31.1.20

Reward dan punishment, perlukah?

 “Bunda, maafkan Kakak". Anak saya yang paling besar menghampiri, tanganya menjabat tangan saya dan iapun memeluk. Sayapun menyambut tangan itu dan memeluk lebih erat lagi. Kamipun menangis. Saya menjelaskan kepadanya kenapa dia mendapat hukuman malam itu. Dia mengerti, dan berkali kali mengaku khilaf dan meminta maaf. Dia berusaha memberi penjelasan mengapa sikapnya seperti itu malam itu. Sayapun meminta maaf padanya. Saya katakan, maafkan Bunda, bantu bunda mendidik Kakak dan Adek adek sesuai yang mereka inginkan. Dan saya berjanji padanya akan menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

Orang tua sebaiknya memiliki ketegasan dan berwibawa dihadapan anak anaknya. Jika tidak anak anak akan kurang penghormatamya, berani menentang dan mudah melawan orang tua.
Ketika anak anak kita berbuat baik, sepantasnya mereka mendapat reward. Sebaliknya jika mereka melakukan kesalahan setelah diingatkan, konsekwensinya mereka juga mendapat hukuman atau punishment.

"Barang siapa yang melakukan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barang siapa yang melakukan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (Q.S. al-Zalzalah : 7-8)

Hadits tentang Rasulullah SAW memberikan hadiah kepada anak-anak. Rasulullah SAW pernah membariskan ‘Abdullah, ‘Ubaidillah, dan sejumlah anak-anak paman beliau, ‘Abbas r.a. dalam satu barisan. Kemudian beliau bersabda,”Barangsiapa yang lebih dahulu sampai padaku, maka dia akan mendapatkan anu dan anu. Mereka pun berlomba lari menuju ke tempat Nabi SAW berada. Setelah sampai kepadanya, ada yang memeluk punggungnya dan ada pula yang memeluk dadanya dan Nabi menciumi mereka serta menepati janji kepada mereka." (HR. Ahmad, Musnad Bani Hasyim 1739).



Mengenai seperti apa balasan, hadiah atau reward yang akan kita berikan kepada anak bisa disesuaikan dengna kemampuan orang tua atau berdasarkan besar kecilnya capaian dan usaha yang telah dilakukan anak. Tidak semua capaian tersebut harus diberi reward sebagaimana tidak semua juga kesalahan anak kita beri hukuman. Semua tergantung kondisi orang tua dan anak.

Mengenai hukuman atau punishment ada hadis nabi yang menjelaskan hal tersebut. Hal ini jika dilakukan jika anak belum melaksanakan syariat pada batas usia tertentu, "Ajarilah anak sholat oleh kalian sejak usia 7 tahun dan pukullah dia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, ad-Darami)

Tahapan pemberian hukuman ini disesuaikan dengan umur anak. Tidak tiba tiba diberi hukuman. Ada prosesnya, misalnya kita sudah melakukan transfer nilai nilai kebaikan, sudah dicontohkan, diberi tahu dulu, diajarkan dulu, dimotivasi dulu, sudah dibiasakan, dan sudah dibuat perjanjian terlebihdulu.
Sehingga anak tidak kaget dan melakukan perlawanan apalagi sampai membenci dan kasar ke orang tuanya. Tapi karena kelalaianya, karena egonya, anak anak melakukan kesalahan, kemudian mereka kita beri hukuman, mereka akan memahami. Mereka akan bisa menerima kenapa mereka dihukum.


Adapun tujuan diberi Reward adalah untuk :
1. Memberikan penghargaan kepada anak.
2. Memberikan kasih sayang.
3 Menguatkan kebiasaan baik pada anak.
4. Sebagai bentuk perhatian orang tua pada anak.

 Sedangkan Punisment diberikan bertujuan untuk:
1. Agar anak tidak mengulangi kebiasaan yang tidak baik yang dilakukanya.
2. Anak tau mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
3. Memberikan pelajaran kepada anak.
4. Sebagai bentuk perhatian orang tua pada anak.


 Reward atau hadiah terbaik dari orang tua kepada anak anaknya adalah kasih sayang dan cinta yang tak bertepi berupa adab yang baik. Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidaklah seorang ayah memberikan hadiah kepada anaknya yang lebih utama dari hadiah adab yang baik.” (HR. Hakim)
Reward juga tidak harus berupa benda, memberi pujian, senyuman, pelukan, ucapan terimakasih itu juga sudah merupakan hadiah terindah bagi anak.

Sebaliknya ketika anak kita melakukan kesalahan, sebaiknya kita tetap dapat mengontrol emosi kita dengan tidak mencela apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan padanya. Imam Ghazali Rah.a. mengatakan, “Jangan Anda banyak mencela anak, karena dia akan menjadi terbiasa dengan celaan. Akhirnya dia akan bertambah berani melakukan keburukan, dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi.” (Ihya’ Ulumuddin)

—————-
Materi Parenting Session Fahima Jepang, Jumat, 31 Januari 2020, pukul 19.00 JST

Nasehat

Sebagai manusia biasa sempat ada rasa khawatir meninggalkan jabatan dan juga mengajar di 3 paskasarjana, juga khawatir kehilangan “panggung”.

Khawatir karena kalau pulang ke Padang nanti belum tentu semuanya akan kembali diraih. Karena doktor dan orang-orang baru pasti akan bermunculan.

“Apalah arti jabatan, apalah arti karier, apalah arti panggung jika semua itu tidak mendekatkan diri kita kepada Allah, tidak mengharmoniskan hubungan kita dengan keluarga.”

“Lagi pula mengapa kita tidak percaya akan janji Allah, jika kita bertakwa Allah yang akan membereskan dan menjamin kehidupan kita.”

Itu nasehat yang saya dapatkan.
Masya Allah benar sekali.
Kita perlu nasehat untuk menguatkan, kita perlu nasehat agar hati kita lembut, kita perlu nasehat agar hati kita tenang.


#gumam_uni_yesi



30.1.20

Mendidik anak sejatinya adalah mendidik diri kita sendiri

Mendidik anak sejatinya adalah mendidik diri kita sendiri.
Mengajari anak sesungguhnya kita sedang mengajari diri kita sendiri.
Anak adalah cerminan orang tuanya.
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Anak melakukan apa yang ia lihat. Children do, children see.
Hari ini kita menginginkan anak yang sholeh.
Pertanyaanya sudahkah kita dilihat anak sebagai orang tua yang sholeh?

Kita ingin anak yang sabar, kita sendiri belum sabar menghadapi gejolak jiwanya, masih emosional menghadapi kesalahannya, masih sering marah-marah. 

Sudahkah kita dilihat anak sebagai orang tua yang sabar?


29.1.20

Rahasia Istri Dicintai Suaminya


Siapa yang tidak kenal bapak Mardani Ali Sera, politikus yang acap kali tampil di ILC. Doktor teknik lulusan Malaysia ini ternyata sangat lihai berbicara masalah keluarga. Pantas beliau diundang dalam acara talk show keluarga di Nagoya, Jepang, tahun 2019 lalu.

Kebetulan saya diundang juga sebagai salah satu pembicara, sepanggung dengan beliau di acara itu. Acara itu diadakan oleh Partai Keadialn Sejahtera (PKS).
Pada suatu moment, saya duduk disebelah seorang perempuan. Dari wajahnya terlihat dia lebih tua dari saya. Kerutan di wajahnya sudah mulai terlihat. Penampilannya sangat sederhana, jilbab dan pakaiannya sangat sederhana, tidak ada make up tebal menghiasi wajahnya, seperti umumnya istri pejabat.

Ah, saya jadi ingat guru-guru saya zaman old, para umahat yang tawadhu. Dari mereka saya belajar arti kesederhanaan.


Saat ngobrol dengan beliau, saya menangkap sesuatu yang cantik dan berbobot dari perempuan itu. Bicaranya lugas dan kaya nilai-nilai religi. Saya yakin dia bukan orang sembarangan. Dia bercerita sudah punya menantu walau anaknya masih kuliah. Mereka membiayai hidup sendiri dari mengajar mengaji. Rupanya anak dan menantunya Hafidz 30 juz. Menikah secara sederhana saja katanya.


Rupanya perempuan itu adalah istri pak Mardani.
Masya Allah, sebagai seorang anggota DPR tentulah ia bisa mengadakan pesta besar untuk anaknya, tapi mereka memilih cara sederhana, yang penting bukan pestanya tapi keberkahannya katanya. Masya Allah benar sekali, anak mesti diajarkan kemandirian dan kesederhanaan sejak dini. Kita orang tua berkewajiban membuat anak-anak kita mukalaf sesuai waktunya.

Tiba-tiba pak Mardani datang menghampiri tempat duduk kami.
Hai, Say” sapanya pada istrinya.
Dalam hati saya, keren juga pasangan ini, panggilannya “Say”. Pastilah pak Mardani sangat mencintai istrinya. Itu terlihat dari bagaimana ia memandang dan meraih tangan istrinya untuk diajak keliling melihat stand penjualan berbagai produk di lokasi acara.

Masya Allah, begitulah rahasia seorang istri. Jangan dikira laki-laki itu mencintai perempuan dari fisiknya saja. Kecantikan bisa pupus, yang langsing bisa melebar.

Kesholehahan, kecerdasan dan pengorbanan seorang istri dapat membuat suami “tergila-gila.”
Kata pak Mardani, saya suka perempun yang bisa mendidik anak-anaknya.

Saya pikir bukan hanya beliau yang suka istri seperti itu, semua suami pasti inginnya istrinya bisa melakukan itu. Pandai mendidik anak, sholehah, cerdas, enak diajak ngobrol, mau berkorban, apalagi kalau ditambah cantik dan glowing, masya Allah.

Betul juga judul talks show itu, jika karena Allah kita menikah, semua akan indah.

Yuk continuous improvement, update ilmu pengetahuan dan wawasannya kita.
Tingkatkan kesholehahan kita dan banyak-banyak belajar.
Saya yakin jika seorang suami “tergila-gila” pada istrinya, bidadaripun akan cemburu.
Rumah tangga itu akan diliputi sakinah mawadah warahmah....

#gumam_uni_yesi


28.1.20

Setinggi-Tinggi Perempuan Sekolah



Sejak kecil kita dididik oleh orang tua, disekolahkan hingga ke jenjang sarjana. Kadang orang tua kita tidak punya uang, asal kita mau, ia rela banting tulang, atau bahkan terpaksa berhutang demi membiayai kita hingga perguruan tinggi.

Orang tua berharap kelak kita dapat mandiri, bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Itu sudah cukup baginya.

Setelah itu kita menikah. Tanpa terasa satu persatu anak kita lahir. Kadang demi melihat kita sukses, orang tua kita mau menggantikan peran kita mengasuh anak. Kita bekerja, anak-anak diasuh neneknya.

Tapi tidak semua cucu bisa diasuh neneknya. Entah karena sudah sepuh, atau karena tidak mau memberatkan orang tua (lagi), sebagian kita terpaksa melepaskan karier demi anak-anak. Sebagian lagi bergumul antara karier, anak, dan keluarga.



Persamaannya adalah, setinggi-tingginya perempuan sekolah, pada akhirnya berlabuh di sumur, dapur dan kasur juga. Setinggi-tingginya pendidikan perempuan dia akan bertemu dengan hamil, melahirkan dan menyusui. Sehebat-hebatnya seorang perempuan, ia akan berhadapan dengan popok, rengekkan bahkan mungkin mencret dan muntah bayi.

Sayangnya, pendidikan formal tidak mempersiapkan perempuan terlatih menghadapi semua ini. Perempuan tidak dipersiapkan menghadapi profesi penting dan mulia ini.

Maka tidak heran, ada ibu yang akhirnya takluk pada makanan instan atau makanan cepat saji. Jadilah anak-anak zaman modern ini memiliki orang tua sarjana tapi ia kekurangan gizi. Orang tuanya banting tulang kesana kemari pergi pagi pulang malam mencari uang tapi anaknya terus-terusan tidak mau makan.

Pada akhirnya saya percaya, yang dibutuhkan anak bukan hanya ibu yang bergelar sarjana. Jangan merasa cukup bergelar S1, S2 dan S3. Tapi yang jauh lebih penting dari itu, anak-anak membutuhkan ibu yang rendah hati. Ibu yang mau menurunkan ego dan ambisi pribadinya.

Anak-anak memerlukan ibu yang lembut, yang mau belajar Kerumahtanggaan, ibu yang mau sabar melayani anak-anaknya dan siap terbang bersama menuju sakinah mawadah warahmah dan berlabuh di syurga Firdaus.

Tidak mudah, tapi tidak juga sulit asal kita mau berkorban, berikhtiar dan berdoa bersama-sama. Semoga kita sekeluarga berkumpul di syurga....

 
#gumam_uni_yesi

#selfreminder


27.1.20

Istri Cerewet


Mungkin ini salju terakhir kami di Kanazawa, karena qadarullah tahun ini salju tidak turun. Foto diambil 2019, lokasinya percis di belakang apartemen subsidi milik pemerintah yang kami sewa dengan harga 1/4 dari harga apartemen yang kami sewa sebelumnya.

Tidak terasa memasuki tahun ke 4 saya menemani suami di sini. Semoga ini tahun terakhir. Kami di sini hidup penuh perjuangan, penuh suka dan duka, penuh canda dan tawa, kadang ada tangis dan air mata.

Di sini juga anggota keluarga kami bertambah dengan kehadiran seorang bayi laki-laki lucu. Semua itu harus kami bayar dengan harga yang sangat mahal. Waktu dan kesempatan yang banyak hilang dari suami dalam membersamai anak-anak kami. Saya berusaha memaklumi, sebagai PhD student, kewajiban utamanya di sini adalah belajar.


Dia bertanggung jawab pada negara yang membiayai dan juga pada instansi tempatnya bekerja yang memberi rekomendasi. Disamping itu tanggung jawabnya sebagai penyeru manusia kepada Allah juga menguras energi dan pikirannya. Saya mencoba memaklumi semua itu. Tapi sebagai istri dan juga ibu yang perlu partner kerja membimbing anak-anak, saya harus berani mengingatkannya bahwa tidak ada kewajiban yang lebih utama dan besar tangguh jawabnya selain menjadi orang tua.

Abi, anak-anak lebih mengutamakan Abi ketimbang bangsa dan negara, ketimbang tempat Abi bekerja. Tidak ada kita, negara ini akan terus berjalan, Unand akan terus mengadakan PBM. Dan tentang agama ini, Allah yang akan menjaga serta memenangkannya. Tapi tidak dengan anak-anak kita. Anak-anak kita sangat bergantung dengan kita. Anak-anak membutuhkan perhatian kita sekarang ini, mereka butuh kasih sayang kita. Mereka tidak punya substitusi selain kita orang tuanya. Mereka akan terus tumbuh. Kalau bukan kita yang mendidiknya, predator di luar sana yang akan menerkamnya.

Saya termasuk istri yang cerewet, biarin.
Karena kalau bukan saya yang mengingatkan Suami saya untuk mengalokasikan waktu berkualitasnya untuk anak-anak kami, siapa lagi?

Abi, untuk apa kita sekolah tinggi-tinggi, untuk apa kita didik anak orang, kita berdakwah sana-sini, tapi anak kita kehilangan kasih sayang orang tuanya, anak kita kehilangan figur ayah ibunya. Anak kita kesepian, anak kita salah pergaulan, anak kita dididik internet. Untuk apa kita kerja keras sekarang, tapi anak kita kehilangan contoh dan tauladan. Abi, jangan sampai ketika hidup kita sudah mapan, anak-anak sudah besar, ternyata mereka tidak bisa lagi kita nasehati, hatinya tidak lagi bisa kita sentuh.”

Saya terus berceloteh, saya menangkap suatu tekad di matanya. Kemudian kami berdiskusi tentang anak SMP yang bunuh diri di sekolahnya. Apapun yang terjadi pada anak kita, orang tualah yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya.
Lingkungan tidak kalah dahsyatnya menjadi instrumen mempengaruhi anak-anak kita.
Kita berkejaran dengan waktu. Kalau tidak kita yang kuat pengaruhnya kepada anak, maka lingkunganlah yang akan membentuknya.

Hanya kepada Allah kita panjatkan doa, agar meredam nafsu-nafsu dunia kita.
Berkarya dan meningkatkan kompetensi itu penting, tapi jangan lupakan mendidik anak-anak dengan sepenuh cinta, dengan pikiran yang waras, pengetahuan yang terus bertambah, waktu yang berkualitas, dan finansial yang cukup serta kesabaran yang tiada batas.

Walhualam bishowab. Self Reminder.
#gumam_uni_yesi


25.1.20

Untuk Renungan Orang Tua


Ayah dan ibu mari sama-sama kita hantarkan buah hati kita menjadi manusia pelaku sejarah yang kuat memikul beban peradaban, manusia yang sukses lagi mulia, selaras aqil dan balighnya.

Ditanganmu tempat belajar yang utama dan pertama.
Engkau yang akan dijadikannya rule model, jadilah orang yang fokus, iya fokus pada perkembangan fitrahnya.

#selfreminder

24.1.20

Agar Aqil dan Baligh Anak Selaras Datangnya


Perlahan tapi pasti anak anak kita yang kecil hari ini akan tumbuh menjadi manusia dewasa.
Dalam agama dinamakan Aqil Baligh. "Aqil" berarti berakal. Dikatakan berakal jika anak anak kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Baligh" berarti sampai, yaitu telah sampai pada umur dimana beban dan tanggung jawab syariat telah dibebankan kepadanya, oleh karena itu catatan amalan perbuatannya mulai dicatat oleh malaikat.

Ketika anak anak kita sudah mencapai tahap ini berlakulah hukum Islam pada diri mereka.
Antara aqil dan baligh semestinya berbarengan lahirnya. Sehingga tidak terjadi dalam diri anak kita orang dewasa yang kekanak-kanakan jiwa dan mentalnya. Jangan sampi anak kita sudah baligh tapi belum bisa membedakan mana yang boleh dalam agama, mana yang tidak. Jangan sampai dia belum bisa mengurus dirinya sendiri.

Aqil dan baligh pada laki laki ditandai dengan "mimpi basah" dan pada perempuan ditandai dengan sudah "menstruasi". Setiap anak tidak sama waktu aqil balighnya, kira kira usia 9 sampai 15 tahun. Jika terlalu cepat atau terlalu lambat bisa jadi disebabkan karena nutrisi yang lebih baik, stress karena lingkungan dan bahan kimia yang teralu banyak dikonsumsi dalam makanan.


Ada kalanya anak anak itu sudah aqil, tetapi belum baligh. Begitu juga sebaliknya. Pola asuh dan lingkungan bisa jadi penyebab tidak selarasnya kedua hal ini. Harapannya antara aqil dan baligh sebaiknya selaras datangnya.

Pada zaman Rasulullah atau para sahabat usia belasan tahun sudah memiliki pemikiran yang tajam dan jauh ke depan. Bahkan diantara mereka sudah ada yang menjadi pemimpin perang.

Misalnya Usamah r.a. Ketika usianya 18 tahun ia sudah diamanahi untuk memimpin pasukan perang kaum Muslimin melawan tentara Romawi. la berkulit hitam dan memiliki nama lengkap Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abd Al-Uzza Al-Kalbi. la juga biasa dipanggil Abu Muhammad. la memiliki gelar Hibb Rasulullah (jantung hati Rasulullah) dan Ibnu Hibb Rasulullah (putra dari jantung hati Rasulullah). Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah r.a, anak angkat Rasulullahyang sangat beliau cintai. Ibunya adalah Ummu Aiman, seorang budak hitam yang mengasuh Muhammad kecil dan dimerdekakan oleh Rasulullah saw.

Luar biasa. Apakah gerangan yang telah dilakukan orang tua Usamah hingga bisa membentuk kepribadian muslim yang utuh pada diri Usamah. Apa pula yang dilakukan Rasulullah sehingga pemuda itu bisa memimpin perang dalam usia yang masih sangat muda?

Lihatlah pemuda hari ini, apa kira kira yang bisa dilakukan anak anak usia belasan tahun hari ini? Yang kita tahu secara finansial anak anak seusia Usamah masih sangat tergantung pada orang tua. Keimanan anak anak kita masih labil, ini terlihat tingginya anak anak usia segitu yang melakukan sex bebas, narkoba, dan tawuran.

Mungkinkah kita bisa melahirkan anak anak yang memiliki prestasi gemilang? Anak anak yang kecintaan dan ketakutannya begitu tinggi kepada Allah. Anak anak yang pemikiranya melesat jauh ke depan. Anak anak yang telah memiliki kebebasan fiannsial, minimal tidak tergantung lagi pada orang tuanya?

Anak anak seperti itu yang kita rindukan. Mudah mudahan lahir dari keluarga keluarga kita. Untuk itu sebagai orang tua saya berusaha maksimal, berusaha menemukan potensi unggul mereka, memfasilitasi berbagai upaya bagi kreatifitas mereka.

Apa yang mesti kita lakukan agar aqil baligh itu selaras datangnya? Seperti kata Rasulullah ajarkan anak kita tentang 3 hal.

1. Berkuda
Maknanya luas, bukan hanya sekedar bisa mengendarai kuda secara fisik. Mengendarai kuda bisa berarti skill of life. Kita perlu mengajarkan anak keterampilan hidup. Keterampilan mengambil keputusan, ketrampilan mencari uang, keterampilan bermuamalah, ketrampilan berumah tangga dll.

2. Berenang
Berenang dapat bermakna survival of life. Kita mesti mengajarkan bagaimana agar anak bisa bertahan dalam segala kondisi kehidupan. Maka penting mengajarkannya hidup “susah” agar ia tahu bahwa hidup ini harus berjuang.

3. Memanah
Memanah dapat diartikan keterampilan menentukan target prioritas dalam hidup. Bagaimana kita mengarahkan anak agar memiliki target hidup dan bekerja keras mencapai targetnya.

Sedangkan Ali bin Abi Thalib memberikan pesan kepada kira agar membagi pola asuh kedalam tiga tahap.

1. Tujuh tahun pertama
Tujuh tahun pertama ini maksudnya adalah pola asuh untuk usia 0-7 tahun. Pada saat ini perlakukan anak seperti putra mahkota. Tahap ini anak sedang mengalami pertumbuhan emas. Orang tua perlu memberikan perhatian penuh agar tumbuh kembang anak optimal dikemudian hari.

2. Tujuh tahun kedua
Pada usia 7-14 tahun perlakukan anak seperti tawanan perang. Pada saat ini ajarkan kemandirian kepada anak. Pada tahap ini logika anak tumbuh pesat. Aqil baligh muncul pada tahap ini. Imam syafi’i mengecek pakaian dalam anak laki-lakinya pada tahap ini untuk mengetahui apakah anaknya sudah mimpi basah atau belum.

3. Tujuh tahun ketiga
Pada tahap ini perlakukan anak seperti layaknya sahabat. Jadilah sahabat yang menyenangkan.
Yang terakhir dan sangat penting adalah, sebagai orang tua kita mesti memiliki ketaqwaan kepada Allah dan memiliki perkataan yang lurus agar kita dapat menjalankan profesi sebagai orang tua dengan baik sehingga dapat mengantarkan anak-anak kita pada fase aqil dan baligh secara selaras.

Walahualambishowab.
————
Materi Parenting Session Fahima Jepang

23.1.20

Waktu yang Selalu Bergairah

 Dulu waktu saya masuk aktif di ranah publik, sering menangis dalam hati saat harus melepas mulut bayi yang terlelap menyusu dalam gendongan. Kadang saya sedikit memaksa melepaskan mulutnya dan dia menangis, saya pun menangis dalam hati. Kami menangis dalam situasi yang berat....

Maafin bunda ya, Nak.” Bunda harus ngajar, bunda ditunggu mahasiswa.
Maafin bunda ya, Nak.” Bunda mau rapat, bunda ditunggu di kampus.
dll...

Kadang saya terpaksa membuat mahasiswa kecewa karena membatalkan kuliah sepihak atau tidak datang rapat sebab anak tiba-tiba demam atau menangis kejer karena tidak mau dileps.
Ya Allah, dilema banget saat itu....

Saat itu saya tidak punya pilihan, saya harus mengajar karena terikat kontrak. Kini saat saya punya pilihan, saya memilih menikmati waktu membersamai si ganteng ini. Walau godaan bekerja agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya selalu datang....



Asal mau, mencari pekerjaan di Jepang ini tidaklah sulit. Tapi saya belum melakukannya sampai bayi ini selesai urusan ASI nya. Bukan karena saya malas, bukan juga karena sudah kebanyakan uang. Waktu dua tahun sangatlah singkat. Tidak akan pernah tergantikan kasih sayang ibu dalam setetes ASI....

Alhamdulillah Wa syukurillah ia tumbuh menjadi laki-laki yang sehat dan pintar. Setiap detik perkembangannya tidak pernah luput dari pantauan saya. Kami selalu memiliki waktu yang berkualitas berdua. Itu yang membuat saya selalu bergairah mengajaknya jalan-jalan walau di luar cuaca dingin menusuk tulang.

Kini ia sudah bisa mempersiapkan keperluannya untuk keluar rumah. Bagi saya ini sangat luar biasa.
Ryuzaki, jalan-jalan yuk,” ajak saya.
Segera ia mengambil jaketnya, kaus kaki dan sepatunya.
Gendongannya mana sayang?

Matanya nanar mencari gendongan batik yang biasa menemaninya jalan-jalan.
Ia menunjuk jarik yang tergantung. Masya Allah, anak sekecil ini sudah bisa nyambung diajak komunikasi.

Cuaca yang sangat dingin tidak membuatnya surut main ke taman.
Ditemani sedikit matahari, ia kesana kemari membelah angin yang dingin.
Masya Allah, nikmat Tuhan manakah lagi yang kamu dustakan?

#gumam_uni_yesi

Foto: guru-guru koen, 15 Januari 2020


19.1.20

Positive Thinking



Kadang kita terlalu cepat membuat kesimpulan dari apa yang kita lihat sesaat.

Jika pandangan kita sempit, hanya titik hitam yang terlihat.
Coba luaskan pandangan kita, lihatlah betapa lebih banyak hamparan putih terlihat dari gambar ini.

Kadang kita lebih cepat melihat kekurangan orang lain dari pada melihat dan menghargai kelebihannya. Padahal bisa jadi kelebihannya lebih banyak.

Positive thinking, tidak ada manusia yang sempurna, luaskan pandangan kita agar kita dapat menemukan ketenangan hidup di samudra kehidupan yang sangat luas ini.

#gumam_uni_yesi



17.1.20

Membangun Visi dan Misi Keluarga


Keluarga adalah sarana beribadah kepada Allah SWT, dimana orang tua diikat dengan tali pernikahan yang sangat berat dan erat.

Keluarga dibentuk untuk melahirkan generasi rabbani, generasi yang meninggikan kalimat Allah SWT, dimana seluruh anggota keluarga diharapkan memiliki pemahaman keislaman yang benar dan komprehensif, seperti memiliki akidah yang lurus, akhlak yang baik, ibadah yang benar, kemandirian financial dan mencintai ilmu serta gemar belajar.

Sehingga kelurga menjadi sarana dan investasi bagi rumah tangga tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Istri menjadi penenang hati suami, dan suami melindungi dan menafkahi seluruh anggota keluarga dengan rezeki yang halal.

Orang tua bisa dijadikan anak sebagai sahabat maupun guru. Serta anak bagi orang tua adalah qurataayun, penentram jiwa. Untuk itu harmonisasi dalam keluarga menjadi sebuah kemestian, dengan saling menjaga, menginggatkan, melindungi, menyayangi dan mencintai.


Seluruh anggota perlu memiliki kompetensi untuk mewujudkan itu semua. Kompetensi itu diterjemahkan dalam sebuah visi dan misi. Agar kapal yang bernama kelurga ini dapat berlayar sesuai rulenya dan tiba dengan selamat pada tujuan yang telah direncanakan.

Visi adalah rencana jangka pnjang yang diinginkan oleh sebuah kelurga. Visi tidak boleh berubah-ubah. Ia mesti mantap dan konsisten. Deskripsinya jelas, singkat dan padat.

Sedangkan misi adalah cara yang digunakan oleh kelurga agar visi dapat dicapai. Bisanya dalam bentuk kata kerja. Misi dapat berubah, ditambah, dikurangi, dimodifikasi.

Berikut ini adalah contoh visi dan misi keluarga Ardhiandra (Ardhian-Yesi Elsandra)

VISI: BERSAMA SELURUH KELUARGA MENUJU JANNAH NYA

MISI :
1. Mendidik anggota keluarga memahami agama Islam dengan benar dan komprehensif
2. Mendidik anggota keluarga memiliki akhlak yang baik
3. Mendidik anggota keluarga memiliki ibadah yang benar
4. Mendidik anggota keluarga memiliki kemandirian financial
5. Mendidik anggota keluarga mencintai ilmu dan gemar belajar
6. Memuliakan dan saling menyayangi seluruh anggota keluarga
————-
Materi Sharing Online FAHIMA (Forum Silaturahmi Musimah ) Jepang melalui aplikasi Line setiap hari Jumat.
Bagi yang tinggal di Jepang dan ingin bergabung di group silahkan kontak uni, sebutkan dimana domisili di Jepangnya.

16.1.20

Ayah, Ambilah Peran Yang Lebih Besar Dalam Mendidik Anak

Ketika ayah menjadi rule model bagi anak perempuan dalam memandang laki laki, maka anak perempuan tidak mudah tergoda pada lawan jenisnya apalagi dengan mudah menyerahkan kehormatannya dengan cuma cuma hanya atas nama nafsu belaka.

Begitu juga bagi anak laki-lakinya. Ayah menjadi modelnya dalam menjalankan hidup. Jika ayahnya memuliakan ibunya, sang anak laki-laki kelak pasti akan memuliakan juga perempuan yang dicintainya.

Tugas ayah memang mencari nafkah, tapi ayah lebih utama bertanggung jawab menjaga diri dan anggota keluarganya dari api neraka.

Maka jadilah ayah betulan, bukan kebetukan jadi ayah. Jadilah ayah yang diikuti tapak kakinya, didengar nasehatnya, dirindukan belaiannya.



Penyayang, pemaaf, pelipur lara, penguat hati, penyemangat hidup.
Bukan ayah yang pergi pagi pulang petang, pendapatan pas pasan, potong pajak penghasikan, pemarah, pelit pulak. Bukan juga ayah yang menyerahkan bulat-bulat pendidikan anak hanya pada ibu.

Seperti ayah ketahui, tugas ibu itu sudah cukup berat. Hamil itu berat, bahkan tidak jarang ada ibu yang mengalami baby blues, hilang kewarasannya karena seharin mengurus semua dari A-Z.

Mari kita jaga anak kita bersama-sama.
Ambilah peran lebih besar dalam mendidik anak. Karena di luar sana predator bisa memangsa siapa saja, khususnya anak-anak yang kehilangan kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya.
Bahkan seorang Hafidz Quran yang dibanggakan orang tuanya tidak luput menjadi korban.

#gumam_uni_yesi



15.1.20

Subsidi Atas Kenaikan Pajak Ala Jepang


Sejak 1 Oktober 2019, pemerintah Jepang menaikan tarif pajak konsumsi dari 8% menjadi 10%. Sosialisasi kenaikan pajak ini kurang lebih dilakukan selama 1 tahun.

Tidak tampak demo besar-besaran dari masyarakat khususnya mahasiswa atas kenaikan pajak ini. Mungkin karena sosialisasi yang telah lama dilakukan.

Karena kenaikan pajak ini, pemerintah Kota Kanazawa memberi subsidi berupa lembaran kupon. Kupon ini disediakan di tempat-tempat tertentu.

Kupon ini bisa menjadi alat transaksi diberbagai supermarket. Nilainya per lembar ¥500yang dapat kita beli dengan harga ¥400Jadi kita disubsidi sebesar ¥100. Semakin banyak kupon yang kita beli, maka semakin banyak kita mendapatkan subsidi.

Pajak bagi pemerintah Jepang adalah nafas kehidupannya. Tidak heran berbagai fasilitas tersedia karena pajak yang telah dibayarkan masyarakatnya.


Sistem informasi kependudukan yang telah terintegrasi memungkinkan pemerintah dengan mudah dapat memungut pajak. Setiap orang yang bekerja akan terekam jejak karier, dan penghasilannya.

Semakin besar penghasilan tentu pajak yang dibayar juga semakin besar. Beruntunglah mahasiswa asing yang sekolah di sini mendapat keringanan pajak.

Mengenai pajak, anak kami yang sekolah dasar menjelaskan dengan sangat detai bagaimana proses pemungutan pajak dan kemana pajak itu digunakan. Saya pikir ini hal yang positif.

Pemerintah perlu memberikan edukasi kepada masyarakat sejak dini akan pentingnya membayar pajak. Jika pajak itu tidak dikorupsi, peruntukannya jelas dan merata, saya yakin, Indonesia akan sejahtera.


14.1.20

Cara Allah Mengasihi Saya

Secara formal saya tidak pernah belajar apa-apa selain ilmu mananjemen di kampus.
Jika dulu pernah memandu siaran parenting di radio setiap pekan dan saat ini diminta menjadi pengisi tetap parenting class online di Jepang setiap pekan, itu bukan berarti saya pakar, bukan berarti juga saya hebat atau mengusai pola asuh anak. Sama sekali bukan....

Sebab sejatinya pola asuh itu tidak homogen.

Setiap keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri dalam mengasuh anak-anaknya.
Dan mendidik anak itu sangat personal. Jangankan menyamakan mendidik anak kita dengan anak orang lain, sesama anak dari satu rahim ibu saja berbeda pendekatan mendidiknya.

Hanya saja saya sepakat, kita mesti belajar.

Karena segala sesuatu harus dilandasi ilmu. Dan kesempatan mengisi parenting class online pada sebuah komunitas muslimah di Jepang adalah cara Allah mengasihi saya, agar saya terus belajar, dan belajar menjadi orang tua....

Do more, share more

#gumam_uni_yesi


13.1.20

Konten Sosial Media dan Pengaruhnya Terhadap Masa Depan

CareerBuilderdotcom melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa 45% perusahaan mencari tahu tentang latar belakang calon karyawannya dari sosial media.

Dulu, sebelum segalanya serba online, pendaftaran calon karyawan atau pegawai melalui pos. Perusahaan tidak memiliki akses untuk mengetahui latar belakang pelamar secara komprehensif kecuali melihat dari cover letter, resume dan curriculum vitae sang calon.

Kini, setelah segalanya serba online, siapa saja bisa melihat, mengetahui dan memberikan penilaian terhadap portofolio kita. Rekam jejak kita sangat mudah diketahui dalam hitungan detik. Tinggal masukkan nama seseorang maka informasi tentang orang tersebut akan sangat mudah diketahui.

Sosial mendia yang kita miliki adalah cerminan diri kita. Sosial media saat ini juga menjadi indikator menilai pribadi seseorang. Seseorang akan terlihat bagaimana kapasitasnya dari konten sosial media yang dimilikinya, termasuk foto-foto yang diposting dan dengan siapa saja ia berteman.



Jika rekam jejak sosial media kita hanya berisi ujaran kebencian, status emosional, status negatif, status selalu mengeluh, galak, judes, komentar nyinyir dan negatif serta foto-foto yang tidak pantas, maka HRD perusahaan tentu tidak akan tertarik, Walau IP kita tinggi. Mereka akan beranggapan kita adalah calon karyawan yang tidak bisa bekerjasama membangun nilai positif dalam perusahaan.

Begitupun dengan jodoh. Saat ini berapa banyak orang bertemu jodoh dari sosial media. Banyak juga kerjasama bisnis terjalin karena melihat rekam jejak seseorang dari sosial media. Jika sosial media kita berisi hal-hal yang positif, berisi portofolio yang mengagumkan, tentu orang akan simpatik dan tertarik.

Hidup ini tergantung bagaimana kita menempatkan diri.
Masa depan itu kita yang menentukan atas ijin Allah.
Buatlah jejak jejak penuh makna.
Torehkan catatan-catatan inspiratif.
Kita memang tidak sempurna, tapi tunjukkan kita adalah pribadi yang baik, mau belajar dan layak jika diajak bekerjasama.
Semua itu tercermin dari sosial media yang kita miliki.

#gumam_uni_yesi


8.1.20

Ingin Dikenang Sebagai Apa?

Bulan Mei 2003 kami menikah, bulan Agustus saya hamil. Sayang janinnya tidak tumbuh hingga harus dikuret disebuah rumah sakit swasta di Bandung.

Sebagai pasangan baru yang benar-benar ngak punya apa-apa, ngak punya uang tabungan banyak kecuali uang bulanan dari kampus yang telah memberi saya ijin studi doktoral dan gaji suami yang sangat kecil waktu itu, kami sangat galau.

Kami ambil seluruh uang yang ada di tabungan, mudah-mudahan cukup untuk biaya dokter dan rumah sakit, begitu saya berharap.

Tiba-tiba datang teman kuliah seangkatan saya di pascasarjana Unpad, uni Demsi Minar
dan uni Ratni Prima Lita ke rumah sakit.
Kedatangan keduanya merupakan dukungan moral buat saya, hilang sedikit kesedihan. Sebelum pulang uni Demsi memberi saya uang.

Yesi, Uni ada uang, pakai saja dulu, kapan saja boleh dikembalikan kalau Yesi udah ada uang.”
Nggak usah, Uni, Yesi ada uang kok.” Jawab saya.
Nggak papa, buat jaga-jaga aja.” Katanya sambil memasukkan uang kedalam genggaman saya.



Tahu saja uni Demsi kami pasangan baru yang hidup pas-pasan. Setelah ngobrol cukup lama, dua sahabat saya itu pergi karena ada keperluan lain.

Benar saja, ternyata uang di tangan kami tidak cukup. Biaya kuret melebihi perkiraan. Untung uni Demsi datang dan meminjamkan uangnya. Kalau tidak, tentu kami harus mencari pinjaman kesana kemari. Beberapa waktu kemudian uangny say kembalikan. Saya tidak akan pernah lupa kejadian itu. Uni Demsi memang orangnya sangat baik sekali.

Tidak saja kepada saya dia baik. Kepada seluruh orang yang dikenalnya dia sangat baik. Bicaranya lunak dan lembut. Silaturahminya kuat sekali. Selalu membawa “sesuatu” yang membuat kita terharu jika bersilaturahmi dengannya. Jika ke suatu kota dan di kota itu ada temannya, pasti temannya itu akan dikunjunginya dan tidak ketinggalan membawa oleh-oleh.

Begitu juga ketika ia ke Padang 2013 lalu. Ia ingin sekali bertemu.
Uni, rumah Yesi jauh, jalannya sempit. Biar Yesi aja ke tempat uni.”
Nggak papa, Uni pengin ngajak mama jalan-jalan.” Jawabnya.

Uni Demsi adalah dosen senior di Universitas Sangga Buana, Bandung. Waktu itu ia pulang ke kampungnya di Bukittinggi dan ingin silaturahmi.

Benar saja, saya terharu sekali. Karena sebenarnya mamanya sudah sepuh dan sulit berjalan. Tapi uni Demsi sabar membawa mamanya ke rumah saya. Banyak oleh-oleh yang dibawakannya untuk anak-anak kami.

Teman-teman kami di group sangat kehilangan beliau. Postingan-postingannya selalu nasehat yang inspiratif. Kami mengenalnya sebagai sahabat yang sangat baik. Ada teman saya mengatakan ia teman yang paking baik sedunia.

Orang jahat dan baik pasti akan pergi menemui penciptanya.
Kita bebas memilih ingin menjadi orang jahat yang disyukuri kematiannya atau arang baik yang ditangisi kematiannya?

Kita bebas memilih, catatan negatif yang akan kita tinggalkan atau catatan positif yang inspiratif?
Kita bebas memilih, ingin dikenang sebagai apa kita jika kematian itu datang.
Sahabat yang yang baik atau sebaliknya?

Tulisan-tulisan kita, status-status kita, komentar-komentar kita ingin dikenang sebagai apa? Kitalah yang menentukannya kini.....

Innalilahi Wainnailaihi Rojiun.
Semoga husnul khatimah sahabat.
Kami sangat bersedih dan kehilangan.


#gumam_uni_yesi

Foto: 7 Januari 2013


7.1.20

PR, Perlu atau Tidak?


Hari ini adalah hari pertama anak-anak sekolah di Jepang setelah Fuyu Yasumi (libur musim dingin). Libur kurang lebih dua minggu. Selama liburan PR (Pekerjaan Rumah) anak-anak banyaknya minta ampun.

Berbeda dengan negara Finlandia yang jarang memberi PR kepada siswa, Jepang termasuk negara yang royal memberi PR. Setiap hari ada PR, walau libur PR tidak pernah libur. Faktanya kedua negara ini sama-sama maju.

Dari sekian banyak, Ada 2 PR siswa kelas 1 SMP yang menarik bagi saya. Ini adalah PR selama libur. Pertama PR memasak. Anak diminta membuat suatu menu. Kemudian anak diminta menjelaskan bagaimana resep, proses membuat dan tidak lupa foto masakan ditempel pada sebuah kertas. Kemudian orang lain diminta memberi komentar di dalam kertas tersebut tentang bagaimana rasa masakan anak tersebut.

Saya diminta anak kami menulis komentar di kertas itu. Walaupun sebenarnya agak gosong, tetap saya tulis “Oishi” yang dalam bahasa Jepangnya berarti enak. Karena memang rasanya enak, hanya bawang bombainya saja yang sedikit gosong.


PR kedua yang menarik menurut saya adalah, anak diminta mewawancarai seseorang yang memiliki profesi. Kebetulan yang menjadi objek pertanyaan adalah saya. Walaupun saat ini saya “hanya” ibu rumah tangga, di Indonesia saya ibu bekerja.

Diantara pertanyaannya, mengapa memilih profesi itu, bagaimana agar bisa memiliki profesi itu, apa yang dilakukan ketika kuliah agar bisa memiliki profesi itu, apa yang menyenangkan dari profesi itu, apa yang tidak menyenangkan dari profesi itu, dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Wah menarik juga ya PR nya. Anak jadi memiliki kreatifitas dan imajinasi. Anak juga menjadi memiliki jiwa investigasi dan kritis.

Menurut saya sebagaimana halnya obat, PR bisa membantu, bisa juga membuat anak jemu, tergantung bagaimana PR nya dan bagaimana sudut pandang kita melihatnya.

#gumam_uni_yesi


Godaan Wanita

Berkali-kali saya buka situs belanja Amazon. Biasanya tahun baru diskonnya gila-gilaan. Saya buka situsnya trus tutup lagi, begitu berulang-ulang, saya ragu. Ya Allah jauhkanlah saya dari godaan setan yang terkutuk, godaan belanja tepatnya.

Saya tertarik pada sebuah tas branded asal negara Amerika. Harga normalnya kalau dirupiahkan masih hitungan juta, belum puluhan juta atau ratusan juta seperti tas Inces atau tas istri pejabat. Dengan pemasukan ¥ seperti sekarang ini, harga segitu sangat terjangkau kantong kami.

Bi, ini aja ya Bi, diskonnya gede banget ini. Bunda oke kan ya Bi.” Tanya saya pada suami.
Terserah Bunda aja.” Jawabnya singkat.

Wanita mana yang tidak tergoda tas branded, cantik, lagi diskon besar pulak. Terbayang pasti akan keren sekali memakai tas ini. Terbayang orang akan berdecak kagum. Terbayang jika dipakai pasti akan meningkatkan percaya diri, meningkatkan penampilan dan orang-orang akan memandang kagum dan bergumam wow.....

Walau suami sudah oke, tangan saya tidak juga melanjutkan transaksi. Rasanya kok sayang beli tas mahal banget. Memang modelnya cantik, branded, diskon besar pulak lagi, tetap saja masih jutaan.
Tiba-tiba saya ingat nasehat seorang ustadz. Kalau penghasilan kita bertambah, jangan naikkan gaya hidup kita. Tapi naikkan zakat infak dan sadaqohnya.

Tidak salah punya tas mahal dan bermerek, tapi cocok tidak dengan jiwa dan kepribadian kita? Begitu kurang lebih yang saya ingat nasehatnya. Nah loh...

Betul juga, setelah ditimbang-timbang akhirnya saya tidak jadi beli tas itu sampai harganya kembali normal. Saya tidak menyesal. Belum prioritas beli tas branded sekarang, nggak tau kalau nanti.

Saya ingat tas hijau yang saya bawa dari Padang sejak 2016. Itu tas goodie bag dari sebuah acara yang saya isi.

Tasnya sederhana tapi terlihat elegan, muatnya banyak dan masih kuat sampai sekarang. Tas sederhana itu yang saya bawa kemana-mana di sini karena cocok dengan kepribadian saya.
Jika dengan tas itu saja saya sudah percaya diri, kenapa harus tergoda dengan tas mahal?

#gumam_uni_yesi

6.1.20

Matematika Allah


Beberapa hari ini suami sedang tidak enak badan, jadi beliau belum bisa ke bank mengambil uang untuk keperluan hidup kami sehari-hari. Biasanya saya diberi uang 3 bulan sekali, karena beasiswa cairnya juga 3 bulan sekali.

Januari ini jadwal uang bulanan sampai Maret. Tapi karena suami belum bisa keluar, dikasihlah ATMnya. “Nih Bun, Bunda ambil aja sebanyak yang biasa Abi kasih,” ujarnya sambil menyodorkan ATM Hokoku Bank.

Kami tidak ada rahasia soal PIN. Jadi saya tidak perlu bertanya berapa PIN ATM nya.
Apakah saya mengambil uang suami sebanyak banyaknya? Tidak. Bahkan saya tidak berani mengambil “jatah” 3 bulan yang sudah diijinkannya. Saya hanya ambil seperlunya.

Persoalan rumah tangga tidak jarang terjadi karena tidak terbukanya pasangan soal keuangan. Kadang suami sebagai pencari nafkah tidak memberikan informasi yang lengkap dan jelas mengenai penerimaan keuangan.

Kadang ada juga suami yang pelit sekali ke istri seolah olah istri adalah orang lain yang kalau ATM nya di pegang istri kelak akan dikuras uangnya untuk foya foya. Istri dikasih uang pas-pasan hanya untuk belanja dapur saja. Padahal nafkah itu bukan hanya uang dapur saja loh.



Kalau suami terbuka khususnya mengenai keuangan kepada istrinya maka akan terbuka juga pintu rezeki bagi kelurga itu. Sebaliknya kalau suami tertutup soal keuangan maka akan tertutup juga rezeki keluarga tersebut.

Kalau suami memberi kepercayaan kepada istri mengelola keuangan, percaya menyerahkan ATM, Allah juga akan memberi kepercayaan kepada kelurga tersebut soal keuangan. Akan lancar dan mudah saja rezeki keluarga itu.

Tidak perlu perhitungan dan hitung-hitungan soal uang dengan istri. Istri juga tidak perlu mengatur suami yang ingin memberi uang kepada orang tua dan saudaranya.

Kalau suami royal memberi pada orang tuanya, Allah juga akan royal memberi rezeki pada keluarga kita. Kalau suami memuliakan ibunya dan istrinya meridhoinya, pasti malaikat juga akan menuntun suami memuliakan dan meridhoi istrinya. Semuanya berhubungan secara simultan.

Kalau suami istri saling percaya, percayalah, akan terbuka pintu-pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Begitulah matematika Allah.

#gumam_uni_yesi