14.10.19

Dulu Karyawan Pabrik, Kini S3 di Jepang

Setiap orang berhak tumbuh dan berkembang. Perkembangan hidup seseorang ditentukan oleh seberapa besar tekadnya untuk berubah, seberapa besar keinginannya untuk maju, seberapa besar usahanya untuk berkembang dan seberapa banyak doa-doa yang ia panjatkan kepada Sang Pencipta.

Telah banyak kisah inspiratif yang ditorehkan orang-orang sukses. Seperti kisah John Paul DeJoria yang dulunya gelandangan, kini menjadi trilyuner dengan usaha samponya di Amerika. Di Jepang ada kisah Masayoshi yang dulunya miskin dan jadi bahan ejekan dan cemoohan di sekolahnya, kini jadi salah satu orang terkaya pemilik softbank di Jepang. Ada juga kisah Jack Ma yang dulunya miskin, kini ia menjadi salah satu orang terkaya di China.

Sukses dan gagal, kaya dan miskin tidak mutlak milik seseorang. Ia akan dipergilirkan sesuai dengan seberapa besar doa dan ikhtiar yang ia lakukan. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berubah, berkembang dan sukses. Semua tergantung seberapa kuat keinginan, niat dan usaha yang ia lakukan.

Seperti kisah suami saya, pak Ardhian. Dulu pendidikan terakhirnya "hanya" D3 dari sebuah kampus swasta di Tanggerang. Bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik ban dengan gaji "hanya" beberapa ratus ribu rupiah setiap bulan. Rutinitasnya sehari-hari waktu itu hanya seputar kamar kos dan pabrik.



Setelah kami menikah, ia memutuskan keluar dari pabrik dan hijrah menemani saya yang saat itu kuliah S3 di Bandung. Alhamdulillah di Bandung dapat pekerjaan baru di sebuah perusahaan IT. Siangnya bekerja, malamnya ia gunakan untuk meneruskan studi S1.

Kami banyak berdiskusi tentang masa depan. Tentang visi hidup masing-masing dan tentunya visi keluarga. Kami percaya segala kesuksesan tidak mungkin diraih dengan cara instan. Ada pengorbanan dan perjuangan yang menyertainya.

Bukan suatu hal yang mudah untuk sebuah rumah tangga baru dengan rutinitas hampir setiap hari pergi pagi pulang malam. Tapi ini adalah perjuangan. Perjuangan yang gigih tidak akan pernah berkhianat pada kesuksesan.

Baca Juga :
Dua kali gagal, akhirnya diterima di Jepang
Bagaimana Cara Bisa kuliah di Jepang?

Kurang lebih empat tahun menjalani hari-hari yang berat. Kadang pulang malam kehujanan, kadang ban bocor dan harus mendorong motor di tengah malam. Kadang tugas dosen dan tugas kantor saling minta didahulukan. Tanpa terasa, akhirnya studi S1 nya selesai. Tidak ada ujian berat yang tidak ada endingnya. Segala sesuatu pasti ada awal dan akhirnya, ada manis dan getirnya. Itulah seni kehidupan.

Mertua saya pernah bercerita bahwa suami saya dulu selalu juara kelas di sekolah. Dia selalu kejar kejaran dengan temannya untuk menjadi yang terbaik. Temannya itu sekarang jadi dokter. Saya memberikan tantangan. Kalau memang dulu selalu juara, hayu coba bersaing lanjut S2 dengan beasiswa.

Kami cari informasi S2 dan beasiswa kesana kemari. Kami dapat informasi ada penerimaan mahasiswa pascasarjana baru di ITB. Suami saya memberanikan diri tes S2 beasiswa unggulan kemendiknas di ITB. Nilai tes TPAnya termasuk yang tertinggi. Setelah mengikuti rangkaian tes akhirnya ia lulus dan mendapat beasiswa kemendiknas. Padahal waktu itu hanya 2 orang dari sekian banyak yang lulus berasal dari perguruan tinggi swasta. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau memcoba, berusaha dan berdoa. Jangan pernah minder dan rendah diri bersaing dengan orang lain.

Akhirnya suami melanjutkan S2 di ITB dan berhenti bekerja di perusahaan IT. Sebuah keputusan besar keluar dari pekerjaannya. Kadang kita harus berani keluar dari zona nyaman untuk menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih besar.

Kami berdua kuliah dengan dua anak yang masih bayi. Di sini tantangannya tidak kalah heroik. Kami saling mensuport satu sama lainnya. Bergantian mengatur waktu kuliah, bimbingan dan jaga anak. Kadang salah satu diantara kami sudah menunggu di depan pintu menunggu pasangan pulang untuk bergantian menjaga anak. Kemudian bergegas pergi ke kampus. Kadang kami berangkat bersama dengan 2 bayi. Salah satu diantara kami menjaga anak di luar saat yang lain konsultasi bimbingan dengan pembimbing. Sungguh sebuah kisah yang tidak akan pernah lupa dalam ingatan saya bagaimana kami berjuang tertatih-tatih menyelesaikan studi.

Pada tahun 2009, studi kami berdua rampung. Saya lulus S3 di Unpad dan suami saya lulus S2 di ITB. Kami akan hijrah ke Padang karena saya terikat kontrak dengan PTS tempat saya mengajar di sana. Artinya perjuagan dengan rasa yang baru akan segera dimulai.



Pertama kali datang belum tampak pekerjaan apa yang akan digeluti suami saya. Selain belum dapat pekerjaan baru, kami diuji dengan gempa dahsyat yang menelan banyak korban. Beruntung kami semua selamat, walau motor suami stangnya patah terkena reruntuhan bangunan saat berada di Plaza Andalas.

Suatu saat kami melihat lowongan dosen Unand di koran. Sebenarnya ada satu syarat yang belum bisa dipenuhi suami saya, yaitu ijazah asli. Ijazahnya masih di ITB. Karena gempa, proses seleksi diperpanjang. Akhirnya suami saya ada waktu dan kesempatan bisa mengambil ijazah asli ke Bandung. Kadang bencana memberi kita banyak value dan hikmah.

Setelah ijazah asli ada di tangan dan dilihatkan ke panita seleksi, suami saya bisa mengikuti berbagai rangkaian tes. Alhamdulillah ia lulus sebagai CPNS di fakultas tekhnik Unand. Banyak yang heran dan menanyakan siapa bakingan suami saya hingga lulus di Unand. Maklum ia bukan alumni, bukan pula orang Minang, kenapa bisa lulus. Begitu pertanyaan banyak orang. Mereka lupa, jika Allah berkehendak tidak satupun tangan yang mampu mencegahnya.

Saya menyarankan agar suami segera melanjutkan studi S3. Karena itu merupakan konsekwen karier yang dipilih. Jika kariernya ingin terus maju maka dosen harus menempuh pendidikan S3, jika tidak maka tidak akan pernah sampai di puncak karier sebagai guru besar atau profesor.

Baca juga tulisan menarik berikut ini :
Semua Anak Cemerlang
Pertunjukan Lampu Ini Sangat Menakjubkan

Tidak ada sesuatu tanpa perjuangan. Mulailah suami saya mencari-cari kampus yang sesuai. Pilihan utama adalah di luar negeri. Di dalam negeri kan sudah. Ingin tahu juga bagaimana studi di luar negri itu. Sebelumnya ia pernah mengikuti seleksi di Jepang, tapi belum berhasil. Kemudian ikut lagi sekeksi di sebuah kampus di Inggris, masih belum berhasil juga. Saya selalu memotivasinya agar jangan lelah dan putus asa. Kegagalan adalah sukses yang tertunda.

Pada tahun 2016 coba lagi tes lagi di Jepang dan bersaing dengan ribuan dosen di seluruh Indonesia untuk mendapatkan beasiswa LPDP/BUDI. Alhamdulillah kali ini berhasil. Kadang Allah sengaja membuat kita gagal terlebih dahulu agar kita mengerti arti perjuangan.

Keberhasilan bersaing dengan ribuan dosen bukan karena ia hebat, tetapi karena Allah yang memampukan. Yang terpenting bukan gagal atau berhasil, tapi bagaimana kita berani mencoba. Kita tidak pernah berhasil jika kita tidak pernah mencoba. Jika berhasil kita bersyukur, jika gagalpun kita bersyukur karena itu artinya bukan yang terbaik. Pasti ada yang lebih baik yang telah Allah sediakan. Yang terpenting kita berani mencoba, kita berani berjuang, berani dan berlapang dada jika gagal. Sukses dan gagal bukan hasil keturunan. Sukses dan gagal adalah milik mereka yang mau dan gigih berikhtiar dan berdoa. Semua orang berkesempatan meraih apa yang ia impikan. Bermimpilah menjadi besar dengan berfikir, bertindak, berusaha dan berjiwa besar. Sumber foto disini.

Baca juga tulisan menarik berikut ini :
Tidak Lagi Mendapat Gaji Sebagai Dosen, Sekarang Mendapat Penghasilan dari Google
10 Tips Menjadi Perempuan Kreatif, Produktif dan Prestatif di Zaman Now
Tips Traveling Aman dan Nyaman ke Dalam dan Luar Negeri Bersama Anak


Reaksi:

13 comments:

  1. MasyaAlloh perjuangan berbuah manis :)

    ReplyDelete
  2. Sangat menginspirasi bun.. 😍😍😍

    ReplyDelete
  3. luar biasa bun.. sangat memginspirasi

    ReplyDelete
  4. Perjuangan yang sangat gigih, kita memang tidak tahu apakah bisa sukses atau tidak selama tidak mencoba ya bun..

    ReplyDelete
  5. Kereeen masya Allah, baca kisahnya jd penyemangat untuk melanjutkan sekolah lagi..terimkasih mba yesi sudah berbagi kisah inspiratifnya 🙏😍

    ReplyDelete
  6. MashaAllah, kisah yang inspiratif ini kakak. Terima kasih sudah berbagi. Hehehe

    ReplyDelete
  7. Kalau berpikir dulu, rasanya tak mungkin bisa berdiri sebagai guru dan mengenyam sampai S-2 tapi tidak ada yang tak mungkin bagi Allah ya mabk

    ReplyDelete
  8. ibu memang hebat, saya sangat suka tulisan yang satu ini

    ReplyDelete
  9. Hebaat. Padahal seperti menakutkan beralih ke gelombang baru

    ReplyDelete
  10. Masya Allah hebat sekali perjuangannya, sangat menginspirasi. Semoga sukses terus Mbak.

    ReplyDelete
  11. Masyaa Allah, luar biasa perjuangan mbak dan suami. Saluuut. Semoga sukses terus ya, Mbak. Sekarang masih di Padang kah, Mbak?

    ReplyDelete
  12. Kisahnya menginspirasi banget mbak, kalau jadi buku pasti men@rik

    ReplyDelete
  13. Di mata saya, yang jauh luar biasa adalah mbak Yesi sebagai istrinya. Dukungan istri dalam bentuk apapun, adalah kunci keberhasolan suami.

    ReplyDelete