5.2.20

Seperti Layangan


Kita dulu amat sangat dekat, bahkan kita senafas dengannya. Lambat laun setelah ia kita lahirkan, sejak itu berlahan tapi pasti mulai ada jarak.

Tapi kita masih sangat dekat. Bagaimanapun marahnya kita padanya, ia tetap akan menghambur ke dalam pelukan kita. Ia masih berlari mengejar kita, ia masih memeluk dan tak ingin jauh.....
Waktu terus berlalu, anak-anak itu semakin besar. Seiring waktu anak-anak tidak lagi seperti dulu.

Mengapa ia menjadi sulit diatur, tidak mau nurut, sulit dinasehati, jika dibetulkan dia melawan, jika dimarahi dia naik pitam.

Semakin ia besar, semakin besar pula jarak dintara kita. Kisah kita pernah senafas dengannya seperti tidak pernah ada, cerita tentang ia berlari menghambur dalam pelukan kita seperti hilang begitu saja.



Ada apa?

Tidak sedikit orang tua yang mengalami seperti diatas. Orang tua dan anak menjadi seperti Tom dan Jerry. Perang terus, ribut terus, marahan terus.....

Saat anak bermetafosis menjadi aqil baligh, hormon-hormonnya berubah. Cara pandangnya berubah, lingkungannya berubah. Sedang kita masih menganggapnya bayi unyu-unyu yang bisa diatur semau kita. Sehingga muncullah gap diantara kita.

Jika tidak dikelola, anak itu akan semakin jauh. Kita semakin sulit mengarahkannya. Disinilah perlu seninya menjadi orang tua. Seperti main layang-layang, layanganya kita lepas, tapi talinya tetap dipegang.
 
Biarlah layang-layang terbang tinggi. Walau kita tidak bisa mengendalikan angin, tapi kita bisa mengendalikan talinya.


Tapi yang pasti jangan sampai layangan kita putus. Kita yang mesti mengendalikan layangan, bukan layangan yang mengendalikan kita apalagi dikendalikan orang lain.

#gumam_uni_yesi

Sumber foto: disini.



Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment