25.3.20

Stay At Home


Wabah Corona telah mengubah pola hidup hampir seluruh warga dunia. Jika dulu kita abai pada keluarga dan anak-anak, Corona memberi kesempatan kepada kita untuk lebih banyak berkumpul bersama, menyayangi istri dan memperhatikan anak-anak lebih baik lagi.

Corona memang telah merengut nyawa tidak saja warga sipil, tapi juga tenaga medis. Waspada perlu tapi jangan cemas yang berlebihan dengan menimbun masker dan barang lainnya, jangan menaikkan hingga harga menjadi gila.

Saya sangat yakin wabah Corona pasti berlalu, hidup kita akan kembali normal. Allah hanya ingin melihat kita kompak berjuang bersama, Allah ingin kita berdoa, dan Allah ingin melihat tawakal kita.

Stay at home, di rumah sajo, itu sangat membantu pencegahan meluasnya Corona.





24.3.20

Bersahabat Dengan Anak



Setiap anak menginginkan orang tuanya untuk dirinya sendiri. Ia ingin kasih sayang dan cinta orang tuannya hanya tercurah untuknya. Orang tua tentu tidak dapat berbuat demikian karena ayah dan ibu boleh satu, tapi kasih sayang dan cinta tidak terhingga untuk seluruh anak-anaknya.

Impian dan harapan orang tua sering tertumpah pada anak pertama. Ekspektasi orang tua terhadap anak pertama kadang terlalu tinggi. Orang tua sering berharap pengertian dari anak pertama. Inginnya anak pertama mengerti banyak hal, bisa banyak hal, tau banyak hal. Dan seringnya juga anak pertama jadi sasaran kesalahan jika adik menangis karena mereka bertengkar.

Akhirnya anak pertama sering menjerit dalam hati, ia bertanya, mengapa aku yang selalu disalahkan, mengapa aku yang harus mengerjakan, mengapa aku?

Anak pertama kami pernah mengatakan, “Bunda tidak adil, sayangnya cuma buat anak yang kecil.” Kemudian dia menangis.

Saya merasa tertampar, ucapannya menohok jantung hati yang paling dalam. Mungkin betul selama ini saya lalai, saya terlalu sibuk dengan adiknya yang kecil sehingga abai diperhatikan kebutuhannya. Selama ini saya merasa dia sudah mandiri, ternyata tidak, walaupun kita menganggap anak pertama sangat matang dan dewasa, ia tetap memerlukan perhatian dan kasih sayang orang tuanya.



Tidak marah kepada anak sepertinya sesuatu yang sulit, tapi jika kita mau membuka hati, mau belajar dan mengubah pola asuh, kita akan memiliki pandangan bahwa marah-marah kepada anak selain tidak baik untuk kesehatan, tidak baik untuk tumbuh kembang anak, juga menghabiskan energi.
Untuk meminimalisir marah-marah khususnya kepada anak pertama, sebaiknya ubah sedikit mind set kita terhadap anak pertama. Jangan melulu anggap ia anak pertama yang serba bisa, jangan menjaga jarak, tapi jadikanlah ia sahabat. Bangunlah persahabatan yang hangat dengan anak. Menurut Baron dan Bryne, persahabatan adalah hubungan dimana dua orang menghabiskan waktu bersama, berinteraksi di berbagai situasi, dan juga menyediakan dukungan emosional secara bersama. Begitulah semestinya orang tua dan anak.

Bagaimana membangun persahabatan dengan anak?

1. Bersahabat dengan pasangan.
Langkah pertama menjalin persahabatan dengan anak adalah bersahabat dengan pasangan kita. Harmonisasi antara suami istri akan mengalirkan energi positif yang dapat membantu memudahkan kita bersahabat dengan anak.

2. Bersyukur memilikinya.
Katakan kepada anak, kita bersyukur pada Allah memilikinya. Katakan kita bahagia atas kehadirannya. Untuk itu kita terima anak kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

3. Dengarkan isi hatinya.
Jika anak pulang sekolah jangan buru-biru tanya ada PR apa tidak, bisa jawab soal ujian apa tidak, coba tanya bagaimana suasana hati dan perasaannya. Dengarkan ia inginnya di rumah seperti apa, ia ingin adik-adiknya bagaimana? Ia ingin orang tuanya bagaimana? Coba dengarkan baik-baik dan ambil sikap yang positif dari curhatannya itu.

4. Terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam setiap aktifitasnya.
Jangan sampai kita tidak tahu apa kegiatan anak, tidak tahu aktifitasnya di luar rumah apa saja. Dari curhatanny kita akan tahu siapa temanny, apa saja yang ia lakukan di sekolah. Beri dukungan dalam setiap aktifitasnya yang positif.

5. Berikan kepercayaan.
Suatu saat anak kita akan pergi meninggalkan kita untuk menyambung kehidupannya dengan orang lain. Beri ia kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang baru, mencoba hal-hal yang asing bagi kita. Jangan banyak di larang, ini itu tidak boleh. Berikan kepercayaan ia mengelola keuangan, mengelola waktu, mengelola dirinya sendiri.

6. Berikan reward dan punishment
Jika anak melakukan sesuatu yang baik jangan lupa memberikan ungkapan yang dapat memotivasinya untuk berbuat lebih baik. Misalnya memberikan pujian, atau berterima kasih. Begitu juga jika ia melakukan sesuatu yang melanggar aturan yang tidak sesuai dengan value yang kita anut mak kita dapat menghukumnya agar ia jera.

7. Jangan memaksakan kehendak
Anak bukanlah kita versi kecil. Pikiran kita tidak sama dengannya, apa yang kita mau belum tentu keinginannya. Jadi jangan memaksakan kehendak dan keinginan kita padanya hanya untuk memuaskan diri kita. Hargai anak sebagaimana kira juga ingin dihargai sebagai orang tua.

8. Senantiasa berdoa dan tawakal pada Allah.
Kita tidak dapat mengawasi anak kita 24 jam penuh. Tetapi kita dapat menitipkan anak kita pada Allah dengan tidak putus berdoa dan tawakal kepada Allah. Doakan terus anak kita agar berjalan dalam bingkai agama, agar terhindar dari segala mara bahaya dan kejamnya nafsu manusia. Setelah itu kita tawakal, anak itu amanah Allah, kita serahkan semua pada Allah.



14.3.20

Manfaatkan Sampah Rumah Tangga Untuk Membuat Eco Enzyme yang Ramah Lingkungan


Sekitar tahun 1999 atau 2000 saya pernah menjadi panitia seminar nasional yang mengangkat tema SAVE THE EARTH yang diadakan di aula Mesjid Salman ITB. Sejak saat itu minat saya pada pelestarian lingkungan dan merawat bumi mulai tumbuh.

Saya merasa terpanggil untuk ikut merawat dan menjaga bumi, dan berusaha bertahap menjadikan sustainable living sebagai gaya hidup wujud tanggung jawab kita bersama kepada bumi.

Semalam dapat ilmu dari Gemar Rapi bagaimana membuat Eco Enzyme, yaitu sebuah larutan zat organik kompleks yang diolah dari proses permentasi sisa organik, gula dan air yang Multi manfaat.
Saya membuat Eco Enzyme dari sisa kulit jeruk yang buahnya kami makan siang tadi. Banyak manfaat dari Eco Enzyme, diantaranya sebagai pengganti deterjen, pembersih serba guna, pupuk alami, pengusir hama, dan tentunya ramah lingkungan.



Setiap rumah tangga dapat memproduksi Eco Enzyme karena proses pembuatannya yang sederhana dari bahan organik hasil sampah pribadi atau rumah tangga. Perbandingannya 10:3:1 yaitu 10 air, 3 sampah organik, dan 1 gula. Saya membuat menggunakan 1000ml air + 300ml kulit jeruk dan 100ml gula pasir.

Eco Enzyme dapat kita panen setelah 3 bulan. Setiap hari kita mesti membuka tutup botol untuk mengeluarkan gasnya. Ho ho ada kerjaan baru tiap hari.

Yuk secara bertahap kita beralih ke produk ramah lingkungan dan menjadikan sustainable living sebagai gaya hidup. ❤️❤️❤️


#tantangan1GP



13.3.20

Mendidik Anak Laki-Laki


Kata sebagian orang mendidik anak laki-laki jaman now lebih sulit dari pada mendidik anak perempuan. Tidak sepenuhnya salah, mungkin ada benarnya menginggat berbagai macam tingkah polah laki-laki zaman now.

Sebagian orang tua menganggap mendidik anak sama dengan menyekolahkannya tinggi-tinggi dengan harapan mendapatkan pekerjaan terbaik, di perusahaan terbaik dan dengan gaji terbaik. Orang tua lupa bahwa mendidik mental anak, mendidik kepribadian anak, mendidik moral anak, mendidik spiritual anak, termasuk mendidik anak agar kelak terampil menjadi ayah dan ibu tidak kalah pentingnya.

Maka muncullah anak yang berpendidikan tinggi, tapi memiliki masalah dalam kepribadian. Pecinta sesama jenis misalnya, atau takut menikah. Ada juga anak laki-laki berpendidikan tinggi tapi tidak mampu mencari nafkah.

Ada juga anak berpendidikan dan penghasilannya tinggi tapi tidak peka pada tangguh jawabnya sebagai kepala keluarga. Ada juga yang tidak empati pada istri dan anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Ada juga laki-laki yang tega membiarkan istrinya bekerja di luar, di jam saat ia dan orang lain beristirahat dan tertidur lelap.

Perlu kita renungkan, bagaimana kelak anak laki-laki kita. Semua tergantung bagaimana kita mendidiknya saat ini. Perlu kita tanamkan dalam otak bawah sadarnya bahwa ia adalah pemimpin bagi wanita. Tugasnya mencari nafkah, kewajibannya memuliakan dua bidadari, ibu dan istrinya. Tapi yang lebih perlu lagi adalah menanamkan di bawah otak saddar kita sendiri bahwa menjadi orang tua adalah samgat besar tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT.




1. Anak laki-laki perlu kita ajarkan aqidah yang mendalam kepada Allah SWT. Mengajarkan bahwa Allah ada dimana-mana mengawasinya. Anak laki-laki juga perlu kita ajarkan ibadah sholat dan menjadi imamnya. Karena jika ayahnya meninggal dan usianya sudah cukup, ialah yang akan menjadi imam sholat jenazah ayahnya. Untuk menjadi imam mesti bagus bacaan qurannya. Kewajiban kita mengajarkan Al Quran secara tartil. Anak laki-laki sejak kecil mesti diajarkan sholat ke mesjid. Tidak ada cerita dia tidak bisa bangun subuh. Berikan contoh, itu cukup ampuh melembutkan hatinya.

2. Tumbuh kan jika kepemimpinan dalam dirinya. Karena laki-laki adalah pemimpin maka sedari kecil kita perlu menumbuhkannya. Beri ia amanah menjadi ketua rombongan saat kita keluar. Beri di kepercayaan mengawasi adiknya dsb.

3. Anak laki-laki perlu kita biasakan mengerjakan pekerjaan domestik, seperti mencuci piring, menyapu, memasukkan dan mengeluarkan kain dari mesin cuci, menjemur, melipat kain, masak dll. Kelak ia akan berumah tangga, jika dia sudah terbisa mengerjakan pekerjaan domestik ia akan mudah beradabtasi menjalankan perannya sebagai kepala keluarga.

4. Mengajarkan finansial sejak dini, agar kelak ia bisa membiayai seluruh kebutuhan keluarganya. Laki-laki tidak saja bertanggung jawab pada anak dan istrinya, tapi juga kepada orang tua dan sanak perempuannya. Perlu sekali membuat anak laki-laki kita memiliki ketahanan finansial.

5. Jadilah teman dan contoh terbaik untuknya. Di luar sana predator banyak sekali. Jika kira tidak dipercaya menjadi sahabat terbaiknya maka orang lain, gadget, internet, pornografikah yang akan menjadi sahabat dan menuntunnya ke perbuatan yang tidak baik.

6. Orang tua adalah orang pertama referensinya tentang mimpi basah. Jangan sampai Ia ketahui pertama dari temannya karena bisa jadi salah informasi atau jadi bahan guyonan.

Materi Parenting Session Fahima Jepang pada 13 Maret 2020.


12.3.20

Mengajarkan Aqidah tidak semudah membalik telapak tangan


Saya mulai menggambar berbagai makhluk ciptaan Allah di whiteboard. Diatasnya saya beri judul “Mengenal Allah.”

Anak saya yang umur 13 tahun protes, “Abang bukan anak kecil lagi bunda.” Di melirik gambar saya, memang gambar itu cocoknya untuk anak-anak pra sekolah Dia sepertinya tidak berminat membahas materi ini.

Akhirnya saya matikan lampu. Ada anak saya yang memekik, “Gelap bunda.” Katanya. Ada lagi yang mengatakan, “Aku bisa merasakan bunda sedang berjalan.” Katanya.



Tidak berapa lama saya hidupkan lampu. Saya tanya anak yang bilang merasakan saya berjalan. "Kok tau tadi bunda jalan", tanya saya. Dia menjawab, "Iya terasa aja", katanya.

Mulailah saya masuk dari ucapannya itu. "Begitulah Allah, Nak", kata saya.
Kita bisa merasakan adanya Allah walau Allah tidak terlihat. Banyak sesuatu tidak terlihat tapi ada. "Apa misalnya", tanya saya. Ada yang menjawab, "Corona". "Iya betul", ujar saya.

Malam itu kami diskusi panjang lebar, kadang tampak ada yang mengangguk, ada juga yang tampak belum mengerti apa-apa. Di kelas ini ada 5 anak dengan tingkat kelas yang berbeda, tidak mudah menjelaskan materi aqidah dalam satu cerita.

Yang belum mengerti, biarlah ia berproses. Saya bersyukur anak yang besar tampak memahami. Ini terlihat dari semakin mudahnya mereka dibangunkan sholat subuh.

Masya Allah, ya Allah berilah kami ilmu agar lisan kami fasih mengajarkan aqidah kepada mereka.....
 
#ceritahomeeducation


8.3.20

Menjadi Konselor Menyusui Hingga Ke Jepang

Seorang ibu mengirim pesan yang kurang lebih berbunyi:
Uni Yesi, saya boleh datang ke Apatonya, ingin konsultasi ASI untuk bayi saya, kata dokter ada persoalan dengan bayi saya berkaitan dengan ASI.”

Di lain waktu, masih di Jepang ini juga, seorang bapak mengabari, istrinya beserta bayinya nangis terus. Sang bapak muda ini sepertinya sedang kebingungan.

Uni Yesi, bisa datang ngak ke apato saya, karena bayi saya rewel terus, ibunya jadi ikut-ikutan nangis.” Saat saya datang ke Apatonya sang ibu sedang menangis memeluk bayinya.

Masya Allah, saya jadi ingat bayi pertama kami, dulu setiap malam rewel. PD saya mengeras seperti batu. Saya pernah mengalami yang namanya puting berdarah. Pernah mengalami menyusui 2 orang bayi secara langsung (ASI tandem). Pernah mengalami bayi bingung puting. Bayi saya juga pernah mengalami kuning.



Banyak persoalan yang ditemui ibu dan bayi. Itulah mengapa pada tahun 2009 saya beranikan diri merogoh kocek yang sangat dalam untuk ikut pelatihan konselor menyusui. Untuk apa? Karena saya sudah berencana punya banyak anak, saya perlu ilmu untuk menghadapi berbagai persoalan seputar menyusui.

Bagi saya bermanfaat untuk orang lain adalah salah satu tujuan hidup. Tidak pernah berfikir menjadikannya sebagai tambang emas atau jalan popularitas. Karena bayi yang mengalami persoalan menyusu perlu dibantu, ia tidak berdaya, ketulusan seseorang membantunya agar ia dapat menyusu adalah jalan hidup baginya. Minimal mendengar curhat dan keluh kesah ibu yang baru saja melahirkannya itu sudah lebih dari cukup.

Mengapa kita perlu mati-matian berusaha agar ibu bisa menyusui dengan tenang? Karena banyak kebaikan disetiap tetes ASI.

Bagi teman-teman yang sedang menyusui, jika ada kendala dan persoalan, jangan dipendam sendiri, jangan menyerah. Selalu ada jalan jika kita mau berusaha.

Segera hubungi konselor menyusui terdekat atau bergabung di komunitas ibu menyusui.

#gumam_uni_yesi




6.3.20

Kerumunan atau Team?

Hallo apa kabar keluarga Indonesia? Dengan anak-anak dan pasangan, kita termasuk kerumunan atau team dalam rumah tangga?

Apa beda kerumunan dan team?

Kerumunan tidak memiliki tujuan yang sama, mereka kebetulan bertemu dengan kepentingan yang mungkin berbeda. Kerumunan dalam rumah tangga bisa jadi karena, suami istri kebetulan bertemu lalu menikah dan kebetulan punya anak.

Sebaliknya, sebuah team pasti memiliki tujuan yang sama, memiliki seseorang yang mampu mengarahkan team ini (pemimpin). Sebuah team pasti memiliki nilai yang dianut yang diselaraskan dengan rencana yang telah didesain untuk mencapai tujuan yang telah dirancang bersama.



Begitulah semestinya sebuah keluarga.

Keluarga bukan kerumunan orang yang berada dalam sebuah atap yang memiliki tujuan berbeda-beda.

#serial_keluarga
#gumam_uni_yesi

5.3.20

Sukses 2

Sukses itu bukan bawaan orok. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk hidup sukses atau gagal. Saya meyakini manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, masterpiece yang pantas hidup layak, mulia, bahagia dan sejahtera.

Lantas mengapa ada orang sukses dan gagal. Entah itu sukses atau gagal di kariernya, rumah tangganya, pendidikannya dll.

Jawabannya sederhana, orang sukses melakukan tindakan, action.



Ia terus bergerak, memanfaatkan segala resources yang dimilikinya.
Ia bangun saat orang tidur, ia berlari saat orang berjalan.
Orang sukses senantiasa berfikir positif, selalu memancarkan energi dan aura positif.
Orang sukses senantiasa berbagi dan memberi.

Karena give more, do more, endingnya adalah get more.

#serial_sukses
#gumam_uni_yesi

4.3.20

Sukses 1


Kita tidak akan besar dengan mengecilkan orang lain. Tidak akan tinggi dengan merendahkan orang lain. Tidak akan baik dengan menjelekkan orang lain.

Kita juga tidak akan kaya dengan menghambat rezeki orang lain. Tidak akan pintar dengan menganggap bodoh orang lain. Tidak akan terhormat dengan menghina orang lain.

Untuk bisa sukses, terangkan lampu kita, bukan padamkan punya orang lain.
Fokus pada kelebihan kita, bukan pada kekurangan orang lain.

Go success, Never give up!!!


#serial_sukses
#gumam_uni_yesi


2.3.20

 “Uni Yesi, saya lelah menghadapi perilaku anak saya, bagaimana saya harus menghadapinya, ia membuat saya kesal setiap hari. Ini terjadi sejak ia punya adik baru. Bahkan kadang saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Apa yang harus saya lakukan?”

Ringkasnya seperti itu, pertanyaanya panjang sekali.

Jawaban uni Yesi Elsandra:

Setiap anak itu unik. Ia membawa sifat, potensi, dan berbagai karakteristik. Namun kadang kita tidak melihat tanda-tanda itu sebagai sebuah value, atau sebuah harta karun.

Pertanyaannya, apakah selama ini kita sudah melihat dan mengenali secara dalam apa yang sudah “dibawa” sejak lahir itu? Sehingga kita tidak memandang sikapnya (yang menurut kita tidak baik) sebagai sesuatu yang melulu negatif?

Jika kita yakin bahwa anak lahir membawa sifat dan potensi maka semestinya kita sangat curious, sangat ingin tahu, apa sebenarnya yang ia bawa yang tampak dari sikap dan prilakunya.
Dari cerita ditas, tampak anak pertamanya memiliki watak “keras.”

Ini tidak melulu negatif loh. Sifat keras itu tanda ia memiliki bakat COMMAND (naluri untuk mengomando). Jika orang tua dapat mengarahkan dengan tepat, anak-anak seperti ini biasanya kelak akan menjadi pemimpin.



Sangat penting sekali mengetahui hal ini agar kita dapat Memahami anak sepenuhnya. Menerima mereka apa adanya dan Mencintai mereka seutuhnya. Sehingga kita tetap waras dan bijak dalam mengambil keputusan.

Bagaimana cara menghadapi anak seperti ini?

1. Berdoa yang tiada pernah putus kepada Allah agar kita diberikan kesabaran yang tiada terbatas. Berdoa agar kita diberikan ilmu supaya bisa menghadapi setiap sikap kerasnya dan menyalurkan energinya itu ke arah yang tepat.

2. Beri dia kesempatan menjadi pemimpin bagi adiknya. Misalnya katakan, "Hayuk kak, ajak adeknya mandi". Atau beri dia kesempatan memakaikan kaos kaki adiknya, dll. Libatkan dia dalam mengurus adiknya, seolah-olah dia adalah pemimpin adiknya.

3. Beri dia kepercayaan menjaga, mengurus keperluan adiknya. Misalnya yang kecil-kecil saja, seperti, "Tolong lihatin adik sebentar ya", mata kita tetap awas padanya. "Temenin adik bobok yuk, kakak yang bacakan doanya ya, atau kakak yang nyanyiin".

4. Bekerjasama dengan pasangan. Jika ayahnya ada di rumah, minta tolong ayahnya memegang adik sesaat. Ketika itu kita bisa berdua saja dengan kakak membangun quality time. Atau berdua ke Supa (supermarket) atau taman. Jika anak merasa terpenuhi kebutuhannya akan perhatian dia tidak akan mencari perhatian dengan mengganggu adiknya.

5. Tanyakan dan dengarkan kemauanya apa, kemudian aja diskusi ringan. Tanya pendapatnya tentang sesuatu.

6. Berikan ia pilihan, jangan memaksa dan hadapi ia dengan tenang.

7. Menghadapi anak keras tidak bisa dengan kekerasan lagi apalagi marah-marah. Tapi coba pahami sudut pandangnya, pahami kondisinya. Mungkin ia sedang ingin dipeluk, mungkin ia sedang butuh kasih sayang, mungkin sedang lapar dsb.



8. Terus ajarkan ia nilai yang kita bangun, ajarkan terus ia berperilaku baik.

9. Isi terus tangki kesabaran kita, perlus wawasan dan berfikir positif.

10. Saat kita benar-benar tidak bisa mengontrol diri atas “kreatifitasnya” segera ingat Allah, beristigfar. Peluk anak kita dan tersenyum. Katakan mama sayang kamu, nak......


Foto: Salju 2 Februari 2019, Kanazawa. Mendampingi 5 anak yang masih kecil-kecil ini sangat menantang dan penuh perjuangan.

1.3.20

Muliakan Perempuan, Bukan Setarakan


Memuliakan perempuan itu adalah tidak menidurinya sebelum ijab qabul walau suka sama suka.


Memuliakan perempuan itu tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga termasuk menghianatinya dengan perselingkuhan.

Memuliakan perempuan itu tidak saja memberi uang belanja tapi juga nafkah lahir batin yang membuat tentram jiwanya.

Memuliakan perempuan itu tidak menjadikanya tulang punggung hingga bekerja diluar batas fitrahnya.

Memuliakan perempuan itu memberinya ruang dan waktu untuk terus tumbuh, menuntut ilmu, belajar dan mengajar apa yang ia bisa dan bermanfaat.

Memuliakan perempuan itu adalah memberinya kesempatan berekspresi, mengeksekusi passionnya.

Memuliakan perempuan sama artinya membangun sebuah peradaban yang kuat, karena tiangnya sebuah negara terletak pada kemuliaan perempuannya.

Laki laki dan perempuan tidak akan pernah setara, bahkan sejak dalam kandungan kebutuhan nutrisinya saja sudah berbeda.


Repost
#gumam_uni_yesi

Yesi Elsandra
Kanazawa, Jepang


28.2.20

Jaga Selalu Kewarasan Emak


Setiap hari Emak bergumul dengan hal yang remeh temeh, itu ke itu saja, kadang bau amis, kadang kotoran, mulai dari kotoran pasca masak di dapur, piring kotor, WC kotor, pakaian kotor, kaos kaki kotor, kotoran bayi dan segala tetek bengek yang kotor dan tidak produktif lainya.

Setiap hari loh ya, bukan sekali seminggu. Belum ada aturan upah minimum regional untuk urusan yang satu ini, maklum profesi ini tidak ada gajinya, tidak ada cutinya. Yang ada lembur....

Beruntung Emak yang memiliki ART, sebagian pekerjaan yang tidak produktif bisa kita delegasikan. Tapi macam mana dengan Emak yang punya suami cuek bebek, pura pura nggak tau, yang pulang kerja ngakunya capek melulu?

Seorang Emak bilang ke saya, kalau sudah capek dan suaminya ngak ngerti ngerti biasanya nangis dipojokan. Mungkin emak lain punya cara sendiri mereduksi keletihanya, ada yang akhirnya jadi "senewen" marah marah ke anak, cemberut ke suami atau ngemil sebanyak banyaknya ngilangin "stres"....
Kalau itu sih masih mending. Ada emak yang bilang, kalau udah kecapean, saya biasanya diem, kalau "dicolek" pura pura tidur, atau kalaupun akhirnya ML biasanya ala kadarnya.


OMG, besar sekali kan ya dampak negatif kalau emak kecapean dan kehilangan kewarasanya. Emak akan kehilangan lembutnya, kehilangan inner beauty nya. Hayo yang rugi siapa?

Yang rugi pastinya emak, anak anak dan bapake. Bukankah sebenarnya kita ini sebuah tim? Agar bisa mencetak gol tentu dibutuhkan kerja sama yang solit, tidak mungkin emak bawa bola sendirian. Bola itu harus disepak bersama sama agar bisa gol. Jika gol maka yang bahagia siapa coba?
Bukankah semua pemain akan bahagia?

Itulah seni berumah tangga. Jika istri bisa membantu suami mencari nafkah, tidak ada salahnya jika suami juga bisa membantu pekerjaan domestik. Kadang sudahlah istri kerja, urusan domestik istri juga yang take over sendirian. Alamak....

Jika suami merasakan dan melihat ada perubahan dalam diri emak cobalah peka. Iya peka bro.

Mungkin emak perlu istirahat sejenak, coba sekali kali ambil alih tugasnya, lebihkan belanjanya. Jika memungkinkan kasih ART. Jadi emak bisa mengumpulkan energinya untuk bapake di malam hari.

Emak bisa waras mengasuh anak anaknya, emak jadi ngak mudah bawel, cerewet dan cemberut.
Tapi kalau suami nggak peka peka juga, ya udah itu namanya takdir. Tingkatkan koneksitas dengan yang di Atas.

Jangan paksakan diri emak, tinggalkan sesaat pekerjaan domestik itu. Beristirahat dan tidur. Atau jalan jalan kemana yang emak suka, misalnya window shopping alias cuci mata, atau update status hehe.


Kalau sudah fresh lagi, baru kerjakan urusan domestik yang tersisa.
Yang penting emak waras dan bisa tersenyum dengan bebas.
Karena bahagia itu adalah kemestian.

#gumam_uni_yesi
Repost.

14.2.20

Belajar Parenting Dari Kisah Peristiwa Uhud



Ghazwah Uhud atau perang Uhud terjadi di bukit Uhud. Terletak di pinggiran kota Madinah sekitar 4 km dari mesjid Nabawi.

Sebelum perang dimulai, Nabi telah mengingatkan agar pasukan memanah yang ditempatkan di atas bukit tetap berada di posisinya untuk mengamankan dari belakang. “Jangan tinggalkan posisi kalian untuk ikut membantu kami. Tugas kalian menghantam musuh dengan anak panah, karena kuda-kuda tidak akan berani maju bila berhadapan dengan anak panah”. Begitu pesan nabi.

Pihak musuh sempat mengalami kocar Kacir karena kaum Muslimin mengepung barisan musuh. Ghanimah berserakan di area pertempuran. Melihat ghanimah bergelimpangan, muncul perselisihan diantara pasukan di atas bukit. Mereka turun dan berlarian mengumpulkan ghanimah itu. Musuh melihat celah untuk menyerang kaum muslimin. Dipukullah kaum muslimin dari belakang. Kaum muslimin mengalami kekalahan.



Catatan penting dari perang ini:

1. Sahabat tidak SABAR akan kemenangan yang ada di depan mata. Perang belum berakhir tapi pasukan memanah mengira kaum muslimin sudah menang karena banyaknya ghanimah berserakan.

2. Sahabat tidak patuh dan taat pada perintah Rasulullah SAW. Padahal sudah diwanti wanti, jangan kemana-mana, jangan turun walau kalah atau menang, fokus memanah kuda musuh. Eh malah tidak taat karena tergoda ghanimah (harta rampasan perang).

3. Cinta dunia. Pasukan memanah tergoda harta rampasan perang dan dunia.


Apa hubungannya dengan parenting?

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perang Uhud dan kita hubungkan dengan kehidupan kita sekarang, khususnya dengan tugas kita sebagai orang tua.

1. Jangan sampi kita tidak sabar seperti sahabat yang berlarian mengejar ghanimah. Sabarlah mendidik anak. Anak adalah investasi dunia dan akhirat. Jangan buru-buru memetik hasilnya, jangan buru-buru melihat anak kita bisa ini bisa itu. Sabar membersamai tumbuh kembangnya. Sabar menghadapi “kenakalan-kenakalannya”. Sabar menghadapi segala kelebihan dan kekurangannya.

2. Jangan sampi kita tidak patuh. Patuhlah dan Taatlah akan perintah Allah SWT untuk menjaga amanah anak-anak ini dengan sebaik-baiknya. Patuh dan taat pada Allah SWT yang memerintahkan kita mengajarkan tauhid pada anak agar mereka mengesakan Allah SWT saja. Patuh dan taat pada Allah agar kita fokus pas posisi kita sebagai orang tua. Patuh dan taat pada Allah agar kita menyusui anak kita. Dan tentunya patuh pada suami sebagai pimpinan dalam rumah tangga.

3. Memprioritaskan waktu tenaga dan pikiran mendidik anak, jangan tergoda harta dunia. Kadang kita beralasan jungkir balik bekerja untuk kebahagiaan anak-anak kita, kenyataannya anak-anak justru tersiksa dengan tiadanya kasih sayang dari orang tua.




Masya Allah, sejarah adalah pelajaran yang sangat berharga. Kisah ini tamparan bagi saya pribadi yang kadang masih ingin mencicipi kelezatan duniawi dengan berniat mencari uang sebanyak-banyak (mumpung di Jepang mudah cari uang). Dan berniat meninggalkan pos untuk mengejar “ghanimah”.

Masya Allah, masa pertumbuhan anak-anak kita tidak pernah akan kembali. Semoga kita bisa membersamai masa yang singkat itu dengan memberikannya waktu yang berkualitas, cinta dan kasih sayang yang optimal.

Sungguh, Allah tidak akan pernah salah menghitung setiap pengorbanan yang kita lakukan. Semua akan ada imbalannya, semua akan ada perhitungannya di sisi Allah SWT.

13.2.20

Bersyukurlah Ibu Rumah Tangga

Teman-teman boleh setuju atau tidak, setelah lebih kurang 3 tahun “hanya” sebagai ibu rumahan, saya berani mengatakan kepada teman-teman, bahwa tidak ada profesi yang paling menentramkan jiwa raga bagi seorang ibu selain menjadi ibu rumah tangga, syarat dan ketentuan berlaku.

Apa aja syaratnya?

1. Kebutuhan ekonomi tercukupi.
Tidak harus banyak, yang penting cukup untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga, keperluan sekolah anak, dan sejumlah tabungan.

2. Istri memiliki rekening dan ATM sendiri.
Suami rutin mentransfer sebagian besar pemasukannya ke rekening istri. Sehingga istri tidak perlu minta-minta uang untuk belanja kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pribadinya.

3. Berbagi peran.
Walau istri “hanya” ibu rumah tangga, bukan berarti seluruh urusan domestik dikerjakan semua oleh istri. Ada sharing tugas antara suami dan istri. Misal, istri memasak, suami menyapu. Istri menyusui anak, suami buang sampah. Istri cuci piring, suami mendampingi anak belajar dsb.



4. Istri memiliki akses informasi tanpa gangguan.
Informasi adalah hal penting di zaman modern ini. Kapan saja istri membutuhkan, ia dapat mencari informasi tanpa harus kehabisan quota internet, termasuk perangkat telekomunikasi lainnya.

5. Istri memiliki akses belajar dan mengajar.
Istri diberi kesempatan menuntut ilmu, khususnya belajar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan tugasnya sebagai istri dan ibu. Media belajar saat ini sangat luas, baik offline maupun online.

6. Istri diberi keleluasaan berkarya.
Walau hanya di rumah, bukan berarti istri tidak bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain.

7. Istri memiliki komunitas
Bergabung dengan komunitas memberikan pencerahan bagi istri dan meningkatkan wawasannya.

8. Istri dapat menyalurkan hobinya.
Jika hobi tersalurkan maka bahagia akan didapatkan. Menyalurkan hobi juga dapat menghilangkan kejenuhan. Fasilitasi istri agar dapat menyalurkan hobinya.

9. Istri dapat terus berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya.
Ini yang paling penting. Jangan sampai setelah menjadi istri dan ibu, kita tidak pernah keluar, tidak memiliki waktu berkumpul dengan keluarga dan teman-teman.

Fasilitasi istri untuk mendapatkan semuanya ini.
Agar ia tetap merasakan menjadi manusia yang dihargai dan bermanfaat untuk orang lain.
Dijamin ia akan tetap waras dan bersyukur menjadi “hanya” ibu rumah tangga.
 
#gumam_uni_yesi
#baladaemakikatandinas


12.2.20

Nikmati Saja


Pekerjaan ibu rumah tangga tampaknya remeh temeh, sederhana dan tidak produktif. Sehari hari berkutat dengan hal yang bau, kotor, bahkan kadang menjijikan bagi yang melihat.

Pipis dan BAB anak, gumohnya, muntahnya. Ingus anak, batuknya dan demamnya. Belum lagi PR dan segala tetek bengek urusan sekokah, emak juga yang memikirkan. Itu baru urusan anak, energi emak sudah habis terkuras.

Urusan perut seisi rumah juga emak, kalau hanya memikirkan mungkin tidak terlalu berat. Yang berat adalah mengeksekusinya setiap hari. Mulai dari belanja bahan baku, sampai masakan itu terhidang di meja makan. Tugas emak belum selesai, piring dan perlengkapan pasca masak dan makan emak juga yang turun tangan.

Tiap hari loh. Kalau koki masak ada gajinya, emak masak tiap hari cuma dapat uang belanja. Kadang itu juga pas pasan atau malah kurang.



Selesaikah tugas emak? Belum. Itu baru sebagian kecil tugas domestik yang harus emak yang tuntaskan. Urusan sumur tak kalah melelahkan. Bagi yang mampu enak punya mesin cuci, tidak sedikit emak yang harus mengeluarkan tenaga, merendam, menyikat, memeras dan menjemur. Belum lagi nyetrikanya.

Selesaikah tugas emak? Belum. Masih banyak. Emak ngak boleh capek, emak juga ngak boleh sakit, mamas udah nunggu di sudut kamar. Mulai dari minta pijitin, katanya capek seharian kerja sampai minta "dilayanin". Bukannya kebalik ya, seharusnya emak yang dipijitin karena juga capek seharian mengurus rumah tangga.

Terbuat dari apakah emak hingga bisa mengerjakan semua pekerjaan bahkan kadang berbarengan?
Ah emak manusia biasa kok. Kadang bisa meledak amarahnya. Emak cuma perempuan biasa yang juga perlu dimengerti oleh suami.

Emak juga bisa lelah, emak juga perlu istirahat, emak juga perlu refresing, emak juga perlu uang lebih, emak perlu ketenangan, emak perlu dipuji, disayangi dan diperhatikan.

Emak bukan asisten rumah tangga suami. Emak bukan pula budaknya. Emak adalah ibu anak anak yang perlu dimuliakan. Teman hidup yang perlu disayangi, istri yang perlu dinafkahi.

Kuatkan emak dengan ilmu, fasilitasi ia belajar. Ajarkan ia aqidah yang lurus, akhlak yang terpuji. Jika ingin melihat emak cantik, senangkan hatinya, belikan produk penunjangnya. Jika ingin melihat emak baik pada anak, baik pulalah suami memperlakukan emak.

Bagaimana emak tergantung suami memperlakukannya.
Kalau suami ngak ngerti-ngerti juga, yah dinikmati saja, sambil terus berdoa semoga Allah lembutkan hatinya untuk mencintai dan menyayangi sepenuhnya apa yang ia punya.

Repost
#gumam_uni_yesi



10.2.20

Anakku....


Anakku....

Hidup adalah perjuangan.

Buatlah jejak -jejak langkah penuh hikmah dan nasehat. Jejak yang menjadi inspirasi, menjadi rujukan orang-orang yang berjalan setelahmu.

Anakku....

Buatlah Jejak-jejak langkah penuh warna, penuh ilmu, yang bisa menjadi cermin bagi orang yang juga ingin melewati jalan sepertimu.


Anakku...

Buatlah jejak-jejak langkah penuh makna yang terang dan jelas. Agar orang yang berjalan setelahmu menemukan cahaya kehidupannya.


Teruslah berjuang, walau seberat apapun jalan yang engkau lalui. Insya Allah semua akan indah pada akhirnya.



5.2.20

Seperti Layangan


Kita dulu amat sangat dekat, bahkan kita senafas dengannya. Lambat laun setelah ia kita lahirkan, sejak itu berlahan tapi pasti mulai ada jarak.

Tapi kita masih sangat dekat. Bagaimanapun marahnya kita padanya, ia tetap akan menghambur ke dalam pelukan kita. Ia masih berlari mengejar kita, ia masih memeluk dan tak ingin jauh.....
Waktu terus berlalu, anak-anak itu semakin besar. Seiring waktu anak-anak tidak lagi seperti dulu.

Mengapa ia menjadi sulit diatur, tidak mau nurut, sulit dinasehati, jika dibetulkan dia melawan, jika dimarahi dia naik pitam.

Semakin ia besar, semakin besar pula jarak dintara kita. Kisah kita pernah senafas dengannya seperti tidak pernah ada, cerita tentang ia berlari menghambur dalam pelukan kita seperti hilang begitu saja.



Ada apa?

Tidak sedikit orang tua yang mengalami seperti diatas. Orang tua dan anak menjadi seperti Tom dan Jerry. Perang terus, ribut terus, marahan terus.....

Saat anak bermetafosis menjadi aqil baligh, hormon-hormonnya berubah. Cara pandangnya berubah, lingkungannya berubah. Sedang kita masih menganggapnya bayi unyu-unyu yang bisa diatur semau kita. Sehingga muncullah gap diantara kita.

Jika tidak dikelola, anak itu akan semakin jauh. Kita semakin sulit mengarahkannya. Disinilah perlu seninya menjadi orang tua. Seperti main layang-layang, layanganya kita lepas, tapi talinya tetap dipegang.
 
Biarlah layang-layang terbang tinggi. Walau kita tidak bisa mengendalikan angin, tapi kita bisa mengendalikan talinya.


Tapi yang pasti jangan sampai layangan kita putus. Kita yang mesti mengendalikan layangan, bukan layangan yang mengendalikan kita apalagi dikendalikan orang lain.

#gumam_uni_yesi

Sumber foto: disini.



4.2.20

Mengapa Istri Mudah Marah, Cerewet, Stres Atau Hilang Kewarasannya?

Jika istri tertekan jiwanya, maka marah akan menjadi jalan keluarnya. Korban pertamanya adalah anak-anak. Entah itu dimarahin, dicubitin, dipukulin, diplototin, dihardik, dsb.

Jika suami istri terhambat komunikasinya, maka cerewet akan menjadi pelampiasannya. Jika istri stres karena banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan maka hilanglah kewarasannya.

Ada 2 macam model istri, yaitu istri yang bekerja atau istri yang full di rumah mengurus rumah tangga. Saya sudah mengalami dan menjalankan keduanya. Saya tahu betul bagaimana rasanya berada dalam kedua kondisi ini yang berpotensi membuat istri stres dan hilang kewarasannya jika tidak ada dukungan dari suaminya.

Persoalannya bukan pada bekerja atau tidaknya seorang istri yang membuat ia stres dan hilang kewarasannya, tapi pada tidak adanya dukungan suami. Suami tidak memberi kontribusi pada urusan domestik rumah tangga.



Suami cuek bebek, suami tidak mau tahu urusan dapur, tidak empati melihat anak rewel, tidak iba melihat istri kelelahan, tidak inisiatif melihat rumah berantakan. Istri yang stres juga bermula dari suami yang pelitnya minta ampun, suami yang marahnya sampi ke ubun-ubun, suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, suami yang tidak mampu menjaga pandangan.

Sebagai ibu bekerja yang berangkat pagi hari, tentulah istri setiap pagi pontang panting menyiapkan sarapan, mempersiapkan keperluan dan bekal anak ke sekolah, mempersiapkan keperluannya sendiri untuk ke kantor, belum lagi perlengkapan dan keperluan suaminya. Jika ada asisten rumah tangga, istri akan terbantu mengerjakan semua itu. Masalahnya tidak semua keluarga memiliki asisten rumah tangga. Saat seperti itu hadirlah wahai suami membantu tugas istri.

Misalnya, istri memasak, suami menyapu atau ngepel. Istri menyetrika baju, suami memandikan anak. Jadi saling membantu, saling menanggung beban, saling kerjasama.
Kebanyakannya, suami bangun telat, kalaupun bangun subuh, setelah sholat dia tidur lagi, jadilah istri pontang-panting menyiapkan segala sesuatunya. Belum lagi kalau anaknya rewel menangis atau berantem kakak adik.

Pulang kerja apakah istri bisa segera istirahat? Belum, karena masih ada prosesi makn malam yang harus disiapkan, masih ada piring yang harus dicuci. Belum lagi kalau anak-anak ada PR, belum lagi kalau mau ulangan atau menghadapi UN. Saat rempong seperti itu suminya asik nonton bola, main game atau berselancar di dunia maya. Akhirnya pelampiasannya ke anak, padahal anak tidak salah apa-apa. Akhirnya gampang marah, jadi stres dan hilang kewarasannya.

Yang lebih parahnya, sudahlah istri ikut bekerja membanting tulang membantu suami menafkahi rumah tangga, suami tidak ada lembut-lembutnya memperlakukan istri. Jangankan mau berempati dengan saling bekerja sama, mengucapkan Terimakasih saja tidak.

Ibu yang seharian di rumah lain lagi persoalannya. Seharian di rumah mengurus anak membuat istri bosan dan jemu. Jangan dikira mengurus anak itu mudah, ada-ada saja ulah anak itu. Mulai dari numpahin air, berantakin rumah, nangis, berantem, ngak mau ditinggal, nggak mau makan, sakit dsb. Sampai-sampai karena sibuk mengurus anak dan urusan domestik lainnya, istri tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, bahkan untuk sekedar selonjoran.

Jadi jangan buru-buru menyalahkan istri.
Jadilah pemimpin yang disegani istri, pemimpin yang menjadi teladan seluruh anggota keluarga.
Jika istri ada kekurangan, ajarkan dia. Jika istri ada salah, betulkan ia.
Beri ia ruang untuk belajar, ruang untuk tumbuh dan berkembang dan ruang untuk dirinya sendiri.

Muliakan istri kita, sayangi ia sebagaimana ayahnya menyayanginya di waktu kecil.
Istri yang bahagia akan mengurus rumah tangga dengan kualitas yang prima.
Istri yang tenang jiwanya akan menjadi ibu yang menyayangi anak-anak dengan sepenuh hatinya.
Istri yang dicintai dan disayangi sepenuh hati oleh suaminya akan menerima suaminya apa adanya dan menghormatinya seutuhnya.

#gumam_uni_yesi




5 Hal Agar Suami Mau Berubah


#gumam_uni_yesi
Dengan air mata berlinang, teman saya itu terus bercerita. “Saya sudah tidak tahan, Uni. Ingin rasanya bercerai, tapi kasihan anak-anak.

Saya lelah, saya yang mengerjakan semua, kerja juga, masak juga, ngurus anak juga. Sebenarnya saya ingin berhenti saja mengajar. Tapi suami saya selalu kurang memberi uang. Tidak jarang uang belanja dari saya juga. Uang sekolah anak dari saya juga.”

Suami saya tidak dekat dengan anak-anak. Jangankan menyuapi atau memandikan anak-anak, saat anak-anak mendekat untuk mengajak bermain dia bilang “Sana-sana, ayah sibuk.” Di rumah dia asik dengan laptop dan HP nya.”

Uni, saya merasa sendirian mengurus rumah tangga, bagaimana melibatkan suami agar mau bekerja sama, minimal mau membantu mengurus keperluan anak-anak?

______

Itu curhat lama dari seorang teman.

Sebagai ibu bekerja waktu itu, saya merasakan bagaimana rempongnya teman saya itu.
Melibatkan suami dalam urusan parenting dan rumah tangga memang tidak mudah. Ini berawal dari pola asuh yang tidak tepat dalam keluarganya. Berawal dari mindset salah yang terbawa dari lingkungannya bahwa tugas mengurus anak, tugas masak memasak, cuci mencuci dsb adalah tugas perempuan. Padahal membuat anak berdua, padahal ia juga makan, pakaiannya juga dicuci dan ia tinggal di rumah yang sama.

Betul agama mewajibkan suami bertugas mencari nafkah, tapi agama tidak pernah mewajibkan istri mengerjakan urusan domestik, tidak mewajibkan istri mengurus anak sendirian. Yang wajib bagi perempun adalah menyusui. Betul ibu adalah madrasatul ula, tapi ayah adalah kepala madrasahnya. Bukan berarti setelah dikasih nafkah selesai tugas suami, apalagi kalau nafkahnya kurang.

Apakah kita menerima saja suami kita seperti cerita di atas? Itu pilihan kita masing-masing, tergantung nilai apa yang ingin kita bangun dalam rumah tangga.

Tidak ada manusia yang tidak bisa berubah. Jika kita sama-sama mau belajar, mau membuka diri dan terus menerus mengingatkan suami untuk aware dengan kelurganya, saya yakin ia akan berubah. Karena suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Baik buruk rumah tangga itu akan dimintakan tanggung jawab pemimpinnya.

Yang dapat kita lakukan jika menghadapi suami seperti itu adalah :



1. Terus menerus mendokannya. Jika perlu disepertiga malam, sambil menangis berdoalah dengan suara yang terdengar olehnya. Setelah itu usab wajahnya, cium kening dan pipinya. Jika dia terbangun, berikan senyum yang paling manis. Katakan, “Sholat malam yuk bang.”
Setiap hari seperti itu. Tunjukan kebaikan kita, tunjukkan kesholehan kita, tunjukkan pengabdian dan pelayanan terbaik kita padanya. Fitrah manusia itu lembut. Ia akan lembut jika diperlakukan dengan lembut.

2. Ajak diskusi. Pilih waktu yang tepat, misalnya saat hendak bercumbu atau setelah bercumbu. Di tempat tidur adalah waktu yang terbaik membicarakan banyak hal. Jadikan diskusi sebagai kebisaan rutin berdua. Banyak-banyak ngobrol, mulai dari hal yang ringan sampai yang berat. Kalau suami pendiam, pancing dia dengan pertanyaan. Lihatkan antusiasme kita jika dia sedang berbicara. Intinya ngobrol.

3. Belajar bersama. Tidak ada sesuatu yang berhasil tanpa ilmu. Begitupun menjadi orang tua. Ajak suami ikut seminar parenting, mendengarkan atau menonton acara parenting, ikut komunitas parenting, baca artikel parenting. Kalau dia tidak mau, kita aja yang share ke suami, kirim lewat WA, setelah itu kasih emoticon Love.
Sesuaikan ilmu parenting yang telah kita dapat dengan nilai yang kita anut dalam keluarga. Kalau baik ambil, kalau tidak cocok abaikan. Simpelkan, yang penting mau belajar.

4. Sabar. Sabar itu tidak ada batasnya. Ubah mindset kita, jangan katakan kita rugi punya suami dia, tapi bersyukurlah dan katakan inilah ladang amal kita. Ini tugas saya diberikan sang pencipta yaitu membersamai suami yang tidak se pemikiran dengan saya. Jalani proses ini, suatu saat misi kita akan berhasil, suami kita akan menjadi apa yang kita harapkan. Karena bagi Allah mudah saja mengabulkan doa kita, Allah hanya ingin melihat kita berjuang.

5. Jangan tunjukkan kita superior darinya. Sekali-kali kita musti tega tidak masak seharian jika tidak ada uang belanja yang ia berikan. Biarkan anak tidak bayar SPP. Jangan terus terusan dibantu agar suami kita berfikir. Ingat cerita oshin? Ini yang dilakukan oshin hingga akhirnya suaminya tersadar tidak lagi mau mengandalkan uang istrinya.

Untuk memutus rantai suami seperti itu, sejak dini anak laki-laki kita sebaiknya perlu kita ajarkan keterampilan domestik.

Anak laki-laki kami saya suruh nyebokin dan ganti diapers adiknya yang berusi 20bln, saya minta nyuapin adiknya, buang sampah, nyuci piring, menyapu, masak (minimal telor), dsb. Kalau nyuci pakaian sekarang ada mesin, tapi ia harus terbiasa mengeluarkan kain dari mesin dan menjemurnya. Harus tega sebagai bentuk ikhtiar untuk kehidupannya yang lebih baik nantinya.

31.1.20

Reward dan punishment, perlukah?

 “Bunda, maafkan Kakak". Anak saya yang paling besar menghampiri, tanganya menjabat tangan saya dan iapun memeluk. Sayapun menyambut tangan itu dan memeluk lebih erat lagi. Kamipun menangis. Saya menjelaskan kepadanya kenapa dia mendapat hukuman malam itu. Dia mengerti, dan berkali kali mengaku khilaf dan meminta maaf. Dia berusaha memberi penjelasan mengapa sikapnya seperti itu malam itu. Sayapun meminta maaf padanya. Saya katakan, maafkan Bunda, bantu bunda mendidik Kakak dan Adek adek sesuai yang mereka inginkan. Dan saya berjanji padanya akan menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

Orang tua sebaiknya memiliki ketegasan dan berwibawa dihadapan anak anaknya. Jika tidak anak anak akan kurang penghormatamya, berani menentang dan mudah melawan orang tua.
Ketika anak anak kita berbuat baik, sepantasnya mereka mendapat reward. Sebaliknya jika mereka melakukan kesalahan setelah diingatkan, konsekwensinya mereka juga mendapat hukuman atau punishment.

"Barang siapa yang melakukan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barang siapa yang melakukan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (Q.S. al-Zalzalah : 7-8)

Hadits tentang Rasulullah SAW memberikan hadiah kepada anak-anak. Rasulullah SAW pernah membariskan ‘Abdullah, ‘Ubaidillah, dan sejumlah anak-anak paman beliau, ‘Abbas r.a. dalam satu barisan. Kemudian beliau bersabda,”Barangsiapa yang lebih dahulu sampai padaku, maka dia akan mendapatkan anu dan anu. Mereka pun berlomba lari menuju ke tempat Nabi SAW berada. Setelah sampai kepadanya, ada yang memeluk punggungnya dan ada pula yang memeluk dadanya dan Nabi menciumi mereka serta menepati janji kepada mereka." (HR. Ahmad, Musnad Bani Hasyim 1739).



Mengenai seperti apa balasan, hadiah atau reward yang akan kita berikan kepada anak bisa disesuaikan dengna kemampuan orang tua atau berdasarkan besar kecilnya capaian dan usaha yang telah dilakukan anak. Tidak semua capaian tersebut harus diberi reward sebagaimana tidak semua juga kesalahan anak kita beri hukuman. Semua tergantung kondisi orang tua dan anak.

Mengenai hukuman atau punishment ada hadis nabi yang menjelaskan hal tersebut. Hal ini jika dilakukan jika anak belum melaksanakan syariat pada batas usia tertentu, "Ajarilah anak sholat oleh kalian sejak usia 7 tahun dan pukullah dia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, ad-Darami)

Tahapan pemberian hukuman ini disesuaikan dengan umur anak. Tidak tiba tiba diberi hukuman. Ada prosesnya, misalnya kita sudah melakukan transfer nilai nilai kebaikan, sudah dicontohkan, diberi tahu dulu, diajarkan dulu, dimotivasi dulu, sudah dibiasakan, dan sudah dibuat perjanjian terlebihdulu.
Sehingga anak tidak kaget dan melakukan perlawanan apalagi sampai membenci dan kasar ke orang tuanya. Tapi karena kelalaianya, karena egonya, anak anak melakukan kesalahan, kemudian mereka kita beri hukuman, mereka akan memahami. Mereka akan bisa menerima kenapa mereka dihukum.


Adapun tujuan diberi Reward adalah untuk :
1. Memberikan penghargaan kepada anak.
2. Memberikan kasih sayang.
3 Menguatkan kebiasaan baik pada anak.
4. Sebagai bentuk perhatian orang tua pada anak.

 Sedangkan Punisment diberikan bertujuan untuk:
1. Agar anak tidak mengulangi kebiasaan yang tidak baik yang dilakukanya.
2. Anak tau mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
3. Memberikan pelajaran kepada anak.
4. Sebagai bentuk perhatian orang tua pada anak.


 Reward atau hadiah terbaik dari orang tua kepada anak anaknya adalah kasih sayang dan cinta yang tak bertepi berupa adab yang baik. Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidaklah seorang ayah memberikan hadiah kepada anaknya yang lebih utama dari hadiah adab yang baik.” (HR. Hakim)
Reward juga tidak harus berupa benda, memberi pujian, senyuman, pelukan, ucapan terimakasih itu juga sudah merupakan hadiah terindah bagi anak.

Sebaliknya ketika anak kita melakukan kesalahan, sebaiknya kita tetap dapat mengontrol emosi kita dengan tidak mencela apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan padanya. Imam Ghazali Rah.a. mengatakan, “Jangan Anda banyak mencela anak, karena dia akan menjadi terbiasa dengan celaan. Akhirnya dia akan bertambah berani melakukan keburukan, dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi.” (Ihya’ Ulumuddin)

—————-
Materi Parenting Session Fahima Jepang, Jumat, 31 Januari 2020, pukul 19.00 JST

Nasehat

Sebagai manusia biasa sempat ada rasa khawatir meninggalkan jabatan dan juga mengajar di 3 paskasarjana, juga khawatir kehilangan “panggung”.

Khawatir karena kalau pulang ke Padang nanti belum tentu semuanya akan kembali diraih. Karena doktor dan orang-orang baru pasti akan bermunculan.

“Apalah arti jabatan, apalah arti karier, apalah arti panggung jika semua itu tidak mendekatkan diri kita kepada Allah, tidak mengharmoniskan hubungan kita dengan keluarga.”

“Lagi pula mengapa kita tidak percaya akan janji Allah, jika kita bertakwa Allah yang akan membereskan dan menjamin kehidupan kita.”

Itu nasehat yang saya dapatkan.
Masya Allah benar sekali.
Kita perlu nasehat untuk menguatkan, kita perlu nasehat agar hati kita lembut, kita perlu nasehat agar hati kita tenang.


#gumam_uni_yesi



30.1.20

Mendidik anak sejatinya adalah mendidik diri kita sendiri

Mendidik anak sejatinya adalah mendidik diri kita sendiri.
Mengajari anak sesungguhnya kita sedang mengajari diri kita sendiri.
Anak adalah cerminan orang tuanya.
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Anak melakukan apa yang ia lihat. Children do, children see.
Hari ini kita menginginkan anak yang sholeh.
Pertanyaanya sudahkah kita dilihat anak sebagai orang tua yang sholeh?

Kita ingin anak yang sabar, kita sendiri belum sabar menghadapi gejolak jiwanya, masih emosional menghadapi kesalahannya, masih sering marah-marah. 

Sudahkah kita dilihat anak sebagai orang tua yang sabar?


29.1.20

Rahasia Istri Dicintai Suaminya


Siapa yang tidak kenal bapak Mardani Ali Sera, politikus yang acap kali tampil di ILC. Doktor teknik lulusan Malaysia ini ternyata sangat lihai berbicara masalah keluarga. Pantas beliau diundang dalam acara talk show keluarga di Nagoya, Jepang, tahun 2019 lalu.

Kebetulan saya diundang juga sebagai salah satu pembicara, sepanggung dengan beliau di acara itu. Acara itu diadakan oleh Partai Keadialn Sejahtera (PKS).
Pada suatu moment, saya duduk disebelah seorang perempuan. Dari wajahnya terlihat dia lebih tua dari saya. Kerutan di wajahnya sudah mulai terlihat. Penampilannya sangat sederhana, jilbab dan pakaiannya sangat sederhana, tidak ada make up tebal menghiasi wajahnya, seperti umumnya istri pejabat.

Ah, saya jadi ingat guru-guru saya zaman old, para umahat yang tawadhu. Dari mereka saya belajar arti kesederhanaan.


Saat ngobrol dengan beliau, saya menangkap sesuatu yang cantik dan berbobot dari perempuan itu. Bicaranya lugas dan kaya nilai-nilai religi. Saya yakin dia bukan orang sembarangan. Dia bercerita sudah punya menantu walau anaknya masih kuliah. Mereka membiayai hidup sendiri dari mengajar mengaji. Rupanya anak dan menantunya Hafidz 30 juz. Menikah secara sederhana saja katanya.


Rupanya perempuan itu adalah istri pak Mardani.
Masya Allah, sebagai seorang anggota DPR tentulah ia bisa mengadakan pesta besar untuk anaknya, tapi mereka memilih cara sederhana, yang penting bukan pestanya tapi keberkahannya katanya. Masya Allah benar sekali, anak mesti diajarkan kemandirian dan kesederhanaan sejak dini. Kita orang tua berkewajiban membuat anak-anak kita mukalaf sesuai waktunya.

Tiba-tiba pak Mardani datang menghampiri tempat duduk kami.
Hai, Say” sapanya pada istrinya.
Dalam hati saya, keren juga pasangan ini, panggilannya “Say”. Pastilah pak Mardani sangat mencintai istrinya. Itu terlihat dari bagaimana ia memandang dan meraih tangan istrinya untuk diajak keliling melihat stand penjualan berbagai produk di lokasi acara.

Masya Allah, begitulah rahasia seorang istri. Jangan dikira laki-laki itu mencintai perempuan dari fisiknya saja. Kecantikan bisa pupus, yang langsing bisa melebar.

Kesholehahan, kecerdasan dan pengorbanan seorang istri dapat membuat suami “tergila-gila.”
Kata pak Mardani, saya suka perempun yang bisa mendidik anak-anaknya.

Saya pikir bukan hanya beliau yang suka istri seperti itu, semua suami pasti inginnya istrinya bisa melakukan itu. Pandai mendidik anak, sholehah, cerdas, enak diajak ngobrol, mau berkorban, apalagi kalau ditambah cantik dan glowing, masya Allah.

Betul juga judul talks show itu, jika karena Allah kita menikah, semua akan indah.

Yuk continuous improvement, update ilmu pengetahuan dan wawasannya kita.
Tingkatkan kesholehahan kita dan banyak-banyak belajar.
Saya yakin jika seorang suami “tergila-gila” pada istrinya, bidadaripun akan cemburu.
Rumah tangga itu akan diliputi sakinah mawadah warahmah....

#gumam_uni_yesi


28.1.20

Setinggi-Tinggi Perempuan Sekolah



Sejak kecil kita dididik oleh orang tua, disekolahkan hingga ke jenjang sarjana. Kadang orang tua kita tidak punya uang, asal kita mau, ia rela banting tulang, atau bahkan terpaksa berhutang demi membiayai kita hingga perguruan tinggi.

Orang tua berharap kelak kita dapat mandiri, bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Itu sudah cukup baginya.

Setelah itu kita menikah. Tanpa terasa satu persatu anak kita lahir. Kadang demi melihat kita sukses, orang tua kita mau menggantikan peran kita mengasuh anak. Kita bekerja, anak-anak diasuh neneknya.

Tapi tidak semua cucu bisa diasuh neneknya. Entah karena sudah sepuh, atau karena tidak mau memberatkan orang tua (lagi), sebagian kita terpaksa melepaskan karier demi anak-anak. Sebagian lagi bergumul antara karier, anak, dan keluarga.



Persamaannya adalah, setinggi-tingginya perempuan sekolah, pada akhirnya berlabuh di sumur, dapur dan kasur juga. Setinggi-tingginya pendidikan perempuan dia akan bertemu dengan hamil, melahirkan dan menyusui. Sehebat-hebatnya seorang perempuan, ia akan berhadapan dengan popok, rengekkan bahkan mungkin mencret dan muntah bayi.

Sayangnya, pendidikan formal tidak mempersiapkan perempuan terlatih menghadapi semua ini. Perempuan tidak dipersiapkan menghadapi profesi penting dan mulia ini.

Maka tidak heran, ada ibu yang akhirnya takluk pada makanan instan atau makanan cepat saji. Jadilah anak-anak zaman modern ini memiliki orang tua sarjana tapi ia kekurangan gizi. Orang tuanya banting tulang kesana kemari pergi pagi pulang malam mencari uang tapi anaknya terus-terusan tidak mau makan.

Pada akhirnya saya percaya, yang dibutuhkan anak bukan hanya ibu yang bergelar sarjana. Jangan merasa cukup bergelar S1, S2 dan S3. Tapi yang jauh lebih penting dari itu, anak-anak membutuhkan ibu yang rendah hati. Ibu yang mau menurunkan ego dan ambisi pribadinya.

Anak-anak memerlukan ibu yang lembut, yang mau belajar Kerumahtanggaan, ibu yang mau sabar melayani anak-anaknya dan siap terbang bersama menuju sakinah mawadah warahmah dan berlabuh di syurga Firdaus.

Tidak mudah, tapi tidak juga sulit asal kita mau berkorban, berikhtiar dan berdoa bersama-sama. Semoga kita sekeluarga berkumpul di syurga....

 
#gumam_uni_yesi

#selfreminder


27.1.20

Istri Cerewet


Mungkin ini salju terakhir kami di Kanazawa, karena qadarullah tahun ini salju tidak turun. Foto diambil 2019, lokasinya percis di belakang apartemen subsidi milik pemerintah yang kami sewa dengan harga 1/4 dari harga apartemen yang kami sewa sebelumnya.

Tidak terasa memasuki tahun ke 4 saya menemani suami di sini. Semoga ini tahun terakhir. Kami di sini hidup penuh perjuangan, penuh suka dan duka, penuh canda dan tawa, kadang ada tangis dan air mata.

Di sini juga anggota keluarga kami bertambah dengan kehadiran seorang bayi laki-laki lucu. Semua itu harus kami bayar dengan harga yang sangat mahal. Waktu dan kesempatan yang banyak hilang dari suami dalam membersamai anak-anak kami. Saya berusaha memaklumi, sebagai PhD student, kewajiban utamanya di sini adalah belajar.


Dia bertanggung jawab pada negara yang membiayai dan juga pada instansi tempatnya bekerja yang memberi rekomendasi. Disamping itu tanggung jawabnya sebagai penyeru manusia kepada Allah juga menguras energi dan pikirannya. Saya mencoba memaklumi semua itu. Tapi sebagai istri dan juga ibu yang perlu partner kerja membimbing anak-anak, saya harus berani mengingatkannya bahwa tidak ada kewajiban yang lebih utama dan besar tangguh jawabnya selain menjadi orang tua.

Abi, anak-anak lebih mengutamakan Abi ketimbang bangsa dan negara, ketimbang tempat Abi bekerja. Tidak ada kita, negara ini akan terus berjalan, Unand akan terus mengadakan PBM. Dan tentang agama ini, Allah yang akan menjaga serta memenangkannya. Tapi tidak dengan anak-anak kita. Anak-anak kita sangat bergantung dengan kita. Anak-anak membutuhkan perhatian kita sekarang ini, mereka butuh kasih sayang kita. Mereka tidak punya substitusi selain kita orang tuanya. Mereka akan terus tumbuh. Kalau bukan kita yang mendidiknya, predator di luar sana yang akan menerkamnya.

Saya termasuk istri yang cerewet, biarin.
Karena kalau bukan saya yang mengingatkan Suami saya untuk mengalokasikan waktu berkualitasnya untuk anak-anak kami, siapa lagi?

Abi, untuk apa kita sekolah tinggi-tinggi, untuk apa kita didik anak orang, kita berdakwah sana-sini, tapi anak kita kehilangan kasih sayang orang tuanya, anak kita kehilangan figur ayah ibunya. Anak kita kesepian, anak kita salah pergaulan, anak kita dididik internet. Untuk apa kita kerja keras sekarang, tapi anak kita kehilangan contoh dan tauladan. Abi, jangan sampai ketika hidup kita sudah mapan, anak-anak sudah besar, ternyata mereka tidak bisa lagi kita nasehati, hatinya tidak lagi bisa kita sentuh.”

Saya terus berceloteh, saya menangkap suatu tekad di matanya. Kemudian kami berdiskusi tentang anak SMP yang bunuh diri di sekolahnya. Apapun yang terjadi pada anak kita, orang tualah yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya.
Lingkungan tidak kalah dahsyatnya menjadi instrumen mempengaruhi anak-anak kita.
Kita berkejaran dengan waktu. Kalau tidak kita yang kuat pengaruhnya kepada anak, maka lingkunganlah yang akan membentuknya.

Hanya kepada Allah kita panjatkan doa, agar meredam nafsu-nafsu dunia kita.
Berkarya dan meningkatkan kompetensi itu penting, tapi jangan lupakan mendidik anak-anak dengan sepenuh cinta, dengan pikiran yang waras, pengetahuan yang terus bertambah, waktu yang berkualitas, dan finansial yang cukup serta kesabaran yang tiada batas.

Walhualam bishowab. Self Reminder.
#gumam_uni_yesi


25.1.20

Untuk Renungan Orang Tua


Ayah dan ibu mari sama-sama kita hantarkan buah hati kita menjadi manusia pelaku sejarah yang kuat memikul beban peradaban, manusia yang sukses lagi mulia, selaras aqil dan balighnya.

Ditanganmu tempat belajar yang utama dan pertama.
Engkau yang akan dijadikannya rule model, jadilah orang yang fokus, iya fokus pada perkembangan fitrahnya.

#selfreminder

24.1.20

Agar Aqil dan Baligh Anak Selaras Datangnya


Perlahan tapi pasti anak anak kita yang kecil hari ini akan tumbuh menjadi manusia dewasa.
Dalam agama dinamakan Aqil Baligh. "Aqil" berarti berakal. Dikatakan berakal jika anak anak kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Baligh" berarti sampai, yaitu telah sampai pada umur dimana beban dan tanggung jawab syariat telah dibebankan kepadanya, oleh karena itu catatan amalan perbuatannya mulai dicatat oleh malaikat.

Ketika anak anak kita sudah mencapai tahap ini berlakulah hukum Islam pada diri mereka.
Antara aqil dan baligh semestinya berbarengan lahirnya. Sehingga tidak terjadi dalam diri anak kita orang dewasa yang kekanak-kanakan jiwa dan mentalnya. Jangan sampi anak kita sudah baligh tapi belum bisa membedakan mana yang boleh dalam agama, mana yang tidak. Jangan sampai dia belum bisa mengurus dirinya sendiri.

Aqil dan baligh pada laki laki ditandai dengan "mimpi basah" dan pada perempuan ditandai dengan sudah "menstruasi". Setiap anak tidak sama waktu aqil balighnya, kira kira usia 9 sampai 15 tahun. Jika terlalu cepat atau terlalu lambat bisa jadi disebabkan karena nutrisi yang lebih baik, stress karena lingkungan dan bahan kimia yang teralu banyak dikonsumsi dalam makanan.


Ada kalanya anak anak itu sudah aqil, tetapi belum baligh. Begitu juga sebaliknya. Pola asuh dan lingkungan bisa jadi penyebab tidak selarasnya kedua hal ini. Harapannya antara aqil dan baligh sebaiknya selaras datangnya.

Pada zaman Rasulullah atau para sahabat usia belasan tahun sudah memiliki pemikiran yang tajam dan jauh ke depan. Bahkan diantara mereka sudah ada yang menjadi pemimpin perang.

Misalnya Usamah r.a. Ketika usianya 18 tahun ia sudah diamanahi untuk memimpin pasukan perang kaum Muslimin melawan tentara Romawi. la berkulit hitam dan memiliki nama lengkap Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abd Al-Uzza Al-Kalbi. la juga biasa dipanggil Abu Muhammad. la memiliki gelar Hibb Rasulullah (jantung hati Rasulullah) dan Ibnu Hibb Rasulullah (putra dari jantung hati Rasulullah). Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah r.a, anak angkat Rasulullahyang sangat beliau cintai. Ibunya adalah Ummu Aiman, seorang budak hitam yang mengasuh Muhammad kecil dan dimerdekakan oleh Rasulullah saw.

Luar biasa. Apakah gerangan yang telah dilakukan orang tua Usamah hingga bisa membentuk kepribadian muslim yang utuh pada diri Usamah. Apa pula yang dilakukan Rasulullah sehingga pemuda itu bisa memimpin perang dalam usia yang masih sangat muda?

Lihatlah pemuda hari ini, apa kira kira yang bisa dilakukan anak anak usia belasan tahun hari ini? Yang kita tahu secara finansial anak anak seusia Usamah masih sangat tergantung pada orang tua. Keimanan anak anak kita masih labil, ini terlihat tingginya anak anak usia segitu yang melakukan sex bebas, narkoba, dan tawuran.

Mungkinkah kita bisa melahirkan anak anak yang memiliki prestasi gemilang? Anak anak yang kecintaan dan ketakutannya begitu tinggi kepada Allah. Anak anak yang pemikiranya melesat jauh ke depan. Anak anak yang telah memiliki kebebasan fiannsial, minimal tidak tergantung lagi pada orang tuanya?

Anak anak seperti itu yang kita rindukan. Mudah mudahan lahir dari keluarga keluarga kita. Untuk itu sebagai orang tua saya berusaha maksimal, berusaha menemukan potensi unggul mereka, memfasilitasi berbagai upaya bagi kreatifitas mereka.

Apa yang mesti kita lakukan agar aqil baligh itu selaras datangnya? Seperti kata Rasulullah ajarkan anak kita tentang 3 hal.

1. Berkuda
Maknanya luas, bukan hanya sekedar bisa mengendarai kuda secara fisik. Mengendarai kuda bisa berarti skill of life. Kita perlu mengajarkan anak keterampilan hidup. Keterampilan mengambil keputusan, ketrampilan mencari uang, keterampilan bermuamalah, ketrampilan berumah tangga dll.

2. Berenang
Berenang dapat bermakna survival of life. Kita mesti mengajarkan bagaimana agar anak bisa bertahan dalam segala kondisi kehidupan. Maka penting mengajarkannya hidup “susah” agar ia tahu bahwa hidup ini harus berjuang.

3. Memanah
Memanah dapat diartikan keterampilan menentukan target prioritas dalam hidup. Bagaimana kita mengarahkan anak agar memiliki target hidup dan bekerja keras mencapai targetnya.

Sedangkan Ali bin Abi Thalib memberikan pesan kepada kira agar membagi pola asuh kedalam tiga tahap.

1. Tujuh tahun pertama
Tujuh tahun pertama ini maksudnya adalah pola asuh untuk usia 0-7 tahun. Pada saat ini perlakukan anak seperti putra mahkota. Tahap ini anak sedang mengalami pertumbuhan emas. Orang tua perlu memberikan perhatian penuh agar tumbuh kembang anak optimal dikemudian hari.

2. Tujuh tahun kedua
Pada usia 7-14 tahun perlakukan anak seperti tawanan perang. Pada saat ini ajarkan kemandirian kepada anak. Pada tahap ini logika anak tumbuh pesat. Aqil baligh muncul pada tahap ini. Imam syafi’i mengecek pakaian dalam anak laki-lakinya pada tahap ini untuk mengetahui apakah anaknya sudah mimpi basah atau belum.

3. Tujuh tahun ketiga
Pada tahap ini perlakukan anak seperti layaknya sahabat. Jadilah sahabat yang menyenangkan.
Yang terakhir dan sangat penting adalah, sebagai orang tua kita mesti memiliki ketaqwaan kepada Allah dan memiliki perkataan yang lurus agar kita dapat menjalankan profesi sebagai orang tua dengan baik sehingga dapat mengantarkan anak-anak kita pada fase aqil dan baligh secara selaras.

Walahualambishowab.
————
Materi Parenting Session Fahima Jepang