18.10.19

Bagaimana Jepang Membangun Karakter Masyarakatnya?

Jepang adalah salah satu negara modern dan maju di Asia. Ia mampu menyamai kemajuan Barat dalam pendidikan dan tekhnologi. Jepang memiliki keunggulan dan keunikan sendiri dibanding negara lain dalam hal budaya dan karakter masyarakatnya. Walaupun telah menjadi salah satu negara maju dan modern, karekter dan budaya tetap melekat dan menjadi jati dirinya.

Bangsa Jepang terkenal memiliki karakter unggul, pekerja keras, disiplin, bersih, jujur dan bermoral. Hal ini saya lihat sendiri bagaimana kehidupan sehari hari masyarakat Jepang. Pola pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah melalui pendidikan formal dan pendidikan keluarga dari orang tua terdahulu menjadi tiang dalam pembentukan karakter positif ini.

Pendidikan yang simultan antara pemerintah dan orang tidak hanya sebatas teori belaka, tapi penekanannya lebih kepada implementasi kehidupan sehari-hari. Misalnya  kegiatan Ensoku dari sekolah, semacam kegiatan jalan-jalan. Anak benar-benar disuruh jalan kaki. Untuk anak TK jalan kakinya sejauh 2 km. Mungkin kita tidak akan tega menyuruh anak kecil berjalan sejauh itu di tengah terik matahari. Tapi di Jepang anak-anak kecil justru dibiasakan berjalan kaki walau jauh. Banyak pelajaran dari kegiatan Ensoku yang memberi nikai positif pada karakter  masyarakat.


1. Anak dilatih disiplin. 

Rombongan akan berbaris dan berjalan sesuai kelompoknya. Tidak boleh bergerombol, tidak boleh mendahului teman dan berpencar, harus terus dalam barisannya. Anak dilatih disiplin berlalu lintas sejak kecil.

2. Anak dilatih taat aturan.

Anak benar-benar mengerti apa artinya taat aturan. Setiap melewati persimpangan jalan, anak-anak diperintahkan untuk melihat lampu lalu lintas. Jika lampu merah wajib berhenti walaupun tidak ada kendaraan yang lewat. 

3. Anak dilatih pantang menyerah.

Berjalan 4 km pulang pergi untuk anak TK bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi disinilah pendidikan karakter itu dibentuk. Anak dilatih pantang menyerah sebelum sampai tujuan. Walau tampak sudah kelelahan, anak-anak kecil itu terus melangkahkan kakinya. Sensei akan menyemangati dengan mengatakan, "ganbatte." 

4. Anak dilatih menjaga kebersihan.

Setelah sampai ditempat tujuan Ensoku dan kegiatan telah dilaksanakan, anak-anak akan makan siang bersama. Anak-anak diminta tidak membuang sampah sembarangan. Sampah atau atau biasa disebut gomi wajib disimpan masing-masing. Jadi tidak terlihat sampah berceceran setelah ada kegiatan.

5. Anak diajarkan mencintai alam dan menjaga lingkungan.

Kegiatan Ensoku anak TK umumnya berhubungan dengan alam terbuka. Biasanya anak diajak ke taman. Di sana anak-anak diberi tugas mencari seauatu yang berhubugan dengan alam, misalnya pohon, burung, rumput dan lain-lain. Disitulah nilai-nilai menjaga alam dan lingkungan diajarkan.

Tidak tampak ada anak Jepang yang mengeluh dan menangis saat kegiatan Ensoku berlangsung. Padahal jarak yang ditempuh jauh, mendaki dan panas.

Baca juga :
Jadwal harian ibu rumahan agar tetap produktif
Semua anak cemerlang

Itu baru satu contoh kegiatan anak di TK. Banyak lagi kegiatan lain yang dilakukan di sekolah yang berimplikasi kepada karakter mereka dimasa yang akan datang. Misalnya kegiatan pekan olah raga atau undokai. Biasanya olah raga yang dipertandingkan bersifat team work. Seluruh murid dari kelas yang terendah sampai kelas yang tertinggi dibagi menjadi 3 tim, merah, kuning dan biru. Bukan berdasarkan individu atau kelas. Semua olah raganya juga  berdasarkan tim. Tidak ada pemenang individu, tapi yang ada adalah kemenangan tim. Disini anak dilatih bekerja sama bagaimana agar bisa menang bersama. 

Bangsa Jepang sangat menyadari bahwa karakter masyarakat tidak bisa dibentuk secara parsial. Perlu kerjasama yang utuh antara pendidikan yang diberikan guru di sekolah, orang tua di rumah dan masyarakat di lingkungannya.

Untuk itu fasilitas, sarana dan prasarana, kurikulum, proses belajar mengajar kualitasnya menjadi prioritas pemerintah. Dimulai dari sarana sekolah. Kita akan berdecak kagum melihat sarana dan prasaran untuk sekolah dasar. Gedungnya bagus, fasilitasnya lengkap, perpustakaan memiliki buku yang banyak, ada kolam renang. Tidak ada sekolah unggulan, semua sekolah dibuat dengan standar yang sama, fasilitas yang sama, guru diroling, guru kreatif dalam menyiapkan bahan ajar, sebanding dengan gaji yang diterimanya.

Wajib belajar di Jepang juga 9 tahun. Karena sifatnya wajib, maka pemerintah juga memiliki kewajiban menerima semua anak untuk sekolah di jenjang SD dan SMP. Tidak ada anak yang tidak kebagian bangku sekolah.

Pendidikan karakter ditekankan betul saat SD dan SMP. Selain melalui implementasi langsung, anak juga diajak berdiskusi bahkan diminta menuangkan pendapatnya melalui tulisan. Tulisan itu nanti ditempel dan bisa dibaca semua teman-temannya.

Baca juga artikel menarik berikut ini :
Tips menyikapi penggunaan Gadget pada anak
Seperti ini orang tua Jepang mengajarkan kepada anaknya

Pelajaran life skill juga sudah mulai diajarkan di SD. Kadang orang tua juga dilibatkan. Misalnya kami pernah menemani anak waktu kelas 2. Kami membuat kue sederhana dari ubi. Bahan baku disiapkan sekolah. Orang tua dan anak tinggal berkreatifitas dan bekerjasama membuat kuenya. Kegiatan sederhana tapi dampaknya luar biasa terhadap bonding antara anak dan orang tua. Selain memasak, anak SD juga sudah diajarkan menjahit, membuat kreasi dari barang bekas, dll.

Pendidikan karakter dalam keluarga juga menjadi prioritas keluarga di Jepang. Anak dilatih disiplin, kerja keras, sopan santun, mandiri, jujur dll. Sejak kecil anak sudah diajarkan makan sendiri, membereskan mainan sendiri, mengucapkan salam, berterimakasih dll.

Di Jepang umumnya anak diasuh sendiri oleh ibunya. Tidak ada pengasuh atau baby sitter. Jika bekerja, anak akan dititip di daycare yang diawasi langsung oleh pemerintah. Daycare ini juga memiliki kurikulum yang teringegrasi dengan program pemerintah dalam membentuk karakger dasar masyarakat. 

Pekerjaan rumah tangga biasa dikerjakan sendiri oleh ibu. Masyarakat Jepang umumnya tidak ada yang memiliki asisten rumah tangga. Sehingga anak juga menjadi terbiasa mengerjakan kebutuhanya sehari-hari. Ada sebuah istilah yang menjadi dasar bagi keluarga di Jepang, yaitu "ryosay kentro," yang artinya istri yang baik dan ibu yang arif.
Maka tidak heran saya sering melihat ibu-ibu yang mengendong kesana kemari anaknya. Jika anaknya lebih dari satu dan masih batita, kadang saya melihat dua anak digendong sekaligus menggunakan gendongan kanguru. Satu posisinya didepan bagian dada, satu lagi di bagian belakang. Belum pernah saya lihat sebelumnya ibu-ibu menggendong anak seperti itu.

Ibu-ibu di Jepang tampak sungguh-sungguh mengasuh anaknya. Saat bermain bersama anaknya, jarang saya melihat ibu-ibu itu bermain HP. Mereka fokus menemani anaknya bermain. Memperhatikan dengan seksama anaknya yang berlari kesana kemari. Jika anak melakukan kesalahan, ibu di Jepang tidak segan menghukum anaknya.

Karakter sebuah bangsa tidak bisa dibentuk secara parsial, tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat apalagi diajarkan hanya sebatas teori tanpa contoh dan implementasi. Jepang telah melakukan ini bahkan jauh sebelum perang dunia terjadi. Maka tidak heran kekelahan Jepang pada perang dunia segera dapat ia atasi dengan merekonstruksi segala infrastruktur bangsanya sehingga kini bisa menjadi negara yang maju dan modern.



Reaksi:

4 comments:

  1. Penguatan teori juga harus barrng bareng disadari kan.
    kadang sudah dapat pengetahuan menuruti aturan yang disepakati. Ada yang mentahin itu rasanya gregeten. 😀

    ReplyDelete
  2. orang jepang ternyata sdah menerapkan sunah rasulullah sejak dulu dan terus sampai sekarang, salah satunya adalah menjaga kebersihan dan disiplin.

    ReplyDelete