2.10.19

Laki-laki Zaman Now



Selain memberikan materi, sambil santai kadang saya selingi memberikan motivasi atau pencerahan ringan kepada mahasiswa. Ini dulu waktu masih aktif ngajar.

Saya bertanya kepada yang laki-laki. "Anda kalau mau menikah memilih perempuan yang bekerja atau tidak?. Hampir seluruh laki-laki menjawab yang bekerja. Saya tanya lagi alasannya. Biasanya mereka menjawab hanya dengan senyam senyum. Tapi umumnya jawaban mereka adalah "agar bisa membantu ekonomi keluarga. Hidup sekarang kan sulit bu. Biaya hidup sekarang kan tinggi bu. Cari kerja kan susah bu. Kalau saya meninggal anak istri ngak kesusahan bu, dll."

Begitulah mental anak-anak kita zaman now. Betul hidup ini adalah pilihan. Suka suka orang dong mau milih gaya hidup seperti apa. Mau istri yang bekerja atau tidak itu pilihan masing masing.



Saya hanya menginggatkan kepada anak laki-laki kami untuk menjadi orang berilmu dan memilih istri juga yang berilmu. Laki laki yang berilmu tahu dengan pasti tanggung jawab sebagai suami adalah memberi nafkah anak dan istrinya. Ia tidak akan berharap dikasih sadokah oleh istrinya apalagi menyuruh istrinya bekerja, sedang dia asik di rumah, dimana harga diri seorang laki laki?.

Saya tanamkan kepada anak laki-laki kami agar mau berusaha dan bekerja keras sejak dini. Saya juga meminta anak laki-laki kami menguasai pekerjaan rumah tangga. Dia harus bisa masak, mencuci piring, menyapu dll. Saya katakan, suatu saat istrinya akan melahirkan. Istrinya akan sibuk dengan bayi, maka dia harus bisa tske over pekerjaan domestik agar istrinya bisa fokus ke bayi dan tidak kehilangan kewarasannya.

Kepada anak saya yang perempuan saya sampaikan harus berilmu. Boleh sekolah setinggi langit di mana saja atau tidak sekolah sama sekali, yang penting berilmu pengetahuan. Orang berilmu tidak akan pernah khawatir berjalan di atas bumi. Uang akan mengejarnya dimanapun ia berada. Orang berilmu akan menggunakan pikiranya untuk menghasilkan uang, bukan fisiknya. Kamu boleh bekerja sesuai fitrahmu, yang penting tidak menimbulkan fitnah untuk anak-anak dan suamimu, tetapi ingat kewajiban kamu bukan membanting tulang. Dia mengangguk. Begitu juga kelak istrimu Naf'an. Ujar saya pada anak laki-laki kami. Dia tersenyum.

Tidak cukup sekali dua kali, value ini saya ulang terus menerus ke mereka karena mereka sekarang sudah memasuki aqil baligh. Saya melihat tidak sedikit laki laki hari ini bermental kerupuk. Tega membiarkan istrinya melakukan sesuatu yamg seharusnya bukan tugas perempuan, tidak sesuai fitrah perempuan. Tapi ya kembali lagi ke yang tadi, hidup ini pilihan masing masing, konsekwensi juga masing masing.

Hanya untuk menginggatkan anak kami yang sudah memasuki aqil baligh. Kamu harus memuliakan perempuan yang menjadi tanggung jawabmu, bekerja keras dan punya izzah. Khusus untuk anak perempuanku, jaga iffah diri dan keluargamu Sayang.

#gumam_uni_yesi

Reaksi:

1 comment:

  1. Tulisan ini menjadi cermin, setidaknya mengingatkan saya, karena saya juga lelaki. Terimakasih mom sudah diingatkan

    ReplyDelete