13.11.19

Balada Emak, Antara Karier dan Rumah Tangga 💱 🏘️


Saya memandangi setiap daun yang jatuh dari sudut jendela kaca percis di depan apartemen kami. Daun itu tidak pernah marah pada angin yang menjatuhkannya. Dia biarkan begitu saja dirinya jatuh, karena itulah taqdirnya.

Setiap kita memiliki taqdir masing -masing. Begitupun diri saya, taqdirnya melepas segala yang saya cintai. Mengajar adalah kecintaan saya. Banyak value yang saya dapat dari mengajar. Gaji, uang sertifikasi dosen, kesempatan dana hibah riset dan honor mengajar di 3 Pascasarjana.

Kadang saya mendapat honor dari "manggung", entah itu sebagai trainer pada pelatihan berbagai instansi atau narasumber seminar di berbagai daerah di Sumbar.
Melepas sesuatu yang dicintai itu tidak mudah.

Beratnya tu di sini.

Suatu hari saya bilang ke suami, "Abi, semester depan Bunda pulang untuk ngajar ya. Soalnya dekan nanyain apakah sudah bisa ngajar."
Suami saya diam. Saya menangkap ketidaksetujuan dari wajahnya. "Coba Bunda sholat istikharah!"


Hanya itu jawabannya.

"Kalau Bunda ngajar, gaji Bunda kan aktif lagi, Bi." Saya merayu agar diijinkan pulang.
Sebagai manusia biasa kadang pikiran saya tidak lepas dari uang dan materi. Walau ada pemasukan dari google hasil ngeblog, jumlahnya tentu tidak sebanding dengan penghasilan waktu di Padang.
Sebagai manusia biasa yang dhoif, entah apa yang merasuki saya, pernah saya minta ijin ke suami untuk bekerja paruh waktu di Jepang ini.

Ia tidak pernah mau mengijinkan. "Nggak tega abi ngeliat bunda kerja fisik begitu", katanya kurang lebih. "Mumpung gampang cari uang di sini, Bi." Rayu saya padanya. Padahal saya sendiri sebenarnya lebih senang di rumah mengasuh si bungsu, pikiran tenang dan tidak pernah mengeluh capek. Dan tentunya ready for use kalau suami butuh.

Tapi ya itu, namanya godaan dunia, namanya iman turun naik, kadang saya ingin punya uang sebanyak-banyaknya.

Kisah teman beberapa hari lalu menyadarkan saya. Kisah yang membuat saya ”oleng”. Saya bergumul melawan nafsu. Sekarang waktunya menikmati hidup. Menikmati taqdir. Begitu saya soraki diri saya sendiri.

Kadang saya maki diri saya, kurang apa lagi?
Rumah sudah punya, fixed asset ada, ada tabungan, ada suami yang perlu didukung lahir batin, ada anak-anak yang butuh perhatian.
Lantas untuk apa pulang mengajar dan meninggalkan mereka, untuk apa baito?
Kurang apa? Apa yang dicari?

Mengapa tidak fokus pada visi keluarga?
Tidak fokus melayani suami, tidak fokus mendidik anak?
Tidakkah bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup orang lain?
Saya serang diri saya habis-habisan dengan berbagai pertanyaan agar nafsu saya melemah.

Akhirnya saya bilang ke suami, "Abi, ngak jadi deh Bunda pulang semester depan. Bunda mau nemenin Abi sampai tamat."

"Bener nih, coba istigharah." Katanya.
"Sepertinya nggak perlu, Bi. Bunda udah mantap ngak ngajar semester depan. Bunda ngak perlu uang banyak, yang penting kita bisa bersama".

Kamipun berpelukan. "Terimakasih ya Bunda". Matanya berbinar menatap saya. Pelukan saya semakin kuat.

#gumam_uni_yesi


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment