8.3.20

Menjadi Konselor Menyusui Hingga Ke Jepang

Seorang ibu mengirim pesan yang kurang lebih berbunyi:
Uni Yesi, saya boleh datang ke Apatonya, ingin konsultasi ASI untuk bayi saya, kata dokter ada persoalan dengan bayi saya berkaitan dengan ASI.”

Di lain waktu, masih di Jepang ini juga, seorang bapak mengabari, istrinya beserta bayinya nangis terus. Sang bapak muda ini sepertinya sedang kebingungan.

Uni Yesi, bisa datang ngak ke apato saya, karena bayi saya rewel terus, ibunya jadi ikut-ikutan nangis.” Saat saya datang ke Apatonya sang ibu sedang menangis memeluk bayinya.

Masya Allah, saya jadi ingat bayi pertama kami, dulu setiap malam rewel. PD saya mengeras seperti batu. Saya pernah mengalami yang namanya puting berdarah. Pernah mengalami menyusui 2 orang bayi secara langsung (ASI tandem). Pernah mengalami bayi bingung puting. Bayi saya juga pernah mengalami kuning.



Banyak persoalan yang ditemui ibu dan bayi. Itulah mengapa pada tahun 2009 saya beranikan diri merogoh kocek yang sangat dalam untuk ikut pelatihan konselor menyusui. Untuk apa? Karena saya sudah berencana punya banyak anak, saya perlu ilmu untuk menghadapi berbagai persoalan seputar menyusui.

Bagi saya bermanfaat untuk orang lain adalah salah satu tujuan hidup. Tidak pernah berfikir menjadikannya sebagai tambang emas atau jalan popularitas. Karena bayi yang mengalami persoalan menyusu perlu dibantu, ia tidak berdaya, ketulusan seseorang membantunya agar ia dapat menyusu adalah jalan hidup baginya. Minimal mendengar curhat dan keluh kesah ibu yang baru saja melahirkannya itu sudah lebih dari cukup.

Mengapa kita perlu mati-matian berusaha agar ibu bisa menyusui dengan tenang? Karena banyak kebaikan disetiap tetes ASI.

Bagi teman-teman yang sedang menyusui, jika ada kendala dan persoalan, jangan dipendam sendiri, jangan menyerah. Selalu ada jalan jika kita mau berusaha.

Segera hubungi konselor menyusui terdekat atau bergabung di komunitas ibu menyusui.

#gumam_uni_yesi




Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment