7.1.20

PR, Perlu atau Tidak?


Hari ini adalah hari pertama anak-anak sekolah di Jepang setelah Fuyu Yasumi (libur musim dingin). Libur kurang lebih dua minggu. Selama liburan PR (Pekerjaan Rumah) anak-anak banyaknya minta ampun.

Berbeda dengan negara Finlandia yang jarang memberi PR kepada siswa, Jepang termasuk negara yang royal memberi PR. Setiap hari ada PR, walau libur PR tidak pernah libur. Faktanya kedua negara ini sama-sama maju.

Dari sekian banyak, Ada 2 PR siswa kelas 1 SMP yang menarik bagi saya. Ini adalah PR selama libur. Pertama PR memasak. Anak diminta membuat suatu menu. Kemudian anak diminta menjelaskan bagaimana resep, proses membuat dan tidak lupa foto masakan ditempel pada sebuah kertas. Kemudian orang lain diminta memberi komentar di dalam kertas tersebut tentang bagaimana rasa masakan anak tersebut.

Saya diminta anak kami menulis komentar di kertas itu. Walaupun sebenarnya agak gosong, tetap saya tulis “Oishi” yang dalam bahasa Jepangnya berarti enak. Karena memang rasanya enak, hanya bawang bombainya saja yang sedikit gosong.


PR kedua yang menarik menurut saya adalah, anak diminta mewawancarai seseorang yang memiliki profesi. Kebetulan yang menjadi objek pertanyaan adalah saya. Walaupun saat ini saya “hanya” ibu rumah tangga, di Indonesia saya ibu bekerja.

Diantara pertanyaannya, mengapa memilih profesi itu, bagaimana agar bisa memiliki profesi itu, apa yang dilakukan ketika kuliah agar bisa memiliki profesi itu, apa yang menyenangkan dari profesi itu, apa yang tidak menyenangkan dari profesi itu, dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Wah menarik juga ya PR nya. Anak jadi memiliki kreatifitas dan imajinasi. Anak juga menjadi memiliki jiwa investigasi dan kritis.

Menurut saya sebagaimana halnya obat, PR bisa membantu, bisa juga membuat anak jemu, tergantung bagaimana PR nya dan bagaimana sudut pandang kita melihatnya.

#gumam_uni_yesi


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment