27.11.19

Ibu dan Anak Laki-Lakinya

Ada bekas tali pusar di perut yang tidak bisa dihapus, itu adalah tanda seorang anak manusia pernah bergantung 100% pada ibunya. Dengan segala tumpah daranya, ibu telah mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik hingga anak tersebut tumbuh menjadi laki-laki dewasa.

Hingga suatu hari laki-laki itu menikahi kita. Dia tidak pernah berhutang budi pada kita. Kita juga tidak pernah terjaga saat ia sakit, tidak pernah membiayai kuliahnya. Sebelumnya kita tidak pernah berdoa siang malam untuk kesehatan, keselamatan dan kesuksesan hidupnya, karena kita tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

Karena ijab dan qabul, segala keperluan hidup kita didahulukannya ketimbang orang tua yang telah membuatnya sukses. Seluruh gajinya diberikan pada kita. Dia banting tulang untuk membiayai hidup kita dan anak-anak. Setiap hari ia bersama kita. Dalam pikirannya sekarang adalah kita.



Kadang ia lupa pada orang tuanya, bahkan tak sempat menengok orang tua yang dulu mengajarinya berjalan, bahkan meneleponpun tidak. Orang tua itu tiba-tiba menjadi asing seperti orang yang tidak kenal saja.....

Syurga ada di bawah telapak kaki ibu. Laki-laki tidak saja bertanggung jawab kepda istrinya, tapi juga kepada ayah dan ibunya.

Jangan batasi ruang antara suami kita dan orang tuanya. Jangan kuasai seluruh fisiknya, hartanya, gajinya, waktu dan pikirannya. Mudahkan suami kita memenuhi hak kepada orang tuanya. Kelak Allah mudahkan seluruh hak-hak kita darinya.

Kelak jika anak laki-laki kita menikah, ia juga akan pergi.

Tapi kita tentu tidak ingin ia hilang begitu saja bersama perempuan lain. Kita pasti terus ingin memeluknya, minimal mendengar suaranya melalui telepon. Tidak ada ibu yang ingin jauh dari anaknya, tapi tidak semua anak mau mendekat pada ibunya.


#gumam_uni_yesi



25.11.19

Mendidik Anak Berwatak Keras


Setiap anak membawa watak, sifat dan perilakunya masing-masing.

Ada anak yang “keras” ada juga yang “lunak”. Ada anak yang pecicilan ada juga anak yang anteng. Ada anak yang mudah bergaul, ada juga anak yang butuh waktu untuk berbaur bersama teman-temannya. Ada anak yang ceria, heboh dan berisik, ada juga anak yang pendiam.

Sifat itu sudah terinstal dari “sononya” alias build in.
Sifat-sifat itu dimiliki juga oleh anak-anak kami. Ada anak kami yang banyak keinginannya, selalu pengen beli ini beli itu. Ada anak kami yang malah sebaliknya, jarang sekali minta ini minta itu, kadang saya malah menawari, “Sayang, kamu mau beli apa?”

Ada satu anak kami yang memiliki watak yang keras, banyak maunya, banyak imajinasinya. Kalau yang diinginkannya belum ia dapatkan, jangan harap rumah akan aman tenteram sentosa. Jika dia sudah punya pendirian, tidak mudah membelokkannya.

Dia tidak mudah diperintah dan diatur, malah sebaliknya dia yang atur seisi rumah. Dia tidak bisa dimarahi, tidak bisa dikerasi. Jika itu kita lakukan malah sebaliknya, akan semakin besar penolakannya, akan semakin sulit kami mengarahkannya.

Menghadapi anak seperti ini, jika kita tidak berlapang dada maka akan membuat kita cepat emosi. Apakah ada yang punya anak seperti ini? bagaimana menghadapinya?.


Berikut ini beberapa Tips yang bisa kita lakukan.

1. Banyak-banyak menyebut namanya, menghadirkan wajahnya dalam doa kita, doakan segala yang terbaik untuknya.

2. Dengarkan isi hatinya, curhatnya, tanyakan apa yang ia inginkan.

3. Jangan paksa dan perintah. Fitrah manusia itu hatinya lembut, kuasai hatinya, apa saja yang kita inginkan akan dia penuhi.

4. Hargai pilihannya walaupun itu tidak sesuai dengan pilihan kita. Yang penting pilihan itu tidak bertentangan dengan aqidah, norma susila dan budaya.

5. Jangan gurui, tapi banyak berdiskusi. Kadang anak tidak mau digurui.

6. Berkisah atau bercerita. Banyak-banyak ngobrol, dan berkisah pengalaman kita atau pengalaman orang lain dengannya.

7. Pahami sudut pandang dan cara berfikirnya. Kita perlu mengenal anak kita lebih dalam, mengenalnya dengan sangat detail kan memudahkan kita memahami cara berfikirnya.

8. Jika ingin menasihati, jangan saat kita emosi. Biasanya jika sedang emosi kata-kata kurang terkontrol. Agar tidak menimbulkan salah persepsi, tunggu waktu yang pas.

9. Jangan sekali-kali lakukan kekerasan fisik. Sebesar apapun marah kita, jangan sekali kali memukul, itu tidak akan menyelesaikan masalah.

10. Ibu harus waras, senangkan hati ibu, kelak ibu akan tenang menghadapi bagaimanapun tingkah polah anak.

11. Jika sikapnya positif, jangan pelit memberikan pujian.

12. Selalu sampaikan kepadanya, bahwa kita bersyukur pada Allah memilikinya.

#gumam_uni_yesi

21.11.19

Hidup itu Simpel, yang Rumit Gengsinya



Suatu saat saya akan sampaikan ke anak-anak kami, mulai umur 19 tahun kalian sudah boleh menikah. Walimatul'urshi boleh tapi jangan sampai berhutang hanya untuk sebuah pesta. Kalau mau pesta, kerja keras dari sekarang, cari uang sendiri......

Kita tidak perlu pura-pura kaya, pura-pura mampu agar orang-orang berdecak kagum. Kalau belum mampu beli mobil, bayar cicilan mobil, naik motor tidak merendahkan diri kita.

Kita tidak perlu pura-pura bahagia, jika belum mampu jalan-jalan ke luar negeri, umroh, apalagi naik haji, jangan paksakan diri kita, hanya agar orang lain bisa memandang dokumentasi foto kita di sosmed berharap like dan wow mereka.

Hidup ini simpel, yang rumit itu gengsinya. Jangan pusing-pusing memikirkan pakain, sepatu dan make up ke kondangan, orang belum tentu memperhatikan kita.

Kalau pasangan kita orangnya pemalu, jangan paksakan dia berfoto dengan pose memeluk dan pose romantis lainnya, berfoto saja apa adanya.

Yang terkenting itu bukan apa yang orang lihat, tapi apa yang kita rasakan.
Hidup itu ringan, yang berat gengsinya. Hiduplah apa adanya, sesuai kemampuan kita, sesuai realita.


#gumam_uni_yesi
#selfreminfer


19.11.19

Menjaga Kewarasan Ibu


Saya asik nyuci piring. Ryuzaki asik juga main sendiri. Tiba-tiba dia nangis. Kenapa sayang, tanya saya. Tentu saja dia belum bisa jawab. Dia hanya memperlihatkan tangannya yang kotor. Ya ampun saya kira luka, setelah saya lihat betul ternyata kecap.

Saya lihat sekeliling, Masya Allah, rupanya kecap sudah berserakan dimana-mana. Termasuk di tatami (tikar khas Jepang yang menyatu dengan lantai).

Segera saya bersihkan kaki dan tangannya, termasuk mengganti kaos dan celananya yang penuh kecap. "Nggak papa sayang, nanti bunda bersihkan semua lantainya". Dia masih mengangis....


Marah? Tentu saja tidak. Saya yang salah meletakkan kecap ditempat yang mudah dijangkaunya.
Ketika jiwa kita tenang, reaksi kita menghadapi kreatifitas anak juga akan tenang. Kita tidak mudah reaktif, kesal, marah, atau senewen menghadapi tingkah polah anak-anak yang sangat dahsyat.

Coba bayangkan, kecap berserakan dimana-mana, di tatami pulak lagi. Padahal harga kecap merk "B...." produksi tanah air lumayan mahal di sini. Tidak ada di swalayan. Baru dibeli hari Minggu kemaren, baru dipakai sedikit, terus hampir habis diserakin anak. Belum lagi membersihkannya. Kalau pikiran dan jiwa tidak tenang, ibu bisa marah, minimal kesal.

Itulah seni kehidupan. Kunci menjaga kewarasan ibu adalah kasih sayang suaminya.
Ibu tidak lelah fisiknya apalagi jiwanya. Dan yang terpenting adalah menjaga terus jangan sampai kosong dompetnya atau ATM nya.

Jika hal ini terjaga secara simultan, Masya Allah, ibu tidak mudah reaktif terhadap hal-hal yang terjadi diluar dugaannya.
Sederhana, tetapi tidak semua suami mau menjaganya.

#gumam_uni_yesi

13.11.19

Balada Emak, Antara Karier dan Rumah Tangga 💱 🏘️


Saya memandangi setiap daun yang jatuh dari sudut jendela kaca percis di depan apartemen kami. Daun itu tidak pernah marah pada angin yang menjatuhkannya. Dia biarkan begitu saja dirinya jatuh, karena itulah taqdirnya.

Setiap kita memiliki taqdir masing -masing. Begitupun diri saya, taqdirnya melepas segala yang saya cintai. Mengajar adalah kecintaan saya. Banyak value yang saya dapat dari mengajar. Gaji, uang sertifikasi dosen, kesempatan dana hibah riset dan honor mengajar di 3 Pascasarjana.

Kadang saya mendapat honor dari "manggung", entah itu sebagai trainer pada pelatihan berbagai instansi atau narasumber seminar di berbagai daerah di Sumbar.
Melepas sesuatu yang dicintai itu tidak mudah.

Beratnya tu di sini.

Suatu hari saya bilang ke suami, "Abi, semester depan Bunda pulang untuk ngajar ya. Soalnya dekan nanyain apakah sudah bisa ngajar."
Suami saya diam. Saya menangkap ketidaksetujuan dari wajahnya. "Coba Bunda sholat istikharah!"


Hanya itu jawabannya.

"Kalau Bunda ngajar, gaji Bunda kan aktif lagi, Bi." Saya merayu agar diijinkan pulang.
Sebagai manusia biasa kadang pikiran saya tidak lepas dari uang dan materi. Walau ada pemasukan dari google hasil ngeblog, jumlahnya tentu tidak sebanding dengan penghasilan waktu di Padang.
Sebagai manusia biasa yang dhoif, entah apa yang merasuki saya, pernah saya minta ijin ke suami untuk bekerja paruh waktu di Jepang ini.

Ia tidak pernah mau mengijinkan. "Nggak tega abi ngeliat bunda kerja fisik begitu", katanya kurang lebih. "Mumpung gampang cari uang di sini, Bi." Rayu saya padanya. Padahal saya sendiri sebenarnya lebih senang di rumah mengasuh si bungsu, pikiran tenang dan tidak pernah mengeluh capek. Dan tentunya ready for use kalau suami butuh.

Tapi ya itu, namanya godaan dunia, namanya iman turun naik, kadang saya ingin punya uang sebanyak-banyaknya.

Kisah teman beberapa hari lalu menyadarkan saya. Kisah yang membuat saya ”oleng”. Saya bergumul melawan nafsu. Sekarang waktunya menikmati hidup. Menikmati taqdir. Begitu saya soraki diri saya sendiri.

Kadang saya maki diri saya, kurang apa lagi?
Rumah sudah punya, fixed asset ada, ada tabungan, ada suami yang perlu didukung lahir batin, ada anak-anak yang butuh perhatian.
Lantas untuk apa pulang mengajar dan meninggalkan mereka, untuk apa baito?
Kurang apa? Apa yang dicari?

Mengapa tidak fokus pada visi keluarga?
Tidak fokus melayani suami, tidak fokus mendidik anak?
Tidakkah bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup orang lain?
Saya serang diri saya habis-habisan dengan berbagai pertanyaan agar nafsu saya melemah.

Akhirnya saya bilang ke suami, "Abi, ngak jadi deh Bunda pulang semester depan. Bunda mau nemenin Abi sampai tamat."

"Bener nih, coba istigharah." Katanya.
"Sepertinya nggak perlu, Bi. Bunda udah mantap ngak ngajar semester depan. Bunda ngak perlu uang banyak, yang penting kita bisa bersama".

Kamipun berpelukan. "Terimakasih ya Bunda". Matanya berbinar menatap saya. Pelukan saya semakin kuat.

#gumam_uni_yesi


9.11.19

LELAH



Tidak ada emak yang tidak pernah lelah menjalankan peran domestiknya.
Begitupun saya.

Setiap hari bergelut dengan rutinitas sumur dapur kasur. 

Setiap hari tidak jauh dari popok, rengekkan bayi, buku dan mainan berserak di sana sini.

Saya hanya manusia biasa, jika lelah itu datang saya tidak pernah peduli dengan itu semua. Saya tinggal tidur atau pergi jalan-jalan menikmati indahnya kota atau window shopping bersama Ryuzaki. Setelah itu biasanya saya punya semangat dan energi lagi untuk menunaikan tugas rumah tangga.

Setiap emak punya cara berbeda-beda agar tetap waras. Lelah itu biasa, biarkan lelah itu lelah mengikuti kita.

Pergilah keluar jalan-jalan menikmati mentari pagi. 

Lihatlah langit yang biru terbentang luas menandakan betapa karunia dan rezeki Allah lebih luas dari itu. 
Setelah itu yang ada hanya syukur.

#gumam_uni_yesi



6.11.19

Belajar dari Tafsir Hidup Orang lain


Saya sangat tidak percaya ketika seseorang bercerita bahwa teman saya bercerai dengan suaminya. Rasanya mustahil, tidak mungkin. Mereka saya kenal sebagai orang yang paham agama.

Sebut saja namanya Bunga, ia dokter cantik kepala puskesmas. Suaminya juga dokter, saat kejadian suaminya sedang mengambil spesialis.

Karena terdorong aktifitas saya sebagai pegiat parenting dan keluarga, saya ingin menanyakannya langsung kebenaran informasi itu padanya. Setelah beberapa lama kamipun bertemu di sebuah acara di pendopo rumah walikota Padang.

Dengan hati-hati saya tanyakan apakah benar ia telah bercerai. Ia menjawab benar. Ia uraikan kronogis kejadiannya. Suaminya tergoda wanita lain, anak kedokteran juga, adik tingkatnya. Hubungan terlarang bermula karena mereka sering bertemu di rumah sakit. Sampai akhirnya mereka menikah.

Note: Perselingkuhan bisa terjadi karena sering berinteraksi.

Saya menarik nafas, sedih mendengar ceritanya. Saya berusaha menjaga agar air mata saya tidak tumpah, tapi tidak bisa. Kok malah saya yang nangis, dia santai dan mengalir ceritanya.
Sekarang saya lega, tidak ada beban, katanya. Mantan mengakui kekhilafannya, meminta maaf dan menyesal telah mengkhianatinya.

Sekarang hubungan kami baik katanya. Ekonomi mantan semakin baik maklum sudah jadi dokter spesialis, tapi diuji Allah tidak punya anak. Jadi kepada anak kami dia baik sekali, royal sekali. Bahkan saya dibelikan mobil baru agar mudah antar jemput anak-anak katanya. Mantannya itu sering kangen anak-anaknya bahkan ingin rujuk.

Note: Penyesalan selalu datang dikemudian hari. Yang pertama biasanya selalu yang terbaik.

Hidup ini penuh misteri. Tafsir hidup orang lain tak mampu kita membacanya. Tapi kita bisa belajar banyak dari tafsir hidup orang lain.



4.11.19

Menimbang Sekolah



Semalam kami sedikit cerita-cerita tentang sekolah dengan teman yang datang dari Padang. Sekolah anak kami dulu uang masuk dan SPP-nya tambah tinggi. Waktu itu anak kami baru 2 orang sekolah di situ.

Diam-diam saya menghitung 4 orang anak kami yang insya Allah tahun depan akan pindah. Wow rasanya ngak sanggup bayar SPP-nya setiap bulan. Gaji pokok ayahnya yang dosen ASN rasanya tidak cukup untuk bayar SPP mereka di sekolah itu.

Tiba-tiba saya ingat nasehat ustadz yang datang dari Jakarta beberapa bulan lalu. Katanya, biaya sekolah itu memang mahal. Buat gedung itu mahal, belum lagi biaya operasionalnya. Jadi bukan SPP-nya yang mahal, tapi kitanya yang masih miskin.
Makanya kerja keras (lagi), minta sama Allah dimudahkan rezekinya.
Begitu katanya, ger...banyak hadirin yang tertawa dibilang miskin. Mungkin mentertawakan diri sendiri yang merasa berat membayar uang masuk dan SPP sekolah swasta.

Ups, benar juga ya. Kalau mau murah dan gratis ada. Masukkan anak kita sekolah negeri. Tapi kalau mau kualitas yang lebih baik tentu harus ada pengorbanan kita sebagai orang tua. Harus mau bayar SPP lebih, harus mau ikut aturan sekolah dll.

Apapun hitungan manusia, matematika Allah selalu ajaib.
Menuntut ilmu adalah jihad bagi anak-anak kita.
Kadang kita pikir kita tidak mampu, Allah pasti akan mampukan diluar batas logika kita.
Banyak-banyak berdoa ya, nak. Semoga Allah mampukan kita bersama menuntut ilmu dan mendapatkan pendidikan yang terbaik.

#gumam_uni_yesi

Ujian



Saat hidup masih miskin pengen jadi orang kaya. Berusaha banting tulang berdua dalam suka dan duka. Pas udah kaya suami direbut orang.

Siapapun yang mengalaminya pasti nyesek, sakit, mungkin juga trauma. Kita yang menyaksikan pasti juga kesal dan geram.

Bener juga seperti kata ustadz di bawah ini:

Hidup di dunia ini tidak lepas dari ujian, dimanapun posisi kita.
Hidup di dunia ini hanya panggung sandiwara.
Hidup di dunia hanya sementara.

Sebagai manusia yang derajatnya sama di mata Allah, tidak ada satupun manusia yang boleh menyakiti kita. Lepaskan dia yang tidak menghargai komitmen dan kesucian pernikahan.
Jangan pernah takut, ada tali Allah yang kuat untuk kita bergantung.

Ada Allah yang akan menghibur jika kita sedih. Ada Allah yang akan melapangkan jika kita sempit. Ada Allah yang mengayakan jika kita miskin. Yang penting jaga terus taqwa kita.

Miliki bargaining, miliki posisi tawar yang kuat. Agar tidak ada satupun manusia yang bisa seenaknya menghianati. Karena manusia tempatnya khilaf, tidak ada yang bisa menjamin seorang suami yang Sholeh tidak tergoda wanita. Nabi Adam adalah contohnya.

Hanya kepada Allah kita berlindung, kisah orang lain adalah guru terbaik, agar bisa kita ambil ibrohnya.  

#gumam_uni_yesi
#selfremindef