24.6.19

Sistem Zonasi Ala Jepang (Bagian 2)


Tulisan sebelumnya menguraikan alasan mengapa sistem zonasi di Jepang menjadi salah satu model terbaik di dunia sehingga tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Yaitu, sekolah memiliki standar yang sama, fasilitas yang sama, guru dan kepala sekolah dirolling dan infrastruktur penunjang pendidikan sangat mendukung.

Selain alasan di atas, hal menarik yang membuat sistem zonasi berhasil di Jepang antara lain:

1. Proses belajar mengajar sama di seluruh sekolah.

Mulai dari Nyugaku Shiki (penyambutan murid baru), sampai acara Sotsugyo Shiki (upacara kelulusan siswa kelas 6) semua sama prosesinya di seluruh sekolah. Termasuk kegiatan seperti Ensoku (karya wisata), Undokai (semacam pekan olah raga), Jugyo Sankan (semacam open class), Gasshuku (kelas 6 menginap di luar kota selama 2 malam), termasuk aktifitas rutin lain seperti Asanokai (apel pagi), Owarino Kai (apel sore), Soji (kegiatan bersih-bersih sekolah).

Jam masuk dan jam keluar juga semua sama, tidak ada pelajaran tambahan (les) dari guru di luar jam pelajaran. Seluruh sekolah siswanya setiap hari makan siang dan mendapat satu kotak susu segar di sekolah.
Sepertinya kegiatan PBM sudah baku sama semuanya sesuai kurikulum yang berlaku.


2. Komite sekolah, volunteer dan masyarakat peduli terhadap pendidikan. Setiap pagi dan sore hari biasanya di perempatan akan ada volunteer yang memakai jaket kuning membantu anak-anak menyeberang dan menjaganya. Para pengendara bermotor juga sangat menjaga dan mendahukukan anak sekolah yang menyeberang. Jadi stakeholder mendukung penuh sistem zonasi ini.

3. Wajib belajar artinya wajib terima semua siswa.

Karena program wajib belajar 9 tahun, artinya pemerintah wajib menerima seluruh calon siswa SD dan SMP bagaimanapun kondisinya. Makanya tidak heran, anak yang berkebutuhan khususpun diterima di sekolah negeri. Pemerintah menyediakan guru khusus untuk mereka.

Karena pemerintah wajib menerima semua calon siswa maka jumlah demand dan supply diperhatikan. Tidak ada anak yang tidak kebagian bangku sekolah.

Ketika kami pindah ke Jepang dan memasukkan sekolah anak yang paling besar, sekolah menerima tanpa syarat, tidak ribet, tidak diminta surat pindah, nilai raport juga tidak ditanya. Hanya mengisi formulir. Yang paling besar waktu itu diterima di kelas 4 SD dan adiknya kelas 3.

Begitupun ketika anak kami yang paling besar lulus SD. Tidak ada syarat akademik apapun untuk masuk SMP, tidam ribet dan tidak menguras emosi. Anak kelas 6 SD tidak tertekan mempersiapkan UN. Siswa baru bersaing ketat ketika memasuki SMA. Biayanyapun sudah tidak gratis lagi karena sudah tidak masuk kategori wajib belajar.

4. Dengan kualitas yang sama seperti ini, tidak ada labelisasi pada sekolah tertentu. Tidak ada sekolah favorit, sekolah terakreditasi A, sekolah model, sekolah percontohan, sekolah bertaraf internasional dll. Semua sekolah sama standar mutunya. Orang tua dan siswa tidak ada yang minder atau jumawa anak nya sekolah di sekolah tertentu.



5. Sistem ini berhasil di Jepang karena pemerintah sudah mempersiapkan semua dengan baik. Seluruh infrastruktur sekolah dan sumber daya terintegrasi dengan sangat baik. Dan sistem ini hanya berlaku bagi SD dan SMP yang masuk kategori wajib belajar.

Menariknya, pemerintah kita mencoba menduplikasi sistem zonasi ala Jepang. Ini sebuah semangat yang sangat baik untuk menghapus image sekolah favorit. Pertanyaannya, apakah kita sudah memiliki infrastruktur sekolah dan sumber daya manusia yang memadai? Antara demand dan supply apakah sudah seimbang? Teman teman di tanah air saat ini tentu lebih bisa menjawabnya.
Reaksi:

1 comment:

  1. di Jepang sistem pendidikannya memang sangat bagus. semua siswa diperlakukan sama seperti yang lain. jika ada siswa yang masih kurang, semua guru siap membantu. kalau di jepang memang gak ada sekolah favorite mungkin hanya ada sekolah-sekolah terbaik misalnya kalo universitas ya Tokyo daigaku. meski sekolah terbaik kalo ada siswa yang bisa masuk lulus ujian pasti bisa belajar disana. kalau di indonesia, ada sekolah favorite, tapi khusu orang tajir doank. mungkin pola pikir dan image begini yang perlu dirubah.

    ReplyDelete