8.1.20

Ingin Dikenang Sebagai Apa?

Bulan Mei 2003 kami menikah, bulan Agustus saya hamil. Sayang janinnya tidak tumbuh hingga harus dikuret disebuah rumah sakit swasta di Bandung.

Sebagai pasangan baru yang benar-benar ngak punya apa-apa, ngak punya uang tabungan banyak kecuali uang bulanan dari kampus yang telah memberi saya ijin studi doktoral dan gaji suami yang sangat kecil waktu itu, kami sangat galau.

Kami ambil seluruh uang yang ada di tabungan, mudah-mudahan cukup untuk biaya dokter dan rumah sakit, begitu saya berharap.

Tiba-tiba datang teman kuliah seangkatan saya di pascasarjana Unpad, uni Demsi Minar
dan uni Ratni Prima Lita ke rumah sakit.
Kedatangan keduanya merupakan dukungan moral buat saya, hilang sedikit kesedihan. Sebelum pulang uni Demsi memberi saya uang.

Yesi, Uni ada uang, pakai saja dulu, kapan saja boleh dikembalikan kalau Yesi udah ada uang.”
Nggak usah, Uni, Yesi ada uang kok.” Jawab saya.
Nggak papa, buat jaga-jaga aja.” Katanya sambil memasukkan uang kedalam genggaman saya.



Tahu saja uni Demsi kami pasangan baru yang hidup pas-pasan. Setelah ngobrol cukup lama, dua sahabat saya itu pergi karena ada keperluan lain.

Benar saja, ternyata uang di tangan kami tidak cukup. Biaya kuret melebihi perkiraan. Untung uni Demsi datang dan meminjamkan uangnya. Kalau tidak, tentu kami harus mencari pinjaman kesana kemari. Beberapa waktu kemudian uangny say kembalikan. Saya tidak akan pernah lupa kejadian itu. Uni Demsi memang orangnya sangat baik sekali.

Tidak saja kepada saya dia baik. Kepada seluruh orang yang dikenalnya dia sangat baik. Bicaranya lunak dan lembut. Silaturahminya kuat sekali. Selalu membawa “sesuatu” yang membuat kita terharu jika bersilaturahmi dengannya. Jika ke suatu kota dan di kota itu ada temannya, pasti temannya itu akan dikunjunginya dan tidak ketinggalan membawa oleh-oleh.

Begitu juga ketika ia ke Padang 2013 lalu. Ia ingin sekali bertemu.
Uni, rumah Yesi jauh, jalannya sempit. Biar Yesi aja ke tempat uni.”
Nggak papa, Uni pengin ngajak mama jalan-jalan.” Jawabnya.

Uni Demsi adalah dosen senior di Universitas Sangga Buana, Bandung. Waktu itu ia pulang ke kampungnya di Bukittinggi dan ingin silaturahmi.

Benar saja, saya terharu sekali. Karena sebenarnya mamanya sudah sepuh dan sulit berjalan. Tapi uni Demsi sabar membawa mamanya ke rumah saya. Banyak oleh-oleh yang dibawakannya untuk anak-anak kami.

Teman-teman kami di group sangat kehilangan beliau. Postingan-postingannya selalu nasehat yang inspiratif. Kami mengenalnya sebagai sahabat yang sangat baik. Ada teman saya mengatakan ia teman yang paking baik sedunia.

Orang jahat dan baik pasti akan pergi menemui penciptanya.
Kita bebas memilih ingin menjadi orang jahat yang disyukuri kematiannya atau arang baik yang ditangisi kematiannya?

Kita bebas memilih, catatan negatif yang akan kita tinggalkan atau catatan positif yang inspiratif?
Kita bebas memilih, ingin dikenang sebagai apa kita jika kematian itu datang.
Sahabat yang yang baik atau sebaliknya?

Tulisan-tulisan kita, status-status kita, komentar-komentar kita ingin dikenang sebagai apa? Kitalah yang menentukannya kini.....

Innalilahi Wainnailaihi Rojiun.
Semoga husnul khatimah sahabat.
Kami sangat bersedih dan kehilangan.


#gumam_uni_yesi

Foto: 7 Januari 2013


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment