28.2.20

Jaga Selalu Kewarasan Emak


Setiap hari Emak bergumul dengan hal yang remeh temeh, itu ke itu saja, kadang bau amis, kadang kotoran, mulai dari kotoran pasca masak di dapur, piring kotor, WC kotor, pakaian kotor, kaos kaki kotor, kotoran bayi dan segala tetek bengek yang kotor dan tidak produktif lainya.

Setiap hari loh ya, bukan sekali seminggu. Belum ada aturan upah minimum regional untuk urusan yang satu ini, maklum profesi ini tidak ada gajinya, tidak ada cutinya. Yang ada lembur....

Beruntung Emak yang memiliki ART, sebagian pekerjaan yang tidak produktif bisa kita delegasikan. Tapi macam mana dengan Emak yang punya suami cuek bebek, pura pura nggak tau, yang pulang kerja ngakunya capek melulu?

Seorang Emak bilang ke saya, kalau sudah capek dan suaminya ngak ngerti ngerti biasanya nangis dipojokan. Mungkin emak lain punya cara sendiri mereduksi keletihanya, ada yang akhirnya jadi "senewen" marah marah ke anak, cemberut ke suami atau ngemil sebanyak banyaknya ngilangin "stres"....
Kalau itu sih masih mending. Ada emak yang bilang, kalau udah kecapean, saya biasanya diem, kalau "dicolek" pura pura tidur, atau kalaupun akhirnya ML biasanya ala kadarnya.


OMG, besar sekali kan ya dampak negatif kalau emak kecapean dan kehilangan kewarasanya. Emak akan kehilangan lembutnya, kehilangan inner beauty nya. Hayo yang rugi siapa?

Yang rugi pastinya emak, anak anak dan bapake. Bukankah sebenarnya kita ini sebuah tim? Agar bisa mencetak gol tentu dibutuhkan kerja sama yang solit, tidak mungkin emak bawa bola sendirian. Bola itu harus disepak bersama sama agar bisa gol. Jika gol maka yang bahagia siapa coba?
Bukankah semua pemain akan bahagia?

Itulah seni berumah tangga. Jika istri bisa membantu suami mencari nafkah, tidak ada salahnya jika suami juga bisa membantu pekerjaan domestik. Kadang sudahlah istri kerja, urusan domestik istri juga yang take over sendirian. Alamak....

Jika suami merasakan dan melihat ada perubahan dalam diri emak cobalah peka. Iya peka bro.

Mungkin emak perlu istirahat sejenak, coba sekali kali ambil alih tugasnya, lebihkan belanjanya. Jika memungkinkan kasih ART. Jadi emak bisa mengumpulkan energinya untuk bapake di malam hari.

Emak bisa waras mengasuh anak anaknya, emak jadi ngak mudah bawel, cerewet dan cemberut.
Tapi kalau suami nggak peka peka juga, ya udah itu namanya takdir. Tingkatkan koneksitas dengan yang di Atas.

Jangan paksakan diri emak, tinggalkan sesaat pekerjaan domestik itu. Beristirahat dan tidur. Atau jalan jalan kemana yang emak suka, misalnya window shopping alias cuci mata, atau update status hehe.


Kalau sudah fresh lagi, baru kerjakan urusan domestik yang tersisa.
Yang penting emak waras dan bisa tersenyum dengan bebas.
Karena bahagia itu adalah kemestian.

#gumam_uni_yesi
Repost.

14.2.20

Belajar Parenting Dari Kisah Peristiwa Uhud



Ghazwah Uhud atau perang Uhud terjadi di bukit Uhud. Terletak di pinggiran kota Madinah sekitar 4 km dari mesjid Nabawi.

Sebelum perang dimulai, Nabi telah mengingatkan agar pasukan memanah yang ditempatkan di atas bukit tetap berada di posisinya untuk mengamankan dari belakang. “Jangan tinggalkan posisi kalian untuk ikut membantu kami. Tugas kalian menghantam musuh dengan anak panah, karena kuda-kuda tidak akan berani maju bila berhadapan dengan anak panah”. Begitu pesan nabi.

Pihak musuh sempat mengalami kocar Kacir karena kaum Muslimin mengepung barisan musuh. Ghanimah berserakan di area pertempuran. Melihat ghanimah bergelimpangan, muncul perselisihan diantara pasukan di atas bukit. Mereka turun dan berlarian mengumpulkan ghanimah itu. Musuh melihat celah untuk menyerang kaum muslimin. Dipukullah kaum muslimin dari belakang. Kaum muslimin mengalami kekalahan.



Catatan penting dari perang ini:

1. Sahabat tidak SABAR akan kemenangan yang ada di depan mata. Perang belum berakhir tapi pasukan memanah mengira kaum muslimin sudah menang karena banyaknya ghanimah berserakan.

2. Sahabat tidak patuh dan taat pada perintah Rasulullah SAW. Padahal sudah diwanti wanti, jangan kemana-mana, jangan turun walau kalah atau menang, fokus memanah kuda musuh. Eh malah tidak taat karena tergoda ghanimah (harta rampasan perang).

3. Cinta dunia. Pasukan memanah tergoda harta rampasan perang dan dunia.


Apa hubungannya dengan parenting?

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perang Uhud dan kita hubungkan dengan kehidupan kita sekarang, khususnya dengan tugas kita sebagai orang tua.

1. Jangan sampi kita tidak sabar seperti sahabat yang berlarian mengejar ghanimah. Sabarlah mendidik anak. Anak adalah investasi dunia dan akhirat. Jangan buru-buru memetik hasilnya, jangan buru-buru melihat anak kita bisa ini bisa itu. Sabar membersamai tumbuh kembangnya. Sabar menghadapi “kenakalan-kenakalannya”. Sabar menghadapi segala kelebihan dan kekurangannya.

2. Jangan sampi kita tidak patuh. Patuhlah dan Taatlah akan perintah Allah SWT untuk menjaga amanah anak-anak ini dengan sebaik-baiknya. Patuh dan taat pada Allah SWT yang memerintahkan kita mengajarkan tauhid pada anak agar mereka mengesakan Allah SWT saja. Patuh dan taat pada Allah agar kita fokus pas posisi kita sebagai orang tua. Patuh dan taat pada Allah agar kita menyusui anak kita. Dan tentunya patuh pada suami sebagai pimpinan dalam rumah tangga.

3. Memprioritaskan waktu tenaga dan pikiran mendidik anak, jangan tergoda harta dunia. Kadang kita beralasan jungkir balik bekerja untuk kebahagiaan anak-anak kita, kenyataannya anak-anak justru tersiksa dengan tiadanya kasih sayang dari orang tua.




Masya Allah, sejarah adalah pelajaran yang sangat berharga. Kisah ini tamparan bagi saya pribadi yang kadang masih ingin mencicipi kelezatan duniawi dengan berniat mencari uang sebanyak-banyak (mumpung di Jepang mudah cari uang). Dan berniat meninggalkan pos untuk mengejar “ghanimah”.

Masya Allah, masa pertumbuhan anak-anak kita tidak pernah akan kembali. Semoga kita bisa membersamai masa yang singkat itu dengan memberikannya waktu yang berkualitas, cinta dan kasih sayang yang optimal.

Sungguh, Allah tidak akan pernah salah menghitung setiap pengorbanan yang kita lakukan. Semua akan ada imbalannya, semua akan ada perhitungannya di sisi Allah SWT.

13.2.20

Bersyukurlah Ibu Rumah Tangga

Teman-teman boleh setuju atau tidak, setelah lebih kurang 3 tahun “hanya” sebagai ibu rumahan, saya berani mengatakan kepada teman-teman, bahwa tidak ada profesi yang paling menentramkan jiwa raga bagi seorang ibu selain menjadi ibu rumah tangga, syarat dan ketentuan berlaku.

Apa aja syaratnya?

1. Kebutuhan ekonomi tercukupi.
Tidak harus banyak, yang penting cukup untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga, keperluan sekolah anak, dan sejumlah tabungan.

2. Istri memiliki rekening dan ATM sendiri.
Suami rutin mentransfer sebagian besar pemasukannya ke rekening istri. Sehingga istri tidak perlu minta-minta uang untuk belanja kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pribadinya.

3. Berbagi peran.
Walau istri “hanya” ibu rumah tangga, bukan berarti seluruh urusan domestik dikerjakan semua oleh istri. Ada sharing tugas antara suami dan istri. Misal, istri memasak, suami menyapu. Istri menyusui anak, suami buang sampah. Istri cuci piring, suami mendampingi anak belajar dsb.



4. Istri memiliki akses informasi tanpa gangguan.
Informasi adalah hal penting di zaman modern ini. Kapan saja istri membutuhkan, ia dapat mencari informasi tanpa harus kehabisan quota internet, termasuk perangkat telekomunikasi lainnya.

5. Istri memiliki akses belajar dan mengajar.
Istri diberi kesempatan menuntut ilmu, khususnya belajar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan tugasnya sebagai istri dan ibu. Media belajar saat ini sangat luas, baik offline maupun online.

6. Istri diberi keleluasaan berkarya.
Walau hanya di rumah, bukan berarti istri tidak bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain.

7. Istri memiliki komunitas
Bergabung dengan komunitas memberikan pencerahan bagi istri dan meningkatkan wawasannya.

8. Istri dapat menyalurkan hobinya.
Jika hobi tersalurkan maka bahagia akan didapatkan. Menyalurkan hobi juga dapat menghilangkan kejenuhan. Fasilitasi istri agar dapat menyalurkan hobinya.

9. Istri dapat terus berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya.
Ini yang paling penting. Jangan sampai setelah menjadi istri dan ibu, kita tidak pernah keluar, tidak memiliki waktu berkumpul dengan keluarga dan teman-teman.

Fasilitasi istri untuk mendapatkan semuanya ini.
Agar ia tetap merasakan menjadi manusia yang dihargai dan bermanfaat untuk orang lain.
Dijamin ia akan tetap waras dan bersyukur menjadi “hanya” ibu rumah tangga.
 
#gumam_uni_yesi
#baladaemakikatandinas


12.2.20

Nikmati Saja


Pekerjaan ibu rumah tangga tampaknya remeh temeh, sederhana dan tidak produktif. Sehari hari berkutat dengan hal yang bau, kotor, bahkan kadang menjijikan bagi yang melihat.

Pipis dan BAB anak, gumohnya, muntahnya. Ingus anak, batuknya dan demamnya. Belum lagi PR dan segala tetek bengek urusan sekokah, emak juga yang memikirkan. Itu baru urusan anak, energi emak sudah habis terkuras.

Urusan perut seisi rumah juga emak, kalau hanya memikirkan mungkin tidak terlalu berat. Yang berat adalah mengeksekusinya setiap hari. Mulai dari belanja bahan baku, sampai masakan itu terhidang di meja makan. Tugas emak belum selesai, piring dan perlengkapan pasca masak dan makan emak juga yang turun tangan.

Tiap hari loh. Kalau koki masak ada gajinya, emak masak tiap hari cuma dapat uang belanja. Kadang itu juga pas pasan atau malah kurang.



Selesaikah tugas emak? Belum. Itu baru sebagian kecil tugas domestik yang harus emak yang tuntaskan. Urusan sumur tak kalah melelahkan. Bagi yang mampu enak punya mesin cuci, tidak sedikit emak yang harus mengeluarkan tenaga, merendam, menyikat, memeras dan menjemur. Belum lagi nyetrikanya.

Selesaikah tugas emak? Belum. Masih banyak. Emak ngak boleh capek, emak juga ngak boleh sakit, mamas udah nunggu di sudut kamar. Mulai dari minta pijitin, katanya capek seharian kerja sampai minta "dilayanin". Bukannya kebalik ya, seharusnya emak yang dipijitin karena juga capek seharian mengurus rumah tangga.

Terbuat dari apakah emak hingga bisa mengerjakan semua pekerjaan bahkan kadang berbarengan?
Ah emak manusia biasa kok. Kadang bisa meledak amarahnya. Emak cuma perempuan biasa yang juga perlu dimengerti oleh suami.

Emak juga bisa lelah, emak juga perlu istirahat, emak juga perlu refresing, emak juga perlu uang lebih, emak perlu ketenangan, emak perlu dipuji, disayangi dan diperhatikan.

Emak bukan asisten rumah tangga suami. Emak bukan pula budaknya. Emak adalah ibu anak anak yang perlu dimuliakan. Teman hidup yang perlu disayangi, istri yang perlu dinafkahi.

Kuatkan emak dengan ilmu, fasilitasi ia belajar. Ajarkan ia aqidah yang lurus, akhlak yang terpuji. Jika ingin melihat emak cantik, senangkan hatinya, belikan produk penunjangnya. Jika ingin melihat emak baik pada anak, baik pulalah suami memperlakukan emak.

Bagaimana emak tergantung suami memperlakukannya.
Kalau suami ngak ngerti-ngerti juga, yah dinikmati saja, sambil terus berdoa semoga Allah lembutkan hatinya untuk mencintai dan menyayangi sepenuhnya apa yang ia punya.

Repost
#gumam_uni_yesi



10.2.20

Anakku....


Anakku....

Hidup adalah perjuangan.

Buatlah jejak -jejak langkah penuh hikmah dan nasehat. Jejak yang menjadi inspirasi, menjadi rujukan orang-orang yang berjalan setelahmu.

Anakku....

Buatlah Jejak-jejak langkah penuh warna, penuh ilmu, yang bisa menjadi cermin bagi orang yang juga ingin melewati jalan sepertimu.


Anakku...

Buatlah jejak-jejak langkah penuh makna yang terang dan jelas. Agar orang yang berjalan setelahmu menemukan cahaya kehidupannya.


Teruslah berjuang, walau seberat apapun jalan yang engkau lalui. Insya Allah semua akan indah pada akhirnya.



5.2.20

Seperti Layangan


Kita dulu amat sangat dekat, bahkan kita senafas dengannya. Lambat laun setelah ia kita lahirkan, sejak itu berlahan tapi pasti mulai ada jarak.

Tapi kita masih sangat dekat. Bagaimanapun marahnya kita padanya, ia tetap akan menghambur ke dalam pelukan kita. Ia masih berlari mengejar kita, ia masih memeluk dan tak ingin jauh.....
Waktu terus berlalu, anak-anak itu semakin besar. Seiring waktu anak-anak tidak lagi seperti dulu.

Mengapa ia menjadi sulit diatur, tidak mau nurut, sulit dinasehati, jika dibetulkan dia melawan, jika dimarahi dia naik pitam.

Semakin ia besar, semakin besar pula jarak dintara kita. Kisah kita pernah senafas dengannya seperti tidak pernah ada, cerita tentang ia berlari menghambur dalam pelukan kita seperti hilang begitu saja.



Ada apa?

Tidak sedikit orang tua yang mengalami seperti diatas. Orang tua dan anak menjadi seperti Tom dan Jerry. Perang terus, ribut terus, marahan terus.....

Saat anak bermetafosis menjadi aqil baligh, hormon-hormonnya berubah. Cara pandangnya berubah, lingkungannya berubah. Sedang kita masih menganggapnya bayi unyu-unyu yang bisa diatur semau kita. Sehingga muncullah gap diantara kita.

Jika tidak dikelola, anak itu akan semakin jauh. Kita semakin sulit mengarahkannya. Disinilah perlu seninya menjadi orang tua. Seperti main layang-layang, layanganya kita lepas, tapi talinya tetap dipegang.
 
Biarlah layang-layang terbang tinggi. Walau kita tidak bisa mengendalikan angin, tapi kita bisa mengendalikan talinya.


Tapi yang pasti jangan sampai layangan kita putus. Kita yang mesti mengendalikan layangan, bukan layangan yang mengendalikan kita apalagi dikendalikan orang lain.

#gumam_uni_yesi

Sumber foto: disini.



4.2.20

Mengapa Istri Mudah Marah, Cerewet, Stres Atau Hilang Kewarasannya?

Jika istri tertekan jiwanya, maka marah akan menjadi jalan keluarnya. Korban pertamanya adalah anak-anak. Entah itu dimarahin, dicubitin, dipukulin, diplototin, dihardik, dsb.

Jika suami istri terhambat komunikasinya, maka cerewet akan menjadi pelampiasannya. Jika istri stres karena banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan maka hilanglah kewarasannya.

Ada 2 macam model istri, yaitu istri yang bekerja atau istri yang full di rumah mengurus rumah tangga. Saya sudah mengalami dan menjalankan keduanya. Saya tahu betul bagaimana rasanya berada dalam kedua kondisi ini yang berpotensi membuat istri stres dan hilang kewarasannya jika tidak ada dukungan dari suaminya.

Persoalannya bukan pada bekerja atau tidaknya seorang istri yang membuat ia stres dan hilang kewarasannya, tapi pada tidak adanya dukungan suami. Suami tidak memberi kontribusi pada urusan domestik rumah tangga.



Suami cuek bebek, suami tidak mau tahu urusan dapur, tidak empati melihat anak rewel, tidak iba melihat istri kelelahan, tidak inisiatif melihat rumah berantakan. Istri yang stres juga bermula dari suami yang pelitnya minta ampun, suami yang marahnya sampi ke ubun-ubun, suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, suami yang tidak mampu menjaga pandangan.

Sebagai ibu bekerja yang berangkat pagi hari, tentulah istri setiap pagi pontang panting menyiapkan sarapan, mempersiapkan keperluan dan bekal anak ke sekolah, mempersiapkan keperluannya sendiri untuk ke kantor, belum lagi perlengkapan dan keperluan suaminya. Jika ada asisten rumah tangga, istri akan terbantu mengerjakan semua itu. Masalahnya tidak semua keluarga memiliki asisten rumah tangga. Saat seperti itu hadirlah wahai suami membantu tugas istri.

Misalnya, istri memasak, suami menyapu atau ngepel. Istri menyetrika baju, suami memandikan anak. Jadi saling membantu, saling menanggung beban, saling kerjasama.
Kebanyakannya, suami bangun telat, kalaupun bangun subuh, setelah sholat dia tidur lagi, jadilah istri pontang-panting menyiapkan segala sesuatunya. Belum lagi kalau anaknya rewel menangis atau berantem kakak adik.

Pulang kerja apakah istri bisa segera istirahat? Belum, karena masih ada prosesi makn malam yang harus disiapkan, masih ada piring yang harus dicuci. Belum lagi kalau anak-anak ada PR, belum lagi kalau mau ulangan atau menghadapi UN. Saat rempong seperti itu suminya asik nonton bola, main game atau berselancar di dunia maya. Akhirnya pelampiasannya ke anak, padahal anak tidak salah apa-apa. Akhirnya gampang marah, jadi stres dan hilang kewarasannya.

Yang lebih parahnya, sudahlah istri ikut bekerja membanting tulang membantu suami menafkahi rumah tangga, suami tidak ada lembut-lembutnya memperlakukan istri. Jangankan mau berempati dengan saling bekerja sama, mengucapkan Terimakasih saja tidak.

Ibu yang seharian di rumah lain lagi persoalannya. Seharian di rumah mengurus anak membuat istri bosan dan jemu. Jangan dikira mengurus anak itu mudah, ada-ada saja ulah anak itu. Mulai dari numpahin air, berantakin rumah, nangis, berantem, ngak mau ditinggal, nggak mau makan, sakit dsb. Sampai-sampai karena sibuk mengurus anak dan urusan domestik lainnya, istri tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, bahkan untuk sekedar selonjoran.

Jadi jangan buru-buru menyalahkan istri.
Jadilah pemimpin yang disegani istri, pemimpin yang menjadi teladan seluruh anggota keluarga.
Jika istri ada kekurangan, ajarkan dia. Jika istri ada salah, betulkan ia.
Beri ia ruang untuk belajar, ruang untuk tumbuh dan berkembang dan ruang untuk dirinya sendiri.

Muliakan istri kita, sayangi ia sebagaimana ayahnya menyayanginya di waktu kecil.
Istri yang bahagia akan mengurus rumah tangga dengan kualitas yang prima.
Istri yang tenang jiwanya akan menjadi ibu yang menyayangi anak-anak dengan sepenuh hatinya.
Istri yang dicintai dan disayangi sepenuh hati oleh suaminya akan menerima suaminya apa adanya dan menghormatinya seutuhnya.

#gumam_uni_yesi




5 Hal Agar Suami Mau Berubah


#gumam_uni_yesi
Dengan air mata berlinang, teman saya itu terus bercerita. “Saya sudah tidak tahan, Uni. Ingin rasanya bercerai, tapi kasihan anak-anak.

Saya lelah, saya yang mengerjakan semua, kerja juga, masak juga, ngurus anak juga. Sebenarnya saya ingin berhenti saja mengajar. Tapi suami saya selalu kurang memberi uang. Tidak jarang uang belanja dari saya juga. Uang sekolah anak dari saya juga.”

Suami saya tidak dekat dengan anak-anak. Jangankan menyuapi atau memandikan anak-anak, saat anak-anak mendekat untuk mengajak bermain dia bilang “Sana-sana, ayah sibuk.” Di rumah dia asik dengan laptop dan HP nya.”

Uni, saya merasa sendirian mengurus rumah tangga, bagaimana melibatkan suami agar mau bekerja sama, minimal mau membantu mengurus keperluan anak-anak?

______

Itu curhat lama dari seorang teman.

Sebagai ibu bekerja waktu itu, saya merasakan bagaimana rempongnya teman saya itu.
Melibatkan suami dalam urusan parenting dan rumah tangga memang tidak mudah. Ini berawal dari pola asuh yang tidak tepat dalam keluarganya. Berawal dari mindset salah yang terbawa dari lingkungannya bahwa tugas mengurus anak, tugas masak memasak, cuci mencuci dsb adalah tugas perempuan. Padahal membuat anak berdua, padahal ia juga makan, pakaiannya juga dicuci dan ia tinggal di rumah yang sama.

Betul agama mewajibkan suami bertugas mencari nafkah, tapi agama tidak pernah mewajibkan istri mengerjakan urusan domestik, tidak mewajibkan istri mengurus anak sendirian. Yang wajib bagi perempun adalah menyusui. Betul ibu adalah madrasatul ula, tapi ayah adalah kepala madrasahnya. Bukan berarti setelah dikasih nafkah selesai tugas suami, apalagi kalau nafkahnya kurang.

Apakah kita menerima saja suami kita seperti cerita di atas? Itu pilihan kita masing-masing, tergantung nilai apa yang ingin kita bangun dalam rumah tangga.

Tidak ada manusia yang tidak bisa berubah. Jika kita sama-sama mau belajar, mau membuka diri dan terus menerus mengingatkan suami untuk aware dengan kelurganya, saya yakin ia akan berubah. Karena suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Baik buruk rumah tangga itu akan dimintakan tanggung jawab pemimpinnya.

Yang dapat kita lakukan jika menghadapi suami seperti itu adalah :



1. Terus menerus mendokannya. Jika perlu disepertiga malam, sambil menangis berdoalah dengan suara yang terdengar olehnya. Setelah itu usab wajahnya, cium kening dan pipinya. Jika dia terbangun, berikan senyum yang paling manis. Katakan, “Sholat malam yuk bang.”
Setiap hari seperti itu. Tunjukan kebaikan kita, tunjukkan kesholehan kita, tunjukkan pengabdian dan pelayanan terbaik kita padanya. Fitrah manusia itu lembut. Ia akan lembut jika diperlakukan dengan lembut.

2. Ajak diskusi. Pilih waktu yang tepat, misalnya saat hendak bercumbu atau setelah bercumbu. Di tempat tidur adalah waktu yang terbaik membicarakan banyak hal. Jadikan diskusi sebagai kebisaan rutin berdua. Banyak-banyak ngobrol, mulai dari hal yang ringan sampai yang berat. Kalau suami pendiam, pancing dia dengan pertanyaan. Lihatkan antusiasme kita jika dia sedang berbicara. Intinya ngobrol.

3. Belajar bersama. Tidak ada sesuatu yang berhasil tanpa ilmu. Begitupun menjadi orang tua. Ajak suami ikut seminar parenting, mendengarkan atau menonton acara parenting, ikut komunitas parenting, baca artikel parenting. Kalau dia tidak mau, kita aja yang share ke suami, kirim lewat WA, setelah itu kasih emoticon Love.
Sesuaikan ilmu parenting yang telah kita dapat dengan nilai yang kita anut dalam keluarga. Kalau baik ambil, kalau tidak cocok abaikan. Simpelkan, yang penting mau belajar.

4. Sabar. Sabar itu tidak ada batasnya. Ubah mindset kita, jangan katakan kita rugi punya suami dia, tapi bersyukurlah dan katakan inilah ladang amal kita. Ini tugas saya diberikan sang pencipta yaitu membersamai suami yang tidak se pemikiran dengan saya. Jalani proses ini, suatu saat misi kita akan berhasil, suami kita akan menjadi apa yang kita harapkan. Karena bagi Allah mudah saja mengabulkan doa kita, Allah hanya ingin melihat kita berjuang.

5. Jangan tunjukkan kita superior darinya. Sekali-kali kita musti tega tidak masak seharian jika tidak ada uang belanja yang ia berikan. Biarkan anak tidak bayar SPP. Jangan terus terusan dibantu agar suami kita berfikir. Ingat cerita oshin? Ini yang dilakukan oshin hingga akhirnya suaminya tersadar tidak lagi mau mengandalkan uang istrinya.

Untuk memutus rantai suami seperti itu, sejak dini anak laki-laki kita sebaiknya perlu kita ajarkan keterampilan domestik.

Anak laki-laki kami saya suruh nyebokin dan ganti diapers adiknya yang berusi 20bln, saya minta nyuapin adiknya, buang sampah, nyuci piring, menyapu, masak (minimal telor), dsb. Kalau nyuci pakaian sekarang ada mesin, tapi ia harus terbiasa mengeluarkan kain dari mesin dan menjemurnya. Harus tega sebagai bentuk ikhtiar untuk kehidupannya yang lebih baik nantinya.