25.3.20

Stay At Home


Wabah Corona telah mengubah pola hidup hampir seluruh warga dunia. Jika dulu kita abai pada keluarga dan anak-anak, Corona memberi kesempatan kepada kita untuk lebih banyak berkumpul bersama, menyayangi istri dan memperhatikan anak-anak lebih baik lagi.

Corona memang telah merengut nyawa tidak saja warga sipil, tapi juga tenaga medis. Waspada perlu tapi jangan cemas yang berlebihan dengan menimbun masker dan barang lainnya, jangan menaikkan hingga harga menjadi gila.

Saya sangat yakin wabah Corona pasti berlalu, hidup kita akan kembali normal. Allah hanya ingin melihat kita kompak berjuang bersama, Allah ingin kita berdoa, dan Allah ingin melihat tawakal kita.

Stay at home, di rumah sajo, itu sangat membantu pencegahan meluasnya Corona.





24.3.20

Bersahabat Dengan Anak



Setiap anak menginginkan orang tuanya untuk dirinya sendiri. Ia ingin kasih sayang dan cinta orang tuannya hanya tercurah untuknya. Orang tua tentu tidak dapat berbuat demikian karena ayah dan ibu boleh satu, tapi kasih sayang dan cinta tidak terhingga untuk seluruh anak-anaknya.

Impian dan harapan orang tua sering tertumpah pada anak pertama. Ekspektasi orang tua terhadap anak pertama kadang terlalu tinggi. Orang tua sering berharap pengertian dari anak pertama. Inginnya anak pertama mengerti banyak hal, bisa banyak hal, tau banyak hal. Dan seringnya juga anak pertama jadi sasaran kesalahan jika adik menangis karena mereka bertengkar.

Akhirnya anak pertama sering menjerit dalam hati, ia bertanya, mengapa aku yang selalu disalahkan, mengapa aku yang harus mengerjakan, mengapa aku?

Anak pertama kami pernah mengatakan, “Bunda tidak adil, sayangnya cuma buat anak yang kecil.” Kemudian dia menangis.

Saya merasa tertampar, ucapannya menohok jantung hati yang paling dalam. Mungkin betul selama ini saya lalai, saya terlalu sibuk dengan adiknya yang kecil sehingga abai diperhatikan kebutuhannya. Selama ini saya merasa dia sudah mandiri, ternyata tidak, walaupun kita menganggap anak pertama sangat matang dan dewasa, ia tetap memerlukan perhatian dan kasih sayang orang tuanya.



Tidak marah kepada anak sepertinya sesuatu yang sulit, tapi jika kita mau membuka hati, mau belajar dan mengubah pola asuh, kita akan memiliki pandangan bahwa marah-marah kepada anak selain tidak baik untuk kesehatan, tidak baik untuk tumbuh kembang anak, juga menghabiskan energi.
Untuk meminimalisir marah-marah khususnya kepada anak pertama, sebaiknya ubah sedikit mind set kita terhadap anak pertama. Jangan melulu anggap ia anak pertama yang serba bisa, jangan menjaga jarak, tapi jadikanlah ia sahabat. Bangunlah persahabatan yang hangat dengan anak. Menurut Baron dan Bryne, persahabatan adalah hubungan dimana dua orang menghabiskan waktu bersama, berinteraksi di berbagai situasi, dan juga menyediakan dukungan emosional secara bersama. Begitulah semestinya orang tua dan anak.

Bagaimana membangun persahabatan dengan anak?

1. Bersahabat dengan pasangan.
Langkah pertama menjalin persahabatan dengan anak adalah bersahabat dengan pasangan kita. Harmonisasi antara suami istri akan mengalirkan energi positif yang dapat membantu memudahkan kita bersahabat dengan anak.

2. Bersyukur memilikinya.
Katakan kepada anak, kita bersyukur pada Allah memilikinya. Katakan kita bahagia atas kehadirannya. Untuk itu kita terima anak kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

3. Dengarkan isi hatinya.
Jika anak pulang sekolah jangan buru-biru tanya ada PR apa tidak, bisa jawab soal ujian apa tidak, coba tanya bagaimana suasana hati dan perasaannya. Dengarkan ia inginnya di rumah seperti apa, ia ingin adik-adiknya bagaimana? Ia ingin orang tuanya bagaimana? Coba dengarkan baik-baik dan ambil sikap yang positif dari curhatannya itu.

4. Terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam setiap aktifitasnya.
Jangan sampai kita tidak tahu apa kegiatan anak, tidak tahu aktifitasnya di luar rumah apa saja. Dari curhatanny kita akan tahu siapa temanny, apa saja yang ia lakukan di sekolah. Beri dukungan dalam setiap aktifitasnya yang positif.

5. Berikan kepercayaan.
Suatu saat anak kita akan pergi meninggalkan kita untuk menyambung kehidupannya dengan orang lain. Beri ia kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang baru, mencoba hal-hal yang asing bagi kita. Jangan banyak di larang, ini itu tidak boleh. Berikan kepercayaan ia mengelola keuangan, mengelola waktu, mengelola dirinya sendiri.

6. Berikan reward dan punishment
Jika anak melakukan sesuatu yang baik jangan lupa memberikan ungkapan yang dapat memotivasinya untuk berbuat lebih baik. Misalnya memberikan pujian, atau berterima kasih. Begitu juga jika ia melakukan sesuatu yang melanggar aturan yang tidak sesuai dengan value yang kita anut mak kita dapat menghukumnya agar ia jera.

7. Jangan memaksakan kehendak
Anak bukanlah kita versi kecil. Pikiran kita tidak sama dengannya, apa yang kita mau belum tentu keinginannya. Jadi jangan memaksakan kehendak dan keinginan kita padanya hanya untuk memuaskan diri kita. Hargai anak sebagaimana kira juga ingin dihargai sebagai orang tua.

8. Senantiasa berdoa dan tawakal pada Allah.
Kita tidak dapat mengawasi anak kita 24 jam penuh. Tetapi kita dapat menitipkan anak kita pada Allah dengan tidak putus berdoa dan tawakal kepada Allah. Doakan terus anak kita agar berjalan dalam bingkai agama, agar terhindar dari segala mara bahaya dan kejamnya nafsu manusia. Setelah itu kita tawakal, anak itu amanah Allah, kita serahkan semua pada Allah.



14.3.20

Manfaatkan Sampah Rumah Tangga Untuk Membuat Eco Enzyme yang Ramah Lingkungan


Sekitar tahun 1999 atau 2000 saya pernah menjadi panitia seminar nasional yang mengangkat tema SAVE THE EARTH yang diadakan di aula Mesjid Salman ITB. Sejak saat itu minat saya pada pelestarian lingkungan dan merawat bumi mulai tumbuh.

Saya merasa terpanggil untuk ikut merawat dan menjaga bumi, dan berusaha bertahap menjadikan sustainable living sebagai gaya hidup wujud tanggung jawab kita bersama kepada bumi.

Semalam dapat ilmu dari Gemar Rapi bagaimana membuat Eco Enzyme, yaitu sebuah larutan zat organik kompleks yang diolah dari proses permentasi sisa organik, gula dan air yang Multi manfaat.
Saya membuat Eco Enzyme dari sisa kulit jeruk yang buahnya kami makan siang tadi. Banyak manfaat dari Eco Enzyme, diantaranya sebagai pengganti deterjen, pembersih serba guna, pupuk alami, pengusir hama, dan tentunya ramah lingkungan.



Setiap rumah tangga dapat memproduksi Eco Enzyme karena proses pembuatannya yang sederhana dari bahan organik hasil sampah pribadi atau rumah tangga. Perbandingannya 10:3:1 yaitu 10 air, 3 sampah organik, dan 1 gula. Saya membuat menggunakan 1000ml air + 300ml kulit jeruk dan 100ml gula pasir.

Eco Enzyme dapat kita panen setelah 3 bulan. Setiap hari kita mesti membuka tutup botol untuk mengeluarkan gasnya. Ho ho ada kerjaan baru tiap hari.

Yuk secara bertahap kita beralih ke produk ramah lingkungan dan menjadikan sustainable living sebagai gaya hidup. ❤️❤️❤️


#tantangan1GP



13.3.20

Mendidik Anak Laki-Laki


Kata sebagian orang mendidik anak laki-laki jaman now lebih sulit dari pada mendidik anak perempuan. Tidak sepenuhnya salah, mungkin ada benarnya menginggat berbagai macam tingkah polah laki-laki zaman now.

Sebagian orang tua menganggap mendidik anak sama dengan menyekolahkannya tinggi-tinggi dengan harapan mendapatkan pekerjaan terbaik, di perusahaan terbaik dan dengan gaji terbaik. Orang tua lupa bahwa mendidik mental anak, mendidik kepribadian anak, mendidik moral anak, mendidik spiritual anak, termasuk mendidik anak agar kelak terampil menjadi ayah dan ibu tidak kalah pentingnya.

Maka muncullah anak yang berpendidikan tinggi, tapi memiliki masalah dalam kepribadian. Pecinta sesama jenis misalnya, atau takut menikah. Ada juga anak laki-laki berpendidikan tinggi tapi tidak mampu mencari nafkah.

Ada juga anak berpendidikan dan penghasilannya tinggi tapi tidak peka pada tangguh jawabnya sebagai kepala keluarga. Ada juga yang tidak empati pada istri dan anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Ada juga laki-laki yang tega membiarkan istrinya bekerja di luar, di jam saat ia dan orang lain beristirahat dan tertidur lelap.

Perlu kita renungkan, bagaimana kelak anak laki-laki kita. Semua tergantung bagaimana kita mendidiknya saat ini. Perlu kita tanamkan dalam otak bawah sadarnya bahwa ia adalah pemimpin bagi wanita. Tugasnya mencari nafkah, kewajibannya memuliakan dua bidadari, ibu dan istrinya. Tapi yang lebih perlu lagi adalah menanamkan di bawah otak saddar kita sendiri bahwa menjadi orang tua adalah samgat besar tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT.




1. Anak laki-laki perlu kita ajarkan aqidah yang mendalam kepada Allah SWT. Mengajarkan bahwa Allah ada dimana-mana mengawasinya. Anak laki-laki juga perlu kita ajarkan ibadah sholat dan menjadi imamnya. Karena jika ayahnya meninggal dan usianya sudah cukup, ialah yang akan menjadi imam sholat jenazah ayahnya. Untuk menjadi imam mesti bagus bacaan qurannya. Kewajiban kita mengajarkan Al Quran secara tartil. Anak laki-laki sejak kecil mesti diajarkan sholat ke mesjid. Tidak ada cerita dia tidak bisa bangun subuh. Berikan contoh, itu cukup ampuh melembutkan hatinya.

2. Tumbuh kan jika kepemimpinan dalam dirinya. Karena laki-laki adalah pemimpin maka sedari kecil kita perlu menumbuhkannya. Beri ia amanah menjadi ketua rombongan saat kita keluar. Beri di kepercayaan mengawasi adiknya dsb.

3. Anak laki-laki perlu kita biasakan mengerjakan pekerjaan domestik, seperti mencuci piring, menyapu, memasukkan dan mengeluarkan kain dari mesin cuci, menjemur, melipat kain, masak dll. Kelak ia akan berumah tangga, jika dia sudah terbisa mengerjakan pekerjaan domestik ia akan mudah beradabtasi menjalankan perannya sebagai kepala keluarga.

4. Mengajarkan finansial sejak dini, agar kelak ia bisa membiayai seluruh kebutuhan keluarganya. Laki-laki tidak saja bertanggung jawab pada anak dan istrinya, tapi juga kepada orang tua dan sanak perempuannya. Perlu sekali membuat anak laki-laki kita memiliki ketahanan finansial.

5. Jadilah teman dan contoh terbaik untuknya. Di luar sana predator banyak sekali. Jika kira tidak dipercaya menjadi sahabat terbaiknya maka orang lain, gadget, internet, pornografikah yang akan menjadi sahabat dan menuntunnya ke perbuatan yang tidak baik.

6. Orang tua adalah orang pertama referensinya tentang mimpi basah. Jangan sampai Ia ketahui pertama dari temannya karena bisa jadi salah informasi atau jadi bahan guyonan.

Materi Parenting Session Fahima Jepang pada 13 Maret 2020.


12.3.20

Mengajarkan Aqidah tidak semudah membalik telapak tangan


Saya mulai menggambar berbagai makhluk ciptaan Allah di whiteboard. Diatasnya saya beri judul “Mengenal Allah.”

Anak saya yang umur 13 tahun protes, “Abang bukan anak kecil lagi bunda.” Di melirik gambar saya, memang gambar itu cocoknya untuk anak-anak pra sekolah Dia sepertinya tidak berminat membahas materi ini.

Akhirnya saya matikan lampu. Ada anak saya yang memekik, “Gelap bunda.” Katanya. Ada lagi yang mengatakan, “Aku bisa merasakan bunda sedang berjalan.” Katanya.



Tidak berapa lama saya hidupkan lampu. Saya tanya anak yang bilang merasakan saya berjalan. "Kok tau tadi bunda jalan", tanya saya. Dia menjawab, "Iya terasa aja", katanya.

Mulailah saya masuk dari ucapannya itu. "Begitulah Allah, Nak", kata saya.
Kita bisa merasakan adanya Allah walau Allah tidak terlihat. Banyak sesuatu tidak terlihat tapi ada. "Apa misalnya", tanya saya. Ada yang menjawab, "Corona". "Iya betul", ujar saya.

Malam itu kami diskusi panjang lebar, kadang tampak ada yang mengangguk, ada juga yang tampak belum mengerti apa-apa. Di kelas ini ada 5 anak dengan tingkat kelas yang berbeda, tidak mudah menjelaskan materi aqidah dalam satu cerita.

Yang belum mengerti, biarlah ia berproses. Saya bersyukur anak yang besar tampak memahami. Ini terlihat dari semakin mudahnya mereka dibangunkan sholat subuh.

Masya Allah, ya Allah berilah kami ilmu agar lisan kami fasih mengajarkan aqidah kepada mereka.....
 
#ceritahomeeducation


8.3.20

Menjadi Konselor Menyusui Hingga Ke Jepang

Seorang ibu mengirim pesan yang kurang lebih berbunyi:
Uni Yesi, saya boleh datang ke Apatonya, ingin konsultasi ASI untuk bayi saya, kata dokter ada persoalan dengan bayi saya berkaitan dengan ASI.”

Di lain waktu, masih di Jepang ini juga, seorang bapak mengabari, istrinya beserta bayinya nangis terus. Sang bapak muda ini sepertinya sedang kebingungan.

Uni Yesi, bisa datang ngak ke apato saya, karena bayi saya rewel terus, ibunya jadi ikut-ikutan nangis.” Saat saya datang ke Apatonya sang ibu sedang menangis memeluk bayinya.

Masya Allah, saya jadi ingat bayi pertama kami, dulu setiap malam rewel. PD saya mengeras seperti batu. Saya pernah mengalami yang namanya puting berdarah. Pernah mengalami menyusui 2 orang bayi secara langsung (ASI tandem). Pernah mengalami bayi bingung puting. Bayi saya juga pernah mengalami kuning.



Banyak persoalan yang ditemui ibu dan bayi. Itulah mengapa pada tahun 2009 saya beranikan diri merogoh kocek yang sangat dalam untuk ikut pelatihan konselor menyusui. Untuk apa? Karena saya sudah berencana punya banyak anak, saya perlu ilmu untuk menghadapi berbagai persoalan seputar menyusui.

Bagi saya bermanfaat untuk orang lain adalah salah satu tujuan hidup. Tidak pernah berfikir menjadikannya sebagai tambang emas atau jalan popularitas. Karena bayi yang mengalami persoalan menyusu perlu dibantu, ia tidak berdaya, ketulusan seseorang membantunya agar ia dapat menyusu adalah jalan hidup baginya. Minimal mendengar curhat dan keluh kesah ibu yang baru saja melahirkannya itu sudah lebih dari cukup.

Mengapa kita perlu mati-matian berusaha agar ibu bisa menyusui dengan tenang? Karena banyak kebaikan disetiap tetes ASI.

Bagi teman-teman yang sedang menyusui, jika ada kendala dan persoalan, jangan dipendam sendiri, jangan menyerah. Selalu ada jalan jika kita mau berusaha.

Segera hubungi konselor menyusui terdekat atau bergabung di komunitas ibu menyusui.

#gumam_uni_yesi




6.3.20

Kerumunan atau Team?

Hallo apa kabar keluarga Indonesia? Dengan anak-anak dan pasangan, kita termasuk kerumunan atau team dalam rumah tangga?

Apa beda kerumunan dan team?

Kerumunan tidak memiliki tujuan yang sama, mereka kebetulan bertemu dengan kepentingan yang mungkin berbeda. Kerumunan dalam rumah tangga bisa jadi karena, suami istri kebetulan bertemu lalu menikah dan kebetulan punya anak.

Sebaliknya, sebuah team pasti memiliki tujuan yang sama, memiliki seseorang yang mampu mengarahkan team ini (pemimpin). Sebuah team pasti memiliki nilai yang dianut yang diselaraskan dengan rencana yang telah didesain untuk mencapai tujuan yang telah dirancang bersama.



Begitulah semestinya sebuah keluarga.

Keluarga bukan kerumunan orang yang berada dalam sebuah atap yang memiliki tujuan berbeda-beda.

#serial_keluarga
#gumam_uni_yesi

5.3.20

Sukses 2

Sukses itu bukan bawaan orok. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk hidup sukses atau gagal. Saya meyakini manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, masterpiece yang pantas hidup layak, mulia, bahagia dan sejahtera.

Lantas mengapa ada orang sukses dan gagal. Entah itu sukses atau gagal di kariernya, rumah tangganya, pendidikannya dll.

Jawabannya sederhana, orang sukses melakukan tindakan, action.



Ia terus bergerak, memanfaatkan segala resources yang dimilikinya.
Ia bangun saat orang tidur, ia berlari saat orang berjalan.
Orang sukses senantiasa berfikir positif, selalu memancarkan energi dan aura positif.
Orang sukses senantiasa berbagi dan memberi.

Karena give more, do more, endingnya adalah get more.

#serial_sukses
#gumam_uni_yesi

4.3.20

Sukses 1


Kita tidak akan besar dengan mengecilkan orang lain. Tidak akan tinggi dengan merendahkan orang lain. Tidak akan baik dengan menjelekkan orang lain.

Kita juga tidak akan kaya dengan menghambat rezeki orang lain. Tidak akan pintar dengan menganggap bodoh orang lain. Tidak akan terhormat dengan menghina orang lain.

Untuk bisa sukses, terangkan lampu kita, bukan padamkan punya orang lain.
Fokus pada kelebihan kita, bukan pada kekurangan orang lain.

Go success, Never give up!!!


#serial_sukses
#gumam_uni_yesi


2.3.20

 “Uni Yesi, saya lelah menghadapi perilaku anak saya, bagaimana saya harus menghadapinya, ia membuat saya kesal setiap hari. Ini terjadi sejak ia punya adik baru. Bahkan kadang saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Apa yang harus saya lakukan?”

Ringkasnya seperti itu, pertanyaanya panjang sekali.

Jawaban uni Yesi Elsandra:

Setiap anak itu unik. Ia membawa sifat, potensi, dan berbagai karakteristik. Namun kadang kita tidak melihat tanda-tanda itu sebagai sebuah value, atau sebuah harta karun.

Pertanyaannya, apakah selama ini kita sudah melihat dan mengenali secara dalam apa yang sudah “dibawa” sejak lahir itu? Sehingga kita tidak memandang sikapnya (yang menurut kita tidak baik) sebagai sesuatu yang melulu negatif?

Jika kita yakin bahwa anak lahir membawa sifat dan potensi maka semestinya kita sangat curious, sangat ingin tahu, apa sebenarnya yang ia bawa yang tampak dari sikap dan prilakunya.
Dari cerita ditas, tampak anak pertamanya memiliki watak “keras.”

Ini tidak melulu negatif loh. Sifat keras itu tanda ia memiliki bakat COMMAND (naluri untuk mengomando). Jika orang tua dapat mengarahkan dengan tepat, anak-anak seperti ini biasanya kelak akan menjadi pemimpin.



Sangat penting sekali mengetahui hal ini agar kita dapat Memahami anak sepenuhnya. Menerima mereka apa adanya dan Mencintai mereka seutuhnya. Sehingga kita tetap waras dan bijak dalam mengambil keputusan.

Bagaimana cara menghadapi anak seperti ini?

1. Berdoa yang tiada pernah putus kepada Allah agar kita diberikan kesabaran yang tiada terbatas. Berdoa agar kita diberikan ilmu supaya bisa menghadapi setiap sikap kerasnya dan menyalurkan energinya itu ke arah yang tepat.

2. Beri dia kesempatan menjadi pemimpin bagi adiknya. Misalnya katakan, "Hayuk kak, ajak adeknya mandi". Atau beri dia kesempatan memakaikan kaos kaki adiknya, dll. Libatkan dia dalam mengurus adiknya, seolah-olah dia adalah pemimpin adiknya.

3. Beri dia kepercayaan menjaga, mengurus keperluan adiknya. Misalnya yang kecil-kecil saja, seperti, "Tolong lihatin adik sebentar ya", mata kita tetap awas padanya. "Temenin adik bobok yuk, kakak yang bacakan doanya ya, atau kakak yang nyanyiin".

4. Bekerjasama dengan pasangan. Jika ayahnya ada di rumah, minta tolong ayahnya memegang adik sesaat. Ketika itu kita bisa berdua saja dengan kakak membangun quality time. Atau berdua ke Supa (supermarket) atau taman. Jika anak merasa terpenuhi kebutuhannya akan perhatian dia tidak akan mencari perhatian dengan mengganggu adiknya.

5. Tanyakan dan dengarkan kemauanya apa, kemudian aja diskusi ringan. Tanya pendapatnya tentang sesuatu.

6. Berikan ia pilihan, jangan memaksa dan hadapi ia dengan tenang.

7. Menghadapi anak keras tidak bisa dengan kekerasan lagi apalagi marah-marah. Tapi coba pahami sudut pandangnya, pahami kondisinya. Mungkin ia sedang ingin dipeluk, mungkin ia sedang butuh kasih sayang, mungkin sedang lapar dsb.



8. Terus ajarkan ia nilai yang kita bangun, ajarkan terus ia berperilaku baik.

9. Isi terus tangki kesabaran kita, perlus wawasan dan berfikir positif.

10. Saat kita benar-benar tidak bisa mengontrol diri atas “kreatifitasnya” segera ingat Allah, beristigfar. Peluk anak kita dan tersenyum. Katakan mama sayang kamu, nak......


Foto: Salju 2 Februari 2019, Kanazawa. Mendampingi 5 anak yang masih kecil-kecil ini sangat menantang dan penuh perjuangan.

1.3.20

Muliakan Perempuan, Bukan Setarakan


Memuliakan perempuan itu adalah tidak menidurinya sebelum ijab qabul walau suka sama suka.


Memuliakan perempuan itu tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga termasuk menghianatinya dengan perselingkuhan.

Memuliakan perempuan itu tidak saja memberi uang belanja tapi juga nafkah lahir batin yang membuat tentram jiwanya.

Memuliakan perempuan itu tidak menjadikanya tulang punggung hingga bekerja diluar batas fitrahnya.

Memuliakan perempuan itu memberinya ruang dan waktu untuk terus tumbuh, menuntut ilmu, belajar dan mengajar apa yang ia bisa dan bermanfaat.

Memuliakan perempuan itu adalah memberinya kesempatan berekspresi, mengeksekusi passionnya.

Memuliakan perempuan sama artinya membangun sebuah peradaban yang kuat, karena tiangnya sebuah negara terletak pada kemuliaan perempuannya.

Laki laki dan perempuan tidak akan pernah setara, bahkan sejak dalam kandungan kebutuhan nutrisinya saja sudah berbeda.


Repost
#gumam_uni_yesi

Yesi Elsandra
Kanazawa, Jepang