31.1.20

Reward dan punishment, perlukah?

 “Bunda, maafkan Kakak". Anak saya yang paling besar menghampiri, tanganya menjabat tangan saya dan iapun memeluk. Sayapun menyambut tangan itu dan memeluk lebih erat lagi. Kamipun menangis. Saya menjelaskan kepadanya kenapa dia mendapat hukuman malam itu. Dia mengerti, dan berkali kali mengaku khilaf dan meminta maaf. Dia berusaha memberi penjelasan mengapa sikapnya seperti itu malam itu. Sayapun meminta maaf padanya. Saya katakan, maafkan Bunda, bantu bunda mendidik Kakak dan Adek adek sesuai yang mereka inginkan. Dan saya berjanji padanya akan menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

Orang tua sebaiknya memiliki ketegasan dan berwibawa dihadapan anak anaknya. Jika tidak anak anak akan kurang penghormatamya, berani menentang dan mudah melawan orang tua.
Ketika anak anak kita berbuat baik, sepantasnya mereka mendapat reward. Sebaliknya jika mereka melakukan kesalahan setelah diingatkan, konsekwensinya mereka juga mendapat hukuman atau punishment.

"Barang siapa yang melakukan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barang siapa yang melakukan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (Q.S. al-Zalzalah : 7-8)

Hadits tentang Rasulullah SAW memberikan hadiah kepada anak-anak. Rasulullah SAW pernah membariskan ‘Abdullah, ‘Ubaidillah, dan sejumlah anak-anak paman beliau, ‘Abbas r.a. dalam satu barisan. Kemudian beliau bersabda,”Barangsiapa yang lebih dahulu sampai padaku, maka dia akan mendapatkan anu dan anu. Mereka pun berlomba lari menuju ke tempat Nabi SAW berada. Setelah sampai kepadanya, ada yang memeluk punggungnya dan ada pula yang memeluk dadanya dan Nabi menciumi mereka serta menepati janji kepada mereka." (HR. Ahmad, Musnad Bani Hasyim 1739).



Mengenai seperti apa balasan, hadiah atau reward yang akan kita berikan kepada anak bisa disesuaikan dengna kemampuan orang tua atau berdasarkan besar kecilnya capaian dan usaha yang telah dilakukan anak. Tidak semua capaian tersebut harus diberi reward sebagaimana tidak semua juga kesalahan anak kita beri hukuman. Semua tergantung kondisi orang tua dan anak.

Mengenai hukuman atau punishment ada hadis nabi yang menjelaskan hal tersebut. Hal ini jika dilakukan jika anak belum melaksanakan syariat pada batas usia tertentu, "Ajarilah anak sholat oleh kalian sejak usia 7 tahun dan pukullah dia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, ad-Darami)

Tahapan pemberian hukuman ini disesuaikan dengan umur anak. Tidak tiba tiba diberi hukuman. Ada prosesnya, misalnya kita sudah melakukan transfer nilai nilai kebaikan, sudah dicontohkan, diberi tahu dulu, diajarkan dulu, dimotivasi dulu, sudah dibiasakan, dan sudah dibuat perjanjian terlebihdulu.
Sehingga anak tidak kaget dan melakukan perlawanan apalagi sampai membenci dan kasar ke orang tuanya. Tapi karena kelalaianya, karena egonya, anak anak melakukan kesalahan, kemudian mereka kita beri hukuman, mereka akan memahami. Mereka akan bisa menerima kenapa mereka dihukum.


Adapun tujuan diberi Reward adalah untuk :
1. Memberikan penghargaan kepada anak.
2. Memberikan kasih sayang.
3 Menguatkan kebiasaan baik pada anak.
4. Sebagai bentuk perhatian orang tua pada anak.

 Sedangkan Punisment diberikan bertujuan untuk:
1. Agar anak tidak mengulangi kebiasaan yang tidak baik yang dilakukanya.
2. Anak tau mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
3. Memberikan pelajaran kepada anak.
4. Sebagai bentuk perhatian orang tua pada anak.


 Reward atau hadiah terbaik dari orang tua kepada anak anaknya adalah kasih sayang dan cinta yang tak bertepi berupa adab yang baik. Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidaklah seorang ayah memberikan hadiah kepada anaknya yang lebih utama dari hadiah adab yang baik.” (HR. Hakim)
Reward juga tidak harus berupa benda, memberi pujian, senyuman, pelukan, ucapan terimakasih itu juga sudah merupakan hadiah terindah bagi anak.

Sebaliknya ketika anak kita melakukan kesalahan, sebaiknya kita tetap dapat mengontrol emosi kita dengan tidak mencela apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan padanya. Imam Ghazali Rah.a. mengatakan, “Jangan Anda banyak mencela anak, karena dia akan menjadi terbiasa dengan celaan. Akhirnya dia akan bertambah berani melakukan keburukan, dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi.” (Ihya’ Ulumuddin)

—————-
Materi Parenting Session Fahima Jepang, Jumat, 31 Januari 2020, pukul 19.00 JST
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment