12.3.20

Mengajarkan Aqidah tidak semudah membalik telapak tangan


Saya mulai menggambar berbagai makhluk ciptaan Allah di whiteboard. Diatasnya saya beri judul “Mengenal Allah.”

Anak saya yang umur 13 tahun protes, “Abang bukan anak kecil lagi bunda.” Di melirik gambar saya, memang gambar itu cocoknya untuk anak-anak pra sekolah Dia sepertinya tidak berminat membahas materi ini.

Akhirnya saya matikan lampu. Ada anak saya yang memekik, “Gelap bunda.” Katanya. Ada lagi yang mengatakan, “Aku bisa merasakan bunda sedang berjalan.” Katanya.



Tidak berapa lama saya hidupkan lampu. Saya tanya anak yang bilang merasakan saya berjalan. "Kok tau tadi bunda jalan", tanya saya. Dia menjawab, "Iya terasa aja", katanya.

Mulailah saya masuk dari ucapannya itu. "Begitulah Allah, Nak", kata saya.
Kita bisa merasakan adanya Allah walau Allah tidak terlihat. Banyak sesuatu tidak terlihat tapi ada. "Apa misalnya", tanya saya. Ada yang menjawab, "Corona". "Iya betul", ujar saya.

Malam itu kami diskusi panjang lebar, kadang tampak ada yang mengangguk, ada juga yang tampak belum mengerti apa-apa. Di kelas ini ada 5 anak dengan tingkat kelas yang berbeda, tidak mudah menjelaskan materi aqidah dalam satu cerita.

Yang belum mengerti, biarlah ia berproses. Saya bersyukur anak yang besar tampak memahami. Ini terlihat dari semakin mudahnya mereka dibangunkan sholat subuh.

Masya Allah, ya Allah berilah kami ilmu agar lisan kami fasih mengajarkan aqidah kepada mereka.....
 
#ceritahomeeducation


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment