14.2.20

Belajar Parenting Dari Kisah Peristiwa Uhud



Ghazwah Uhud atau perang Uhud terjadi di bukit Uhud. Terletak di pinggiran kota Madinah sekitar 4 km dari mesjid Nabawi.

Sebelum perang dimulai, Nabi telah mengingatkan agar pasukan memanah yang ditempatkan di atas bukit tetap berada di posisinya untuk mengamankan dari belakang. “Jangan tinggalkan posisi kalian untuk ikut membantu kami. Tugas kalian menghantam musuh dengan anak panah, karena kuda-kuda tidak akan berani maju bila berhadapan dengan anak panah”. Begitu pesan nabi.

Pihak musuh sempat mengalami kocar Kacir karena kaum Muslimin mengepung barisan musuh. Ghanimah berserakan di area pertempuran. Melihat ghanimah bergelimpangan, muncul perselisihan diantara pasukan di atas bukit. Mereka turun dan berlarian mengumpulkan ghanimah itu. Musuh melihat celah untuk menyerang kaum muslimin. Dipukullah kaum muslimin dari belakang. Kaum muslimin mengalami kekalahan.



Catatan penting dari perang ini:

1. Sahabat tidak SABAR akan kemenangan yang ada di depan mata. Perang belum berakhir tapi pasukan memanah mengira kaum muslimin sudah menang karena banyaknya ghanimah berserakan.

2. Sahabat tidak patuh dan taat pada perintah Rasulullah SAW. Padahal sudah diwanti wanti, jangan kemana-mana, jangan turun walau kalah atau menang, fokus memanah kuda musuh. Eh malah tidak taat karena tergoda ghanimah (harta rampasan perang).

3. Cinta dunia. Pasukan memanah tergoda harta rampasan perang dan dunia.


Apa hubungannya dengan parenting?

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perang Uhud dan kita hubungkan dengan kehidupan kita sekarang, khususnya dengan tugas kita sebagai orang tua.

1. Jangan sampi kita tidak sabar seperti sahabat yang berlarian mengejar ghanimah. Sabarlah mendidik anak. Anak adalah investasi dunia dan akhirat. Jangan buru-buru memetik hasilnya, jangan buru-buru melihat anak kita bisa ini bisa itu. Sabar membersamai tumbuh kembangnya. Sabar menghadapi “kenakalan-kenakalannya”. Sabar menghadapi segala kelebihan dan kekurangannya.

2. Jangan sampi kita tidak patuh. Patuhlah dan Taatlah akan perintah Allah SWT untuk menjaga amanah anak-anak ini dengan sebaik-baiknya. Patuh dan taat pada Allah SWT yang memerintahkan kita mengajarkan tauhid pada anak agar mereka mengesakan Allah SWT saja. Patuh dan taat pada Allah agar kita fokus pas posisi kita sebagai orang tua. Patuh dan taat pada Allah agar kita menyusui anak kita. Dan tentunya patuh pada suami sebagai pimpinan dalam rumah tangga.

3. Memprioritaskan waktu tenaga dan pikiran mendidik anak, jangan tergoda harta dunia. Kadang kita beralasan jungkir balik bekerja untuk kebahagiaan anak-anak kita, kenyataannya anak-anak justru tersiksa dengan tiadanya kasih sayang dari orang tua.




Masya Allah, sejarah adalah pelajaran yang sangat berharga. Kisah ini tamparan bagi saya pribadi yang kadang masih ingin mencicipi kelezatan duniawi dengan berniat mencari uang sebanyak-banyak (mumpung di Jepang mudah cari uang). Dan berniat meninggalkan pos untuk mengejar “ghanimah”.

Masya Allah, masa pertumbuhan anak-anak kita tidak pernah akan kembali. Semoga kita bisa membersamai masa yang singkat itu dengan memberikannya waktu yang berkualitas, cinta dan kasih sayang yang optimal.

Sungguh, Allah tidak akan pernah salah menghitung setiap pengorbanan yang kita lakukan. Semua akan ada imbalannya, semua akan ada perhitungannya di sisi Allah SWT.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment