbedaan yang begitu banyak. Suku yang berbeda, latar belakang yang berbeda, didikan orang tua yang berbeda, sifat yang berbeda, hobi yang berbeda, selera yang berbeda dan masih banyak lagi perbedaan lainnya.

Maka jangan heran, kadang pernah ada marah, ada kesal, ada benci, ada omelan, ada kecewa, ada wajah masam, ada hening dan masih banyak lagi. Semua tak tampak, tak bisa dinarasikan, karena memang tidak ada pentingnya mendokumentasikannya.

Semua harus dilupakan. Tapi hal-hal seperti itulah yang menguatkan sebuah rumah tangga, ibarat makanan itulah bumbu pernikahan. Tidak ada rumah tangga yang steril dari persoalan. Tapi jangan fokus pada persoalan negatif yang terjadi, fokuslah pada hal yang positif.


Jika persoalan itu datang, turunkan ego dan ekspektasi pada frekuensi yang paling rendah. Kemudian terik nafas dan lepaskan pelan-pelan. Selanjutnya bicaralah pada emosi yang membara, katakan, bersyukurlah memiliki pasangan.

Lihatlah berapa banyak orang diluar sana yang ingin ada seseorang bisa menjadi teman sejatinya. Setelah itu peluk pasangan, minta maaflah, tidak peduli siapa yang salah dan benar. Tidak ada kata kalah dan menang ketika kita berselisih paham.

Yang ada adalah terus melangkah dan berjalan, seberat apapun kerikil atau gelombang yang kita temui. Dalam bimbingan Allah Allah SWT, insya Allah kita akan sampai di pelabuhan asmara, di sana tidak akan ada lagi perselisihan diantara kita.

Tempat yang hanya ada kesenangan dan kebahagiaan, kampung halaman kita, syurga firdaus......

#gumam_uni_yesi



1.12.19

Puncak Ilmu Parenting


Salah satu topik yang selalu menarik adalah parenting. Berasal dari kata parent atau orang tua. Secara ringkas ilmu parenting boleh dikatakan sebagai proses interaksi atau pola asuh antara orang tua dan anaknya.

Setiap orang tua pasti menginginkan anak sukses dalam segala hal. Sekolah pintar, selalu juara, sekolah di tempat favorit, tidak peduli berapapun biayanya. Orang tua akan banting tulang, kerja siang malam, bahkan ada yang sampai korupsi, yang penting anak bisa mendapatkan sekolah yang bergengsi, yang terbaik, yang paling top.

Setelah itu orang tua pasti ingin anaknya bisa bekerja di tempat yang terbaik. Bahkan ada orang tua yang mewajibkan anaknya harus jadi PNS, biar nanti ada pensiun. Tidak peduli bagaimanapun caranya, jika perlu disogok, yang penting anaknya jadi pegawai kantoran.

Tidak cukup hanya anak pintar, sekolah bagus dan pekerjaan keren saja yang menjadi harapan orang tua. Seluruh orang tua, tidak terkecuali, pasti ingin juga anaknya menjadi anak yang sholeh, baik dan penurut. Lengkap sudah harapan orang tua. Orang tua mana yang tidak menginginkan anak seperti itu, sudahlah baik, pintar, tampan, sholeh pula. Bungkus....


Masya Allah, seberapa besarpun usaha kita agar anak seperti di atas maka itu tidak akan terwujud tanpa ijin Allah SWT. Begitupun sebaliknya walaupun anak tidak mendapatkan sentuhan kita, jika Allah berkehendak ia menjadi anak pintar dan sholeh maka ia akan menjadi pintar dan sholeh.

Berapa banyak kita membaca anak yang terlahir dalam keterbatasan ekonomi orang tuanya tapi sukses kuliahnya. Anak yang prihatin hidupnya tapi bisa kuliah hingga doktoral. Mereka tidak saja sukses secara akademik, tapi juga memiliki tingkat kesholehan yang yang diinginkan semua orang tua. Begitupun sebaliknya, berapa banyak anak pejabat, pengusaha kaya raya tapi memiliki anak-anak yang bermasalah dalam studinya juga spiritualnya.

Ada satu hal yang kita lupa. Inti dari ilmu parenting bukan pada kehebatan orang tua, bukan pula pada banyaknya teori parenting yang dikuasai orang tua. Inti dari parenting ada pada kontinuitas doa orang tua yang sholeh. Kita berharap anak pintar dan sholeh, kita usahakan mati-matian dengan berbagai materi, tapi kita lupa mendoakannya, kita lupa menghadirkan anak-anak itu dalam doa-doa di sepertiga malam.

Kita tidak bisa menjaga dan mendampingi anak 24 jam.
Atmosfir yang melingkupi anak kita tidak saja keluarga, dia memiliki teman yang bisa dipengaruhi atau mempengaruhi value yang dibawa dari rumah.
Maka mendoakan anak siang dan malam, adalah benteng terkuat yang mesti kita miliki.
Sebut nama anak kita satu persatu, hadirkan wajahnya, sampaikan harapan kita pada Allah terhadapnya.

Sedangkan puncak dari ilmu parenting adalah memantaskan diri agar doa kita diterima Allah SWT. Pantaskan diri kita agar Allah berkenan mengabulkan doa kita, yaitu memiliki anak yang pintar, sehat dan sholeh.

Setelah itu kita berserah diri, tawakal. Anak itu milik Allah, setelah kita berikhtiar dan berdoa, serahkan ia kembali pada Allah.

#gumam_uni_yesi

27.11.19

Ibu dan Anak Laki-Lakinya

Ada bekas tali pusar di perut yang tidak bisa dihapus, itu adalah tanda seorang anak manusia pernah bergantung 100% pada ibunya. Dengan segala tumpah daranya, ibu telah mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik hingga anak tersebut tumbuh menjadi laki-laki dewasa.

Hingga suatu hari laki-laki itu menikahi kita. Dia tidak pernah berhutang budi pada kita. Kita juga tidak pernah terjaga saat ia sakit, tidak pernah membiayai kuliahnya. Sebelumnya kita tidak pernah berdoa siang malam untuk kesehatan, keselamatan dan kesuksesan hidupnya, karena kita tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

Karena ijab dan qabul, segala keperluan hidup kita didahulukannya ketimbang orang tua yang telah membuatnya sukses. Seluruh gajinya diberikan pada kita. Dia banting tulang untuk membiayai hidup kita dan anak-anak. Setiap hari ia bersama kita. Dalam pikirannya sekarang adalah kita.



Kadang ia lupa pada orang tuanya, bahkan tak sempat menengok orang tua yang dulu mengajarinya berjalan, bahkan meneleponpun tidak. Orang tua itu tiba-tiba menjadi asing seperti orang yang tidak kenal saja.....

Syurga ada di bawah telapak kaki ibu. Laki-laki tidak saja bertanggung jawab kepda istrinya, tapi juga kepada ayah dan ibunya.

Jangan batasi ruang antara suami kita dan orang tuanya. Jangan kuasai seluruh fisiknya, hartanya, gajinya, waktu dan pikirannya. Mudahkan suami kita memenuhi hak kepada orang tuanya. Kelak Allah mudahkan seluruh hak-hak kita darinya.

Kelak jika anak laki-laki kita menikah, ia juga akan pergi.

Tapi kita tentu tidak ingin ia hilang begitu saja bersama perempuan lain. Kita pasti terus ingin memeluknya, minimal mendengar suaranya melalui telepon. Tidak ada ibu yang ingin jauh dari anaknya, tapi tidak semua anak mau mendekat pada ibunya.


#gumam_uni_yesi



25.11.19

Mendidik Anak Berwatak Keras


Setiap anak membawa watak, sifat dan perilakunya masing-masing.

Ada anak yang “keras” ada juga yang “lunak”. Ada anak yang pecicilan ada juga anak yang anteng. Ada anak yang mudah bergaul, ada juga anak yang butuh waktu untuk berbaur bersama teman-temannya. Ada anak yang ceria, heboh dan berisik, ada juga anak yang pendiam.

Sifat itu sudah terinstal dari “sononya” alias build in.
Sifat-sifat itu dimiliki juga oleh anak-anak kami. Ada anak kami yang banyak keinginannya, selalu pengen beli ini beli itu. Ada anak kami yang malah sebaliknya, jarang sekali minta ini minta itu, kadang saya malah menawari, “Sayang, kamu mau beli apa?”

Ada satu anak kami yang memiliki watak yang keras, banyak maunya, banyak imajinasinya. Kalau yang diinginkannya belum ia dapatkan, jangan harap rumah akan aman tenteram sentosa. Jika dia sudah punya pendirian, tidak mudah membelokkannya.

Dia tidak mudah diperintah dan diatur, malah sebaliknya dia yang atur seisi rumah. Dia tidak bisa dimarahi, tidak bisa dikerasi. Jika itu kita lakukan malah sebaliknya, akan semakin besar penolakannya, akan semakin sulit kami mengarahkannya.

Menghadapi anak seperti ini, jika kita tidak berlapang dada maka akan membuat kita cepat emosi. Apakah ada yang punya anak seperti ini? bagaimana menghadapinya?.


Berikut ini beberapa Tips yang bisa kita lakukan.

1. Banyak-banyak menyebut namanya, menghadirkan wajahnya dalam doa kita, doakan segala yang terbaik untuknya.

2. Dengarkan isi hatinya, curhatnya, tanyakan apa yang ia inginkan.

3. Jangan paksa dan perintah. Fitrah manusia itu hatinya lembut, kuasai hatinya, apa saja yang kita inginkan akan dia penuhi.

4. Hargai pilihannya walaupun itu tidak sesuai dengan pilihan kita. Yang penting pilihan itu tidak bertentangan dengan aqidah, norma susila dan budaya.

5. Jangan gurui, tapi banyak berdiskusi. Kadang anak tidak mau digurui.

6. Berkisah atau bercerita. Banyak-banyak ngobrol, dan berkisah pengalaman kita atau pengalaman orang lain dengannya.

7. Pahami sudut pandang dan cara berfikirnya. Kita perlu mengenal anak kita lebih dalam, mengenalnya dengan sangat detail kan memudahkan kita memahami cara berfikirnya.

8. Jika ingin menasihati, jangan saat kita emosi. Biasanya jika sedang emosi kata-kata kurang terkontrol. Agar tidak menimbulkan salah persepsi, tunggu waktu yang pas.

9. Jangan sekali-kali lakukan kekerasan fisik. Sebesar apapun marah kita, jangan sekali kali memukul, itu tidak akan menyelesaikan masalah.

10. Ibu harus waras, senangkan hati ibu, kelak ibu akan tenang menghadapi bagaimanapun tingkah polah anak.

11. Jika sikapnya positif, jangan pelit memberikan pujian.

12. Selalu sampaikan kepadanya, bahwa kita bersyukur pada Allah memilikinya.

#gumam_uni_yesi

21.11.19

Hidup itu Simpel, yang Rumit Gengsinya



Suatu saat saya akan sampaikan ke anak-anak kami, mulai umur 19 tahun kalian sudah boleh menikah. Walimatul'urshi boleh tapi jangan sampai berhutang hanya untuk sebuah pesta. Kalau mau pesta, kerja keras dari sekarang, cari uang sendiri......

Kita tidak perlu pura-pura kaya, pura-pura mampu agar orang-orang berdecak kagum. Kalau belum mampu beli mobil, bayar cicilan mobil, naik motor tidak merendahkan diri kita.

Kita tidak perlu pura-pura bahagia, jika belum mampu jalan-jalan ke luar negeri, umroh, apalagi naik haji, jangan paksakan diri kita, hanya agar orang lain bisa memandang dokumentasi foto kita di sosmed berharap like dan wow mereka.

Hidup ini simpel, yang rumit itu gengsinya. Jangan pusing-pusing memikirkan pakain, sepatu dan make up ke kondangan, orang belum tentu memperhatikan kita.

Kalau pasangan kita orangnya pemalu, jangan paksakan dia berfoto dengan pose memeluk dan pose romantis lainnya, berfoto saja apa adanya.

Yang terkenting itu bukan apa yang orang lihat, tapi apa yang kita rasakan.
Hidup itu ringan, yang berat gengsinya. Hiduplah apa adanya, sesuai kemampuan kita, sesuai realita.


#gumam_uni_yesi
#selfreminfer


19.11.19

Menjaga Kewarasan Ibu


Saya asik nyuci piring. Ryuzaki asik juga main sendiri. Tiba-tiba dia nangis. Kenapa sayang, tanya saya. Tentu saja dia belum bisa jawab. Dia hanya memperlihatkan tangannya yang kotor. Ya ampun saya kira luka, setelah saya lihat betul ternyata kecap.

Saya lihat sekeliling, Masya Allah, rupanya kecap sudah berserakan dimana-mana. Termasuk di tatami (tikar khas Jepang yang menyatu dengan lantai).

Segera saya bersihkan kaki dan tangannya, termasuk mengganti kaos dan celananya yang penuh kecap. "Nggak papa sayang, nanti bunda bersihkan semua lantainya". Dia masih mengangis....


Marah? Tentu saja tidak. Saya yang salah meletakkan kecap ditempat yang mudah dijangkaunya.
Ketika jiwa kita tenang, reaksi kita menghadapi kreatifitas anak juga akan tenang. Kita tidak mudah reaktif, kesal, marah, atau senewen menghadapi tingkah polah anak-anak yang sangat dahsyat.

Coba bayangkan, kecap berserakan dimana-mana, di tatami pulak lagi. Padahal harga kecap merk "B...." produksi tanah air lumayan mahal di sini. Tidak ada di swalayan. Baru dibeli hari Minggu kemaren, baru dipakai sedikit, terus hampir habis diserakin anak. Belum lagi membersihkannya. Kalau pikiran dan jiwa tidak tenang, ibu bisa marah, minimal kesal.

Itulah seni kehidupan. Kunci menjaga kewarasan ibu adalah kasih sayang suaminya.
Ibu tidak lelah fisiknya apalagi jiwanya. Dan yang terpenting adalah menjaga terus jangan sampai kosong dompetnya atau ATM nya.

Jika hal ini terjaga secara simultan, Masya Allah, ibu tidak mudah reaktif terhadap hal-hal yang terjadi diluar dugaannya.
Sederhana, tetapi tidak semua suami mau menjaganya.

#gumam_uni_yesi

13.11.19

Balada Emak, Antara Karier dan Rumah Tangga 💱 🏘️


Saya memandangi setiap daun yang jatuh dari sudut jendela kaca percis di depan apartemen kami. Daun itu tidak pernah marah pada angin yang menjatuhkannya. Dia biarkan begitu saja dirinya jatuh, karena itulah taqdirnya.

Setiap kita memiliki taqdir masing -masing. Begitupun diri saya, taqdirnya melepas segala yang saya cintai. Mengajar adalah kecintaan saya. Banyak value yang saya dapat dari mengajar. Gaji, uang sertifikasi dosen, kesempatan dana hibah riset dan honor mengajar di 3 Pascasarjana.

Kadang saya mendapat honor dari "manggung", entah itu sebagai trainer pada pelatihan berbagai instansi atau narasumber seminar di berbagai daerah di Sumbar.
Melepas sesuatu yang dicintai itu tidak mudah.

Beratnya tu di sini.

Suatu hari saya bilang ke suami, "Abi, semester depan Bunda pulang untuk ngajar ya. Soalnya dekan nanyain apakah sudah bisa ngajar."
Suami saya diam. Saya menangkap ketidaksetujuan dari wajahnya. "Coba Bunda sholat istikharah!"


Hanya itu jawabannya.

"Kalau Bunda ngajar, gaji Bunda kan aktif lagi, Bi." Saya merayu agar diijinkan pulang.
Sebagai manusia biasa kadang pikiran saya tidak lepas dari uang dan materi. Walau ada pemasukan dari google hasil ngeblog, jumlahnya tentu tidak sebanding dengan penghasilan waktu di Padang.
Sebagai manusia biasa yang dhoif, entah apa yang merasuki saya, pernah saya minta ijin ke suami untuk bekerja paruh waktu di Jepang ini.

Ia tidak pernah mau mengijinkan. "Nggak tega abi ngeliat bunda kerja fisik begitu", katanya kurang lebih. "Mumpung gampang cari uang di sini, Bi." Rayu saya padanya. Padahal saya sendiri sebenarnya lebih senang di rumah mengasuh si bungsu, pikiran tenang dan tidak pernah mengeluh capek. Dan tentunya ready for use kalau suami butuh.

Tapi ya itu, namanya godaan dunia, namanya iman turun naik, kadang saya ingin punya uang sebanyak-banyaknya.

Kisah teman beberapa hari lalu menyadarkan saya. Kisah yang membuat saya ”oleng”. Saya bergumul melawan nafsu. Sekarang waktunya menikmati hidup. Menikmati taqdir. Begitu saya soraki diri saya sendiri.

Kadang saya maki diri saya, kurang apa lagi?
Rumah sudah punya, fixed asset ada, ada tabungan, ada suami yang perlu didukung lahir batin, ada anak-anak yang butuh perhatian.
Lantas untuk apa pulang mengajar dan meninggalkan mereka, untuk apa baito?
Kurang apa? Apa yang dicari?

Mengapa tidak fokus pada visi keluarga?
Tidak fokus melayani suami, tidak fokus mendidik anak?
Tidakkah bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup orang lain?
Saya serang diri saya habis-habisan dengan berbagai pertanyaan agar nafsu saya melemah.

Akhirnya saya bilang ke suami, "Abi, ngak jadi deh Bunda pulang semester depan. Bunda mau nemenin Abi sampai tamat."

"Bener nih, coba istigharah." Katanya.
"Sepertinya nggak perlu, Bi. Bunda udah mantap ngak ngajar semester depan. Bunda ngak perlu uang banyak, yang penting kita bisa bersama".

Kamipun berpelukan. "Terimakasih ya Bunda". Matanya berbinar menatap saya. Pelukan saya semakin kuat.

#gumam_uni_yesi


9.11.19

LELAH



Tidak ada emak yang tidak pernah lelah menjalankan peran domestiknya.
Begitupun saya.

Setiap hari bergelut dengan rutinitas sumur dapur kasur. 

Setiap hari tidak jauh dari popok, rengekkan bayi, buku dan mainan berserak di sana sini.

Saya hanya manusia biasa, jika lelah itu datang saya tidak pernah peduli dengan itu semua. Saya tinggal tidur atau pergi jalan-jalan menikmati indahnya kota atau window shopping bersama Ryuzaki. Setelah itu biasanya saya punya semangat dan energi lagi untuk menunaikan tugas rumah tangga.

Setiap emak punya cara berbeda-beda agar tetap waras. Lelah itu biasa, biarkan lelah itu lelah mengikuti kita.

Pergilah keluar jalan-jalan menikmati mentari pagi. 

Lihatlah langit yang biru terbentang luas menandakan betapa karunia dan rezeki Allah lebih luas dari itu. 
Setelah itu yang ada hanya syukur.

#gumam_uni_yesi



6.11.19

Belajar dari Tafsir Hidup Orang lain


Saya sangat tidak percaya ketika seseorang bercerita bahwa teman saya bercerai dengan suaminya. Rasanya mustahil, tidak mungkin. Mereka saya kenal sebagai orang yang paham agama.

Sebut saja namanya Bunga, ia dokter cantik kepala puskesmas. Suaminya juga dokter, saat kejadian suaminya sedang mengambil spesialis.

Karena terdorong aktifitas saya sebagai pegiat parenting dan keluarga, saya ingin menanyakannya langsung kebenaran informasi itu padanya. Setelah beberapa lama kamipun bertemu di sebuah acara di pendopo rumah walikota Padang.

Dengan hati-hati saya tanyakan apakah benar ia telah bercerai. Ia menjawab benar. Ia uraikan kronogis kejadiannya. Suaminya tergoda wanita lain, anak kedokteran juga, adik tingkatnya. Hubungan terlarang bermula karena mereka sering bertemu di rumah sakit. Sampai akhirnya mereka menikah.

Note: Perselingkuhan bisa terjadi karena sering berinteraksi.

Saya menarik nafas, sedih mendengar ceritanya. Saya berusaha menjaga agar air mata saya tidak tumpah, tapi tidak bisa. Kok malah saya yang nangis, dia santai dan mengalir ceritanya.
Sekarang saya lega, tidak ada beban, katanya. Mantan mengakui kekhilafannya, meminta maaf dan menyesal telah mengkhianatinya.

Sekarang hubungan kami baik katanya. Ekonomi mantan semakin baik maklum sudah jadi dokter spesialis, tapi diuji Allah tidak punya anak. Jadi kepada anak kami dia baik sekali, royal sekali. Bahkan saya dibelikan mobil baru agar mudah antar jemput anak-anak katanya. Mantannya itu sering kangen anak-anaknya bahkan ingin rujuk.

Note: Penyesalan selalu datang dikemudian hari. Yang pertama biasanya selalu yang terbaik.

Hidup ini penuh misteri. Tafsir hidup orang lain tak mampu kita membacanya. Tapi kita bisa belajar banyak dari tafsir hidup orang lain.



4.11.19

Menimbang Sekolah



Semalam kami sedikit cerita-cerita tentang sekolah dengan teman yang datang dari Padang. Sekolah anak kami dulu uang masuk dan SPP-nya tambah tinggi. Waktu itu anak kami baru 2 orang sekolah di situ.

Diam-diam saya menghitung 4 orang anak kami yang insya Allah tahun depan akan pindah. Wow rasanya ngak sanggup bayar SPP-nya setiap bulan. Gaji pokok ayahnya yang dosen ASN rasanya tidak cukup untuk bayar SPP mereka di sekolah itu.

Tiba-tiba saya ingat nasehat ustadz yang datang dari Jakarta beberapa bulan lalu. Katanya, biaya sekolah itu memang mahal. Buat gedung itu mahal, belum lagi biaya operasionalnya. Jadi bukan SPP-nya yang mahal, tapi kitanya yang masih miskin.
Makanya kerja keras (lagi), minta sama Allah dimudahkan rezekinya.
Begitu katanya, ger...banyak hadirin yang tertawa dibilang miskin. Mungkin mentertawakan diri sendiri yang merasa berat membayar uang masuk dan SPP sekolah swasta.

Ups, benar juga ya. Kalau mau murah dan gratis ada. Masukkan anak kita sekolah negeri. Tapi kalau mau kualitas yang lebih baik tentu harus ada pengorbanan kita sebagai orang tua. Harus mau bayar SPP lebih, harus mau ikut aturan sekolah dll.

Apapun hitungan manusia, matematika Allah selalu ajaib.
Menuntut ilmu adalah jihad bagi anak-anak kita.
Kadang kita pikir kita tidak mampu, Allah pasti akan mampukan diluar batas logika kita.
Banyak-banyak berdoa ya, nak. Semoga Allah mampukan kita bersama menuntut ilmu dan mendapatkan pendidikan yang terbaik.

#gumam_uni_yesi

Ujian



Saat hidup masih miskin pengen jadi orang kaya. Berusaha banting tulang berdua dalam suka dan duka. Pas udah kaya suami direbut orang.

Siapapun yang mengalaminya pasti nyesek, sakit, mungkin juga trauma. Kita yang menyaksikan pasti juga kesal dan geram.

Bener juga seperti kata ustadz di bawah ini:

Hidup di dunia ini tidak lepas dari ujian, dimanapun posisi kita.
Hidup di dunia ini hanya panggung sandiwara.
Hidup di dunia hanya sementara.

Sebagai manusia yang derajatnya sama di mata Allah, tidak ada satupun manusia yang boleh menyakiti kita. Lepaskan dia yang tidak menghargai komitmen dan kesucian pernikahan.
Jangan pernah takut, ada tali Allah yang kuat untuk kita bergantung.

Ada Allah yang akan menghibur jika kita sedih. Ada Allah yang akan melapangkan jika kita sempit. Ada Allah yang mengayakan jika kita miskin. Yang penting jaga terus taqwa kita.

Miliki bargaining, miliki posisi tawar yang kuat. Agar tidak ada satupun manusia yang bisa seenaknya menghianati. Karena manusia tempatnya khilaf, tidak ada yang bisa menjamin seorang suami yang Sholeh tidak tergoda wanita. Nabi Adam adalah contohnya.

Hanya kepada Allah kita berlindung, kisah orang lain adalah guru terbaik, agar bisa kita ambil ibrohnya.  

#gumam_uni_yesi
#selfremindef


31.10.19

Jangan Pelit ke Istri



Umur tidak bisa dibohongi dari gigi yang semakin hari semakin rapuh. Sejak April lalu saya melakukan perawatan gigi di klinik dekat rumah. Mulai dari scaling, tambal, cabut sampai pasang gigi palsu (ketahuan ya udah tua).

Saya takjub dengan pelayanan dan kecanggihan tekhnologi perawatan gigi di sini. Walau sebagian biaya ditanggung BPJS ala Jepang, pasien tetap membayar sekitar 30% biayanya.

Suatu hari sampailah saya ditahap pemasangan gigi palsu permanen. Alamak, walau sebagian dicover asuransi biayanya mahal sekali untuk ukuran kantong ibu rumah tangga yang bersuamikan mahasiswa yang tidak ada kerja sampingan. Perawatnya bilang, siapkan uang 30.000¥. Kalau dirupiahkan sekitar 3.6 juta. Mahal banget kan untuk sebuah gigi palsu.

"Abi, batalin aja pasang gigi palsunya. Nanti aja di Indonesia pasangnya. Habis biayanya mahal banget." Pinta saya ke suami agar ia menelepon klinik.

Sebagai emak emak yang biasa hidup sederhana, terasa berat ngeluarin uang segitu. Lagi pula saya masih bisa makan, gigi palsu belum terlalu urgent.

"Lanjut aja, kenapa sayang banget sama duit. Duit bisa dicari, mumpung kita di Jepang, rawat giginya sampai tuntas." Ujar suami. Iya juga ya, kenapa pelit ngeluarin uang untuk kesehatan pikir saya dalam hati.
"Nggak sayang uangnya Bi?"
"Nanti ada rezekinya." Ujarnya singkat tanpa beban.

Suatu sore suami ngasih sesuatu dari kotak pos. Wajahnya sangat sumringah.
"Ini Bun rezeki untuk gigi." Ia memberi surat pemberitahuan, bahwa ada uang yang akan masuk rekening. Bukan beasiswa. Masya Allah jumlahnya jauh lebih banyak dari biaya pemasangan gigi palsu.

Ya Allah, bener banget ternyata ya.
Dalam rezeki suami ada rezeki istri.

Yang penting jangan pelit sama istri, bahagiakan istri, muliakan istri.
Insya Allah akan datang rezeki dari arah yang tidak disangka sangka.

"Benerkan ada aja rezekinya." Ujar suami saya sambil tersenyum.
Beneran kami tidak menyangka akan ada rezeki uang masuk lebih besar dari biaya gigi palsu yang saya keluarkan.

#gumam_uni_yesi



30.10.19

Ingin Bayi Gemuk Montok Berisi?



Banyak orang khawatir anaknya kurus. Padahal yang urgent bukan soal kurus atau gemuknya, tapi sehat apa tidak.
Sepanjang anak masih dalam batas kurva normal, masih aktif bergerak, masih main sana sini, mau gemuk atau kurus santai aja.

Tapi tidak salah juga kalau kita mau anak kita gemuk.

Semua bayi bisa gemuk montok berisi hanya dengan ASI.
Ketika bayi ASI ekslusif, berikan hingga bayi mendapatkan hindmilk (ASI akhir yang kadar lemaknya tinggi, lemak ini tidak berbahaya). Kalau sampai dapat hindmilk, bayi biasanya gemuk montok berisi.

Ini bisa dijadikan cadangan investasi. Kelak jika dia GTM, dia punya cadangan lemak, jadi bayi nggak akan terlalu kurus jadinya.

Bagaimana caranya agar dapat hindmilk?

Susui bayi sampai payudara kempes pes pes.
Jangan berpatokan pada waktu, tapi pada tekstur payudara, jika payudara sudah kempes berarti ASI sudah kosong sampai ke hindmilk.

Silahkan kirimkan pertanyaan seputar ASI dan MPASI jika teman-teman membutuhkan.

Yesi Elsandra
Konselor Menyusui