23.1.20

Waktu yang Selalu Bergairah

 Dulu waktu saya masuk aktif di ranah publik, sering menangis dalam hati saat harus melepas mulut bayi yang terlelap menyusu dalam gendongan. Kadang saya sedikit memaksa melepaskan mulutnya dan dia menangis, saya pun menangis dalam hati. Kami menangis dalam situasi yang berat....

Maafin bunda ya, Nak.” Bunda harus ngajar, bunda ditunggu mahasiswa.
Maafin bunda ya, Nak.” Bunda mau rapat, bunda ditunggu di kampus.
dll...

Kadang saya terpaksa membuat mahasiswa kecewa karena membatalkan kuliah sepihak atau tidak datang rapat sebab anak tiba-tiba demam atau menangis kejer karena tidak mau dileps.
Ya Allah, dilema banget saat itu....

Saat itu saya tidak punya pilihan, saya harus mengajar karena terikat kontrak. Kini saat saya punya pilihan, saya memilih menikmati waktu membersamai si ganteng ini. Walau godaan bekerja agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya selalu datang....



Asal mau, mencari pekerjaan di Jepang ini tidaklah sulit. Tapi saya belum melakukannya sampai bayi ini selesai urusan ASI nya. Bukan karena saya malas, bukan juga karena sudah kebanyakan uang. Waktu dua tahun sangatlah singkat. Tidak akan pernah tergantikan kasih sayang ibu dalam setetes ASI....

Alhamdulillah Wa syukurillah ia tumbuh menjadi laki-laki yang sehat dan pintar. Setiap detik perkembangannya tidak pernah luput dari pantauan saya. Kami selalu memiliki waktu yang berkualitas berdua. Itu yang membuat saya selalu bergairah mengajaknya jalan-jalan walau di luar cuaca dingin menusuk tulang.

Kini ia sudah bisa mempersiapkan keperluannya untuk keluar rumah. Bagi saya ini sangat luar biasa.
Ryuzaki, jalan-jalan yuk,” ajak saya.
Segera ia mengambil jaketnya, kaus kaki dan sepatunya.
Gendongannya mana sayang?

Matanya nanar mencari gendongan batik yang biasa menemaninya jalan-jalan.
Ia menunjuk jarik yang tergantung. Masya Allah, anak sekecil ini sudah bisa nyambung diajak komunikasi.

Cuaca yang sangat dingin tidak membuatnya surut main ke taman.
Ditemani sedikit matahari, ia kesana kemari membelah angin yang dingin.
Masya Allah, nikmat Tuhan manakah lagi yang kamu dustakan?

#gumam_uni_yesi

Foto: guru-guru koen, 15 Januari 2020


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment