5.12.19

Apapun Kita Hari Ini, Itulah Yang Terbaik




Hari ini, 3 tahun yang lalu, saya membawa 4 orang anak kami ke Jepang, meninggalkan kerjaan dan jabatan yang sangat saya cintai. Termasuk meninggalkan abak (ayah) yang sedang sakit.

Perjalanan dimulai dari Padang-Jakarta, kemudian Jakarta-Bali dan Bali-Kansai (Osaka). Sampai di Kansai naik kereta JR kurang lebih tiga jam hingga akhirnya sampai di Kanazawa. Sampai di apartemen sudah malam, badan benar-benar terasa remuk dan lelah karena berada di perjalanan lebih dari 24 jam.

Di sosmed terlihat yang indah-indahnya saja. Orang mungkin melihat kami senang dan bahagia di sini. Tidak salah, tapi tidak sepenuhnya juga begitu. Banyak sekali perjuangan yang harus kami lalui.

Saya tidak bisa menarasikan kesedihan ditinggal abak untuk selama-lamanya tanpa bisa memeluknya dan mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Harga yang sangat mahal yang harus saya bayar. Ditinggal orang tua tanpa sempat mengucap permintaan maaf untuk yang terakhir kalinya.



Tidak saja itu, seperti musim dingin ini, kami harus melaluinya dengan perjuangan yang sangat berat. Dingin yang amat sangat menusuk tulang. Memang ada pemanas, tapi tidak semua ruangan ada pemanasnya dan tidak 24 jam juga pemanas dinyalakan karena pertimbangan sirkulasi udara. Kalau sudah musim dingin seperti ini, saya ingin rasanya cepat-cepat pulang ke tanah air, menikmati matahari yang berlimpah di Padang.

Karena tidak ada matahari, menjemur akhirnya di dalam kamar, terbayangkan bagaimana rumah kecil mungil ini penuh dengan jemuran yang mengantung.

Bawaannya musim dingin mager alias males gerak. Enaknya selimutan. Karena anak kami banyak yang harus dikasih makan, saya tidak boleh mager. Saya harus masak, karena anak -anak kami masih dalam masa pertumbuhan yang perlu gizi seimbang. Jadilah selepas subuh tetap beraktivitas seperti biasa. Padahal dinginnya minta ampun....

Perjuangan lainnya adalah segala sesuatunya harus dikerjakan sendiri. Jangan harap ada go food yang bisa membantu delivery makanan. Makanan pun harus dibuat sendiri karena terbatasnya makanan halal yang bisa dimakan.

Saya menyebutnya ini perjuangan. Jika menginggat ini, terasa indahnya tinggal di tanah air.

Bersyukur. Tidak ada kata yang pas yang mewakili setiap kegelisahan kita.
Karena apapun, bagaimanapun dan dimanapun kita hari ini, itulah yang terbaik dari Allah.
Jika kita bersyukur dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, maka Allah akan tambah nikmatnya.
Itu janji Allah. Dan Allah tidak pernah mengingkari janjinya.

#gumam_uni_yesi


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment