4.2.20

Mengapa Istri Mudah Marah, Cerewet, Stres Atau Hilang Kewarasannya?

Jika istri tertekan jiwanya, maka marah akan menjadi jalan keluarnya. Korban pertamanya adalah anak-anak. Entah itu dimarahin, dicubitin, dipukulin, diplototin, dihardik, dsb.

Jika suami istri terhambat komunikasinya, maka cerewet akan menjadi pelampiasannya. Jika istri stres karena banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan maka hilanglah kewarasannya.

Ada 2 macam model istri, yaitu istri yang bekerja atau istri yang full di rumah mengurus rumah tangga. Saya sudah mengalami dan menjalankan keduanya. Saya tahu betul bagaimana rasanya berada dalam kedua kondisi ini yang berpotensi membuat istri stres dan hilang kewarasannya jika tidak ada dukungan dari suaminya.

Persoalannya bukan pada bekerja atau tidaknya seorang istri yang membuat ia stres dan hilang kewarasannya, tapi pada tidak adanya dukungan suami. Suami tidak memberi kontribusi pada urusan domestik rumah tangga.



Suami cuek bebek, suami tidak mau tahu urusan dapur, tidak empati melihat anak rewel, tidak iba melihat istri kelelahan, tidak inisiatif melihat rumah berantakan. Istri yang stres juga bermula dari suami yang pelitnya minta ampun, suami yang marahnya sampi ke ubun-ubun, suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, suami yang tidak mampu menjaga pandangan.

Sebagai ibu bekerja yang berangkat pagi hari, tentulah istri setiap pagi pontang panting menyiapkan sarapan, mempersiapkan keperluan dan bekal anak ke sekolah, mempersiapkan keperluannya sendiri untuk ke kantor, belum lagi perlengkapan dan keperluan suaminya. Jika ada asisten rumah tangga, istri akan terbantu mengerjakan semua itu. Masalahnya tidak semua keluarga memiliki asisten rumah tangga. Saat seperti itu hadirlah wahai suami membantu tugas istri.

Misalnya, istri memasak, suami menyapu atau ngepel. Istri menyetrika baju, suami memandikan anak. Jadi saling membantu, saling menanggung beban, saling kerjasama.
Kebanyakannya, suami bangun telat, kalaupun bangun subuh, setelah sholat dia tidur lagi, jadilah istri pontang-panting menyiapkan segala sesuatunya. Belum lagi kalau anaknya rewel menangis atau berantem kakak adik.

Pulang kerja apakah istri bisa segera istirahat? Belum, karena masih ada prosesi makn malam yang harus disiapkan, masih ada piring yang harus dicuci. Belum lagi kalau anak-anak ada PR, belum lagi kalau mau ulangan atau menghadapi UN. Saat rempong seperti itu suminya asik nonton bola, main game atau berselancar di dunia maya. Akhirnya pelampiasannya ke anak, padahal anak tidak salah apa-apa. Akhirnya gampang marah, jadi stres dan hilang kewarasannya.

Yang lebih parahnya, sudahlah istri ikut bekerja membanting tulang membantu suami menafkahi rumah tangga, suami tidak ada lembut-lembutnya memperlakukan istri. Jangankan mau berempati dengan saling bekerja sama, mengucapkan Terimakasih saja tidak.

Ibu yang seharian di rumah lain lagi persoalannya. Seharian di rumah mengurus anak membuat istri bosan dan jemu. Jangan dikira mengurus anak itu mudah, ada-ada saja ulah anak itu. Mulai dari numpahin air, berantakin rumah, nangis, berantem, ngak mau ditinggal, nggak mau makan, sakit dsb. Sampai-sampai karena sibuk mengurus anak dan urusan domestik lainnya, istri tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, bahkan untuk sekedar selonjoran.

Jadi jangan buru-buru menyalahkan istri.
Jadilah pemimpin yang disegani istri, pemimpin yang menjadi teladan seluruh anggota keluarga.
Jika istri ada kekurangan, ajarkan dia. Jika istri ada salah, betulkan ia.
Beri ia ruang untuk belajar, ruang untuk tumbuh dan berkembang dan ruang untuk dirinya sendiri.

Muliakan istri kita, sayangi ia sebagaimana ayahnya menyayanginya di waktu kecil.
Istri yang bahagia akan mengurus rumah tangga dengan kualitas yang prima.
Istri yang tenang jiwanya akan menjadi ibu yang menyayangi anak-anak dengan sepenuh hatinya.
Istri yang dicintai dan disayangi sepenuh hati oleh suaminya akan menerima suaminya apa adanya dan menghormatinya seutuhnya.

#gumam_uni_yesi




Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment