19.11.19

Menjaga Kewarasan Ibu


Saya asik nyuci piring. Ryuzaki asik juga main sendiri. Tiba-tiba dia nangis. Kenapa sayang, tanya saya. Tentu saja dia belum bisa jawab. Dia hanya memperlihatkan tangannya yang kotor. Ya ampun saya kira luka, setelah saya lihat betul ternyata kecap.

Saya lihat sekeliling, Masya Allah, rupanya kecap sudah berserakan dimana-mana. Termasuk di tatami (tikar khas Jepang yang menyatu dengan lantai).

Segera saya bersihkan kaki dan tangannya, termasuk mengganti kaos dan celananya yang penuh kecap. "Nggak papa sayang, nanti bunda bersihkan semua lantainya". Dia masih mengangis....


Marah? Tentu saja tidak. Saya yang salah meletakkan kecap ditempat yang mudah dijangkaunya.
Ketika jiwa kita tenang, reaksi kita menghadapi kreatifitas anak juga akan tenang. Kita tidak mudah reaktif, kesal, marah, atau senewen menghadapi tingkah polah anak-anak yang sangat dahsyat.

Coba bayangkan, kecap berserakan dimana-mana, di tatami pulak lagi. Padahal harga kecap merk "B...." produksi tanah air lumayan mahal di sini. Tidak ada di swalayan. Baru dibeli hari Minggu kemaren, baru dipakai sedikit, terus hampir habis diserakin anak. Belum lagi membersihkannya. Kalau pikiran dan jiwa tidak tenang, ibu bisa marah, minimal kesal.

Itulah seni kehidupan. Kunci menjaga kewarasan ibu adalah kasih sayang suaminya.
Ibu tidak lelah fisiknya apalagi jiwanya. Dan yang terpenting adalah menjaga terus jangan sampai kosong dompetnya atau ATM nya.

Jika hal ini terjaga secara simultan, Masya Allah, ibu tidak mudah reaktif terhadap hal-hal yang terjadi diluar dugaannya.
Sederhana, tetapi tidak semua suami mau menjaganya.

#gumam_uni_yesi

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment