27.1.20

Istri Cerewet


Mungkin ini salju terakhir kami di Kanazawa, karena qadarullah tahun ini salju tidak turun. Foto diambil 2019, lokasinya percis di belakang apartemen subsidi milik pemerintah yang kami sewa dengan harga 1/4 dari harga apartemen yang kami sewa sebelumnya.

Tidak terasa memasuki tahun ke 4 saya menemani suami di sini. Semoga ini tahun terakhir. Kami di sini hidup penuh perjuangan, penuh suka dan duka, penuh canda dan tawa, kadang ada tangis dan air mata.

Di sini juga anggota keluarga kami bertambah dengan kehadiran seorang bayi laki-laki lucu. Semua itu harus kami bayar dengan harga yang sangat mahal. Waktu dan kesempatan yang banyak hilang dari suami dalam membersamai anak-anak kami. Saya berusaha memaklumi, sebagai PhD student, kewajiban utamanya di sini adalah belajar.


Dia bertanggung jawab pada negara yang membiayai dan juga pada instansi tempatnya bekerja yang memberi rekomendasi. Disamping itu tanggung jawabnya sebagai penyeru manusia kepada Allah juga menguras energi dan pikirannya. Saya mencoba memaklumi semua itu. Tapi sebagai istri dan juga ibu yang perlu partner kerja membimbing anak-anak, saya harus berani mengingatkannya bahwa tidak ada kewajiban yang lebih utama dan besar tangguh jawabnya selain menjadi orang tua.

Abi, anak-anak lebih mengutamakan Abi ketimbang bangsa dan negara, ketimbang tempat Abi bekerja. Tidak ada kita, negara ini akan terus berjalan, Unand akan terus mengadakan PBM. Dan tentang agama ini, Allah yang akan menjaga serta memenangkannya. Tapi tidak dengan anak-anak kita. Anak-anak kita sangat bergantung dengan kita. Anak-anak membutuhkan perhatian kita sekarang ini, mereka butuh kasih sayang kita. Mereka tidak punya substitusi selain kita orang tuanya. Mereka akan terus tumbuh. Kalau bukan kita yang mendidiknya, predator di luar sana yang akan menerkamnya.

Saya termasuk istri yang cerewet, biarin.
Karena kalau bukan saya yang mengingatkan Suami saya untuk mengalokasikan waktu berkualitasnya untuk anak-anak kami, siapa lagi?

Abi, untuk apa kita sekolah tinggi-tinggi, untuk apa kita didik anak orang, kita berdakwah sana-sini, tapi anak kita kehilangan kasih sayang orang tuanya, anak kita kehilangan figur ayah ibunya. Anak kita kesepian, anak kita salah pergaulan, anak kita dididik internet. Untuk apa kita kerja keras sekarang, tapi anak kita kehilangan contoh dan tauladan. Abi, jangan sampai ketika hidup kita sudah mapan, anak-anak sudah besar, ternyata mereka tidak bisa lagi kita nasehati, hatinya tidak lagi bisa kita sentuh.”

Saya terus berceloteh, saya menangkap suatu tekad di matanya. Kemudian kami berdiskusi tentang anak SMP yang bunuh diri di sekolahnya. Apapun yang terjadi pada anak kita, orang tualah yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya.
Lingkungan tidak kalah dahsyatnya menjadi instrumen mempengaruhi anak-anak kita.
Kita berkejaran dengan waktu. Kalau tidak kita yang kuat pengaruhnya kepada anak, maka lingkunganlah yang akan membentuknya.

Hanya kepada Allah kita panjatkan doa, agar meredam nafsu-nafsu dunia kita.
Berkarya dan meningkatkan kompetensi itu penting, tapi jangan lupakan mendidik anak-anak dengan sepenuh cinta, dengan pikiran yang waras, pengetahuan yang terus bertambah, waktu yang berkualitas, dan finansial yang cukup serta kesabaran yang tiada batas.

Walhualam bishowab. Self Reminder.
#gumam_uni_yesi


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment