28.1.20

Setinggi-Tinggi Perempuan Sekolah



Sejak kecil kita dididik oleh orang tua, disekolahkan hingga ke jenjang sarjana. Kadang orang tua kita tidak punya uang, asal kita mau, ia rela banting tulang, atau bahkan terpaksa berhutang demi membiayai kita hingga perguruan tinggi.

Orang tua berharap kelak kita dapat mandiri, bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Itu sudah cukup baginya.

Setelah itu kita menikah. Tanpa terasa satu persatu anak kita lahir. Kadang demi melihat kita sukses, orang tua kita mau menggantikan peran kita mengasuh anak. Kita bekerja, anak-anak diasuh neneknya.

Tapi tidak semua cucu bisa diasuh neneknya. Entah karena sudah sepuh, atau karena tidak mau memberatkan orang tua (lagi), sebagian kita terpaksa melepaskan karier demi anak-anak. Sebagian lagi bergumul antara karier, anak, dan keluarga.



Persamaannya adalah, setinggi-tingginya perempuan sekolah, pada akhirnya berlabuh di sumur, dapur dan kasur juga. Setinggi-tingginya pendidikan perempuan dia akan bertemu dengan hamil, melahirkan dan menyusui. Sehebat-hebatnya seorang perempuan, ia akan berhadapan dengan popok, rengekkan bahkan mungkin mencret dan muntah bayi.

Sayangnya, pendidikan formal tidak mempersiapkan perempuan terlatih menghadapi semua ini. Perempuan tidak dipersiapkan menghadapi profesi penting dan mulia ini.

Maka tidak heran, ada ibu yang akhirnya takluk pada makanan instan atau makanan cepat saji. Jadilah anak-anak zaman modern ini memiliki orang tua sarjana tapi ia kekurangan gizi. Orang tuanya banting tulang kesana kemari pergi pagi pulang malam mencari uang tapi anaknya terus-terusan tidak mau makan.

Pada akhirnya saya percaya, yang dibutuhkan anak bukan hanya ibu yang bergelar sarjana. Jangan merasa cukup bergelar S1, S2 dan S3. Tapi yang jauh lebih penting dari itu, anak-anak membutuhkan ibu yang rendah hati. Ibu yang mau menurunkan ego dan ambisi pribadinya.

Anak-anak memerlukan ibu yang lembut, yang mau belajar Kerumahtanggaan, ibu yang mau sabar melayani anak-anaknya dan siap terbang bersama menuju sakinah mawadah warahmah dan berlabuh di syurga Firdaus.

Tidak mudah, tapi tidak juga sulit asal kita mau berkorban, berikhtiar dan berdoa bersama-sama. Semoga kita sekeluarga berkumpul di syurga....

 
#gumam_uni_yesi

#selfreminder


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment