24.1.20

Agar Aqil dan Baligh Anak Selaras Datangnya


Perlahan tapi pasti anak anak kita yang kecil hari ini akan tumbuh menjadi manusia dewasa.
Dalam agama dinamakan Aqil Baligh. "Aqil" berarti berakal. Dikatakan berakal jika anak anak kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Baligh" berarti sampai, yaitu telah sampai pada umur dimana beban dan tanggung jawab syariat telah dibebankan kepadanya, oleh karena itu catatan amalan perbuatannya mulai dicatat oleh malaikat.

Ketika anak anak kita sudah mencapai tahap ini berlakulah hukum Islam pada diri mereka.
Antara aqil dan baligh semestinya berbarengan lahirnya. Sehingga tidak terjadi dalam diri anak kita orang dewasa yang kekanak-kanakan jiwa dan mentalnya. Jangan sampi anak kita sudah baligh tapi belum bisa membedakan mana yang boleh dalam agama, mana yang tidak. Jangan sampai dia belum bisa mengurus dirinya sendiri.

Aqil dan baligh pada laki laki ditandai dengan "mimpi basah" dan pada perempuan ditandai dengan sudah "menstruasi". Setiap anak tidak sama waktu aqil balighnya, kira kira usia 9 sampai 15 tahun. Jika terlalu cepat atau terlalu lambat bisa jadi disebabkan karena nutrisi yang lebih baik, stress karena lingkungan dan bahan kimia yang teralu banyak dikonsumsi dalam makanan.


Ada kalanya anak anak itu sudah aqil, tetapi belum baligh. Begitu juga sebaliknya. Pola asuh dan lingkungan bisa jadi penyebab tidak selarasnya kedua hal ini. Harapannya antara aqil dan baligh sebaiknya selaras datangnya.

Pada zaman Rasulullah atau para sahabat usia belasan tahun sudah memiliki pemikiran yang tajam dan jauh ke depan. Bahkan diantara mereka sudah ada yang menjadi pemimpin perang.

Misalnya Usamah r.a. Ketika usianya 18 tahun ia sudah diamanahi untuk memimpin pasukan perang kaum Muslimin melawan tentara Romawi. la berkulit hitam dan memiliki nama lengkap Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abd Al-Uzza Al-Kalbi. la juga biasa dipanggil Abu Muhammad. la memiliki gelar Hibb Rasulullah (jantung hati Rasulullah) dan Ibnu Hibb Rasulullah (putra dari jantung hati Rasulullah). Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah r.a, anak angkat Rasulullahyang sangat beliau cintai. Ibunya adalah Ummu Aiman, seorang budak hitam yang mengasuh Muhammad kecil dan dimerdekakan oleh Rasulullah saw.

Luar biasa. Apakah gerangan yang telah dilakukan orang tua Usamah hingga bisa membentuk kepribadian muslim yang utuh pada diri Usamah. Apa pula yang dilakukan Rasulullah sehingga pemuda itu bisa memimpin perang dalam usia yang masih sangat muda?

Lihatlah pemuda hari ini, apa kira kira yang bisa dilakukan anak anak usia belasan tahun hari ini? Yang kita tahu secara finansial anak anak seusia Usamah masih sangat tergantung pada orang tua. Keimanan anak anak kita masih labil, ini terlihat tingginya anak anak usia segitu yang melakukan sex bebas, narkoba, dan tawuran.

Mungkinkah kita bisa melahirkan anak anak yang memiliki prestasi gemilang? Anak anak yang kecintaan dan ketakutannya begitu tinggi kepada Allah. Anak anak yang pemikiranya melesat jauh ke depan. Anak anak yang telah memiliki kebebasan fiannsial, minimal tidak tergantung lagi pada orang tuanya?

Anak anak seperti itu yang kita rindukan. Mudah mudahan lahir dari keluarga keluarga kita. Untuk itu sebagai orang tua saya berusaha maksimal, berusaha menemukan potensi unggul mereka, memfasilitasi berbagai upaya bagi kreatifitas mereka.

Apa yang mesti kita lakukan agar aqil baligh itu selaras datangnya? Seperti kata Rasulullah ajarkan anak kita tentang 3 hal.

1. Berkuda
Maknanya luas, bukan hanya sekedar bisa mengendarai kuda secara fisik. Mengendarai kuda bisa berarti skill of life. Kita perlu mengajarkan anak keterampilan hidup. Keterampilan mengambil keputusan, ketrampilan mencari uang, keterampilan bermuamalah, ketrampilan berumah tangga dll.

2. Berenang
Berenang dapat bermakna survival of life. Kita mesti mengajarkan bagaimana agar anak bisa bertahan dalam segala kondisi kehidupan. Maka penting mengajarkannya hidup “susah” agar ia tahu bahwa hidup ini harus berjuang.

3. Memanah
Memanah dapat diartikan keterampilan menentukan target prioritas dalam hidup. Bagaimana kita mengarahkan anak agar memiliki target hidup dan bekerja keras mencapai targetnya.

Sedangkan Ali bin Abi Thalib memberikan pesan kepada kira agar membagi pola asuh kedalam tiga tahap.

1. Tujuh tahun pertama
Tujuh tahun pertama ini maksudnya adalah pola asuh untuk usia 0-7 tahun. Pada saat ini perlakukan anak seperti putra mahkota. Tahap ini anak sedang mengalami pertumbuhan emas. Orang tua perlu memberikan perhatian penuh agar tumbuh kembang anak optimal dikemudian hari.

2. Tujuh tahun kedua
Pada usia 7-14 tahun perlakukan anak seperti tawanan perang. Pada saat ini ajarkan kemandirian kepada anak. Pada tahap ini logika anak tumbuh pesat. Aqil baligh muncul pada tahap ini. Imam syafi’i mengecek pakaian dalam anak laki-lakinya pada tahap ini untuk mengetahui apakah anaknya sudah mimpi basah atau belum.

3. Tujuh tahun ketiga
Pada tahap ini perlakukan anak seperti layaknya sahabat. Jadilah sahabat yang menyenangkan.
Yang terakhir dan sangat penting adalah, sebagai orang tua kita mesti memiliki ketaqwaan kepada Allah dan memiliki perkataan yang lurus agar kita dapat menjalankan profesi sebagai orang tua dengan baik sehingga dapat mengantarkan anak-anak kita pada fase aqil dan baligh secara selaras.

Walahualambishowab.
————
Materi Parenting Session Fahima Jepang

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment