4.2.20

5 Hal Agar Suami Mau Berubah


#gumam_uni_yesi
Dengan air mata berlinang, teman saya itu terus bercerita. “Saya sudah tidak tahan, Uni. Ingin rasanya bercerai, tapi kasihan anak-anak.

Saya lelah, saya yang mengerjakan semua, kerja juga, masak juga, ngurus anak juga. Sebenarnya saya ingin berhenti saja mengajar. Tapi suami saya selalu kurang memberi uang. Tidak jarang uang belanja dari saya juga. Uang sekolah anak dari saya juga.”

Suami saya tidak dekat dengan anak-anak. Jangankan menyuapi atau memandikan anak-anak, saat anak-anak mendekat untuk mengajak bermain dia bilang “Sana-sana, ayah sibuk.” Di rumah dia asik dengan laptop dan HP nya.”

Uni, saya merasa sendirian mengurus rumah tangga, bagaimana melibatkan suami agar mau bekerja sama, minimal mau membantu mengurus keperluan anak-anak?

______

Itu curhat lama dari seorang teman.

Sebagai ibu bekerja waktu itu, saya merasakan bagaimana rempongnya teman saya itu.
Melibatkan suami dalam urusan parenting dan rumah tangga memang tidak mudah. Ini berawal dari pola asuh yang tidak tepat dalam keluarganya. Berawal dari mindset salah yang terbawa dari lingkungannya bahwa tugas mengurus anak, tugas masak memasak, cuci mencuci dsb adalah tugas perempuan. Padahal membuat anak berdua, padahal ia juga makan, pakaiannya juga dicuci dan ia tinggal di rumah yang sama.

Betul agama mewajibkan suami bertugas mencari nafkah, tapi agama tidak pernah mewajibkan istri mengerjakan urusan domestik, tidak mewajibkan istri mengurus anak sendirian. Yang wajib bagi perempun adalah menyusui. Betul ibu adalah madrasatul ula, tapi ayah adalah kepala madrasahnya. Bukan berarti setelah dikasih nafkah selesai tugas suami, apalagi kalau nafkahnya kurang.

Apakah kita menerima saja suami kita seperti cerita di atas? Itu pilihan kita masing-masing, tergantung nilai apa yang ingin kita bangun dalam rumah tangga.

Tidak ada manusia yang tidak bisa berubah. Jika kita sama-sama mau belajar, mau membuka diri dan terus menerus mengingatkan suami untuk aware dengan kelurganya, saya yakin ia akan berubah. Karena suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Baik buruk rumah tangga itu akan dimintakan tanggung jawab pemimpinnya.

Yang dapat kita lakukan jika menghadapi suami seperti itu adalah :



1. Terus menerus mendokannya. Jika perlu disepertiga malam, sambil menangis berdoalah dengan suara yang terdengar olehnya. Setelah itu usab wajahnya, cium kening dan pipinya. Jika dia terbangun, berikan senyum yang paling manis. Katakan, “Sholat malam yuk bang.”
Setiap hari seperti itu. Tunjukan kebaikan kita, tunjukkan kesholehan kita, tunjukkan pengabdian dan pelayanan terbaik kita padanya. Fitrah manusia itu lembut. Ia akan lembut jika diperlakukan dengan lembut.

2. Ajak diskusi. Pilih waktu yang tepat, misalnya saat hendak bercumbu atau setelah bercumbu. Di tempat tidur adalah waktu yang terbaik membicarakan banyak hal. Jadikan diskusi sebagai kebisaan rutin berdua. Banyak-banyak ngobrol, mulai dari hal yang ringan sampai yang berat. Kalau suami pendiam, pancing dia dengan pertanyaan. Lihatkan antusiasme kita jika dia sedang berbicara. Intinya ngobrol.

3. Belajar bersama. Tidak ada sesuatu yang berhasil tanpa ilmu. Begitupun menjadi orang tua. Ajak suami ikut seminar parenting, mendengarkan atau menonton acara parenting, ikut komunitas parenting, baca artikel parenting. Kalau dia tidak mau, kita aja yang share ke suami, kirim lewat WA, setelah itu kasih emoticon Love.
Sesuaikan ilmu parenting yang telah kita dapat dengan nilai yang kita anut dalam keluarga. Kalau baik ambil, kalau tidak cocok abaikan. Simpelkan, yang penting mau belajar.

4. Sabar. Sabar itu tidak ada batasnya. Ubah mindset kita, jangan katakan kita rugi punya suami dia, tapi bersyukurlah dan katakan inilah ladang amal kita. Ini tugas saya diberikan sang pencipta yaitu membersamai suami yang tidak se pemikiran dengan saya. Jalani proses ini, suatu saat misi kita akan berhasil, suami kita akan menjadi apa yang kita harapkan. Karena bagi Allah mudah saja mengabulkan doa kita, Allah hanya ingin melihat kita berjuang.

5. Jangan tunjukkan kita superior darinya. Sekali-kali kita musti tega tidak masak seharian jika tidak ada uang belanja yang ia berikan. Biarkan anak tidak bayar SPP. Jangan terus terusan dibantu agar suami kita berfikir. Ingat cerita oshin? Ini yang dilakukan oshin hingga akhirnya suaminya tersadar tidak lagi mau mengandalkan uang istrinya.

Untuk memutus rantai suami seperti itu, sejak dini anak laki-laki kita sebaiknya perlu kita ajarkan keterampilan domestik.

Anak laki-laki kami saya suruh nyebokin dan ganti diapers adiknya yang berusi 20bln, saya minta nyuapin adiknya, buang sampah, nyuci piring, menyapu, masak (minimal telor), dsb. Kalau nyuci pakaian sekarang ada mesin, tapi ia harus terbiasa mengeluarkan kain dari mesin dan menjemurnya. Harus tega sebagai bentuk ikhtiar untuk kehidupannya yang lebih baik nantinya.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment