13.12.19

RINDU MEMELUKMU


Saya banyak menyimpan impian hanya agar bisa selalu bersama anak laki-laki kami ini. Waktu saya sangat singkat untuk bisa menyusuinya, mengendongnya, memeluknya, mencium baunya dan mengeloni tidurnya.

Seperti anak laki-laki kami yang sudah berusia 12 tahun. Dulu waktu kecil ia sangat dekat dengan saya. Matanya belum bisa terpejam kalau belum saya elus punggungnya.

Dulu Saya bebas memeluk dan menciumnya, walau berkeringat saya suka baunya. Sangat sulit menyapihnya tidur, butuh waktu lama, karena antara saya dan dia terjalin sebuah ikatan yang tidak bisa dinarasikan dengan kata-kata.

Kini anak laki-laki kami itu badannya sudah besar, suaranya sudah mulai berubah. Ia tidak mau lagi dipeluk dan dicium seperti dulu. Kadang saya merindukan masa-masa memeluk dan mengendongnya. Semua tinggal kenangan yang menari-nari di pelupuk mata.


Kini ia masih tinggal bersama kami, kami masih sering cerita-cerita bersama, makan bersama, bahkan sholat pun bersama. Saya masih bisa melihat senyumnya, masih bisa membangunkannya, masih bisa menyediakan sarapan dan bekalnya sekolah. Itu cukup membuat saya bersyukur dan merasa berarti sebagai seorang ibu.

Karena beberap tahun kedepan mungkin ia akan meninggalkan rumah kami untuk menyambung hidupnya dengan perempuan lain. Saat itu betapa saya akan memendam rindu yang amat sangat.

Mumpung anak kami yang satu ini masih kecil, masih bisa saya susui, masih bisa saya gendong, masih bisa saya peluk, masih bisa saya mandikan, saya nikmati proses mengasuhnya dan bersyukur pada Allah atas kesempatan ini.

Saya Ridho walau harus menyimpan impian, saya Ridho walau harus lelah mengurusnya, karena saya merasakan, saat anak laki-laki sudah merasa risih dipeluk ibunya saat itulah ibu baru merasakan betapa waktu cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali terulang.

#gumam_uni_yesi



Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment