7.9.19

Mengenal Postpartum Depression (PPD) (1)

*perlu dibaca ibu dan calon ibu.

Bahagiakan Ibu, semua akan bahagia. Ibu ibarat mentari. Jika ia bersinar dengan terang maka akan bahagialah seluruh isi rumah. Tapi jika dia redup, maka seisi rumah akan merasakan kegelapannya.

Menjadi ibu luar biasa tantangannya. Jangankan tantangan mendidik anak yang dibebankan padanya, tantangan saat hamil dan pasca melahirkan tidak kalah dahsyatnya.

Saya pernah merasa hampir mati karena beratnya derita yang dirasakan saat hamil. Emesis yang berlebihan membuat saya "mabuk" tidak terkira. Demikian pula paska melahirkan operasi anak ke 5 rasanya tulang saya remuk redam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Suami yang bersatus student dan ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) waktu itu cukup sibuk tidak bisa menemani setiap saat di rumah sakit membuat saya merasa sedih. Tidak ada sanak saudara, makanan yang sesuai selera tidak setiap hari ada. Kalau bukan kepada Allah saya sampaikan kesedihan dan kegundahan mungkin saya akan mengalami baby blues atau jika parah akan mengalami postpartum depression (PPD). Apalagi seminggu paska pulang dari rumah sakit bayi kuning sampai bilirubinya 18.

Apa itu PPD

PPD adalah depresi yang dialami ibu setelah melahirkan. Terjadinya bisa tiba-tiba, atau berlahan-lahan, mulai dari yang ringan sampai berat atau kronis. Komplilasi yang terjadi mulai dari awal kehamilan sampai melahirkan meyebabkan ibu mengalami depresi.

Menurut situs Alodokter, gejala PPD adalah sebagai berikut:
1. Terus sedih atau murung.
2. Sering menangis tanpa sebab yang jelas.
3. Selalu lemas dan lelah.
4. Mengalami gangguan tidur dan cenderung mengantuk pada siang hari.
5. Sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan.
6. Tidak tertarik pada sekitarnya.
7. Kehilangan minat pada hal-hal yang pernah disukai.
8. Nafsu makan yang menurun atau meningkat.
9. Merasa bersalah dan tak berdaya.
10. Selalu bicara negatif.
11. Uring-uringan atau cepat emosi.
12. Tidak merawat diri sendiri, misalnya tidak mandi atau ganti baju.
13.Tidak ingat waktu.
14. Kehilangan selera humor.
15. Cenderung menarik diri.
16. Kesulitan merasakan ikatan batin dengan sang bayi.
17. Tidak merasa senang punya momongan.
18.Hanya merawat sang bayi karena kewajiban.
19. Tidak ingin bermain dengan sang bayi.
20. Selalu merasa ada yang salah pada kondisi sang bayi.
21. Memiliki pikiran buruk, seperti ingin menyakiti sang bayi atau bunuh diri.

Banyak faktor yang menyebabkan ibu mengalami PPD, menurut Alodokter, diantaranya:
1. Perubahan fisik setelah melahirkan, misalnya penurunan kadar hormon yang drastis.
2. Gangguan emosional.
Merawat bayi biasanya akan menyebabkan sang ibu kurang tidur dan kewalahan, sehingga masalah kecil apa pun berpotensi memicu rasa cemas atau stres. Contohnya, ketika sang ibu kesulitan memberikan ASI. Bayi yang membutuhkan perhatian khusus, misalnya karena mengidap penyakit tertentu.
3.Pernah mengalami depresi atau PPD.
Stres akibat kesulitan finansial atau masalah dengan pasangan.
Tidak ada dukungan dari keluarga.


Lalu, bagaimana diagnosis dan pengobatannya?
Simak di lanjutan tulisannya ya di sini.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment