2.3.20

 “Uni Yesi, saya lelah menghadapi perilaku anak saya, bagaimana saya harus menghadapinya, ia membuat saya kesal setiap hari. Ini terjadi sejak ia punya adik baru. Bahkan kadang saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Apa yang harus saya lakukan?”

Ringkasnya seperti itu, pertanyaanya panjang sekali.

Jawaban uni Yesi Elsandra:

Setiap anak itu unik. Ia membawa sifat, potensi, dan berbagai karakteristik. Namun kadang kita tidak melihat tanda-tanda itu sebagai sebuah value, atau sebuah harta karun.

Pertanyaannya, apakah selama ini kita sudah melihat dan mengenali secara dalam apa yang sudah “dibawa” sejak lahir itu? Sehingga kita tidak memandang sikapnya (yang menurut kita tidak baik) sebagai sesuatu yang melulu negatif?

Jika kita yakin bahwa anak lahir membawa sifat dan potensi maka semestinya kita sangat curious, sangat ingin tahu, apa sebenarnya yang ia bawa yang tampak dari sikap dan prilakunya.
Dari cerita ditas, tampak anak pertamanya memiliki watak “keras.”

Ini tidak melulu negatif loh. Sifat keras itu tanda ia memiliki bakat COMMAND (naluri untuk mengomando). Jika orang tua dapat mengarahkan dengan tepat, anak-anak seperti ini biasanya kelak akan menjadi pemimpin.



Sangat penting sekali mengetahui hal ini agar kita dapat Memahami anak sepenuhnya. Menerima mereka apa adanya dan Mencintai mereka seutuhnya. Sehingga kita tetap waras dan bijak dalam mengambil keputusan.

Bagaimana cara menghadapi anak seperti ini?

1. Berdoa yang tiada pernah putus kepada Allah agar kita diberikan kesabaran yang tiada terbatas. Berdoa agar kita diberikan ilmu supaya bisa menghadapi setiap sikap kerasnya dan menyalurkan energinya itu ke arah yang tepat.

2. Beri dia kesempatan menjadi pemimpin bagi adiknya. Misalnya katakan, "Hayuk kak, ajak adeknya mandi". Atau beri dia kesempatan memakaikan kaos kaki adiknya, dll. Libatkan dia dalam mengurus adiknya, seolah-olah dia adalah pemimpin adiknya.

3. Beri dia kepercayaan menjaga, mengurus keperluan adiknya. Misalnya yang kecil-kecil saja, seperti, "Tolong lihatin adik sebentar ya", mata kita tetap awas padanya. "Temenin adik bobok yuk, kakak yang bacakan doanya ya, atau kakak yang nyanyiin".

4. Bekerjasama dengan pasangan. Jika ayahnya ada di rumah, minta tolong ayahnya memegang adik sesaat. Ketika itu kita bisa berdua saja dengan kakak membangun quality time. Atau berdua ke Supa (supermarket) atau taman. Jika anak merasa terpenuhi kebutuhannya akan perhatian dia tidak akan mencari perhatian dengan mengganggu adiknya.

5. Tanyakan dan dengarkan kemauanya apa, kemudian aja diskusi ringan. Tanya pendapatnya tentang sesuatu.

6. Berikan ia pilihan, jangan memaksa dan hadapi ia dengan tenang.

7. Menghadapi anak keras tidak bisa dengan kekerasan lagi apalagi marah-marah. Tapi coba pahami sudut pandangnya, pahami kondisinya. Mungkin ia sedang ingin dipeluk, mungkin ia sedang butuh kasih sayang, mungkin sedang lapar dsb.



8. Terus ajarkan ia nilai yang kita bangun, ajarkan terus ia berperilaku baik.

9. Isi terus tangki kesabaran kita, perlus wawasan dan berfikir positif.

10. Saat kita benar-benar tidak bisa mengontrol diri atas “kreatifitasnya” segera ingat Allah, beristigfar. Peluk anak kita dan tersenyum. Katakan mama sayang kamu, nak......


Foto: Salju 2 Februari 2019, Kanazawa. Mendampingi 5 anak yang masih kecil-kecil ini sangat menantang dan penuh perjuangan.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment